Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 50


__ADS_3

" Bang, nanti antarkan aku ke kantor. Karena motor ku masih di sana, " ucap Karina.


" Baiklah, " kata Ardi yang masih melajukan mobilnya, mereka masih berada di area jalan tol.


Ardi mengajak Karina ke hotel, karena ingin menunjukkan tentang hak waris untuk Arjuna.


" Bang, apa arti nama PT Arini Sentosa? " tanya Karina sambil melihat berkas di tangannya.


" Ardi dan Rini, itu nama yang di buat oleh ibuku sewaktu dia menjalankan bisnis jahitnya." Ardi menjelaskan.


" Jadi asal dari perusahaan yang Abang rintis, itu dari ibu abang? " tanya Karina.


" Iya, dulu ibu adalah tukang jahit di rumah. Usai bekerja jadi guru, dia menerima jahitan dari tetangga. Lalu aku membantu usaha ibu, dengan menyebarkan brosur menerima jahitan. Perlahan pelanggan kami banyak, dan ibu menerima kursus menjahit. Setelah itu ibu mulai membuka konveksi, dan aku belajar tentang ilmu pengembangan usaha. Sedikit demi sedikit rupiah terkumpul, dan akhirnya aku mendirikan perusahaan garmen. " Ardi menjabarkan usahanya pada Karina.


" Oh, " jawab Karina.


Tak terasa, mereka sudah sampai di halaman butik Sindang Jaya.


" Karina, apa rencanamu selanjutnya? " tanya Ardi.


" Aku akan pindah ke rumah kak Diana, " kata Karina.


" Apa sekalian aku antar? " tanya Ardi.


" Nanti aku pikirkan, karena aku masih syok mendengar cerita dari Abang. Setelah sampai rumah, aku akan menghubungi Abang. " Karina langsung membuka seatbelt dan akan keluar dari mobil Ardi.


Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba Ajeng keluar di depan pintu kantor.


" Mbak Ajeng, " ucap Karina.


Ajeng yang melihat Karina keluar dari mobil, langsung menghampirinya.


" Karina, kamu abis meeting sama Mas Ardi? " tanya Ajeng seraya matanya melihat ke arah dalam mobil.


" I-ya, Mbak! " jawab Karina yang terlihat gugup.


" Hey, Mas! " Ajeng mencoba membuka pintu mobil, dan melihat ke arah Ardi.


Ardi terlihat malas, menanggapi teguran Ajeng. " Maaf, aku sedang terburu-buru. " Ardi langsung menarik gagang pintu mobil, lalu menutupnya.


Dengan cepat Ardi menyalakan mesin mobil nya, lalu menjalankan meninggalkan butik Sindang Jaya.


" Apakah Ardi masih marah sama aku? " tanya Ajeng yang melihat kepergian mobil Ardi.

__ADS_1


Karina terlihat gelagapan, dia sangat takut jika harus jujur kepada Ajeng, tentang perasaan Ardi terhadap Karina.


" Mbak, aku masuk dulu. Mau menaruh berkas, " ucap Karina yang langsung pergi meninggalkan Ajeng.


Karina berjalan terburu-buru memasuki kantor nya. Dia tidak ingin di berondong berbagai pertanyaan oleh Ajeng.


" Kok jam segini, mbak Ajeng belum juga pulang? " tanya Karina sambil berjalan menuju ruangannya.


Terlihat ruangan kantor sudah sepi, dan Karina meletakkan berkas di dalam lacinya.


Setelah merapikan berkas, Karina langsung berjalan menuju pintu luar. Segera dia menghampiri motornya yang terparkir di halaman kantor.


" Bu, kok malam pulangnya? " tanya salah seorang satpam yang berjaga.


" Iya, aku ada meeting di luar kantor. " Karina menjawab. " Aku pulang duluan, ya! " pamit Karina pada satpam kantor.


Karina melajukan motornya keluar area perkantoran. Sepanjang jalan, dia masih memikirkan Arjuna. Apakah akan aman bersama ibu mertuanya?


Sebelumnya ibu mertuanya sudah meminta maaf kepadanya, dan akan merawat Arjuna. Dia tidak akan berbuat jahat lagi, pada Karina. Karena kini keturunan yang di miliki, hanyalah Arjuna.


Setelah mengetahui tanah yang di kota telah terjual, Karina menjadi was-was. Terlebih tanah itu di jual sama Ardi, dan uangnya di belikan hotel di kota kembang.


Sesampainya di rumah, Karina langsung menghampiri rumah mertuanya.


" Bu, " panggil Karina sembari mengetuk pintu rumah.


Karina berlari menuju pintu belakang, dan juga jendela kamar mertuanya.


" Bu, Pak! " Karina mencoba mengetuk pintu rumah mertuanya sekali lagi. Namun tak kunjung ada jawaban, dari dalam rumah.


Setelah berulang kali mengetuk pintu, namun tak juga ada yang membukakan pintu. Akhirnya dia berjalan menuju rumah nya, dengan langkah gontai.


Karina berjalan menuju pintu rumah, dia melihat pintu rumah nya tidak terkunci. Segera dia membuka pintu, dan masuk ke dalam.


Karina mengamati rumahnya, yang tidak terkunci. Dia melihat pintu kamarnya yang terbuka sedikit, segera Karina masuk untuk melihatnya.


" Arjun, " panggil Karina dengan suara yang pelan.


Karina melihat ibu mertuanya, sedang tertidur di sebelah Arjuna.


" Karina, kamu sudah pulang? " tanya Ambar yang telah bangkit dari tidurnya.


" Bu, aku tadi ke rumah tapi gak ada orang? " tanya Karina pada Ambar.

__ADS_1


" Oh, bapak lagi ngeliatin tanahnya di kota. Mau cari tahu, kenapa gak ada kabar dari Ardi! " kata Ambar sambil merapikan posisi Arjuna yang telah terbangun dari tidurnya.


Karina terkejut, mendengar penjelasan dari ibu mertuanya. Pasti bapak mertuanya saat ini, sedang kelimpungan karena tanahnya telah terjual.


" Iya udah, Ibu boleh balik ke rumah. " Karina langsung menghampiri Arjuna yang sedang tertidur pulas.


" Tapi bapak, belum pulang. Ibu sendirian di rumah, " ujar Ambar yang masih enggan beranjak dari tempat tidur.


Karina bingung, bagaimana cara dia mengusir Ambar.


" Ya udah, Ibu keluar dulu. Aku mau ganti baju, " Karina langsung membuka jasnya.


Akhirnya Ambar pun keluar dari kamar Karina. Segera Karina menutup pintu kamarnya, dia langsung menghubungi Ardi.


Melalui pesan WhatsApp, Karina menuliskan beberapa kalimat di layar ponselnya.


' Bang, ibu masih di rumahku. Karena dia sedang menunggu bapak pulang, dari kota. Bapak sedang mencari tahu tentang penjualan tanahnya. Aku takut, jika pulang nanti dia akan mengamuk. Apa yang harus aku lakukan? '


Karina mengirimkan pesan pada Ardi, dia bingung jika hal buruk akan terjadi.


Belum juga ada balasan dari Ardi, akhirnya Karina pun membersihkan dirinya.


Usai membersihkan diri, Karina langsung memakai baju lalu menghampiri anaknya yang masih tertidur lelap.


Karina bingung, kenapa anaknya masih saja tertidur. Padahal biasanya anaknya tidak pernah tertidur selama itu.


Di pegangnya tubuh Arjuna, terasa dingin tanpa ada hawa panas di tubuhnya.


Karina pun memeriksa denyut nadi sang anak. Tak juga dia merasakan denyutan di sekitar lehernya. Karina cemas dan panik, dia langsung mengangkat tubuh Arjuna. Di lihatnya tanda kebiruan di sekitar leher Arjuna.


' Apa yang terjadi pada anakku? '


Karina langsung keluar kamar dan mencari ibu mertuanya. Dia tak melihat keberadaan Ambar.


Karina teramat cemas dan panik, dia langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Ardi.


" Berdering ... "


Karina mencoba menghubungi nomor Ardi.


" *Halo, Karina ada apa? Maaf abang abis mandi, dan belum sempat balas pesanmu. "


" Bang badan Arjun dingin. Lalu aku lihat ada bekas memar biru di lehernya. Aku mencari ibu mertuaku, dia tidak ada. "

__ADS_1


" Apa? Aku akan segera ke sana*, "


Mereka mengakhiri pembicaraan lewat telepon seluler.


__ADS_2