Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 12


__ADS_3

Sebelum membaca karyaku, aku harap kamu masukkan ke list favoritmu. Setelah itu, tap like dan berikan poin hadiah, jangan lupa komentar positif untuk membangun karyaku.


Happy Reading😘


Lalu kami pergi, dan meninggalkan ibuku sendirian di rumah. Hatiku merasa gelisah, saat akan pergi menuju rumah orang tua Rudi.


Sesampainya di rumah mertuaku, aku di sambut dengan senyuman oleh mereka.


" Karin, kamu sudah datang?" Sapa ibu mertuaku yang langsung menyambutku dengan pelukan hangat.


Aku bingung, kenapa sikap mereka berubah kepadaku.


" Iya, Bu." Jawabku membalas pelukannya.


" Rudi, kamu ajak Karin ke kamar." Perintah ibu mertuaku.


" Iya, bu!" Jawab Rudi sambil membawakan tasku.


Aku dan Rudi pun masuk ke dalam kamar, dan Rudi menaruh tasku di atas meja.


" Bang, besok bisa jemput ibu?" Tanyaku pada Rudi.


" Iya, besok abang jemput ibu." Kata Rudi sambil tersenyum.


" Kamu istirahat aja, besok harus bangun pagi." Kata Rudi yang memegang bahuku, dan merebahkan tubuhku.


" Iya, Bang." Kataku menurut.


Aku merebahkan diri, karena waktu sudah hampir malam.


Rudi pun keluar dari kamarku, saat aku telah memejamkan kedua mataku.


Beberapa menit kemudian, perutku terasa mulas. Rasanya ingin buang air kecil, segera aku bangun dari tempat tidur.


Ku langkahkan kakiku, berjalan menuju ke arah pintu kamar mandi. Saat akan melewati pintu belakang, aku mendengar sayup-sayup suara Silvia.


" Abang, kenapa harus ngadain acara nujuh bulanan untuk perempuan jelek itu sih?"


Terdengar kecil namun suaranya dapat aku dengar.


" Diam kamu, Sil!" Bentak Rudi yang menghentikan Silvia berbicara.


" Semua salah kamu, kenapa kamu gak bisa hamil? Jadi ibu dan bapak lebih memilih Karina, karena dia sangat menginginkan cucu." Umpat Rudi sambil terlihat memijat kepalanya. " Dan juga, bapak dan ibu memberikan syarat aku memberikan cucu agar aku bisa mendapatkan harta warisan dari mereka." ucap Rudi lemah.


" Jadi Bang Rudi, tidak tulus menyayangiku?" Batinku meringis mendengar pembicaraan sepasang suami istri yang sedang membicarakanku.


" Awas saja, kalau kau berbuat ulah. Jangan berpikir yang macam-macam. Sampai anak itu lahir, maka seluruh warisan akan jatuh ke tanganku." Ancam Rudi pada Silvia.


" Lalu, bagaimana dengan wanita jelek itu?" Sela Silvia yang terus menghinaku.


" Dia sudah cantik, dan bahkan lebih cantik darimu." ucap Rudi dengan suara mengejek.


" Jadi kamu lebih memilih, dia?" Ucap Silvia penuh penekanan.


Tanpa ku sadari, tiba-tiba air mataku jatuh menetes. Ku rasakan pening di kepalaku, dan membuat tubuhku terjatuh.


" Bugh..."


Tubuhku terjatuh ke lantai, dan membentur meja makan.

__ADS_1


POV Author


Rudi dan Silvia terkejut, saat mendengar suara benda jatuh.


" Bang, suara apa tuh?" tanya Silvia.


Rudi dan Silvia langsung masuk dari pintu belakang. Bermaksud ingin melihat sesuatu yang tadi terjatuh.


" Karina, " pekik Rudi, dia langsung menghampiri Karina, lalu menggendongnya ke kamar.


" Rudi, ada apa dengan Karina?" tanya Ambar yaitu ibu dari Rudi.


" Enggak tahu Bu, tadi jatuh pingsan di dapur." panik Rudi sambil merebahkan tubuh Karina.


" Cepat, ambilkan minyak kayu putih." perintah Ambar. Dia langsung duduk di sebelah Karina, memijat-mijat kakinya.


Rudi langsung mengambil minyak kayu putih, dan mengoleskan ke perut Karina.


" Memangnya, Karina sedang apa di dapur?" tanya Ambar yang berdiri di sebelah tempat tidur.


" Enggak tahu, Bu." jawab Rudi gugup, dia sangat takut jika Karina mendengar pembicaraan nya dengan Silvia.


" Lantas kamu, Silvia? Ngapain kamu dari pintu belakang?" tanya Ambar dengan tatapan sinis.


" Itu, bu ..." gugup Silvia sambil menundukkan kepalanya


" Ibu gak mau, kalau nanti mengganggu janin Karina. Jadi sebaiknya kamu jangan muncul, di hadapan Karina." bentak Ambar pada Silvia.


" Baik, Bu!" ucap Silvia yang langsung pergi dari kamar Karina.


'Dasar mertua judes, kemarin aku di puji-puji. Sekarang malah di musuhi.' Geram Silvia dalam hatinya.


" Apa yang terjadi sih, Rud?" tanya Ambar yang menatap curiga ke arah Rudi.


" Enggak ada apa-apa kok, Bu." jawab Rudi gugup.


" Awas aja kamu bang, kalau sampai kepincut sama perempuan gendut itu!" geram Silvia yang telah berjalan keluar kamar.


Dia langsung meninggalkan rumah mertuanya, dan berjalan menuju rumah yang hanya berjarak lima meter.


POV Karina


" Karina, kamu sudah bangun?" tanya Rudi yang telah membangunkan ku


" Sudah, Bang! Bang, aku mau pulang aja." kataku merengek, aku masih teringat oleh kata-kata Rudi dan Silvia.


" Tapi besok, acara nujuh bulan anak kita." ucap Rudi mencegah.


" Tapi Bang, aku sempat mendengar pembicaraan mu dengan Silvia." ucapku sambil menunduk kan kepala.


" Apa? Silvia ngomong apa memangnya?" Tanya Ambar yang tiba-tiba datang menghampiri kami.


" Eh, Bu!" ucapku takut sambil meremas kedua tangan ku.


Aku masih merasa canggung, berada di dekat mereka.


Karena sebelumnya, mereka sangat membenciku hingga mertuaku memintaku untuk bercerai dari Rudi.


" Aku gak mau, kalau nanti anakku di ambil oleh Bang Rudi. Lalu di asuh oleh Silvia, aku gak rela." ucapku menangis sambil menutup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku.

__ADS_1


" Rudi, memangnya Silvia ngomong kayak gitu?" bentak Ambar.


" Tidak Karin, kamu salah paham." kata Rudi mengelak.


Karena dia hanya menginginkan anakku, agar mendapatkan jatah warisan dari kedua orangtuanya.


Kedua orang tua Rudi, baru saja mendapatkan uang gusuran tanahnya yang akan di jadikan jalan tol. Jumlahnya terbilang fantastis, karena Rudi anak bungsu dari dua bersaudara. Sedangkan kedua orang tua Rudi tak lagi muda, jadi mereka sangat menginginkan cucu. Kakak Rudi, sedang merantau ke luar kota dan tidak tahu kapan akan balik ke kampung halaman.


Mereka ingin merasakan menimang cucu, terlebih lagi sering di ledek oleh tetangga.


Soal Rudi yang tampan, dan mempunyai istri dua tapi belum punya anak.


Saat tahu aku hamil, kedua orang tua Rudi langsung meminta untuk menjemput ku.


Karena Silvia belum juga memiliki keturunan, padahal waktu menikah dia mengaku di hamili oleh Rudi.


" Iya sudah, kamu suruh Silvia agar jangan mengganggu Karina." bentak Ambar.


Aku merasa tak enak hati, kenapa tiba-tiba ibu mertuaku menjadi sayang kepada ku.


****


Acara nujuh bulan pun berlangsung, aku sudah bersiap memakai baju muslim yang di belikan oleh ibu mertua ku.


" Karina, kamu sudah siap?" tanya Ambar yang berdiri di depan pintu.


" Sudah, Bu." jawabku.


Kemudian aku keluar kamar, dan duduk bersama ibu-ibu pengajian.


Aku mencari keberadaan Rudi, untuk menanyakan tentang ibuku.


Apakah Rudi menjemput ibuku? Itu pertanyaan yang selalu terngiang di kepala ku.


Usai acara berlangsung, akupun langsung menghampiri Rudi di rumahnya. Karena dia tak terlihat pada saat acara berlangsung.


" Bang, " panggilku seraya mengetuk pintu rumah nya.


Cukup lama aku menunggu untuk di bukakan pintu. Ternyata yang keluar adalah Silvia, dia hanya memakai baju tidur yang sangat tipis.


" Ada apa?" jawab Silvia dengan nada ketus.


" Mana bang Rudi?" tanyaku sambil melongok ke dalam rumah nya.


Kulihat Rudi sedang tertidur di kamar nya.


" Bang Rudi, kenapa gak jemput ibu?" tanyaku pada Silvia.


" Karina, Rudi itu capek. Lagian kan itu acara kamu, kenapa harus suamiku yang repot untuk menjemput ibumu." ucap Silvia dengan tatapan tidak suka kepada ku.


" Silvia, Rudi itu ayah dari anakku. Wajar saja aku menyuruhnya menjemput ibuku, karena ibuku juga ibunya juga." kataku yang mulai tersulut emosi.


" Ada apa sih?" tanya Rudi yang tiba-tiba saja datang menghampiri kami, sambil mengusap-usap kedua matanya. Ternyata Rudi terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara ku yang sedang bertengkar dengan Silvia.


" Bang, kok gak jemput ibu? " tanyaku sambil menatap nya tajam.


-


Silahkan like dan berikan vote mu.

__ADS_1


__ADS_2