
Ardi dan Karina telah sampai di rumah nya, ternyata liburan mereka kali ini sangatlah gagal. Semua itu karena Silvia yang telah mengacaukannya.
Karina telah masuk ke dalam rumahnya sembari menuntun Arjuna. Perjalanan yang cukup melelahkan untuk mereka, hingga sampai sudah sore menjelang malam sampai di rumah.
Arjuna langsung di mandikan oleh Karina, karena badannya sudah terasa sangat lengket dan berkeringat.
"Karin, sebaiknya Arjuna di titipkan pada kak Diana. Karena aku ingin menjelaskan semuanya kepada mu," ujar Ardi yang sudah berdiri di depan kamar mandi.
Usai memandikan Arjuna, kemudian Karina mengantarkan nya ke rumah Diana
"Loh, kok kamu sudah pulang?" tanya Diana yang tidak mengetahui kedatangan Karina
"Iya," jawab Karina seraya membawa Arjuna lalu menyerahkannya kepada Diana.
"Aku titip Arjuna," ucap Karina.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Diana seraya mengambil Arjuna.
"Ada sesuatu yang harus aku dan bang Arlan bicarakan," sahut Karina. "Sebaiknya Arjuna di sini dulu, nanti aku ambil." Karina langsung mencium kening Arjuna lalu pergi meninggalkan rumah Diana
Kemudian Karina langsung berjalan menuju rumahnya, di dalam sudah menunggu Ardi yang sedang duduk di ruang tamu.
"Duduk lah," titah Ardi seraya menepuk sofa di sebelahnya.
"Aku duduk di sini saja," ujar Karina yang duduk di sofa tunggal letaknya berhadapan dengan Ardi.
"Baiklah, akan aku jelaskan semuanya." Ardi langsung menatap intens ke arah Karina.
"Aku dan ibuku adalah pemilik dari tanah dan rumah yang di tempati oleh bapakku. Awalnya kehidupan rumah tangga ibuku sangat bahagia, sampai datanglah Tina. Dia yang berusaha merebut bapak dengan menggunakan pelet. Yang kini membuatnya menjadi gila." Ardi menjelaskan secara rinci perihal Tina. Hingga sampai ke misi balas dendam nya kepada Rudi.
"Aku menyuruh Silvia, untuk merayu Rudi. Karena ingin menjadikannya pria brengsek yang suka bermain dengan banyak wanita. Silvia pun terpesona oleh ketampanan Rudi, hingga dia mau menerima tawaran menikah kala itu."
Wajah Karina tiba-tiba berubah, sepertinya sedang menahan emosi kala mendengar Silvia adalah orang suruhannya.
"Aku sadar telah membuat kesalahan, tapi aku bersyukur dengan kejadian itu maka aku di pertemukan oleh mu." Ardi memajukan badannya.
__ADS_1
"Kamu sadar gak, Bang! Sudah menghancurkan kehidupan ku?" tanya Karina a seraya menatap emosi ke arah Ardi.
"Maafkan aku, aku memang salah besar telah berbuat seperti itu kepadamu. Tetapi saat itu tujuan ku hanyalah ingin menghancurkan Rudi." Ardi langsung berlutut di hadapan Karina.
"Ibu meninggal karena bang Rudi tidak menjemput nya kala itu, hingga dia jatuh terpeleset di kamar mandi!" teriak Karina seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Karina menangis sejadi-jadinya, membayangkan betapa perihnya kehidupannya kala ibunya pergi dengan cara yang tragis.
"Karin, aku mengakui semua kesalahanku. Aku benar-benar minta maaf, karena telah membuatmu sangat menderita kala itu. Maka sebagai penebusnya, aku rela menjadi pelindung mu. Aku bisa membuatmu bahagia, tak akan pernah membuatmu kecewa apalagi menangis." Ardi langsung menghampiri Karina yang sedang menutup wajahnya sambil menangis.
"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, dan aku tidak akan pernah menyakiti perasaan mu." Ardi berlutut di hadapan Karina
"Bang, aku harus marah atau bersyukur? Hal itu masih membuatku sangat bingung," sahut Karina yang telah membuka kedua wajahnya lalu menatap sinis ke arah Ardi
"Sebelum nya aku memang sudah tahu, jika bang Rudi itu mata keranjang. Tetapi untuk masalah kesetiaan, itu masih menjadi tanda tanya untuk ku!" ujar Karina
"Maksudmu?" tanya Ardi bingung.
"Apakah kau yang juga menyuruh Abel?" tanya Karina
"Gadis yang meninggal bersama bang Rudi." Karina menjelaskan.
"Tidak, aku tidak pernah mengenalnya. Mengenali nya saja tidak, apalagi untuk menyuruhnya." Ardi memberikan pengakuan.
"Aku hanya membayar Silvia, untuk menghancurkan Rudi. Saat mengetahui Rian meninggal, aku langsung menyuruh Silvia pergi dari rumah itu. Karena aku tidak ingin jika Silvia akan mengkhianati ku." Ardi menjelaskan. "Pasti dia akan membongkar semua rahasiaku, makanya aku langsung memberikan dia uang dan menyuruhnya pergi jauh."
Dalam hati Karina memang sakit saat mendengar pengakuan dari Ardi. Tetapi saat mengingat hubungan antara Abel dan Rudi, maka dia memutuskan jika Rudi memang lelaki hidung belang.
"Karina, aku tidak lagi menutupi satu rahasia pun darimu. Semua telah aku jelaskan. Aku mohon maafkan aku. Walaupun aku yakin jika luka itu masih membekas," ucap Ardi tertunduk lesu di hadapan Karina
Karina terdiam, dia nampak berpikir. "Aku ingin sendiri," ucapnya yang langsung berjalan menuju ke arah kamar.
Ardi hanya menatap nanar kepergian Karina dari hadapannya, dia tahu jika Karina butuh menyendiri untuk menenangkan pikirannya.
Kemudian Ardi langsung bangun dan berjalan keluar rumah. Ardi ingin bermain bersama Arjuna di detik terakhir sembari menunggu keputusan Karina.
__ADS_1
Ardi sangat pasrah, jika Karina akan meminta pisah darinya. Karena dia harus menerima semua konsekuensi atas segala perbuatannya.
"Kak, boleh aku bermain dengan Arjuna?" tanya Ardi yang sudah masuk ke dalam rumah Diana.
"Boleh," jawab Diana sembari menunjuk Arjuna yang sedang bermain dengan Keyla dan Keysa.
"Ardi, tunggu sebentar!" panggil Diana yang mencegah langkah Ardi untuk mendekati Arjuna.
"Iya, kak!" sahut Ardi.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Diana yang menatap curiga ke arah Ardi
"Hanya masalah rumah tangga, kami berdua bisa mengatasinya." Ardi menjawab.
"Oh, ya sudah. Sebaiknya kalian selesaikan dengan kepala dingin, dan jangan sampai ada piring terbang di rumah kalian." Diana memberi saran.
Ardi hanya mengulas senyum, lalu menghampiri Arjuna. Saat ini perasaannya sedang kalut dan cemas. Dia sangat takut menerima keputusan Karina.
Selama beberapa menit, Ardi masih terus bermain dengan Arjuna. Sampai mereka melewati beberapa jam di rumah Diana
Ardi bingung, kenapa sang istri belum juga datang menghampirinya. Sedangkan jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Ardi, kemana Karina? Kok, sudah jam sepuluh malam belum juga mengambil anaknya?" tanya Diana cemas. Karena sore tadi Karina berpesan akan mengambil anaknya jika urusan antara Karina dan Ardi telah selesai.
"Ardi, sebaiknya kamu menghampiri Karin." Diana memerintahkan. "Maaf, bukan maksudku untuk mengusirmu!"
Ardi menganggukan kepalanya, karena sangat paham sekali dengan semua kesalahannya.
"Aku akan menghampirinya, sebaiknya Arjuna aku titip denganmu. Nanti aku akan mengambil Arjuna jika pembicaraan antara aku dan Karina telah selesai."
"Iya, sudah. Biar malam ini Juna tidur bersamaku," ucap Diana
"Terima kasih," ucap Arjuna sembari berjalan keluar dari rumah Diana
Dalam hatinya, Ardi sangat mengharapkan jika Karina tidak berubah pikirannya. Ardi pun berjalan menuju ke arah rumahnya. Ardi tak melihat keberadaan Karina di ruang tamu. Akhirnya dia berjalan menuju kamar tempat tidur Karina, untuk memastikan keadaan sang istri.
__ADS_1
Dengan langkah pelan, Ardi telah sampai di depan pintu kamarnya.