Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 62


__ADS_3

Usai sarapan bersama dengan suami dan keluarga kakaknya, Karina pun pamit untuk berangkat ke butik.


Walaupun Karina istri seorang CEO di perusahaan garmen, dia tetap bekerja di butik. Alasannya karena, Karina ingin membantu bosnya membangun bisnisnya. Karena bekerja di butiknya, Karina mempunyai hidup yang berkecukupan. Dia tidak ingin mengecewakan bosnya yang sudah sangat baik kepadanya.


"Arjun, mama jalan dulu, ya!" Karina pamit pada Arjuna. " Kak, aku jalan dulu," ucap Karina sambil mencium tangan Diana.


"Iya, hati-hati." Diana sambil mengulurkan tangannya.


Karina pun menghampiri Ardi yang telah masuk ke dalam mobil.


Setelah mengucap salam perpisahan, Ardi melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah.


"Huek, huek..." Tiba-tiba Karina merasakan mual, dan ingin muntah.


Ardi menghentikan laju mobilnya, dan menepikannya ke pinggir jalan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Ardi seraya memijat leher Karina.


Karina tak menjawab, dia langsung membuka pintu mobil dan keluar lalu berjongkok di pinggir jalan.


"Huek, huek..." Karina memuntahkan semua isi makanannya.


Ardi langsung keluar dari mobil dan memijat leher Karina.


"Aku ambilkan minyak kayu putih," panik Ardi yang langsung masuk ke dalam mobilnya untuk mencari minyak kayu putih.

__ADS_1


Setelah menemukan minyak kayu putih di tas Karina, dia langsung keluar untuk memijat leher istrinya.


"Apa masih mual?" tanya Ardi yang melihat istrinya mulai kelelahan.


"Masih, Bang!" ucap Karina lemas.


"Kita ke dokter!" ajak Ardi. "Apa masih terasa mual?" tanyanya.


"Sudah enakan," jawab Karina yang langsung berdiri.


"Kita ke dokter, aku gak ingin kamu kenapa-kenapa." Ardi langsung membawa Karina masuk ke dalam mobil.


Segera Ardi melajukan mobilnya menuju klinik terdekat.


"Bang, kepalaku rasanya kliyengan. Seperti berputar-putar," ucap Karina seraya memijat pelipisnya.


"Akan aku pikirkan, Bang!" jawab Karina dengan suara lemah.


Mereka pun sampai di klinik dan Ardi segera membawa masuk Karina.


Setelah melakukan pendaftaran, mereka masuk ke dalam ruangan dokter.


"Apa yang ibu rasakan?" tanya dokter laki-laki yang berada di hadapan Karina.


"Pusing, mual dan tadi sempat muntah." Karina menjelaskan secara detil.

__ADS_1


"Datang bulan apakah lancar?" tanya dokter melihat ke arah Karina.


Ardi terlihat cemburu, saat dokter tampan di hadapannya memandangi istrinya.


"Sebulan ini, belum." Karina menjawab


"Baiklah, kita tes kehamilan." Dokter memberikan alat tes kehamilan pada Karina.


"Maksudnya istriku hamil?" Ardi terlihat bahagia, saat dokter tampan yang barusan dia pandang sinis itu, menyuruh Karina untuk melakukan tes kehamilan.


Karina langsung mengambil alat tes kehamilan, lalu berjalan menuju toilet.


"Baru perkiraan saja, Pak. Untuk lebih akurat, sebaiknya kita lakukan tes kehamilan." Dokter menjelaskan pada Ardi.


"Oh, aku mengharapkan dia segera hamil." Ardi berucap penuh harap.


Selang beberapa menit kemudian, Karina telah keluar dari toilet memberikan tabung berisi air seni dan alat kehamilan.


"Taruh di sini, Dok?" tanya Karina yang meletakkan tabung berisi air seni di atas wastefel.


"Iya, nanti kita tunggu dua menit," jawab dokter.


Kemudian Karina pun duduk kembali ke bangkunya.


Dua menit kemudian, dokter berdiri dan berjalan menuju wastafel untuk mengetahui hasilnya. Dia mengangkat alat tes kehamilan, sambil tersenyum.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentarmu.


__ADS_2