Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 55


__ADS_3

Segera aku parkiran motorku di sebelah motornya. Aku pun berjalan menuju ke arah kantor.


" Karin, apa kabar?" tanya Ajeng yang langsung memelukku saat aku sudah masuk ke dalam kantor.


" Aku baik, Mbak!" jawabku membalas pelukannya.


" Aku kangen banget, sama kamu!" ujar Ajeng yang telah melepaskan pelukannya.


" Iya, aku juga," jawabku membalas senyuman nya.


" Kita keruangan kamu, " ucap Ajeng yang langsung menuntun tanganku.


Kami berdua pun berjalan menuju ruangan ku, yang jaraknya hanya beberapa meter dari ruang display.


" Duduk, Mbak!" Aku mempersilahkan Ajeng duduk di bangku.


" Karin, aku tahu kalau Ardi suka sama kamu," ucap Ajeng


Aku terkejut mendengar penuturan Ajeng, darimana dia tahu jika Ardi suka padaku?


" Setiap hari, dia selalu ke kantor mencari keberadaan mu padaku. " Ajeng terlihat muram saat menceritakan Ardi yang sering mencari ku.


" Tapi, Mbak! Aku gak suka sama bang Ardi, " ucapku mengelak. Karena takut Ajeng menjadi salah paham kepada ku.


" Ardi sendiri yang mengakui, kalau dia suka sama kamu."


" Apa?" tanyaku terkejut.


" Iya, dia sendiri yang mengaku di depanku. Jika dia sangat mencintai kamu. Mencoba menghubungi kami berkali-kali, namun kamu gak respon." Ajeng memejamkan matanya, dia mencoba menguatkan hatinya saat bercerita tentang perasaan Ardi." Awalnya aku benci kamu, dan membiarkan dia tidak mengetahui keberadaan mu. Aku bilang sama seluruh karyawan, jika Ardi mencarimu, aku bilang tidak ada yang tahu," ucap Ajeng dengan raut wajah penyesalan.


" Oh, baguslah! Aku jadi tidak usah cemas lagi, " ucapku merasa lega.


" Tapi Karina, dia seperti orang frustasi. Setiap hari mencari keberadaan kamu, sampai nanya ke bos."


Aku pun memijat keningku yang terasa pusing.


" Kamu kenapa, Karin?" tanya Ajeng yang langsung mendekati ku.


" Aku ingin melupakan keluarga suamiku, Mbak!" ucapku seraya memejamkan kedua mataku.

__ADS_1


" Tapi aku melihat ada ketulusan di hati Ardi, dia pernah bersikap seperti itu padaku. Aku yakin, dia sangat mencintai mu, Karina." Ajeng menegaskan.


Tak terasa bulir air mata mulai membasahi kelopak mataku.


" Aku trauma, Mbak!" Aku menangis di depan Ajeng. " Sudah cukup perlakuan keluarga suamiku, kepadaku. Terlebih lagi, saat ibu mertuaku mencoba membunuh anakku," ucapku menangis seraya menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


" Apa?" Ajeng terkejut mendengar penuturanku. " Kenapa kamu tidak bercerita sama aku?" tanya Ajeng dengan wajah perduli.


" Maaf Mbak, kamu jadi tahu tentang masalah mu." Aku mengangkat wajahku.


" Aku yang minta maaf, seharusnya saat itu aku datang mencari rumah kakakmu. Sebisanya aku akan membantumu," ucap Ajeng


" Iya, enggak apa-apa. Aku hanya ingin keberadaan ku tak di ketahui oleh bang Ardi."


" Lalu kabar anakmu, gimana?" tanya Ajeng


" Dia sudah sehat, dan begitu pintar."


" Oh syukurlah," ucap Ajeng seraya mengelus dadanya.


" Karina, bukan aku mau ikut campur urusan kalian. Hanya saja, aku kasihan melihat Ardi seperti orang yang frustasi. Setiap hari datang ke kantor, menanyakan karyawan yang datang di pagi hari." Ajeng menjelaskan.


Aku melihat kejujuran di kedua mata Ajeng, dia sangat mengenal Ardi. Dan aku akui, jika sikap Ardi memang sangat berbeda dengan Rudi.


Tapi lagi-lagi, dia masih mempunyai garis keturunan dengan Rudi. Aku mulai berpikir dua kali, untuk bisa menerima cintanya


Usai melaporkan semua tentang Ardi, kini Ajeng pamit untuk kembali ke kantor.


Kemudian aku melanjutkan pekerjaan ku, mengecek semua pembukuan.


Sekali lagi aku memikirkan Ardi, apakah ada lelaki yang begitu mencintai ku?


Aku tak percaya, karena selama ini aku hanya melihat sosok Rudi yang menyebalkan. Dunia yang luas terasa sempit bagiku. Hingga tak bisa merasakan kelembutan hati seorang laki-laki.


" Oh Tuhanku, apakah aku jahat?" Aku mulai memijat keningku.


Tapi bagaimana dengan keadaan bu Ambar? Sudah dua tahun aku tak lagi mendengar kabarnya. Apa yang telah bang Ardi lakukan padanya? Apakah hal yang terjadi kemarin adalah bagian dari rencana mereka, yang ingin melenyapkan anakku?


Ah, tapi saat mendengar penjelasan Ajeng, aku berpikir jika Ardi memang mencintaiku.

__ADS_1


Menjelang sore aku pun merapikan seluruh pekerjaan ku. Setelah itu aku pun bergegas menuju parkiran motor.


Aku melajukan motor ku menuju rumahku. Sepanjang perjalanan aku hanya merindukan Arjuna. Merindukan gelak tawanya, keusilannya dan kemanjaannya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, aku sampai ke rumah. Aku melihat Arjuna sedang bermain dengan Keysa dan Keyla.


" Anak ganteng, kamu lagi main sama kakak, ya!" ucapku yang datang menghampiri Keysa dan Keyla.


Rumahku dan rumah Diana berdampingan, dan kuberi pagar. Di depan rumah, aku membuat taman kecil dan juga ayunan. Aku sengaja membuat pagar, agar anakku tidak main ke jalanan.


" Kak, mama mana?" tanyaku pada Keysa yang sedang menggendong Arjuna. Usia Keysa kini sudah sepuluh tahun. Dia sudah bisa menggendong Arjuna dan menjaganya di depan taman.


" Lagi buatin susu," jawab Keysa


" Tante mandi dulu," ucapku sambil mencubit pipi Arjuna. Sehabis pulang dari kantor, aku membiasakan diri mandi terlebih dahulu. Agar anakku tersayang tidak terkena kuman dan bekas polusi udara yang menempel di tubuhku.


Akupun masuk ke dalam rumahku, dan menuju ke kamar ku. Sungguh segar menyiram badan di saat pulang kerja. Badanku yang terasa lengket dan berkeringat kini pun kembali segar.


Kemudian aku mencari daster, yang biasa aku pakai di sore hari. Karena baju daster adalah pakaian ternyaman ibu-ibu di dunia ini.


Setelah berpakaian, aku pun melangkah kan kakiku menuju halaman rumah. Tak sabar rasanya ingin menggendong anakku tersayang.


Ku buka pintu rumah, dan betapa terkejutnya saat melihat Ardi sedang bermain dengan anakku dan dua keponakan ku.


" Bang Ardi!' ucapku lirih.


" Karina," ucapnya menyebut namaku dengan pelan.


" Karin, maafkan kakak!" Diana nampak tertunduk menahan takut.


Aku melihat sinis ke arah Ardi, karena dia sedang menggendong Arjuna.


Aku heran, kenapa Arjuna tidak menangis saat di gendong oleh orang asing yang baru saja dia temui?


" Bang, kembalikan anakku!" ucapku yang langsung menghampiri Ardi lalu mengambil Arjuna dari tangannya.


" Karina, kenapa kamu jadi kasar gitu sama aku?" tanyanya memandangku dengan tatapan kerinduan. Aku melihat rahangnya yang sudah di penuhi oleh anak-anak rambut, yang mulai lebat.


" Kamu tahu darimana rumahku?" tanyaku dengan suara meninggi.

__ADS_1


" Tak perlu kamu tahu, yang pasti kini aku sangat mencintai kamu." Ardi menampakkan keseriusan di kedua bola matanya. " Karina, aku mohon jangan membuat aku menderita." Ardi memohon kepada ku sambil berlutut.


jangan lupa like dan berikan komentar


__ADS_2