
"Karina, kakak bawakan lauk sama nasi. Kamu sudah makan?" tanya Diana seraya membawakan sepiring nasi beserta lauknya.
"Aku lagi gak kepengen makan," jawab Karina.
"Tapi kamu lagi hamil," ucap Diana sambil menaruh sepiring nasi beserta lauk di atas meja. "Arjuna sama mama Nana, mama mau makan!" Diana mengajak Arjuna yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Cepat di makan, mumpung masih panas."
Karina pun memakan nasi yang di bawakan oleh Diana. Baru dua kali suapan, tiba-tiba perutnya terasa bergoncang.
"Huek, huek..." Karina langsung berlari menuju kamar mandi. Lalu dia memuntahkan seluruh makanan yang baru saja dia telan.
"Arjuna, di sini dulu. Mama Nana mau pijitin mama dulu, ya!" Diana menaruh Arjuna di atas tempat tidur.
Kemudian Diana berjalan menuju kamar mandi, dan memijat tengkuk leher Karina.
"Huek, huek..."
"Kak, aku gak kuat!" lirih Karina sambil membungkukkan badannya di atas wastafel.
"Kakak ambilkan minyak kayu putih," ujar Diana yang langsung berjalan menuju kamar. Diana mencari minyak kayu putih.
"Sini kakak pijitin," ucap Diana yang langsung mengoleskan minyak kayu putih di leher Karina.
"Apa kehamilan pertama begini juga?" tanya Diana.
"Enggak, Kak! Malah gak mabok sama sekali," ujar Karina.
__ADS_1
"Iya udah, sekarang kamu istirahat di kamar. Kakak buatin teh hangat," ucap Diana seraya menuntun lengan Karina.
"Arjun, kamu temani mama."
Diana langsung keluar dari kamar, untuk membuatkan teh manis hangat.
"Mama, tatit ya?" tanya Arjuna sambil mendekati Karina.
"Iya, Sayang! Kamu duduk sini sama mama," ucap Karina seraya menepuk bantal di sebelahnya.
Arjuna pun menghampiri Karina, lalu memeluknya. Karina memperkenalkan adiknya yang masih di dalam perut.
"Arjun, kamu mau punya dedek." Karina mengelus perutnya yang masih datar.
"Dedek!" Arjuna langsung memukul perut Karina.
"Auw..." pekik Karina karena perutnya di pukul oleh Arjuna. "Arjun, kok kamu pukul adik kamu?" Karina menegur Arjuna dengan nada membentak.
"Whoa... whoa..." Arjuna menangis sangat keras.
Diana yang masih berada di dapur, langsung berlari menuju kamar Karina.
"Arjun, ada apa?" teriak Diana yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Dia memukul perutku," adu Karina.
Diana langsung menghampiri Arjuna yang sedang menangis.
__ADS_1
"Karina, dia masih kecil. Kamu jangan membentaknya," ucap Diana yang langsung menggendong Arjuna.
"Cup, cup, cup." Diana mendiamkan Arjuna dalam gendongannya.
"Maafkan mama, Sayang!" lirih Karina
"Sebaiknya kamu istirahat, biar Arjuna sama kakak." Diana langsung membawa Arjuna keluar kamar.
Karina bersedih, kenapa di kehamilan yang kedua dia begitu sensitif.
Kemudian dia langsung merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan kedua matanya.
Sementara Ardi di kantor sedang sibuk dengan urusan bisnisnya.
"Apa yang harus aku lakukan, jika Silvia bertemu dengan Karina?" Tiba-tiba terlintas pertanyaan soal Silvia di pikiran nya
Ardi takut, jika Silvia membocorkan rahasianya. Pastinya Karina akan kecewa dan marah besar kepada nya.
"Secepatnya aku harus mengirim Silvia pulang ke kampungnya," gumam Ardi yang langsung bergegas pergi meninggalkan kantornya.
Ardi pun berjalan menuju area parkir, untuk menghampiri mobil nya. Dia akan mencari Silvia, dan mengirimnya kembali ke kampung.
Mobil nya telah melaju meninggalkan kantor, Ardi akan menghampiri Silvia di lampu merah yang tadi di lintasi dengan Karina.
Matanya terus mencari keberadaan Silvia, saat mobilnya telah berhenti di lampu merah.
Namun tak juga Ardi menemukan Silvia. "Dimana wanita itu?" gumam Ardi seraya memukul stir mobilnya.
__ADS_1
"Jangan sampai Karina melihatnya," ucap Ardi yang kembali memutar mobil nya.
Jangan lupa like ya guys