
Kemudian Silvia kembali menghampiri Ardi dan juga Karina
"Ma, aku takut." Arjuna terlihat ketakutan sambil memeluk Karina
"Enggak apa-apa, Nak! Kamu aman sama mama," ujar Karina membalas pelukan sang anak.
"Buka pintu, aku ingin ikut ke kota!" Silvia memaksa untuk membuka pintu mobil
"Bang, sebaiknya buka saja. Kasihanilah Silvia," ucap Karina yang menatap iba ke arah Silvia.
Ardi pun membuka kaca jendela mobilnya, "ada apa?' tanya Ardi.
"Minta uang untuk bayar ongkos ojek," pinta Silvia seraya menadahkan tangan nya.
"Apa! Minta uang?" ucap Ardi dengan senyuman mengejek.
"Karin, aku mau bayar ojek. Beri aku uang," pinta Silvia dengan paksa.
"Ini," ucap Ardi seraya memberikan dua lembar uang seratus ribu rupiah.
"Hanya segini?" cibir Silvia.
"Mau tidak?" Ardi kembali mengambil uang yang akan di berikan untuk Silvia.
"Baiklah, daripada ojek itu tidak di bayar," gerutu Silvia yang langsung mengambil uang dari tangan Ardi.
Kemudian Silvia langsung berjalan menghampiri laki-laki yang dia sebut tukang ojek.
"Nih!" ucap Silvia memberikan selembar uang seratus ribu.
"Apa! Cuma segini? Bukannya tadi kamu di kasih dua lembar?" tanya laki-laki itu yang melihat Silvia menerima uang dua ratus ribu dari Ardi
"Hey, mau di terima gak?" ucap Silvia
"Baik-baik, aku akan terima." Laki-laki itu pun langsung pergi meninggalkan Silvia.
Kemudian Silvia langsung berjalan menuju ke arah Ardi.
"Hey, Ardi! Lekas buka pintunya, aku mau ikut ke kota." Silvia langsung menggedor pintu mobil.
Dengan wajah terpaksa, Ardi pun membuka pintu mobil untuk Silvia.
Kini Silvia sudah duduk di sebelah Ardi, sedangkan Karina dan Arjuna duduk di bangku belakang.
Ardi langsung menyalakan mesin mobil nya, lalu berjalan meninggalkan desa.
"Silvia, kenapa kamu bisa berada di desa in!?" tanya Karina.
Silvia pun melirik ke arah Ardi, "suamimu yang telah membuangku," ucap Silvia dengan menatap sinis ke arah Ardi
"Membuangmu?" tanya Karina yang semakin bingung mendengar pernyataan Silvia.
"Wow, ternyata banyak rahasia suamimu yang belum kau ketahui." Silvia bertepuk tangan.
__ADS_1
"Silvia, aku memberi mu tumpangan bukan untuk menjelekkan ku. Kalau kau masih terus berbicara, maka akan aku turunkan kau di sini!" Ardi mengancam Silvia.
Silvia mengerucutkan bibirnya, sembari memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Karin, aku akan menjelaskan semua kepada mu. Aku mohon, percayalah padaku." Ardi melirik Karina dari kaca spion.
Karina hanya terdiam sembari memeluk putra kesayangannya. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan, yang ada hanya kebisuan.
Selang beberapa jam, mobil mereka telah sampai di daerah perkotaan.
"Fia, kau mau aku turunkan dimana?" tanya Ardi dengan nada suara yang kasar.
"Aku tidak punya rumah, semua itu juga karena kau!" ucap Silvia dengan nada sinis.
"Bang, perutku lapar," ucap Karina seraya mengelus perutnya.
"Baiklah, kita berhenti di restoran," ucap Ardi seraya mencari restoran.
"Aku juga," sahut Silvia
Ardi hanya terdiam tak menanggapi, lalu dia kembali fokus mencari restoran.
Mobil Ardi berhenti di sebuah restoran siap saji. Kemudian mereka pun keluar dari mobil, lalu menuju ke arah restoran.
Karina pun duduk di dekat jendela berdampingan dengan Arjuna. Sementara Ardi berjalan ke tempat pemesanan makanan. Silvia pun duduk di hadapan Karina
"Silvia, kenapa kamu pergi di saat kematian bang Rudi?" tanya Karina
"Urusan ku sudah selesai, dan kontrak ku telah habis." Silvia berucap dengan santai.
"Ardi telah membayarku untuk mendekati Rudi," ucap Silvia mengadu.
"Apa?" Karina terkejut mendengar pernyataan Silvia
"Sebenarnya tujuan Ardi adalah ingin membuat Rudi menjadi pria bajingan, lalu menghancurkan kehidupannya. Hanya saja dia keburu mati," ucap Silvia. "Tetapi sepertinya dia sangat menyesal telah membuatmu menderita, lalu kini menikahimu," ujar Silvia
Ardi pun datang dengan membawa dua nampan berisi makanan di tangannya.
Karina tak begitu saja percaya dengan pernyataan Silvia, dia lalu terdiam saat Ardi sudah tiba di hadapannya.
"Makanlah, agar perutmu tidak sakit." Ardi menaruh nampan di atas meja.
"Punyaku mana?" tanya Silvia
"Pesan saja sendiri," sahut Ardi yang sudah duduk di sebelah Arjuna.
"Aku tak punya uang," rengek Silvia
"Bukankah tadi kau hanya memberikan uang seratus ribu kepada tukang ojek itu," ujar Ardi.
"Ish!" Silvia mencebikkan bibirnya.
"Bang, kamu jangan terlalu judes sama Silvia." Karina menengahi perdebatan antara Silvia dan juga Ardi.
__ADS_1
"Ini uang, silakan kau beli makanan sesukamu." Karina memberikan uang kepada Silvia
"Terima kasih," jawab Silvia, kemudian dia langsung berjalan menuju meja pemesanan.
Ardi dan Karina pun mulai menyantap makanan mereka.
"Arjuna, papa suapin ya!" Ardi pun menyodorkan nasi beserta potongan ayam kepada Arjuna.
"Karin, apa Silvia berbicara sesuatu kepadamu?" tanya Ardi.
Karina hanya terdiam, dia tak menjawab pertanyaan dari Ardi. Karena tidak mungkin membicarakan hal pribadi di depan Arjuna.
"Sebaiknya kita bicarakan di rumah saja," sahut Karina
"Baiklah, kita cepat habiskan makanannya." Ardi kembali melanjutkan makannya sembari menyuapi Arjuna.
Silvia pun datang membawa makanan nya, lalu duduk di sebelah Ardi.
"Ardi, sebaiknya kamu siapkan rumah untuk ku," pinta Silvia sambil mengunyah ayam goreng Kentucky.
Ardi terdiam tak menjawab perkataan Silvia.
Selang beberapa menit, mereka telah menghabiskan makanannya.
"Baiklah kita pulang," ajak Ardi yang langsung berdiri, lalu menggendong Arjuna.
"Hey, Ardi! Bagaimana denganku?" tanya Silvia.
"Bukankah kemarin aku menemukanmu di jalanan? Kenapa sekarang kau memintaku untuk memberikan mu rumah?" tanya Ardi.
"Dasar laki-laki pengecut!" umpat Silvia.
"Aku tahu jika kau yang mengirimku ke rumah mbok Sun, agar kejahatan mu tidak di ketahui oleh Karina," ucap Silvia.
"Bang, berapa banyak rahasia lagi yang belum aku ketahui?" tanya Karina dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Karin, hal itu akan aku jelaskan di rumah. Aku mohon padamu, untuk mendengarkan penjelasan dariku." Ardi langsung menatap intens ke arah Karina.
"Please, Karin! Percayalah kepada ku, aku akan menjelaskan kepada mu semuanya," ungkap Ardi.
"Baiklah, sekarang kita pulang." Karina langsung berjalan meninggalkan Silvia.
"Hey, bagaimana dengan ku?" teriak Silvia.
Ardi dan Karina tidak menghiraukan panggilan dari Silvia, namun Silvia kekeh ingin mengikuti mereka.
"Karin, tunggu aku!" panggil Silvia.
"Silvia, aku berikan ATM untuk mu. Aku harap cukup untuk mu membayar kontrakan dan membuka usaha." Ardi memberikan kartu ATM nya kepada Silvia. "Pinnya angka enam sampai satu," lanjut Ardi.
Kemudian Ardi langsung masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan Silvia.
Silvia nampak tersenyum senang saat menerima ATM dari Ardi. Ardi memang mempunyai beberapa ATM untuk berbagai keperluan. Dan yang di berikan Silvia hanyalah ATM khusus untuk keperluan saat darurat.
__ADS_1
Namun Ardi akan terus mengeceknya melalui m bangking yang ada di ponselnya.
Like dan komentar ya kakak, mohon dukungannya