
Hey guys, aku harapkan sebelum membaca karya ku kalian langsung tap like dan vote ya. Agar terus muncul di notifikasi kalian, jika aku sudah update bab terbaru.
❤️❤️❤️❤️
Aku berhenti di tukang martabak, yang sudah buka pada sore hari. Jaraknya hanya beberapa meter dari kantor ku. Kemudian aku berjalan, menghampiri kedai martabak.
" Bang, uda buka?" Tanyaku pada tukang martabak yang sedang mengaduk adonan
" Sudah." Jawabnya sambil tersenyum.
Aku sedikit terpesona dengan senyumannya. Dia laki- laki yang masih muda, terlihat sangat rapi memakai baju seragam dengan logo merk Martabak Asoy di dadanya.
" Bang, martabak keju satu." Pesanku yang langsung duduk di kursi.
" Baru pulang kerja, Neng?" Tanyanya sambil mengaduk adonan.
" Iya, Bang." Jawabku sambil tersenyum, karena kulihat senyuman nya manis seperti martabak yang di jual nya.
" Sendiri aja, gak sama pacarnya?" Tanyanya menggoda. Mungkin itu ada startegi pemasaran, yaitu dengan merayu konsumen dengan metode pendekatan.
" Abang, liat saya sendiri apa berdua?" Tanyaku melempar candaan.
" Oh iya, sendirian." Ucapnya yang langsung menuang adonan ke dalam wajan.
Saat aku sedang menunggu martabak, tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari arah belakang.
" Karin, enak-enakan ya kamu nongkrong di sini?" Hardik Rudi yang dengan nada emosi sambil menepuk pundak ku
" Kamu mau ngapain, Bang?" Tanyaku malas.
" Kamu ngadu apa sama bosmu, sampai Silvia di pindahkan ke tempat yang jauh?" tanya Rudi
" Aku bukan tukang ngadu, Bang." tegasku
" Ya sudah, sebaiknya aku akan percepat mengurus surat perceraian. " kata Rudi
" Bang, hal itu kita bicarakan nanti. Gak enak di sini banyak orang, malu." Kataku sambil melirik tukang martabak yang masih fokus memarut keju
" Alah, aku gak perduli. Pokoknya kamu urus surat cerai kita." Desak Rudi.
" Kan kamu yang minta cerai, harusnya kamu yang urus." Jawabku menolak.
" Dan itu anak di dalam perut mu, gugurin aja biar proses cerai kita cepat selesai." Katanya dengan suara yang sangat kasar.
Lalu Rudi pergi meninggalkan ku, dia menghampiri motor nya, lalu melesat pergi.
Aku kesal melihat sikap Rudi, yang sangat memalukan. Dan aku merasa tidak enak pada tukang martabak, yang sedari tadi mengamati ku.
" Maaf ya Bang, udah bikin keributan." Ucapku dengan perasaan tak enak hati.
" Iya, enggak apa-apa." Jawabnya langsung memberikan satu box martabak keju manis.
" Ini Bang uangnya, makasih ya!" Kataku yang memberikan uang pas pada tukang martabak.
" Sama-sama, semoga suka ya." Kata tukang martabak.
__ADS_1
Lalu aku berjalan menuju trotoar, untuk menunggu angkot.
Pikiran ku sedang kalut, dan emosi karena sikap Rudi yang kasar tadi.
Aku tak habis pikir, ada laki-laki yang sangat egois seperti itu. Sangat berbeda sikapnya, saat sewaktu dia mendekati ku dulu.
Aku telah sampai di rumah, dengan membawa satu box martabak.
" Bu, " panggil ku saat melihat ibuku sedang duduk di ruang tamu, bersama Keyla dan Kesya.
" Tante Karin ..." Panggil kedua keponakan ku dengan wajah berseri, menyambut kedatangan ku.
" Tante bawa martabak keju, ayo kita makan sama-sama." Kataku yang menaruh box martabak di atas meja.
" Hore ...." mereka berdua bersorak riang gembira, menyambut kedatanganku sembari memelukku
" Karin, kamu mandi dulu baru makan bersama." Perintah ibuku.
" Iya, Bu." jawabku menurut, dan aku langsung masuk ke dalam kamar ku.
Selang beberapa menit, aku selesai membersihkan diri. Aku langsung menghampiri keponakan ku yang lucu-lucu, di ruang tamu.
Selang beberapa menit, aku selesai membersihkan diri. Aku langsung menghampiri keponakan ku yang lucu-lucu, di ruang tamu.
" Karin, besok kakak akan pulang." Kata Diana yang sedang menikmati martabak yang aku bawakan.
" Iya, " jawabku.
" Lalu bagaimana hubungan mu dengan, Rudi?" Tanyanya.
Aku pun melihat ke arah ibuku, dan enggan menjawab pertanyaan nya.
Aku pun masuk ke dalam kamar, dan langsung merebahkan tubuh ku di kasur.
Aku merasa sedih, karena tadi Rudi menghardikku dengan kasar. Dan aku tidak mungkin cerita pada ibuku, bisa-bisa dia pingsan lagi.
" Tok, tok ,tok ..."
Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunanku. Aku langsung mengusap air mata, yang tiba-tiba saja lolos dari kedua mataku.
Diana langsung membukakan pintu, dan terkejut melihat kedatangan orang tua Rudi.
Diana langsung mempersilakan kedua orang tua Rudi masuk. Lalu menyuruhnya duduk di ruang tamu.
" Karin, ada orang tua Rudi." Kata Diana yang datang menghampiri ku di dalam kamar.
" Orang tua, Bang Rudi? Mau apa dia?" Tanyaku yang langsung bangun dari tempat tidur.
" Enggak tahu, sebaiknya kamu temui mereka." Ucap Diana yang langsung pergi meninggalkan ku.
" Baiklah, " kataku mengikuti Diana keluar kamar
Aku mempunyai perasaan yang tidak enak, sepertinya akan ada hal buruk yang akan di bicarakan.
" Bu, Pak!" Kataku yang langsung mencium tangan kedua mertua ku.
__ADS_1
" Karin, buatkan teh dulu, ya!" Kataku yang ingin berbalik, namun langkah ku terhenti saat ibu mertuaku berbicara.
" Enggak usah, kita kesini gak lama." Sergahnya dengan nada suara yang ketus.
" Loh kok, memang ada apa Bu?" Tanyaku yang bingung dengan sikap mertuaku.
" Langsung aja, udah kamu duduk di situ." Kata Ambar dengan nada suara yang kasar.
" Iya, Bu. " kataku menuruti perkataannya. Aku kembali duduk di bangku, yang berhadapan dengan kedua mertuaku.
" Rudi, mau minta cerai." Kata Ambar langsung pada pembicaraan inti.
" Apa, Bu?" Kataku terkejut, aku tidak menyangka jika Rudi benar-benar serius ingin menceraikan ku.
" Iya, dari awal ibu emang gak percaya kalau Rudi itu cinta sama kamu. Pasti kamu pelet dia, iya, kan?" Ucapnya menuduh ku telah mendukuni Rudi. Sangat amat sakit hatiku, saat mertuaku menuduh ku yang bukan-bukan.
" Apa, Bu? Aku gak sehina itu, walaupun aku jelek tapi gak akan pakai cara syirik seperti itu. " Ucapku emosi mendengar tuduhan dari ibu mertuaku.
" Eh Bu, kalau ngomong di jaga ya! Emang ibu punya bukti kalau adik saya itu melet si laki-laki buaya darat itu?" Kata Diana yang membalikkan tuduhan dari mertuaku.
" Orang kalau mau melet gak perlu bukti, yang pasti dari awal saya emang gak setuju Rudi nikah sama kamu. Tapi dia maksa, katanya uda cinta sama kamu." Ucapnya lagi yang telah mengolok ku.
Tuduhan yang di ucapkan oleh mertuaku, amat sangat menyakiti hatiku. Bukankah anaknya sendiri yang mendekati ku, lalu merayuku. Namun kenapa sekarang aku yang di fitnah, telah mendukuninya?
" Rudi tidak bisa bercerai saat ini, karena Karina sedang hamil." kata Diana sambil menatap sinis ke arah kedua mertua ku.
" Apa, kenapa Rudi tidak bilang kepada kami? " tanya Parjono yang terkejut mendengar ucapan Diana.
" Karena anak situ, cuma mau mainin adik saya aja." ketus Diana.
" Pak, di rahim Karina ada cucu kita." bisik Ambar pada suami nya.
" Ya udah, kita pikirkan nanti di rumah." sahut Parjono yang langsung berdiri.
" Maaf, kami pulang dulu " pamitnya, dan pergi meninggalkan rumah orang tua Karina.
Aku menangis sejadi-jadinya, melihat kedua mertua ku datang mengajukan perceraian.
Kakiku langsung berlari menuju kamar ku, dan membenamkan wajahku di atas bantal.
" Kenapa bang, kamu tega nyakitin aku?" keluhku.
" Dan kenapa kamu harus menikahi Silvia?" lirihku
" Karina, kamu mungut di mana sih suami macam kayak gitu?" Geram Diana yang kini duduk di hadapan ku.
" Aku menyesal Kak, kenapa aku bisa terbujuk rayuannya. Seandainya aku mengenal lebih jauh, gak mungkin akan seperti ini." Lirihku sambil menangis tersedu.
" Iya udah, selesai melahirkan langsung kamu urus surat cerai nya." Saran Diana dengan wajah juteknya.
Ibuku hanya mendengarkan pembicaraan kami di kamar. Pasti hatinya sangat sakit dan pedih, melihat anaknya di perlakukan semena-mena. Apalagi sudah di tuduh mendukuni orang.
Aku langsung masuk ke dalam kamar ku, dan menidurkan tubuh ku dengan posisi tengkurap.
Aku meluapkan kekesalanku dan kemarahan ku dengan menangis. Menyembunyikan wajah ku di atas bantal.
__ADS_1
Aku tidak ingin melihat ibuku bersedih, jika tahu anaknya sedang rapuh.
Silakan kalian tap like karyaku ya guys, dan nantikan bab berikutnya.