
Keesokan paginya, Karina pun terbangun untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Sayang, kamu sudah tidak muntah lagi?" tanya Ardi yang datang mendekati Karina. Ardi memeluk pinggang Karina dari arah belakangnya.
"Enggak, Bang! Biasanya ibu hamil akan hilang masa ngidamnya, saat kandungnya berusia empat bulan." Karina berucap seraya tangan nya sibuk mengaduk sayur capcay.
"Oh, jadi nanti malam kita bisa..." Ardi ingin mencium pipi Karina, namun di panggil oleh Arjuna dari arah belakang.
"Ma, Pa..." Arjuna berdiri di sebelah meja makan.
"Eh, anak papa sudah bangun." Ardi langsung melepaskan tangannya dari pinggang Karina. Lalu dia menghampiri Arjuna.
"Kamu ngompol gak?" tanya Ardi yang langsung menggendong Arjuna.
"Enggak, Pah! Aku pakai Pampers." Arjuna menjawab sambil melingkarkan tangannya ke leher Ardi.
"Baiklah, sekarang kamu mandi dulu." Ardi langsung membawa Arjuna menuju kamar mandi.
Ardi begitu perhatian pada Arjuna, karena memang sedari bayi Ardi sudah mengurusnya.
__ADS_1
Karina masih fokus memasak sarapan untuk dua jagoannya. Setelah menata rapi di atas meja makan, terlihat Arjuna telah di rapikan oleh Ardi.
"Kita makan, yuk!" ajak Ardi yang langsung menurunkan Arjuna dari gendongannya.
Mereka pun makan bersama-sama, menikmati sarapan yang di buat oleh Karina.
"Karin, seperti nya kamu belum pernah periksa hamil?" tanya Ardi yang memang tidak pernah mengantar Karina periksa ke dokter kandungan.
"Ah iya, aku lupa!" ucap Karina seraya menutup mulutnya dengan satu tangan nya. " Mungkin karena terlalu sibuk dengan urusan kakakku, hingga aku melupakan anakku yang ada di dalam perut ini." Karina sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Hari ini kita akan periksa dedek bayi," ucap Ardi.
"Aku seorang CEO," jawab Ardi.
"Tapi kamu harus menunjukkan tanggung jawab mu pada bawahan mu. Kamu tidak boleh mencontohkan yang tidak bagus pada karyamu," jelas Karina.
"Aku sudah mencontohkan hal baik pada mereka," jawab Ardi.
"Tapi kami harus rajin masuk, karena selama ini kamu selalu saja pulang cepat atau berangkat siang." Karina menegaskan.
__ADS_1
"Aku sudah bilang sama kamu, untuk selalu berada di samping mu saat kau membutuhkan ku. Uang bisa di cari, tapi menemani istri saat ngidam itu hanya sekali. Itupun kalau kamu mau hamil berkali-kali, aku sanggup menemanimu setiap tahun," ucap Ardi menggoda sang istri
"Ngaco," sahut Karina seraya mengernyit kan keningnya.
"Aku mau punya anak yang banyak, memangnya kamu tidak mau?" tanya Ardi. Lalu mata Ardi melirik ke arah Arjuna. "Juna, mau punya adik banyak?" tanya Ardi.
"Mau, Pah!" jawab Arjuna bersemangat.
"Bang, kamu jangan ngajarin Juna yang enggak-enggak," ucap Karina mendengus kesal.
"Iya sudah, sekarang kita makan dan habiskan masakan buatan mama tercinta," ucap Ardi yang langsung memasukkan sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulutnya. Kemdian dia tersenyum genit ke arah Karina.
Karina hanya memutar kedua bola matanya malas, melihat sikap sang suami yang belakangan ini sering menggodanya.
Usai menghabiskan sarapan, Karina langsung mengganti bajunya. Karena Ardi akan mengajaknya periksa ke dokter kandungan.
"Aku panaskan mobil dulu, ya!" Ardi langsung berjalan menuju garasi mobil nya sambil menggendong Arjuna.
Karina memandang dirinya di depan cermin, sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
"Aku baru merasakan nikmatnya menjadi ibu hamil," Ucap Karina sambil tersenyum, "andai dulu bang Rudi memperhatikan aku saat hamil Arjuna!" lanjut Karina yang mulai menitikkan air mata nya saat mengingat masa lalunya.