Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 74


__ADS_3

"Maksud Bapak, ilmu apa?" tanya Karina yang memang tidak mengetahui perihal ilmu yang dimiliki oleh Ambar.


Sebelumnya Parjono sudah mengetahui jika Ambar mempunyai ilmu untuk memeletnya. Itupun dari tetangganya dan ilmu yang Ambar pelajari, mempengaruhi jiwanya.


Ambar berguru pada seorang dukun di kaki bukit gunung Lawuk. Parjono pun telah menyelidiki siapa dukun yang memberikan ilmu kepada nya. Dan ternyata dukun itu telah meninggal, sebelum ilmu yang Ambar miliki jatuh ke tangan orang lain. Ambar melupakan amanah dari sang dukun, jika ilmunya harus diturunkan pada keturunannya. Sedangkan Rudi, telah meninggal. Dan Ambar mengincar Arjuna, namun bayangan Rudi selalu menghantuinya. Rudi selalu memanggil Ambar agar mengajak Arjuna dan juga Karina untuk menemaninya. Padahal itu adalah tumbal untuk ilmunya.


Parjono telah menjelaskan pada Karina, perihal ilmu yang dimiliki oleh Ambar.


Karina hanya bisa memijat kepalanya, mendengar cerita dari bapak mertuanya.


Dia tidak menyangka, jika harus menemui orang seperti ibu mertuanya.


"Baiklah, Pak! Walaupun aku memproses secara hukum, pastinya laporan ku tidak akan di terima. Karena kondisi ibu yang mempunyai riwayat penyakit jiwa. Jadi aku ikhlas kan kepergian kakakku," ucap Karina dengan nafas beratnya.


"Maafkan ibu ya, Nak!" Parjono langsung memeluk tubuh Karina. "Maafkan kami yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk mu dan suamimu," ucap Parjono sambil menangis. Dia menyesal karena tidak dapat membimbing Rudi, membina rumah tangga bersama Karina.

__ADS_1


"Aku sudah ikhlas," jawab Karina.


Kemudian mereka pun menuju ruangan Ambar. Terlihat Diana yang sudah rapi membawa berkas-berkas rumah sakit. Selain itu, Diana menyerahkan sertifikat rumah milik suami Bedah.


"Suami kak Bedah, memberikan rumahnya kepada kita. Dia bilang tidak berhak memiliki rumah yang telah di beli Bedah dari hasil menjual rumah ibunya. Sementara suami Bedah tinggal di rumahnya yang dulu. Baginya walaupun kecil, tapi tidak merebut harta orang lain." Diana menyerahkan sertifikat tanah kepada Karina.


"Loh, bukannya dia gak punya rumah lagi karena sudah di bohongi?" tanya Karina.


"Kak Bedah, masih punya rumah. Dan suami kak Bedah merasa tidak nyaman jika harus memilikinya. Walaupun rumah itu harta bersama mereka, namun di hati suami kak Bedah merasa dia harus mengembalikan harta warisan dari ibu," ucap Diana.


"Kak, jenazah kak Bedah langsung bawa ke rumah. Nanti kita adakan acara tahlil untuk mendoakan kak Bedah," ucap Karina. "Aku mau melihat ibu mertuaku dulu." Karina langsung berjalan menuju ruangan Ambar.


Diana pulang bersama dengan ambulans, sedangkan Karina masih harus mengurus Ambar.


"Nah, wanita cantik ini yang harus menjadi istri Rudi." Ambar mendekati Karina. Dia memang tidak menyadari jika Karina adalah mantan istri Rudi. Karena di penglihatannya, Karina terlihat sangat jelek dan gemuk.

__ADS_1


"Eh, lihat Rudi suka sama kamu. Sebaiknya kamu ikut ibu, temui Rudi." Ambar langsung mendekati Karina lalu mencengkeram lehernya.


"Pak..." Karina berteriak saat Ambar mencekik lehernya.


"Ambar, lepasin..." teriak Parjono sambil melepaskan cengkraman tangan Ambar dari leher Karina.


"Wanita ini harus menyusul Rudi, karena Rudi sangat bahagia melihat dia, Pak!" ucap Ambar dengan mata yang melotot.


"Lepaskan..." Parjono mencoba menarik tangan Ambar.


"Hueks..." Suara Karina yang tercekik.


Parjono terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Ambar.


"Tolong..." Parjono berteriak. Muncullah para perawat dan juga dokter. Mereka membantu Parjono melepaskan tangan Ambar dari leher Karina.

__ADS_1


__ADS_2