Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 19


__ADS_3

" Kak, kenalkan istriku, Karina." kata Rudi yang memperkenalkan ku pada kakaknya.


" Ardi." jawabnya sambil mengulurkan tangannya.


Aku pun mengulurkan tangan ku, dan berjabat dengannya.


" Karina." jawabku sambil tersenyum.


Namun sesaat dia memalingkan wajahnya, dan kembali duduk di bangku.


Aku di rangkul oleh Rudi, menuju rumah mertua ku.


" Kamu gak usah mikirin kakakmu, nanti kehamilan mu akan terganggu." kata Rudi memberi saran padaku, sembari berjalan menuju ke arah kamar.


Di dalam ada koper milik Ardi, yang berada di sebelah tempat tidur.


Melihat ada koper, Rudi langsung keluar kamar dan menghampiri Ardi.


" Kak, maafkan aku. Mulai malam tadi, kamarmu di pakai oleh istriku." kata Rudi.


" Pantas saja, aku lihat di lemari banyak pakaian wanita." kata Ardi dengan menatap datar ke arah Rudi.


" Kenapa, tidak tinggal saja di rumah mu?" tanya Ardi yang belum mengetahui jika Rudi mempunyai dua istri.


" Di rumah, ada istri keduaku." kata Rudi sambil memalingkan wajahnya.


" Apa? Pekerjaan tak punya, tapi kau sudah beristri dua!" cibir Ardi menatap malas ke arah adiknya, " Apa kau pakai pelet?" tebakan nya.


" Memang dasar saja kau yang tidak laku, hingga sampai saat ini kau masih melajang." ejek Rudi memancing kemarahan Ardi


" Apa kau bilang?" emosi Ardi yang langsung bangkit dan ingin memukul Rudi.


" Hentikan." kataku yang langsung menghalangi perselisihan di antara mereka.


Rudi langsung berlindung di belakang ku, dan Ardi malah melotot tajam ke arahnya.


" Pengecut, bisanya berlindung di ketiak perempuan." ejek Ardi yang langsung masuk ke dalam rumah.


" Bang, kalian ngobrolin apa sih hingga bertengkar?" tanya Ku pada Rudi.


" Dia kesal, karena aku punya istri dua." kata Rudi menjelaskan.


Apa dia masih lajang? batinku sambil melihat ke arah dalam rumah.


Aku pun masuk ke dalam rumah, sementara Rudi kembali ke rumahnya.


Mertuaku sedang pergi, menengok tanah yang telah laku di jual. Awalnya mereka membeli murah, hanya saja sekarang sudah menjadi daerah perkotaan. Dan tanah kosong nya akan di jadikan apartemen. Maka mereka akan mendapatkan uang, yang sangat banyak.


Hal itu yang mendesak mereka, agar memiliki cucu. Dan sikap mereka berubah, menjadi baik kepada ku.

__ADS_1


" Maaf Bang, soal sikap bang Rudi." kataku yang sempat mendengarkan pembicaraan mereka.


" Iya, enggak apa-apa." jawabnya sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.


" Kalau memang kehadiran ku mengganggu abang, sebaiknya aku pindah saja ke rumah kakakku." kataku yang merasa tak enak hati pada Ardi


" Oh gak perlu, aku akan menyewa kostan. Lagi pula aku di sini karena permintaan ibu. " kata Ardi.


" Maksud abang?" tanyaku penasaran.


" Dia mau membagi harta penjualan tanah, dalam waktu dekat ini. Dan usai aku mendapatkan jatahku, langsung kembali ke kota seberang." kata Ardi.


Apa, dia hanya kembali karena harta? Bukan karena rindu dengan orang tuanya? Pantas saja masih lajang, sikapnya begitu dingin dan acuh." kataku sambil menatapnya intens.


" Kamu ngapain ngeliat aku kayak gitu? Apa tertarik?" godanya padaku


" Oh, enggak bang. Hanya heran saja, kenapa abang hanya kembali demi harta?" tanyaku sedikit ragu, takut menyinggung perasaannya.


" Oh, soal itu?" kata Ardi langsung memalingkan wajahnya, " Perlahan juga kau akan tahu." ucapnya membuatku penasaran.


Sudahlah, aku tak ingin memikirkan mereka. Aku saja sudah pusing dengan masalah ku. batinku sambil menatap nanar Ardi.


Aku langsung masuk ke dalam kamar ku, mengistirahatkan tubuh ku di atas kasur. Karena seharian, aku berboncengan motor dengan Rudi.


Aku merasakan kencang, di bagian perutku. Terasa kram, dan sedikit sakit bagian bawah perutku. Aku memijat pelan perut bagian bawah, dan membalurkan dengan minyak kayu putih. Agar otot perutku, menjadi renggang dan tak kencang lagi.


****


Keesokan harinya, aku mendapat telepon dari Ajeng.


" Halo, Karin." sapa Ajeng di sambungan telepon seluler.


" Halo, Mbak. Ada apa?" jawabku


" Suamimu, di panggil untuk interview." ucapnya melapor padaku.


" Apa, Mbak? Suamiku di panggil interview?" tanyaku memastikan.


" Iya, bagian HRD gudang pusat yang menelponku." kata Ajeng.


" Baik, Mbak. Aku akan memberitahu suamiku." kataku yang senang mendengar kabar dari Ajeng.


" Pagi ini, dia harus sudah sampai di gudang pusat jam sepuluh." kata Ajeng.


" Baik, Mbak." kataku yang langsung menutup sambungan teleponnya.


Segera aku bangkit dari tidurku, lalu keluar dari kamar.


Aku melihat, Ardi yang masih tertidur lelap di sofa. Aku merasa tak enak hati padanya, karena kehadiran ku, dia jadi tidur di sofa.

__ADS_1


Aku melangkah perlahan, agar tidak mengganggunya.


Kubuka perlahan pintu, dan keluar menuju rumah Rudi.


" Tok, tok, tok.." ku ayunkan tangan ku, untuk mengetuk pintu rumah Rudi.


Tak nampak kulihat ada orang yang akan membuka, karena terhalang oleh korden.


Lalu aku panggil nama Rudi, agar dia mendengar suaraku.


" Bang, bang Rudi...." sembari mengetuk pintunya.


Selang beberapa menit, pintu pun terbuka. Aku melihat Silvia hanya mengenakan kain, yang menutupi tubuhnya. Seolah-olah dia sedang meledekku, karena telah memadu kasih dengan Rudi.


" Ada apa sih, pagi-pagi mengganggu orang lagi berduaan." ejeknya sambil menatap sinis ke arahku.


" Mana bang Rudi?" tanyaku yang langsung mendorong tubuh Silvia, dan masuk ke dalam rumah.


" Eh, apa-apa an kamu. Main masuk-masuk aja, mau aku laporin ke pak RT?" ancam Silvia.


" Lapor saja, aku tidak takut. Lagipula, bang Rudi masih suami sah aku. Sedangkan kau siapa? Buku nikah saja tidak punya." Cibirku menatap jijik ke arah Silvia.


" Eh, awas ya. Kalau anakmu lahir, akan aku jamin proses cerai berlangsung. Agar aku mendapatkan surat nikah resmi." ujar Silvia, namun perkataan nya tidak aku hiraukan.


" Bang, bang .." kataku yang membangunkan nya di kamar.


" Iya, ada apa?" jawab Rudi malas.


" Bang, ada panggilan interview jam sepuluh. Cepat mandi, dan pakaian yang rapi. Agar abang bisa di terima kerja." kataku sambil menggoyangkan tubuhnya.


Rudi langsung membuka kedua matanya, lalu bangkit dari tempat tidur.


" Bang, mau kemana?" tanya Silvia yang di lintasi oleh Rudi.


" Mau mandi." jawabnya.


" Ish, kamu mengganggu aja. Gak tahu apa aku lagi enak." gerutu Silvia yang sudah masuk ke dalam kamar.


Aku tak menghiraukan gerutuan Silvia, yang jelas aku akan mengurus suamiku untuk pergi interview.


" Silvia, cepat kau masak makanan untuk bang Rudi. Dia akan di interview, dan aku berharap dia bisa bekerja." kataku yang menyuruh Silvia.


" Kau saja, bukannya kamu yang mengharuskan dia bekerja?" Cibir Silvia sambil memalingkan baju tidur nya.


" Apa? Kamu suami mau kerja kok gak di dukung?" geramku melihat tingkah Silvia.


Akhirnya aku putuskan untuk keluar dari rumah Rudi, lalu menuju rumah mertuaku.


Like yang banyak ya guys, untuk mendukung karyaku agar menang dalam kontes berbagi cinta.

__ADS_1


__ADS_2