
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
Ajeng dan Nanik pun saling melempar pandangan. Mereka sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.
" Maaf, aku sudah lancang!" kataku sambil menundukkan kepala karena telah menghentikan tawa mereka soal Silvia.
" Aku sebal aja, kenapa dia bisa merebut suamimu." kata Nanik.
Seharusnya yang marah itu aku, bukannya mereka.
" Kamu tahu gak? Kalau Silvia itu sering di antar jemput oleh suamimu sewaktu kamu masih pacaran dulu?" kata Ajeng yang melirikku dari arah kaca spion.
" Silvia tuh curhat sama kita-kita, katanya mau ngerjain kamu. Dulu dia iri melihat kamu dapat pacar ganteng. Sedangkan wajah mu pas-pasan dan gak cantik. " tutur Nanik.
" Udah gitu, suami kamu malah kepancing sama dia." sambung Ajeng.
" Iya kita geregetan dong, akhirnya aku rekam semua keributan kamu kemarin. Dan dia di mutasi, jauh dari kita. Ha, ha, ha ...!" kata Nanik sambil tertawa lepas.
Tapi aku tidak percaya begitu saja, pasti ada alasan lain. Aku hanya mendengarkan mereka berbicara, tanpa memprotes.
Aku tidak ingin mencari keributan, biar aku ikuti sesuai alur dari Tuhan.
" Apalagi aku melihat kamu, di labrak oleh suamimu." kata Ajeng yang melihat ku di labrak Rudi saat membeli martabak kemarin sore.
" Ingin rasanya aku membelamu kemarin, namun sayang aku hanya orang lain dan gak bisa ikut campur."
" Terima kasih, kalian sudah perhatian padaku." kataku sambil melihat ke arah Nanik dan Ajeng.
" Aku hanya kasihan sama kamu, karena bu Christina bercerita soal ibumu. Katanya dia sakitnya sama dengan bos kita?" tanya Ajeng.
" Iya, Mbak!" jawabku.
Aku masih belum paham dengan sikap mereka. Apa hubungannya dengan bosku, dan ibuku? Batinku terus bertanya dengan sikap mereka.
Sepertinya ada dendam antara Nanik, Ajeng dan Silvia.
****
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri. Usai mengganti bajuku dengan baju santai, aku langsung menghampiri ibuku.
" Kamu sudah gak mual lagi?" tanya ibuku.
" Kalau di bawa kerja, perut Karina gak mual." tuturku seraya duduk di pinggiran tempat tidur.
****
Aku tidak lagi kembali ke rumah Rudi, karena kupikir di sana sudah ada Silvia. Maka ku putuskan untuk tinggal bersama ibuku.
Sesampainya di kantor, aku di rekomendasikan menjadi manajer di tempat ku bekerja.
Bosku Christina Lee, sangat menyukai pekerjaan ku yang ulet dan gigih. Ajeng dan Nanik memberiku ucapan selamat.
Ternyata mereka adalah kaki tangan Christina Lee. Mereka merangkap sebagai pegawai yang menyamar, untuk melihat kinerja para karyawan.
Semua karyawan tidak ada yang mengetahui, rekam jejak mereka.
__ADS_1
" Karin, kita ke salon yuk!" ajak Ajeng sambil merangkul ku.
" Iya, traktir kita dong. Karena kamu kini naik jabatan." ujar Nanik yang juga menghampiri kami.
" Iya udah Mbak, nanti pulang kerja kita ke salon." jawabku malu-malu.
" Nih ada, bonus dari bos Chris." kata Ajeng seraya memberikan amplop putih.
" Bonus?" ucap ku bingung.
" Kamu dapat reward, karena sudah naik jabatan." kata Nanik menjelaskan.
" Ya ampun, makasih Mbak. Semua berkat kalian yang telah membantuku." ucapku sambil menerima amplop putih.
" Iya udah, sore nanti kita langsung ke salon ya! Dan tenang aja, kita bayar sendiri-sendiri kok." tutur Ajeng.
" Eh, iya." ucapku sambil menggaruk kepala.
****
Ajeng dan Nanik selalu mengajakku ke salon, seminggu sekali. Katanya itu ada budget khusus untuk manager pemasaran. Karena seorang manager harus selalu tampil cantik
Kini perutku sudah mulai membesar, karena usia kehamilanku menginjak tujuh bulan.
Wajah ku tidak lagi terlihat kusam, dan tubuhku terlihat seksi dan montok walaupun sedang hamil.
Karena aku rutin mengikuti senam hamil, dan menjaga pola makanku.
Sepulang kerja, aku selalu naik angkot. Karena prinsip ku adalah tidak boleh merubah gaya hidup. Urusan salon merupakan jatah dari kantor, dan bukan uang pribadi ku.
" Karina ..." lirihnya dengan suara yang kecil, namun sanggup aku mendengar nya.
" Iya, Bang. " jawabku yang menoleh ke arah Rudi
" Kamu?" ucapnya terhenti karena memandangi penampilan ku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
" Ada apa, Bang?" tanya ku penuh penekanan.
" Kamu cantik sekali." pujinya tanpa berkedip.
Aku hanya memutar kedua bola mataku dengan malas, menanggapi pujian Rudi.
" Aku pulang dulu ya, Bang. Sudah gak kuat berdiri lama-lama." kataku sambil mengusap perutku yang sudah membuncit.
" Abang anter, ya!" ucapnya menawarkan tumpangan padaku.
" Maaf Bang, aku gak mau bikin Silvia salah paham." ucapku menolak tawaran Rudi.
" Tapi kamu, masih sah jadi istri Abang." ucap Rudi terus mendesakku.
" Besok Abang anter kerja, ya. Biar kamu gak capek bawa anak kita." tuturnya dengan lemah lembut.
Perlakuan Rudi kepadaku tiba-tiba saja berubah, kenapa dia tidak lagi menghardikku. Kemana niatan dia yang ingin bercerai denganku?
Namun sekali lagi, aku memikirkan anakku. Aku terima tawaran Rudi, untuk memboncengi ku sampai rumah.
__ADS_1
" Iya sudah, " jawabku setuju, lalu aku menaiki motor Rudi.
" Pelan-pelan ya , Bang." ucapku memberi syarat.
" Iya." jawabnya yang langsung melajukan motornya menuju rumah ku.
Sesampainya di rumah, aku langsung turun, " Terima kasih ya, Bang." ucapku dengan wajah yang datar.
" Besok pagi, Abang anter ya!" pesannya yang langsung menyalakan motor nya, lalu meninggalkan rumahku.
" Kenapa dia begitu manis, aku rindu sikap bang Rudi yang seperti ini." lirih ku mengiringi kepergian Rudi.
Aku pun masuk ke dalam rumah, terlihat ibuku sedang memperhatikan ku.
Kulihat ibuku berdiri di sebelah jendela, memandangku dengan tatapan iba. Aku merasa tak enak hati kepadanya, apakah dia tidak suka jika aku di antar oleh Rudi pulang ke rumah?
Pertanyaan itu memenuhi isi kepalaku, aku bingung harus bersikap di hadapannya.
" Bu, " panggilku yang sudah masuk ke dalam rumah. Lalu aku mencium punggung tangan ibuku.
" Rudi mengantarmu?" tanyanya lembut.
" Apa ibu, marah?" tanyaku ragu.
" Untuk apa ibu marah?" jawab ibuku dengan seulas senyum.
Entah sampai saat ini, aku belum bisa mengartikan senyum ibuku. Apakah dia bahagia, atau marah kepadaku?
" Sebaiknya kau mandi, dan makan." perintah ibuku.
" Baik, Bu." jawabku sambil melihat kepergiannya menuju kamar.
Aku langsung menuju kamarku, untuk menaruh tas dan membersihkan diri.
***
" Tok, tok, tok..."
Menjelang malam hari, terdengar suara ketukan pintu. Aku yang sedang menonton televisi, langsung bangun untuk membukakan pintu.
Langkahku mulai terasa berat, karena perutku yang kian membesar.
Ku buka perlahan pintu untuk melihat tamu yang datang.
" Ceklek.."
Aku terkejut saat melihat tamu, yang datang ke rumahku
" Bang Rudi?" lirihku, mengucap nama suamiku yang kini berdiri di hadapanku.
" Karin, abang bawain martabak." kata Rudi seraya menyodorkan sebungkus martabak padaku.
" Bang, kenapa repot-repot bawain martabak?" tanyaku dengan perubahan sambil mengamati perubahan pada sikapnya.
" Kata ibu, orang hamil pasti makannya banyak." ucap Rudi dengan senyumnya yang membuatku selalu jatuh cinta.
__ADS_1
Silakan tap like dan vote ya!