Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 36


__ADS_3

Ardi membawa Arjuna ke depan teras, untuk di jemur di bawah sinar matahari pagi. Karena anak bayi butuh kehangatan, dari pancaran sinar matahari pagi.


Silvia mengamati sikap Ardi, yang begitu perhatian pada Karina.


" Kenapa bang Ardi begitu perhatian pada Karina? " Silvia bergumam dalam hati sambil memperhatikan Ardi dari dalam jendela rumah mertuanya.


" Silvia, ngapain kamu di depan jendela? " Ambar menegur Silvia.


Sontak Silvia terkejut, karena di panggil oleh Ambar.


" Eh Ibu, aku sedang memperhatikan bang Ardi. Kenapa dia begitu perhatian pada Karina? " Silvia berusaha memancing di air keruh.


Ambar melihat ke arah jendela, dan memperhatikan Ardi sedang menggendong anak Karina.


" Kamu jangan kotor pikiran nya, si Ardi itu lagi gendong Arjuna. Dan gak ada Karin di situ, " ucap Ambar dengan nada ketus.


" Iya tapi, Bu-- " Silvia belum sempat meneruskan perkataannya, tiba-tiba Ambar keluar menghampiri Ardi.


" Ish, sebal. " Silvia mendengus kesal.


Ambar menghampiri Ardi yang sedang menggendong Arjuna.


" Ardi, ibu mau gendong Juna, " ucap Ambar yang sudah berdiri di hadapan Ardi. Ambar langsung mengulurkan kedua tangan nya, bermaksud ingin mengambil Arjuna dari Ardi.


" Arjuna lagi di jemur, nanti saja Ibu bilang sama Karina, kalau mau gendong Juna. " Ardi memeluk tubuh Arjuna.


" Ish, mau gendong cucu kenapa harus ijin dulu, sih! " Ambar terlihat kesal dengan sikap Ardi yang mulai memancing emosi.


" Aku sudah ijin sama Karina untuk menjaga Arjuna, jadi kalau Ibu mau gendong, ya harus ijin juga! " Ardi menolak memberikan Arjuna pada Ambar.


" Huh, repot banget. " Ambar langsung masuk ke dalam rumah Rudi.


" Karina, Karina .... "


Ambar memanggil Karina, namun tak ada jawaban.


Kemudian dia keluar rumah dan menghampiri Ardi.


" Ardi, Karina dimana? " tanya Ambar.


" Di kamar mandi, dia sedang mandi. " Ardi memberi penjelasan.


" Oh ya sudah, ibu tunggu di sini aja. " Ambar langsung duduk di bangku depan teras rumah Rudi.


Selang beberapa menit, Karina keluar dari kamar mandi. Dia pun berjalan menuju ke arah kamar untuk mencari baju ganti.


Daster berwarna coklat dengan motif kembang matahari, dan berkancing depan di pakai oleh Karina. Daster milik sang ibu, yang pertama kali Karina beli dengan hasil keringat nya sendiri, saat menerima gaji pertamanya.

__ADS_1


Sangat pas di badannya saat ini, terlihat cantik dengan kulit yang putih dan bersih.


Rambut panjang berwarna coklat yang masih basah, di biarkan tergerai.


Di keringkan rambutnya dengan hairdryer, lalu memakai pelembab di wajahnya serta krim dari dokter kecantikan. Hand body tak lupa di oles ke tangan kanan dan kiri, agar tetap lembab dan wangi. Itulah perawatan kulit yang rutin di kerjakan Karina setiap sehabis mandi pagi dan sore. Untuk urusan rambut, dia menyerahkan ke salon langganan nya.


Salon milik temannya, buka salon elit yang berada di mall. Karina sengaja menjadi pelanggan tetap di salon milik temannya.


Selesai melakukan perawatan, Karina keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Ardi yang berada di teras depan rumah nya.


Harum semerbak tercium di hidung Ardi, sungguh sangat wangi tubuh Karina sehabis mandi.


" Karin, " panggil Ambar yang duduk di bangku teras depan rumah


" Eh Ibu, ada apa? " tanya Karina sambil mendekati Ardi.


" Ibu mau gendong, Arjuna! " ucapnya meminta ijin.


" Aku mau menyusui Arjuna dulu, " kata Karina yang langsung mengambil Arjuna dari Ardi.


" Terima kasih ya, Bang! " Karina tersenyum ke arah Ardi.


Kemudian Karina masuk ke dalam rumahnya, terlihat Ambar sangat kesal dengan sikap menantunya.


Selang beberapa menit, Karina mendapatkan pesan singkat dari Nanik.


' Karina, Abel dan Rudi pergi berdua. Aku tidak tahu kemana mereka pergi, karena aku di tugaskan oleh bu Bos ke kantor pusat. '


' Terima kasih, Mbak! Aku akan mencoba menghubungi Abel, apakah dia akan jujur kepada ku. ' Pesan terkirim untuk Nanik.


Karina langsung mencari nomor Abel, kemudian dia akan menghubungi nya.


" Berdering .... "


Sudah tiga kali panggilan, Abel belum juga menjawabnya. Kemudian Karina mencoba sekali lagi, dan kali ini di jawab oleh Abel.


" Halo, Abel! "


" Halo, Bu Karin. Ada apa ya? "


" Kamu lagi dimana? "


" Mmmm, lagi di gu-dang, Bu! "


" Gudang? Memangnya bu bos ngasih kerjaan apa sama kamu? Kok bisa di gudang, bukannya tugas kamu berada di depan layar laptop? "


Karina terus memberondong pertanyaan pada Abel. Karina ingin Abel jujur kepada nya, dan mengatakan yang sebenarnya. Tetapi rasanya tidak akan mungkin, sewaktu Silvia.

__ADS_1


" Emmm .... " Abel berkelit, dia terus beralasan pada Karina.


Karina terus mendesak Abel agar berkata jujur, dan tidak berbuat yang macam-macam dengan suaminya.


" Baiklah, kalau kau benar akan aku tanyakan pada staf gudang. " Karina mengancam Abel.


" Bu, aku sedang keluar kantor. Mau isi perut dulu, karena tadi pagi belum sarapan. " Abel lagi-lagi berkilah.


" Iya sudah, kalau sudah balik lekas kabari aku. Karena Bu bos membutuhkan laporan, dan aku harus menyerahkan nya hari ini. "


" Bi-biar aku saja yang berikan ke Bu bos, " ucap Abel yang terus menutupi kebohongan nya.


" Aku atasan kamu, dan semua harus melalui prosedur dariku, paham? " Karina menegaskan jika dirinya adalah atasan Abel.


" Baik, Bu! " Abel menjawab dengan nada suara pelan.


POV Abel


Aku mulai tersudut dengan perlakuan Karina, dia hanyalah anak baru yang kini menjadi bosku. Kenapa dia jadi mengatur-atur hidupku.


Saat ini aku bersama Rudi, yaitu suami Karina. Dia selalu menggodaku, membuat aku semakin di buat jatuh cinta kepadanya.


Entah kenapa aku bisa tertarik dengan pria yang sudah beristri dua


Aku tahu saat keributan, yang di timbulkan oleh Karina waktu itu. Tetapi siapa yang tak luluh, dengan wajah setampan Rudi. Seperti nya dia memakai aura pemikat, sehingga para wanita mudah untuk memberikan hati untuk nya.


Saat ini aku sedang di kamar kost ku, bersama Rudi.


" Terima kasih, Abel. Permainan mu sangat menarik, " ucap Rudi seraya mengecup keningku. Dia begitu manis memperlakukan ku di tempat tidur. Membuat aku semakin melayang, dan ketagihan.


Sayangnya waktu aku bersama nya hanya selepas jam istirahat saja.


" Iya, Bang! Abel senang kalau Abang suka, " ucap Abel membalas ciuman Rudi.


Aku dan Rudi baru saja melakukan hubungan suami istri. Rudi mengeluh jika istrinya tidak bisa melayaninya lagi. Karena kesibukan Karina sehabis melahirkan, dan Silvia dengan penampilan yang sudah kusam.


" Silvia sekarang sudah kurus tak terawat, Abang jadi males untuk nidurin dia. Kulitnya Uda gak mulus lagi, " keluh Rudi pada Abel. " Beda sama kamu, kulit kamu lembut halus dan putih. " Rudi membelai tubuh Abel.


" Ish, Abang. Geli, tahu! " Abel merajuk dengan suara yang manja.


" Bang, sudah hampir jam satu. " Abel melihat ke arah jam dinding.


" Hmmm, andai aja waktu berhenti sebentar. Abang gak akan bosan goyang di atas tubuh kamu, " Rudi mencubit hidung Abel.


" Ih, Abang kerjanya ngerayu aja." Abel mencubit perut Rudi.


Kemudian aku masuk ke dalam kamar mandi. Rudi belum puas dengan permainan nya, dan meneruskan kembali di kamar mandi.

__ADS_1


Usai melakukan permainan panas di kamar mandi, akhirnya aku dan Rudi menyiapkan diri untuk kembali ke kantor.


Jangan lupa like dan berikan komentar


__ADS_2