
Ardi pun terhempas, jatuh ke lantai. Pukulan Rudi mengenai pipi Ardi, dan membuatnya jatuh. Ardi langsung bangkit, dan mencoba menjelaskan pada Rudi.
Namun Rudi tak ingin mendengar penjelasan dari Ardi, lalu menarik tanganku dan berjalan menuju kamar.
Rudi membawaku ke dalam kamar, dan mendorong tubuhku ke tempat tidur.
" Auw ... " Aku berteriak kesakitan, karena perutku terbentur kasur.
" Bang, itu gak seperti dugaanmu." Aku mencoba menjelaskan, namun Rudi tak ingin mendengar penjelasan ku. Dia membuka ikat pinggang yang terbuat dari kulit sapi berwarna kecoklatan.
Dia menghentakkan ikat pinggang, lalu melayangkan ke arah tubuhku.
" Plak ... Plak... " Dua kali pecutan mengenai kakiku.
" Ah, sakit Bang!" Aku menjerit kesakitan.
" Kau menuduhku berselingkuh dengan Abel, tapi nyatanya kau bermain di belakang ku," ucap Rudi yang kembali melayangkan ikat pinggang nya
" Sakit, Bang." Aku langsung naik ke atas tempat tidur, mencoba menghindari Rudi
Sementara di luar kamar, Ardi sedang mengetuk pintu. Memanggil nama Rudi, dan ingin menjelaskan kejadian yang tadi Rudi lihat.
" Rudi, kau salah paham. Aku tidak pernah berselingkuh dengan Karina, " teriak Ardi sambil menggedor-gedor pintu kamar.
Rudi menatap tajam ke arahku, tatapan nya seolah seperti ingin membunuhku.
Aku sangat ketakutan, karena Rudi baru saja menunjukkan tabiat buruknya yaitu suka memukul wanita.
" Bang, kamu salah paham."
Namun Rudi tetap tak ingin mendengar penjelasan dariku. Lagi-lagi dia melayangkan sabuknya, dan mengenai perutku.
" Ah, perutku .... "
Aku meringis kesakitan sambil memegang perutku. Rudi nampak menggila, tak menghiraukan kandungan yang ada di dalam perutku. Entah karena dia marah padaku soal ketahuan selingkuh dengan Abel, atau baru saja melihat ku berpelukan dengan Ardi.
" Brak ...."
Ardi berhasil membuka pintu, lalu menghampiri Rudi. Ardi mencegah Rudi untuk melakukan tindakan kekerasan.
" Rudi, hentikan ...."
Ardi mengambil ikat pinggang yang berada di tangan Rudi.
Aku terus meringis kesakitan, karena bekas pecutan ikat pinggang Rudi membekas di perut ku.
" Kau tega memukul istrimu?" Ardi membentak Rudi lalu mendorong tubuh nya ke dinding.
" Kalian pasangan mesum, " ucap Rudi tatapan sinis.
" Kau salah paham, " ucap Ardi.
" Bang, perutku sakit, " keluhku seraya memegang perut.
__ADS_1
Seketika perutku mulas, dan semakin sakit di area bawah perut.
Aku terus mencoba menarik dan membuang nafasku perlahan. Agar rasa sakit di bagian perutku, dapat hilang.
Namun sayang, rasa sakit semakin membuatku tak bisa bertahan. Aku rasakan ada cairan yang keluar dari bagian sensitif ku.
" Bang, perutku mulas." Aku mencoba menghampiri Rudi dengan merangkak di atas kasur
Ardi dengan cepat langsung menghampiri ku, tidak seperti Rudi yang hanya melihat saja.
" Kamu kenapa, Karin?" Ardi terlihat cemas, saat melihat wajah ku yang meringis kesakitan.
Saat aku berdiri, tiba-tiba darah segar mengalir di lantai setetes demi setetes.
" Karin, darah?" Ardi panik, lalu menggendong ku keluar kamar.
Ardi langsung membawaku, menuju mobilnya. Dia menurunkan ku, lalu membuka pintu mobil.
" Cepat masuklah, " ucapnya panik, seolah-olah dialah suamiku.
Padahal Rudi hanya diam mematung, di dalam kamar tanpa bereaksi menolong ku.
" Rudi, cepat kau siapkan baju untuk Karina." Ardi berteriak dari depan rumah.
" Bang, kenapa kau terlihat sangat panik?" Rudi bertanya tanpa rasa bersalah.
" Kau bodoh atau dungu? Hah?" Ardi mengumpat dengan menghampiri Rudi.
Aku tak menyangka, kenapa Rudi sebodoh itu?
Dia yang membuat perutku sakit, tapi kenapa dia diam saja. Justru Ardi yang terlihat begitu panik, saat melihat aku meringis kesakitan.
Cinta Yang Salah
Ardi membawaku ke rumah sakit, dengan wajah yang begitu cemas dan panik.
Aku merasa jika suamiku adalah Ardi bukanlah Rudi. Andai saja Rudi bisa bersikap baik seperti Ardi. Ah itu hanya khayalan ku saja, buktinya Rudi telah tega menyakiti ku.
Sepanjang perjalanan aku terus meringis kesakitan. Ardi terus mengelus perut ku, saat aku mengeluh padanya.
" Bang, sakit ..." Aku mengeluh sembari memegang tangan lengan Ardi.
Kenapa dia tak menolak cengkraman tangan ku, yang begitu erat memegang lengannya.
" Kamu yang sabar, sebentar lagi kita akan sampai, " ucap Ardi menenangkanku.
" Bang, aku gak kuat. " Aku menggigit bibir bawahku, merasakan sakit di bagian perutku. Apakah sesakit ini akan melahirkan? Oh Tuhan, aku belum sempat membayar semua jasa ibuku. Tapi kau begitu cepat mengambil nya. Aku pun kini tau, jika dulu ibuku merasakan sakit yang sama seperti ini.
Aku terus mengucap doa, agar aku dan bayiku akan terselamatkan.
Mobil kami telah sampai di depan parkiran UGD. Ardi segera keluar dari mobilnya, dan berlari untuk menghampiri perawat.
Selang beberapa menit, Ardi membawa perawat serta brankar. Aku langsung di gendong dan di rebahkan di atas brankar. Setelah itu perawat dan Ardi membawaku ke ruang UGD.
__ADS_1
" Anda, suaminya?" Perawat menghentikan langkahnya, dan bertanya pada Ardi.
" Oh bukan, saya kakak iparnya." Ardi menjawab dengan raut wajah yang terlihat cemas
" Sebaiknya anda menunggu di luar, dan segera hubungi suaminya, " ucap perawat yang langsung membawaku ke ruang UGD.
Aku mengganti baju dengan pakaian khas rumah sakit, yang berwarna hijau.
Perawat terkejut melihat tubuhku, saat ada bekas luka cambukan berwarna merah di bagian kaki dan perut.
" Nyonya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya perawat di hadapan ku.
" Oh, aku .... "
" Apakah suami Anda, melakukan tindakan kekerasan? " tanya perawat yang memperhatikan kaki dan perutku.
Aku tak bisa menjawab, takut jika Rudi akan di penjarakan. Sungguh amat bodoh diriku, yang terus membela suami yang bahkan tak pernah menunjukkan kasih sayangnya padaku.
Tiba-tiba perutku semakin sakit, dan serasa ingin buang air besar
" Sus, aku mau buang air besar, " ucapku sambil menarik lengan perawat di sebelah ku.
" Sebentar, saya panggilkan dokter." Perawat segera berlari menghampiri dokter.
Aku tak melihat ada Rudi di sampingku, kenapa dia lama sekali datangnya. Padahal tadi dia juga tahu, jika aku akan melahirkan.
Selang beberapa menit, dokter dan perawat pun datang.
" Nyonya, suaminya belum datang? " Perawat bertanya padaku.
" Entahlah, Sus!" Aku menjawab lesu.
" Hanya ada kakak ipar Anda, dan dia pun tidak di ijinkan untuk menemani Anda, " kata suster yang menangani persalinan ku
" Ternyata Ardi sungguh sangat perhatian padaku, seandainya ... Ah, sudahlah. Untuk apa aku berharap pada Rudi, " ucapku dalam hati.
Dokter mulai memeriksa jalan lahirku, dan sudah masuk pembukaan sepuluh.
Para tim medis memberiku semangat, agar aku tetap kuat melahirkan buah hatiku.
" Iya Nyonya, anda harus kuat! " Perawat di sebelahku memberiku semangat.
Saat ini aku sedang bertaruh nyawa, antara hidup dan mati. Tapi tak ada suami atau kerabat ku di samping ku. Ardi yang notabene nya kakak ipar ku, yang begitu perhatian saat ini tak bisa masuk menemaniku.
Tiga puluh menit aku mengatur nafasku, dan akhirnya keluar lah bayi mungil berjenis kelamin laki-laki.
" Eaaa ...."
Suaranya terdengar merdu, seperti ada manusia baru yang akan menjalani takdir Tuhan.
Aku bahagia, seketika rasa sakit yang sedari tadi aku alami langsung lenyap. Dan kedua mataku mulai membasah, seiring tangis putra pertama ku.
Lanjut like dan komentar ya!
__ADS_1