Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 40


__ADS_3

Begitu juga dengan Ajeng, dia pun mendekatiku lalu memelukku.


" Kamu sabar, ya! " ucap Ajeng yang langsung memeluk ku.


" Terima kasih, Mbak! " ucapku membalas pelukannya.


Aku memperkenalkan ibu dan ayah mertuaku kepada mereka, mereka pun saling berbincang.


" Karin, mana anakmu? " tanya Ajeng yang sudah duduk di sebelah ku. " Dia bersama abang iparku, " ucapku.


" Aku mau lihat, kemarin gak sempet ke rumah sakit. " Ajeng berbisik di telinga ku


" Oh, ya udah kita ke rumahku. " Aku langsung pamit pada kedua mertuaku, ijin untuk mengajak Nanik dan Ajeng ke rumah Rudi


Aku langsung mengajak Nanik dan Ajeng, berjalan menuju rumahku. Sembari menjabat tangan para pelayat, yang memang mengenaliku sebagai istri Rudi.


Aku masih bingung dengan Silvia, kenapa dia tak juga menampakkan batang hidungnya? Padahal hari ini adalah pertemuan terakhir untuk suaminya.


" Itu rumahku, " ucapku sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah seberang.


" Aku gak sabar, mau gendong anak kamu, " ucap Nanik tak sabaran.


Saat sudah sampai di depan pintu, aku menyuruh Nanik dan Ajeng untuk duduk di sofa.


Lalu aku langsung masuk ke dalam kamar, untuk menghampiri Ardi dan Arjuna.


" Bang, ada teman-teman ku ingin menggendong Arjuna. " Aku sudah masuk ke dalam kamar


" Arjuna lagi tidur, " ucap Ardi yang telah merebahkan Arjuna ke atas tempat tidur.


" Iya udah, aku suruh mereka lihat aja dari depan pintu. " Aku langsung keluar kamar, dan juga Ardi mengikuti ku.


Saat aku berjalan mendekati Ajeng dan Nanik, aku melihat wajah Ajeng terkejut, dan langsung berdiri dari duduknya.


" Kamu kenapa, Mbak? " Aku terheran saat melihat wajah Ajeng, yang menatap terkejut ke arahku.


" Ardi, " ucap Ajeng lirih sambil matanya melihat ke arah belakang ku.


" Ardi? " Aku langsung menoleh ke arah belakang, ku dapati Ardi sedang menatap dingin ke arah Ajeng.


Aku dan Nanik bingung melihat mereka berdua, yang saling beradu pandangan. Sepertinya mereka, memang pernah bertemu.


" Mbak, apakah sebelumnya kalian pernah bertemu? " tanyaku memberanikan diri.

__ADS_1


" Iya, dia wanita yang pernah pergi demi karier nya. Dan meninggalkan ku, yang sudah menyiapkan acara pernikahan untuk nya, " ucap Ardi dengan tatapan dingin ke arah Ajeng.


Aku dan Nanik hanya memandang mereka berdua, secara bergantian. Tak menyangka, jika Ardi dan Ajeng pernah ada hubungan spesial.


" Mas, maafkan aku! " ucap Ajeng lirih sambil menatap Ardi penuh penyesalan.


Ardi langsung berjalan menuju pintu, dan tak menoleh ke arah Ajeng.


Ajeng menatap nanar ke arah Ardi, saat pergi meninggalkan nya. Aku takut bertanya banyak soal Ardi kepada Ajeng. Karena aku berpikir jika itu adalah urusan pribadi mereka. Aku tak berhak ikut campur, dalam masalah pribadi mereka.


Ajeng langsung berlari kecil, menghampiri Ardi yang telah keluar dari rumahku.


" Dia abangnya, Rudi? " Nanik meminta penjelasan padaku


" Iya, Mbak! " jawabku seraya mengangguk kan kepala.


" Lebih tampan dia, daripada Rudi. " Nanik berbisik di telinga ku saat aku duduk di sampingnya.


" Eh, maaf ya! Aku bukan bermaksud ngomongin suami kamu, " ucapnya yang langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


Aku hanya tersenyum, mendengar pujian Nanik terhadap Ardi


Aku juga memuji ketampanan Ardi, dia lebih stylish dan macho. Sikap nya juga lebih dewasa dan perhatian terhadap ku. Tidak seperti suamiku, yang tak pernah menganggap keberadaan ku.


" Aku juga bingung, ini masalah mereka. Kita gak usah ikut campur, " ucap Nanik memberikan saran.


" Iya, sih Mbak! "


Aku menjadi bingung bersama Nanik, segera aku masuk ke kamar untuk melihat anakku yang sedang tertidur pulas.


" Karin, " panggil Nanik yang sudah berdiri di sebelah ku. " Anakmu lucu banget, " ucap Nanik yang gemas melihat Arjuna.


" Iya 'kan masih bayi, Mbak! " ucapku bercanda.


" Iya juga sih, asal sifat bapaknya gak nurun ke dia. " Nanik menyinggung soal Rudi. " Eh, maaf ya! Bukan maksud ku menjelekkan suamimu, apalagi di hari kematiannya. "


" Iya Mbak, pasti suamiku masih meninggalkan kenangan buruk. Tapi aku mencoba mengikhlaskan nya, untuk memudahkan dia di akhirat. "


" Abel masih di rumah sakit, aku sudah menghubungi keluarganya. Katanya mereka akan datang besok, karena tidak memiliki ongkos untuk memulangkan Abel ke kampung, " ucap Nanik menjelaskan kepada ku.


" Kasihan si Abel, aku ingin membantu. Hanya saja aku tidak boleh meninggalkan rumah saat ini, " ucapku mengiba memikirkan Abel.


Entah kenapa aku menjadi kasihan pada Abel, saat mendengar cerita dari Nanik.

__ADS_1


Cinta Yang salah


Arjuna pun bangun, aku meminta tolong pada Nanik untuk menggendongnya. Karena aku mendengar keributan di samping rumah.


Aku langsung berjalan menuju ke arah samping rumahku.


" Mas, maafkan aku! " ucap Ajeng sambil memegang tangan Ardi.


" Maaf, aku sudah melupakan semua. " Ardi menjawab dengan wajah datar.


" Tetapi kamu masih belum bisa melupakan kenangan kita, bukan? " Ajeng menegaskan.


" Mas, aku ingin kembali sama kamu. " Ajeng menangis di pelukan Ardi.


" Lepaskan aku, " bentak Ardi yang langsung mendorong Ajeng. Ajeng pun terjatuh, segera aku menolongnya.


" Bang, kenapa kasar sama perempuan? " tanyaku sambil menatap sinis ke arah Ardi.


" Kalau kamu gak tahu masalah kami, gak usah ikut campur. " Ardi langsung meninggalkan aku dan Ajeng.


" Kamu gak apa-apa, Mbak? " tanyaku yang langsung memapah Ajeng masuk ke dalam rumah.


Ajeng menangis, dia terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.


" Mbak, apa yang bisa aku bantu? " Aku bertanya pada Ajeng.


" Jeng, kamu kenapa? " Nanik yang sedang menggendong anakku bingung, melihat Ajeng menangis.


" Karin, dia kenapa? " Nanik beralih pandangan ke arah ku.


Aku hanya menggelengkan kepala, menandakan tidak tahu. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka.


" Nanik, ayo kita pulang! " Ajeng langsung bangkit dari duduknya, lalu pergi keluar rumah.


Nanik memberikan Arjuna kepada ku, lalu aku pun mengiringi kepergian mereka.


Aku segera menuju rumah mertuaku, dan duduk di samping jenazah suamiku sambil menggendong Arjuna.


Semua orang menatap iba ke arah ku, apalagi para tetangga yang mengetahui jika Rudi sering menyakitiku.


" Istri kedua Rudi, dimana? " Salah seorang ku berbisik di telinga ku.


" Aku gak tahu, dia gak kelihatan dari tadi, " jawabku.

__ADS_1


__ADS_2