Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 6


__ADS_3

Sebelum membaca, aku harapkan kalian tap like dan vote karya aku ya, semoga kalian suka.


Selamat membaca!!


Betapa terkejutnya dia, saat melihat Rudi berdiri di hadapannya.


" Eh, minggir." Hardik Rudi kasar, dan langsung menyingkirkan Diana dengan tangan nya 


" Eh, gak sopan amat sih!" Geram Diana yang tubuhnya terbentur daun pintu.


" Mau apalagi kamu ke sini, Bang?" Tanyaku yang sudah berdiri di hadapan Rudi.


" Mau mengajukan surat cerai." Ucap Rudi yang kini berada di hadapan ku. Sikapnya begitu angkuh, dan membuatku menjadi muak dan benci.


" Apa Bang, semudah itu kau menalakku?" Sergah ku yang langsung menampar pipi Rudi.


" Plak ...."


" Berani nya kamu tampar aku?" Rudi ingin menampar ku, namun di cegah oleh Diana.


" Heh, beraninya sama perempuan." Diana menahan tangan Rudi.


" Lepaskan." kata Rudi yang langsung menarik tangan nya.


" Iya, kan kamu sudah tahu kalau aku akan menikah." Ucapnya dengan santai dan tanpa rasa malu.


" Plak ..." Aku kembali menampar pipi Rudi, dan mencoba menyadarkan nya.


" Dasar wanita jelek, berani-berani nya nampar orang." Balas Rudi yang lagi-lagi ingin menampar ku, namun kembali di tahan oleh Diana.


" Eh laki-laki buaya, lebih baik kamu keluar sekarang." bentak Diana lalu mengusir Rudi mentah-mentah.


" Iya emang aku mau keluar, tapi di halangi sama perempuan jelek ini." Cela Rudi sambil menghinaku dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah ku.


" Asal kamu tahu Rudi, kamu belum bisa bercerai dengan Karina. Karena sekarang dia sedang hamil." Ucap Diana yang langsung mendorong tubuh Rudi.


" Apa kamu, hamil?" ucap Rudi dengan mata melotot ke arah ku.


" Iya, Bang!" tegasku sambil menatap sinis ke arah Rudi.


" Baiklah, aku akan menunggu sampai anak ini lahir. Baru aku urus, perceraian kita." tegas Rudi yang langsung pergi meninggalkanku.


" Bang, Bang Rudi aku gak mau bercerai." teriakku sambil berlari mengejarnya.


Rudi tak menghiraukan panggilan ku, dia terus berjalan meninggalkan ku.


Hatiku sakit, disaat sedang hamil suamiku tega meninggalkan ku. Jika akan terjadi seperti ini, maka aku menyesal telah menikah dengan nya.


" Sudah lah, Karin. Laki-laki buaya darat kayak dia gak pantas di kejar." ucap Diana yang kini berada di belakang ku.

__ADS_1


" Aku tidak ingin menjanda Kak, apalagi nanti anakku tidak akan memiliki ayah." lirihku sambil mengusap air mata yang sedari tadi tak bisa ku tahan.


" Sebaiknya kamu istirahat, kasian calon anakmu. Kamu tidak boleh stres, nanti berpengaruh pada janinmu " kata Diana menenangkan ku.


****


Aku kembali mengingat kejadian tadi malam. Rudi ingin bercerai denganku, karena telah menikah dengan Silvia. Namun aku harus bangkit, demi anak yang aku kandung. Aku harus kuat, menerima kenyataan jika Rudi ingin menceraikanku.


Hari sudah pagi, aku bersiap untuk berangkat ke kantor.


" Kak, tolong jaga ibu. Aku mau berangkat kerja dulu." Pamitku pada Diana.


" Iya, kamu hati-hati, ya!" Pesannya padaku.


Hari ini aku tidak mengendarai motor, aku takut jatuh dan pingsan karena kelelahan.


Dan sangat berbahaya untuk janinku, jika aku memaksakan mengendarai motor.


Karena dokter berpesan, agar aku tidak lagi mengendarai motor sendiri. Kandungan ku lemah, dan harus banyak beristirahat.


Namun aku paksakan bekerja, agar tidak ada absen di daftar hadirku. Hal itu akan mempengaruhi gajiku nanti. 


Mobil angkot pun telah melaju, meninggalkan gang depan rumahku. Belum banyak penumpang yang naik, karena masih sangat pagi. Sehingga aku tidak mencium aroma keringat, di dalam angkot.


" Kiri, kiri, kiri ..." aku memberhentikan mobil angkot, karena sudah sampai di depan kantor ku.


Aku pun turun, dan membayar ongkos nya lalu berjalan sekitar sepuluh meter dari jalan raya.


" Karin, wajah kamu kelihatan pucat?" Kata Ajeng yang mendekati ku, sebagai leader dia sangat perhatian padaku.


Aku langsung duduk di bangku, sepertinya perjalanan pagi ini terasa melelahkan.


" Iya Mbak, aku hamil." Ucapku memberi kabar bahagia, yang jelas-jelas bukan berita bahagia untuk ku.


" Ya ampun, selamat ya Karin." Kata Ajeng yang langsung memeluk ku.


" Terima kasih, Mbak." Jawabku dengan senyum kepura-puraan. Padahal batinku meringis, menahan kesedihan. Saat tahu anak ini akan di lahirkan nanti, pasti tidak akan memiliki bapak. Karena Rudi sangat menginginkan perceraian.


Semua karyawan yang bertugas di gudang, memberi ku ucapan selamat.


Aku tak melihat keberadaan Silvia, dia wanita jahat yang tega membuatku menderita. Padahal memang mereka berdua, bersekongkol ingin memeras keringat ku.


" Mbak, Silvia kemana?" Tanyaku sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.


" Dia di pindahkan ke gudang pusat." Kata Nanik memberitahu ku.


" Oh ..." jawabku.


" Kemarin bu bos, ngeliat kamu bertengkar dengan Silvia dan suamimu. Makanya dia langsung di mutasi ke gudang. " Kata Nanik dengan tangan yang masih sibuk, menghitung jumlah batik untuk di kirim ke bagian pemerintahan.

__ADS_1


' Kenapa, gak di keluarkan saja !' Batinku bermonolog sendiri.


" Aku juga sebel loh, ngeliat dia. Karena dia sering minjam uang sama aku, dan gak pernah di balikin." Kata Nanik bercerita tentang Silvia.


" Dia itu anak dari asisten pribadi bu bos, makanya dia gak enak untuk di pecat. Ibunya sudah lama meninggal, dan menitipkan anaknya kerja di sini. Tapi dia kerja seenaknya saja, karena selama ini selalu mendapat pembelaan dari bu bos." Ujar Nanik. " Eh tapi aku juga kaget, kenapa dia tiba-tiba di pindahkan ke warehouse pusat ya?" Kata Nanik sambil berpikir.


" Mungkin di warehouse pusat, lebih membutuhkan tenaga dia." Kataku yang berpikir positif. Aku tidak ingin berpikir yang macam-macam tentang Silvia.


Sebenarnya aku senang sekali, mendengar kabar tentang Silvia yang di pindahkan.


Aku pun kembali bekerja, dan melakukan tugas ku. Saat di bawa bekerja, janin yang ada di perutku tidak merepotkan ku. Biasanya kalau di rumah perutku selalu mual, dan ingin muntah.


Waktu terus berjalan, semua karyawan menghentikan pekerjaannya. Saat jam makan siang, aku membuka bekal makanan yang kakakku berikan.


Setiap hari, aku selalu membawa bekal agar mengirit pengeluaran ku. Bukan aku pelit, hanya saja aku ingin ada uang jika ibuku minta mengantarnya berobat.


Obat-obatan tidak di tanggung oleh kartu kesehatan, dan harus beli di apotik luar.


Namun aku khawatir, dengan kondisi ibuku saat ini. Dia yang selalu bersedih tentang kehidupan ku, dan menyembunyikan kesedihannya sendiri. Dan semua itu berpengaruh pada kesehatan nya.


" Karin, kamu gak mual-mual?" Tanya Ajeng yang mendekatiku.


" Kalau di rumah aja, Mbak!" Jawabku yang telah merapikan kotak makan.


" Oh, berarti anakmu gak ngerepotin ya?" Tuturnya membuat aku tersenyum.


" Mungkin dia mengerti keadaan ibunya." Kataku.


" Ajeng, kamu di panggil sama orang kantor." Panggil Nanik yang berjalan ke arah kami.


" Iya, " jawab Ajeng yang langsung pergi meninggalkan ku.


Kemudian Nanik datang menghampiri ku, dan kami mulai bekerja lagi.


Hari sudah petang, aku dan seluruh karyawan bersiap untuk pulang.


Sebelum pulang, Ajeng memintaku dan Nanik untuk menunggu nya.


" Karin, Nanik ini dari bagian administrasi. Karena seminggu kemarin, kita kerja lembur." Kata Ajeng yang memberikan kami amplop putih panjang.


Aku dan Nanik tersenyum bahagia, karena mendapat bonus dari kerja keras kami selama seminggu.


" Rejeki anakmu, Karin." Kata Nanik sambil mengelus pundakku.


" Iya, Mbak!" Balasku dengan mengulas senyum.


Aku dan kedua temanku pun pulang bersama, kami terpisah saat di parkiran motor.


Aku berjalan menuju trotoar, karena harus naik angkot. Sedangkan mereka berdua naik motor masing-masing.

__ADS_1


Aku berniat ingin membeli makanan untuk ibuku, dan juga keponakan ku dari hasil bonus yang aku terima tadi.


Jangan lupa like dan berikan vote untuk karyaku


__ADS_2