
"Karin..." panggil Ardi yang sudah memasuki kamarnya.
"Iya," jawab Karina
"Ada ibu," ucap Ardi memberitahu, lalu dia menuntun ibunya masuk ke dalam kamar.
"Ibu, kenapa tidak mengabari kami jika akan datang?" tanya Karina yang langsung bangun dari tidur nya.
"Aku ingin membuat kejutan," jawab Rini yang langsung menghampiri Karina. Lalu Rini duduk di sebelah Karina kemudian memeluknya.
"Selamat, ya! Dan terima kasih kamu sudah melahirkan cucuku." Rini langsung melepaskan pelukannya.
"Bu, aku minta tolong sama ibu untuk menjaga Karin. Karena aku akan berangkat bekerja," ujar Ardi
"Baiklah," jawab Rini. "Mana cucuku?" tanya Rini.
"Di box bayi," jawab Karina.
"Aku mandi dulu," ucap Ardi yang langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Bu, apa sudah makan?" tanya Karina
"Sudah, tadi ibu makan bubur di tikungan jalan komplek," jawab Rini. "Siapa nama anakmu?" tanya Rini.
"Aruna Putri," jawab Karina
"Boleh ibu gendong?" tanya Rini penuh harap.
"Boleh," jawab Karina
"Ibu bawa ke ruang tamu, ya! Karena Ardi pasti akan memakai baju," pinta Rini yang sudah menggendong Aruna.
"Iya, Bu!" jawab Karina
Rini pun menggendong Aruna keluar dari kamar.
"Bu!" Sapa Diana yang datang bersama Arjuna.
"Hey, jagoan. Kamu gak kangen sama nenek?" Sapa Rini sambil membungkukkan badannya mensejajarkan dengan Arjuna.
"Nenek!" Rajuk Arjuna seraya memeluk Rini.
Arjuna memang sudah sangat akrab dengan Rini, dan menganggapnya sebagai neneknya.
Rini pun tak sungkan dengan Arjuna, dia sangat menyayangi nya seperti cucu sendiri.
"Juna, nenek lagi gendong adik kamu. Mau cium gak?" Tanya Rini yang menyodorkan Aruna pada Arjuna.
Arjuna melihat Aruna dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang, kamu gak mau cium?" Tanya Rini dengan tatapan lembut ke arah Arjuna.
Perlahan hati Arjuna pun luluh, hingga akhirnya Aruna di cium oleh Arjuna.
"Mmuach!"
"Ih, Arjuna sudah pintar ya cium dedek." Diana begitu gembira saat Arjuna mencium adik kecil nya.
"Bu, aku mau berangkat kerja dulu." Ardi pamit pada ibunya seraya mencium tangan nya.
"Iya, hati-hati." Rini berpesan pada Ardi
Kemudian Ardi pamit pada Diana dan juga Arjuna.
__ADS_1
"Juna, jaga adik ya!" Ardi berpesan pada Arjuna seraya mencium keningnya.
"Iya, Pah!" Jawab Arjuna.
Diana pun langsung menghampiri Karina yang berada di kamarnya.
Lalu Ardi pun sudah berangkat kerja dengan mengendarai mobil nya.
Selama Rini berada di rumah Karina, dia sangat menyayangi cucunya dan juga Arjuna. Rini tidaklah membeda-bedakan kasih sayang antara Arjuna dan Aruna.
Satu bulan telah berlalu, Rini meminta pada Ardi agar pindah ke rumahnya.
Karena Rini merasa sudah tua, dan butuh seseorang untuk menemaninya.
"Ardi, maukah kamu pindah ke rumah ibu?" Tanya Rini di sela-sela makan malam.
Ardinmelirik ke arah Karina, karena sebelumnya Rini telah membicarakan soal pindah rumah kepada Ardi.
"Karin, apa kamu setuju kalau kita pindah ke rumah ibu?' tanya Ardi dengan nada ragu.
Karina melihat ke arah Ardi dan juga Rini. Karina sangat beruntung mempunyai suami dan juga mertua yang sangat sayang kepadanya.
"Baiklah, jika memang itu yang terbaik." Karina pun menjawab dengan tersenyum
Sore pun tiba, Ardi langsung mengajak Karina bersama anak-anak. Karena Rini menyuruh nya untuk tinggal bersama.
"Sekarang pejamkan matamu dan tutup dengan kain ini!" kata Ardi yang memberikan saputangan nya untuk menutup kedua mata Karina
Mobilnya tiba-tiba berjalan perlahan, Ardi membunyikan klakson mobilnya.
" Tet, tet, tet..."
Kemudian seseorang pemuda membukakan pintu gerbang yang ukurannya kisaran tinggi tiga meter dan panjang 10 meter.
"Apa aku boleh membuka mataku?" tanya Karina
"Belum," jawab Ardi yang sudah memberhentikan mobilnya. Kemudian dia keluar dan membuka pintu mobil untuk Karina
Terlihat Rini sudah menuju ke dalam rumah sambil menggendong Aruna. Karina di tuntun oleh Ardi bersama Arjuna menuju pelataran.
Kemudian langkah Ardi pun terhenti, dia langsung membuka penutup mata Karina
Sontak Karina terkejut saat melihat di depannya terdapat bangunan yang begitu megah.
"Rumah siapa ini, Pah?" tanya Karina yang kagum dengan bangunan dan artistiknya.
"Ini adalah rumahmu," jawab Ardi
"Tidak, Pah. Aku tidak ingin rumah sebesar ini. Pasti akan sulit untuk membersihkannya," ujar Karina
Ardi pun menepukkan tangannya, seketika hadir beberapa pelayan yang sudah berjejer di depan Karina.
"Satu, dua, tiga..., delapan, sembilan, sepuluh!" kata Karina sambil menghitung jumlah asisten rumah tangga.
"Dengar, Pah. nanti uangmu akan habis jika harus membayar asisten segini banyak," kata Karina
Ardi hanya tersenyum mendengar celotehan Karina.
"Uangku tak akan habis, karena ada rejeki mu dan Aruna beserta Arjuna di dalamnya," kata Ardi yang ingin membahagiakan Karina.
Karina diajak berkeliling mengitari rumah yang akan dia tempati.
Rumah dengan empat lantai yang ditata dengan mengusung arsitektur minimalis, seperti karya Scope. Permainan garis horizontal dan vertikal yang mencirikan desain minimalis ditampilkan dengan berani lewat keseluruhan elemen pembentuk eksterior bangunan.
__ADS_1
Karina dibuat kagum dengan desain rumah empat lantai yang membentuk massa berbentuk balok tinggi yang kemudian dipertegas oleh bidang sunscreen di lantai tiga dan empat.
Bagian muka bangunan didominasi jendela untuk mengoptimalkan akses pencahayaan dan sirkulasi udara di rumah yang terletak di pinggiran kota Jakarta.
"Pah, apakah nanti tidak akan silau dengan banyaknya jendela kaca di rumah ini?" Tanya Karina sambil memegang jendela di depannya.
"Kau nikmati saja apa yang sudah aristek buatkan," kata Ardi.
Karina berjalan menuju sebuah pintu yang berbentuk seperti lift.
Rumah mewah kontemporer empat lantai ini dilengkapi lift untuk kemudahan aksesnya.
"Apakah tidak akan boros listrik, jika harus menggunakan lift di rumah?" tanya Karina
"Kalau kamu mau berjalan saja, silakan menuruni tangga. Tidak usah menggunakan lift ini," ujar Ardi
Bidang pintu lift yang simpel dan sleek turut berperan menciptakan kesan minimalis nan elegan lewat garis dan warna perak naturalnya.
"Lihat masih banyak ruangan lagi," kata Karina sambil berjalan menuju lantai tiga.
Ruang-ruang utama keluarga terletak di lantai tiga. Ruangan sengaja didesain terbuka. Mengintegrasikan bagian ruang keluarga, dapur, dan ruang makan yang tampil menawan dengan detail yang unik. Garis horizontal memanjang pada plafon, diimbangi garis vertikal pada dinding sebelah rak televisi beserta deretan jendela sepanjang dinding area ruang makan.
"Apakah nanti, aku akan mengingat semua ruang-ruang ini?" Tanya Karina yang semakin bingung.
"Ini merupakan hadiahku untuk mu, apa kau tidak suka?" tanya Ardi.
"Aku suka, tetapi jika harus tinggal sendiri disini tanpa ada teman mungkin akan sepi," kata Karina yang matanya masih mengitari seluruh ruangan.
"Ajaklah kak Diana dan keluarganya untuk tinggal disini," kata Ardi.
"Apakah tidak akan merepotkan mu?" tanya Karina
"Mereka adalah keluarga ku, mana mungkin merepotkan," ujarnya.
"Aku akan membawa mu ke kamar," kata Ardi yang mengajak Karina menuju kamar utama.
Desain dan bahan plafon, beserta material lantai yang didominasi kayu merupakan unsur kenyamanan yang dihadirkan melalui penggunaan warna dan pola alam dengan aneka warna coklat bergradasi dari terang hingga gelap.
Ardi berjalan menuju tempat tidur, dengan desain headboard motif kotak berbahan beludru seolah memberi kehangatan rangkulan. Sekaligus menegaskan ranjang sebagai primadona yang elegan di kamar tidur.
Karina begitu bingung dengan desain ruangan yang begitu sangat besar. Kemudian dia berjalan menuju satu-satunya bagian dinding, yang menghadap ke arah jalan. Seluruhnya dijadikan akses utama pencahayaan. Plafon dekat area dinding kaca sengaja direndahkan dan didominasi warna putih agar pencahayaan lebih fokus dan terpantul ke seluruh kamar.
Ditambah, membentuk efek megah terhadap area utama kamar tidur. Pilihan gorden warna gelap senada dengan warna utama kamar tidur dilengkapi sheer curtain putih. Keduanya menambah keindahan gaya minimalis dengan tampilan garis-garis vertikal yang lembut.
"Apakah aku akan betah berlama-lama di kamar ini?" gumam Karina
"Aku akan membuat kamu betah berlama-lama disini," kata Ardi yang telah memeluk erat Karina dari arah punggungnya. Kemudian dia mencium tengkuk Karina dengan penuh kelembutan. Dan mulai meraba-raba bagian sensitif Karina
"Pah, aku masih masa nifas." Kata-kata Karina pun berhenti saat Ardi mencium bibirnya.
Ardi mulai menjalankan aksinya, dia ingin merasakan nikmatnya berada di rumah baru bersama Karina
Dicumbunya Karina sampai dia melepaskan semua pakaiannya. Dan langsung membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Mereka begitu menikmati permainan panas yang akan terasa panjang di malam ini.
TAMAT
SEKIAN DULU YA GUYS, SEMOGA CERITANYA MEMBUAT KALIAN SEMUA TERHIBUR.
Minta komentar tentang karyaku, apakah menarik untuk kalian?
Terima kasih
Wassalamu'alaikum
__ADS_1
Salam Febti Selasanti