
Pov Karina
Aku dan Ardi berjalan menuju ruang administrasi. Kami akan mengurus kepulangan jenazah Rudi.
Ketika kami sampai di depan ruang adminstrasi, ada tiga orang polisi yang datang.
" Permisi, maaf apakah Anda kerabat dari jenazah yang bernama Rudi Hartadi? " tanya salah seorang polisi dengan tubuh atletis dengan kulit eksotik kecoklatan.
" Saya istrinya, " jawabku.
" Bisa kita berbicara sebentar, karena ada beberapa pertanyaan yang akan menjadi bukti untuk kasus kecelakaan suami Anda, " ujarnya memberikan penjelasan.
" Bisa, tapi saya harus mengurus surat untuk kepulangan suami saya, " ucapku.
" Biar aku saja, " sela Ardi. " Kamu bisa mengetahui kronologis kecelakaan suamimu, " ujarnya.
Aku berpikir, ada baiknya aku mengikuti penyelidikan. Agar aku tahu tentang penyebab kematian Rudi.
" Karin, usai mengurus surat-surat, abang akan menyusulmu ke kantor polisi. " Ardi berpesan padaku.
" Iya, Bang! "
Aku langsung berjalan mengikuti ketiga polisi, yang tadi datang menghampiriku. Aku pun naik ke mobil mereka, dan duduk di bangku belakang.
Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan tentang kematian Rudi. Aku pun langsung mengambil ponselku, lalu mengirimkan pesan singkat pada Nanik.
Ingin mengetahui pekerjaan Rudi sebelum mengalami kecelakaan.
' Mbak, aku ingin memberitahu jika Rudi dan Abel mengalami kecelakaan. Mereka meninggal dunia dan kini jenazahnya di rumah sakit umum pemerintah.'
Pesan aku kirim ke nomor Nanik. Selang beberapa menit, aku menerima dering telepon.
" Karina, apa benar tentang berita yang kamu kirim barusan? "
Nanik begitu cemas, saat aku mengirimkan pesan kematian suamiku dan Abel.
" Iya, Mbak. Dan kini aku menuju kantor polisi, untuk meminta penjelasan tentang kematian suamiku. "
" Baiklah Karin, aku dan Ajeng akan segera meluncur ke rumah sakit. "
" Mbak, sekalian kasih tau keluarga Abel. "
" Keluarga Abel di kampung, dia hanya tinggal sendiri di tempat kost dekat terminal. "
Nanik menyebutkan nama terminal, aku sempat mendengar Rudi dan Abel di temukan saat lampu merah dekat terminal.
Apa yang sebenarnya terjadi?
" Karin, karin kamu gak apa-apa? "
__ADS_1
Nanik membuyarkan lamunanku, dia berulang kali memanggil namaku melalui sambungan telpon.
" Iya Mbak, nanti aku hubungi lagi karena aku sudan sampai di kantor polisi. "
" Iya, aku tunggu kabar darimu. "
Aku menutup teleponku lalu memasukkannya ke dalam tas.
Kami pun sampai di kantor polisi, kemudian kami langsung berjalan ke ruangan penyidik.
Polisi langsung memberondong berbagai macam pertanyaan. Yang membuatku meyakinkan jika Rudi sedang bersama Abel
Dua jam berlalu, aku melihat Ardi sudah menungguku di depan ruang penyidik.
" Terima kasih atas kerjasamanya, semoga kasus kecelakaan yang menimpa suami Ibu bisa cepat kami atasi, " ucap seorang polisi yang tadi menanyakan beberapa pertanyaan padaku.
" Iya, Pak. Semoga saja pelakunya bisa tertangkap, " ucapku sambil menjabat tangan polisi berseragam lengkap.
Aku menghampiri Ardi, yang kini tengah duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.
" Bagaimana, apakah sudah selesai? " tanya Ardi yang menyambut ku dengan senyuman.
" Sudah, Bang! " jawabku
Lalu Ardi menuntunku, berjalan keluar dari kantor polisi.
Aku sedikit risih, dengan perhatian yang Ardi berikan. Segera ku tepis dan lepaskan genggaman tangan nya.
" Oh maaf, abang hanya tidak tega saat melihat mu bersedih, " ucap Ardi, yang juga berhenti karena aku melepaskan tangannya.
Setelah kecanggungan tentang genggaman tangan, aku dan Ardi hanya terdiam saat sudah sampai di parkiran mobil.
Sesampainya di rumah, aku melihat banyak orang yang sudah melayat ke rumah mertuaku.
Aku di hubungi Nanik, dia mau datang bersama Ajeng. Mereka datang sebagai perwakilan dari kantor. Karena Christina yang merupakan bos mereka, sedang pergi berobat ke luar negeri. Biasanya Christina selalu datang pada saat pegawai sedang berduka, atau ada acara yang mengharuskan dirinya datang.
" Karin, aku dan Ajeng sudah di depan gang. Aku sedang berboncengan motor dengan Ajeng. "
Nanik melaporkan kedatangannya, bersama Ajeng.
" Mbak belok kanan aja, lurus rumah mertuaku di situ. Nanti ada tenda dan bendera kuning. "
Aku menjelaskan arah rumah mertuaku, pada Nanik melalui sambungan telepon seluler.
" Siapa, Karin? " tanya Ardi yang tepat berdiri di belakang ku.
" Teman kantor ku sudah sampai di ujung gang, " ucapku menjelaskan pada Ardi.
" Oh, " jawabnya sambil menghampiri Arjuna. " Biar Arjuna, abang yang gendong. Kamu nerima tamu, aja! " Ardi meminta Arjuna dari tanganku.
__ADS_1
" Iya, Bang! " jawabku sembari memberikan Arjuna kepadanya.
Aku segera menuju rumah mertuaku, untuk menerima tamu. Karena setahu mereka, aku adalah istri Rudi.
Banyak tamu yang sudah datang menemui mertuaku. Mereka mengucapkan belasungkawa, kepada kedua mertuaku yang duduk di sebelah jenazah Rudi.
Sebenarnya aku juga bersedih, karena kepergian Rudi sangatlah tragis. Segera aku menghampiri mereka, yang sedang duduk di sebelah jenazah Rudi.
" Karin ... " Terdengar suara laki-laki yang memanggil namaku. Aku pun menoleh ke arah sumber suara. Seketika aku menghentikan langkah kakiku.
" Aldi, " ucapku seraya menghadap Aldi.
" Aku turut berduka, atas kepergian Rudi. " Aldi menjabat tanganku.
" Iya, terima kasih. " Aku pun membalas jabatan tangannya.
" Kamu udah sah jadi janda, dong? " Aldi terdengar sedang menggodaku, namun aku terkejut saat Ardi sudah berdiri di belakang ku.
" Kalau sudah janda, lantas kamu mau apa? " Suara Ardi terdengar emosi.
" Bang, " ucapku yang langsung menoleh ke arah belakang.
" Siapa dia, Karin? " tanya Aldi
" Aku Ardi, abangnya Rudi. " Ardi terlihat kesal menatap Aldi.
" Heh, aku pikir Rudi anak tunggal, " ucapnya sinis.
" Karina, sebaiknya kamu cepat duduk di sebelah jenazah suamimu. Jangan terlalu lama berbicara dengan laki-laki, yang bukan muhrimmu. " Ardi berucap dengan nada sindiran seraya menatap tajam ke arah Aldi.
" Iya, Bang! " Aku pun langsung masuk ke dalam rumah mertuaku.
Aku tak melihat keberadaan Silvia, kenapa dia tidak bersama kedua mertuaku?
Segera aku duduk di sebelah mertuaku, mengambil surat Yasin yang berada di atas meja.
Aku mulai membacakan ayat suci Alquran, di depan jenazah suamiku. Tak terasa air mataku telah menetes, dan membasahi kedua pipiku.
Aku masih tak menyangka, jika aku harus kehilangan suamiku untuk selama-lamanya. Berbulan-bulan aku menahan rasa, agar aku tidak berpisah darinya. Aku sangat membenci perceraian, dan tak ingin anakku tidak memiliki ayah. Aku merelakan, untuk hidup berdampingan dengan Silvia. Walaupun Rudi tak pernah menyentuh ku, saat aku kembali kepada nya.
Aku tahu jika dia hanya menginginkan anakku, dengan cara membujukku kembali kepadanya. Agar Rudi bisa mendapatkan harta warisan, dari bapaknya.
Saat membaca di pertengahan ayat, aku merasakan ada yang menepuk pundak ku dari arah samping.
Aku melihat Nanik dan Ajeng berada di sebelah ku.
" Mbak, " ucapku yang langsung memeluknya dengan berurai air mata.
" Kamu yang sabar, ya! " ucap Nanik membalas pelukan ku.
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.