Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 42


__ADS_3

Pov Author


" Pak, apakah ibu kesepian? " tanya Ardi pada pak Ali.


" Enggak, Den! Hanya saja, selalu berharap pada den Ardi, jika pulang membawa menantu untuk nya, " ucap pak Ali sambil tersenyum.


Ardi hanya menggelengkan kepalanya, mendengar penuturan pak Ali.


" Doakan saja, semoga aku bisa membawakan menantu untuk ibuku. Jadi nanti, bapak akan sangat sibuk, dengan sifat perempuan yang cerewet dan bawel. " Ardi menakuti pak Ali.


" Yah Den, bawanya jangan yang judes. " Pak Ali mengeluh.


Ardi segera berjalan menuju pintu rumah nya.


" Aku masuk dulu. " Ardi berucap sambil mengetuk pintu.


Cukup lama pintu terbuka, karena bi Janah sudah tidur.


" Den, pake kunci serep aja. " Pak Ali langsung mengeluarkan jejeran kunci di tangannya.


" Iya udah, bukain Pak! " kata Ardi. " Tapi setelah aku masuk, langsung di kunci lagi, " pesannya.


" Iya, Den! " sahut pak Ali sambil membukakan pintu rumah.


Setelah pintu terbuka, Ardi pun masuk ke dalam rumah nya.


" Terima kasih, " bisik Ardi, lalu menutup pintunya.


Ardi pun berjalan menuju kamar ibunya, dia membuka perlahan agar sang ibu tidak terbangun.


" Bu, sedikit lagi aku akan mengambil semua harta bagian ibu. " Ardi berucap seraya melihat ke arah sang ibu, yang sedang tertidur.


Kemudian Ardi langsung menutup kembali pintu kamar, dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Perlahan dia melangkahkan kedua kakinya, agar tidak terdengar oleh sang bunda.


" Ardi ... " panggil sang ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


" Ibu, " sahut Ardi yang langsung membalikkan badannya menghadap ke arah sang bunda.


Ardi melangkah pelan, menghampiri sang bunda. Setelah berada di hadapannya, dia langsung mencium punggung tangan nya.


" Kenapa kamu gak bilang-bilang, kalau mau pulang? " tanya Syahrini dengan mata yang masih mengantuk.

__ADS_1


" Aku ingin membuat kejutan untuk ibu, " ucap Ardi seraya tersenyum dengan terpaksa.


" Bohong, pasti ada yang kau sembunyikan? " Rini terlihat curiga menatap sang anak.


Ardi tak bisa mengelak, saat sang ibu telah menebak dengan kedatangan nya yang mendadak.


" Sebaiknya kita duduk, " ajak Ardi yang menuntun sang bunda ke ruang tamu


" Cepat ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Rini dengan raut wajahnya yang penasaran.


Ardi menghela nafas berat, sungguh tak ingin mengingat lagi kenangan bersama Ajeng. Hanya saja, dia harus jujur kepada sang bunda.


" Aku bertemu, Ajeng! " ucap Ardi lirih seraya menundukkan kepalanya.


" Ajeng? " Rini menatap iba ke arah sang anak.


Rini sangat tahu, jika Ardi sangat mencintai Ajeng kala itu. Ajeng pun sering bermain ke rumah nya yang dulu, saat masih tinggal di rumah petakan.


Parjono, hanya memberikan rumah sepetak, pada Rini dan Ardi saat itu.


Entah Ambar membujuk Parjono dengan cara apa? Hingga membuat Parjono, melupakan Ardi dan Rini.


" Iya, Ajeng datang untuk melayat meninggal nya, Rudi. " Ardi mengabarkan pada Rini.


" Rudi meninggal? " Rini terkejut mendengar kabar meninggalnya Rudi. " Kenapa kamu gak kasih tahu, Ibu? " Rini terlihat marah, saat Ardi tak mengabarkan kematian Rudi.


" Ardi, kenapa bicaramu menjadi kasar? " Rini menegur anak tunggalnya


" Maaf, aku sedang emosi saat ini. Banyak kejadian yang berat, ku alami belakangan ini. " Ardi terlihat memijat kepalanya.


" Sudahlah, kamu gak usah teruskan lagi balas dendam mu. " Rini mencoba menasihati Ardi.


" Aku masih tak terima, dengan perlakuan Ambar. " Ardi tak bisa melupakan perlakuan ibu tiri nya saat dia masih kecil.


Ardi masih terus meningkat dendamnya, karena dia sangat membenci Ambar.


" Sebaiknya kamu istirahat, " ucap Rini sambil mengelus lengan Ardi.


" Iya, Bu! Ibu tidur juga, " ucap Ardi yang langsung bangun, dan berjalan menuju ke arah kamarnya.


Ardi telah membersihkan dirinya, lalu menganti bajunya. Dia merebahkan dirinya di atas kasur, sambil menatap langit-langit rumahnya.


" Arjun, aku kangen banget sama dia. " Ardi tersenyum sendiri, lalu batin lainnya mengingat tentang Karina. " Aku kangen Arjuna, atau Karina ya? " Suara itu terus mengganggu tidurnya.

__ADS_1


Ingin rasanya dia menghubungi Karina, tapi rasanya tak mungkin. Ardi tak punya ikatan apapun dengannya. Sedangkan dia pergi tanpa pamit, kepada Karina.


Akhirnya Ardi mencoba memejamkan kedua matanya. Berharap hari esok dapat melupakan kejadiannya bersama Ajeng.


***


Tiga bulan berlalu, kini Karina sudah memulai pekerjaannya. Dia tak di ijinkan pergi dari rumah Rudi. Dan Ambar bersedia merawat Arjuna, selagi Karina bekerja. Dengan syarat, mertuanya itu jangan pernah berbuat macam-macam kepada Arjuna.


Karena Karina mengancam, akan pergi dari rumah Rudi, jika ibu mertuanya berbuat ulah.


Ambar pun menuruti persyaratan dari Karina, karena saat ini dia hanya tinggal sendiri. Anak kesayangannya, telah meninggalkan untuk selamanya.


Kematiannya telah terungkap, dan Karina sudah mengikhlaskan sikap Rudi kepadanya.


Karina mengetahui Rudi telah berselingkuh dengan Abel, setelah mengetahui rekaman cctv di kostan Abel.


Setelah jam istirahat, Abel dan Rudi segera bergegas ke kostan. Terlihat Rudi masuk ke dalam kostan Abel, dan keluar setelah satu jam kemudian. Itupun dengan rambut Abel yang terlihat basah.


Karina sakit hati, dan sangat kecewa. Melihat perilaku suaminya, yang selalu selingkuh di belakangnya.


Beruntung Karina hanya satu kali di sentuh oleh Rudi. Karena Karina tidak tahu, ada berapa wanita yang telah di tiduri nya.


Silvia tekena penyakit HIV, dan kini di rawat di rumah sakit.


Karina mendapatkan kabar dari ibu mertuanya. Setelah Silvia di vonis penyakit HIV, dia langsung meminta uang untuk berobat dirinya kepada ibu mertuanya. Tetapi ibu mertuanya, langsung mengusirnya karena takut tertular.


Setelah mengetahui Silvia terkena penyakit HIV, Karina segera memeriksakan dirinya.


Beruntung Karina, karena dialah wanita pertama yang tidur dengan Rudi. Dan itupun hanya sekali, sehari setelah acara resepsi pernikahan. Sehingga Karina tidak terkena penyakit berbahaya itu.


Karina melanjutkan pekerjaannya, dia memulai dari nol usai melahirkan.


Abel telah di gantikan oleh pegawai baru, yang baru saja lulus SMA.


Asisten Karina bernama Ulfa, penampilan nya sangat cantik dan usianya masih sangat muda.


Christina menempatkan Ulfa, sebagai pengganti Abel. Karena memiliki daya tarik untuk memikat konsumen.


" Ulfa, kamu baru dua bulan di sini. Aku harap kita bisa bekerjasama. " Karina memperkenalkan dirinya seraya menjabat tangan Ulfa


" Iya, Bu. Semoga aku dapat membantu pekerjaan, Ibu. " Ulfa membalas jabatan tangan Karina.


Karina menatap layar komputer miliknya, sekitar empat bulan dia tak menyentuh keyboardnya. Karina sangat merindukan pekerjaan nya. Dia bertekad, untuk menghidupi anaknya dengan pendidikan yang layak. Walaupun kini Arjuna tidak memiliki ayah, setidaknya dia memiliki ibu yang tangguh.

__ADS_1


Ajeng datang menghampiri, sambil membawa beberapa berkas di tangannya.


Silakan like dan komentar


__ADS_2