Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 31


__ADS_3

Pov Rudi


" Rudi, kamu harus merayu Karina agar dapat menyerahkan anaknya pada ibu. " Ibuku terus saja menghasutku.


" Tapi tadi Karina tidak ingin bertemu denganku, apalagi ada kakaknya si Diana, " ucapku kesal.


" Diana uda ibu kasih duit, dan dia sudah pulang ke rumahnya. Jadi kamu gak usah cemas sama kakaknya yang matre itu, dan galak. " Ibu memberi penjelasan padaku.


" Sudah sana cepat, kamu mandi dan bawakan makanan untuk Karina, " ucap ibuku memaksa.


" Iya, iya ... " jawabku dengan nada malas.


Aku langsung bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuh ku.


Setelah mandi, aku langsung memakai baju yang rapi.


" Rudi, ini duit buat beli ayam bakar sama nasi. Ingat, kamu harus rayu Karina biar mau pulang ke sini." Ibu memberikan uang seratus ribu.


" Silvia, kamu rapikan kamar Karina. " Ibu memerintahkan Silvia.


Silvia terlihat cemberut saat ibu menyuruhnya membersihkan kamar Karina.


" Kalian berdua, kalau mau dapat harta warisan harus nurut perkataan ibu, " ucap ibu memberikan perintah.


Aku dan Silvia hanya terdiam dan menurut. Kemudian aku pamit pada ibu, dan berjalan menuju motor ku.


Aku sebal sama Karina, padahal sudah di sindir oleh Abel jika motor ku butut. Tapi tetap dia tak mau membelikan ku motor baru. Aku ingin motor keluar terbaru, dengan bangku yang besar.


Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan, bagaimana caranya agar bisa merayu Karina?


Dia marah kepada ku saat aku makan siang bersama Abel. Dan menuduhku telah berselingkuh.


Padahal kenyataannya adalah iya, aku memang menyukai Abel. Entah kenapa saat melihat perempuan cantik, jiwa kelelakianku terus meronta.


Aku seperti ingin memiliki wanita cantik yang terpesona oleh ketampanan ku.


Awal aku mengenal Abel, saat pulang di interview. Abel menghampiri ku, dan menanyakan tentang diriku yang merupakan suami Karina.


" Abang, bukannya suami bu Karina? " Abel mengernyitkan keningnya.


" Iya, " jawabku sambil tersenyum manis di hadapannya.


" Abang ngapain di sini? " tanya Abel yang juga membalas senyumku.


Aku langsung jatuh hati pada senyumnya yang manis.

__ADS_1


" Abang selesai interview, dan besok mulai bekerja. " Aku menjawab pertanyaannya.


" Nama kamu, siapa? " Aku mulai mengulurkan tanganku, dan basa-basi menanyakan namanya, padahal aku tahu namanya adalah Abel. Karena terlihat di name tag nya.


" Abel, " jawab Abel membalas uluran tanganku.


" Abel mau makan siang sama, abang? " Aku memberanikan diri bertanya pada Abel.


" Boleh, Bang! " jawab Abel menyanggupi ajakanku.


" Abang tunggu di depan, pas jam istirahat Abel keluar aja. " Aku berpesan pada Abel.


" Iya udah, Bang! " Jawabnya dengan tersipu malu.


Aku pun keluar dari kantor, dan menuju parkiran motor.


Selang setengah jam, aku melihat Abel keluar dari kantor. Dengan langkah cepat, segera aku menghampiri Abel.


" Abel ... " Aku memanggil Abel.


Abel menoleh ke arahku, dan tersenyum.


" Eh Abang, Abel kira tadi becanda. " Abel malu-malu menatapku


Aku merasa bangga, tidak ada wanita yang menolak ajakan ku.


" Iya udah, kita berangkat, " kataku yang langsung berjalan menuju parkiran motor.


Aku langsung membonceng Abel, menuju rumah makan padang yang berjarak tidak jauh dari kantor.


" Bang, kenapa motor nya gak minta ganti? " Terdengar Abel protes saat naik motor bututku.


" Memangnya kenapa? " tanyaku sambil menoleh sekilas ke arah Abel.


" Bu Karina gajinya gede, ke salon aja hampir tiap minggunya. Kok gak bisa beliin motor baru buat, Abang? " Suara Abel seperti meledekku.


" Iya, nanti kalau Karina sudah melahirkan. Pasti abang minta beliin sama dia, " ucapku.


Aku sangat terkejut saat tertangkap basah oleh Karina. Karina melihatku sedang bermesraan dengan Abel saat masuk ke dalam restoran Padang.


Dia langsung melabrakku dan Abel secara terang-terangan. Akhirnya aku berkilah, dan memberi alasan.


Aku tidak tahu tentang hubungan Karina dengan Ardi. Hanya saja saat itu adalah momen yang penting untuk melindungi hubungan ku dengan Abel. Yang pasti Karina akan merasa bersalah, telah aku tuduh berselingkuh dengan Ardi.


" Kamu berencana, akan menamakan apa anak kita? " Aku mendekati Karina, mencoba untuk merayunya.

__ADS_1


Aku merasa jika Karina telah terbujuk oleh rayuan ku. Memang bodohnya dia, percaya saja dengan semua rayuan ku.


Pov Author


Karina terdiam, dia bingung dengan perasaannya. Kenapa hatinya begitu luluh saat Rudi memberikan pelukan mesra. Mungkin karena naluri nya sebagai perempuan, yang haus akan kasih sayang seorang pria.


" Arjuna, " celetuk Ardi saat Karina dan Rudi terdiam.


" Hey kau, dia itu anakku. Kenapa kau begitu cepat menemukan nama untuk nya? " Rudi geram dengan celetukan Ardi.


" Aku hanya memberi saran, jika bagus kau pakai saja! " ucap Ardi menegaskan.


" Arjuna Bagas, " sambung Karina.


" Iya bagus, semoga dia bisa menjadi lelaki yang bisa membela ibunya. " Ardi menyindir Rudi


Hubungan antara Ardi dan Rudi memang tak begitu akrab. Hal itu terjadi kala Rudi, masuk ke dalam bagian keluarga nya. Saat itu ayahnya bernama Parjono diam-diam menikah lagi dengan Ambar. Kemudian Ardi dan sang ibu pergi dari rumah. Sejak kecil Ardi memang hidup bersama ibunya. Saat ibunya telah meninggal, Ardi kembali pada ayahnya.


Dan mengaku pada Karina, jika dirinya bekerja di luar kota.


" Bang, sebaiknya kamu keluar dan jangan pernah ikut campur urusan keluarga ku. " Rudi membentak Ardi.


Ardi pun langsung keluar dari kamar rawat inap. Dia kesal dengan sikap Karina, yang mudah terbujuk rayu oleh Rudi.


" Karin, kamu mau 'kan kembali ke rumah ibu? " Rudi bertanya pada Karina.


Karena Rudi harus berhasil menyelesaikan misinya, untuk mendapatkan harta warisan.


Karina terdiam, dia sedang berpikir tentang ajakan suaminya.


Akhirnya Karina mempunyai rencana lain, agat dia bisa menjebak Rudi.


Karena dia masih penasaran dengan hubungan Rudi dan Abel. Di tambah Diana yang tidak bisa di andalkan.


Untuk saat ini Karina berpikir, akan pulang ke rumah mertua nya. Dia akan mengerjai mertuanya, seperti ibu mertuanya yang baru saja mengerjai dia.


" Bang, aku hanya ingin pindah ke rumah kontrakan. " Karina meminta pada Rudi.


" Ngontrak? " Rudi terkejut dengan permintaan Karina. " Uang darimana untuk bayar kontrakan? " ujar Rudi.


" Abang 'kan uda kerja, masa iya gak bisa bayarin kontrakan? " Karina geram dengan jawaban Rudi yang telah berkelit. Padahal Rudi berjanji akan mengontrak usai melahirkan anaknya. Dan kini Karina menagih janji Rudi.


" Iya, tapi-- " Rudi tak ada niatan sedikit pun untuk mengontrak, pasalnya dia tak mau pusing dengan urusan bayar membayar. Terapi demi harta warisan yang di janjikan bapaknya, dia harus rela menuruti keinginan Karina.


Silakan like dan komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2