
Pov Ardi
Hari ini aku ada pertemuan dengan butik Sindang Jaya. Aku sering mendengar nama butik yang terkenal itu, dan baru kali ini mereka mengajukan penawaran kerjasama dengan perusahaan milikku.
Aku pun di panggil oleh asisten ku yang bernama Junita.
" Pak, klien dari butik Sindang jaya sudah saya suruh tunggu di ruang meeting. " Junita sudah berdiri di hadapan ku.
" Iya, aku akan segera ke sana. "
Aku langsung memakai jasku berwarna abu-abu. Merapikan di depan cermin, dan mengencangkan dasi yang berwarna hitam.
Setelah aku melihat penampilan ku di cermin, segera ku langkahkan kakiku menuju ruang meeting.
Aku membuka pintu perlahan, agar klienku yang berada di dalam tidak gugup dengan kehadiran ku.
Sungguh terkejut saat melihat, siapa dua klien yang berada di hadapan ku?
Karina dan Ajeng, kini telah duduk di ruang meeting. Dua wanita yang mempunyai kenangan berbeda dalam hidup ku.
Sosok Ajeng paling aku benci, dan aku tidak ingin melihat nya lagi. Maka aku bersikap angkuh dan arogan di hadapannya.
Sedangkan Karina, aku sangat merindukan nya. Andai aku bisa menjamahnya, mungkin saat ini aku akan langsung memeluknya. Namun sayang, perasaan itu hanya aku yang memilikinya. Karina tidak sedikitpun tahu, tentang perasaanku. Karena di hatinya masih ada sosok Rudi, yang begitu jahat dalam ingatan nya
" Kalian, apa kabar? "
Aku memulai pembicaraan, berharap tidak ada kegugupan pada nada bicara ku. Aku berharap klienku tidak gugup saat menghadapi ku, tapi kenapa di depan mereka justru akulah yang gugup.
Tapi aku harus menunjukkan sikap wibawa ku, agar terkesan arogan dan berwibawa.
" Ba-- " panggilan Karina terputus, namun dia teruskan dengan sebutan pak. " Maaf, Pak! "
Iya aku tahu, dia pasti akan memanggilku abang. Apakah dia juga merindukan ku? Aku di buat ge-er dengan senyumannya.
" Silakan lanjutkan presentasinya, " ucapku menyambung pembicaraan.
Kini Karina semakin cantik, tubuhnya terlihat langsing dan tidak gemuk lagi. Pandai sekali dia merawat dan menjaga tubuhnya selama tiga bulan.
" Maafkan, Abang yang tidak pamit kepada mu kemarin, " ucapku lirih dalam hati.
Aku masih fokus menatap gerak-gerik Karina, dia sungguh lihai dalam mempresentasikan produk jualan nya.
Namun pandangan ku seperti nya tidak fokus, pada penjelasan Karina. Aku hanya memikirkan Arjuna, yang telah aku tinggalkan tiga bulan lalu.
__ADS_1
Ingin rasanya aku melihat Arjuna, lalu menggendongnya. Seketika lamunanku buyar, kala Karina menjentikkan jarinya ke arah wajah ku.
" Pak, pak ... " panggil yang telah berdiri di hadapanku.
Seketika lamunanku tentang nya pun buyar, saat di panggil oleh Karina.
" Maaf, aku sedang tidak fokus. Untuk selanjutnya biar asisten aku yang menghubungi kalian. " Aku langsung bangun dari tempat duduk ku. Kemudian pamit kepada Karina dan Ajeng, untuk melanjutkan kembali pekerjaanku.
" Maaf, aku harus bertemu dengan klienku di restoran. Nanti asisten aku, yang akan menghubungi kerja sama selanjutnya, " ucapku yang menoleh sekilas dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku tahu aku egois, karena memikirkan masalah pribadi ku dan telah mengecewakan mereka.
Padahal aku sangat gugup, saat wajah Karina mendekati wajahku. Segera aku melangkahkan kakiku, menuju ruangan ku.
Aku mengatur deru nafasku, yang sedari tadi tegang saat di hadapan Karina.
Ingin rasanya aku mengungkapkan, isi hati ku padanya. Namun waktunya tidak tepat, di saat Karina sedang berbisnis denganku.
Aku merebahkan tubuh ku di sofa, memikirkan kembali rencana ku selanjutnya.
Aku harus mendapatkan hati Karina, karena aku memang sudah jatuh hati kepadanya.
Aku segera memanggil Junita, untuk melanjutkan kerjasama dengan butik Sindang Jaya. Junita mengatur pertemuanku, dengan Karina. Aku hanya ingin bertemu dengan Karina, tanpa harus melibatkan Ajeng.
" Permisi, Pak! Saya telah menghubungi nomor telpon kantor dari butik Sindang Jaya. Bu Karina belum juga sampai di kantor, setelah beliau balik, mereka akan menghubungi kembali. " Junita melaporkan kepadaku
Kemudian Junita pergi, dan aku melanjutkan pekerjaanku.
Dua jam kemudian, dering telepon kantor berbunyi. Aku segera menjawab panggilan masuk.
" Halo, selamat siang! "
" Siang, dengan pemilik PT Arini Sentosa? "
" Iya, saya Ardiansyah. " Aku menjawab sapaan Karina. " Karina, besok aku jemput di kantormu. "
" Maaf, Pak! Maksudnya kita mau meeting di luar? " tanya Karina memastikan.
" Iya, aku harap kamu gak usah mengajak Ajeng. "
" Memangnya kenapa, Pak? "
" Aku hanya tidak ingin mencampuri urusan pribadiku, dengan bisnis. "
__ADS_1
Karina terdiam, aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu.
" Halo Karina, apa kamu masih mendengarku? " Aku bertanya pada Karina, karena dia cukup lama mendiamkanku.
" Oh, maaf. Aku sedang mengecek jadwalku, " ucapnya. " Aku akan mengosongkan jadwalku untuk esok hari. "
" Baiklah, besok aku akan ke kantormu. Jika sudah sampai, aku langsung menghubungimu. "
" Baik, Pak! " jawab Karina
Sepertinya pembicaraan kami terlalu formal, bisa aku maklumi karena kami sedang di area kantor.
Pastinya, Karina harus bersikap profesional. Tapi aku merasa canggung, setelah tiga bulan tidak berjumpa dengan dia.
Aku harus mengatur kembali jadwalku, dan meminta Junita untuk mengosongkannya esok hari.
Pertemuan bisnisku dengan Karina, hanyalah sebuah alasan. Agar aku mudah mendapatkan hati Karina. Aku tahu, jika Karina masih belum bisa melupakan Rudi.
Maka dari itu, perlahan aku akan mencuri perhatiannya.
" Junita, kamu kosongkan semua jadwalku untuk besok. " Aku menghubungi Junita melalui sambungan telpon kantor.
" Baik, Pak! " jawabnya.
Hari sudah sore, akupun merapikan berkas-berkas yang telah aku tandatangani. Setelah rapi, aku langsung bergegas meninggalkan kantorku.
Akupun keluar dari ruanganku, sungguh terkejut saat melihat Ajeng berdiri di depan ruanganku.
" Ajeng, apa yang kamu lakukan di sini? " tanyaku yang mendadak berhenti melangkah.
" Ardi, apa kamu benar-benar telah melupakan semua kenangan kita? " ucap Ajeng dengan tatapan mengiba.
Aku memandangnya acuh, " jangan pernah mengingatkanku, dengan masa lalu yang kelam. "
" Ardi, aku tahu dulu aku salah. Aku meninggalkanmu demi Robi, seharusnya dulu aku tidak pergi saat acara pernikahan kita. Aku egois dan gelap mata. Maafkan aku, " lirih Ajeng dengan sejuta penyesalan.
" Aku tahu kamu masih mencintaiku, " ucap Ajeng penuh percaya diri.
" Tapi hatiku sudah mati untukmu, tak ada lagi cinta yang tersisa. Aku sudah membuang kenangan pahit, yang pernah menyiksaku. Aku sudah menemukan cintaku, jadi aku harap kau jangan pernah lagi mendekatiku, " ucapku lantang dan pergi meninggalkan Ajeng.
" Ardi ... " Ajeng terdengar memanggilku, namun tak ku hiraukan.
Aku terus berjalan menuju lift, dan setelah luft terbuka, aku langsung masuk.
__ADS_1
Aku tak menyangka, jika Ajeng akan berbuat senekat itu.
Silakan like, berikan vote dan komentarnya, kakak