
"Prang..." Gelas pun terjatuh ke lantai setelah membasahi baju Silvia
"Silvia?" Ajeng dan Nanik saling melempar pandangan saat melihat Silvia.
"Kamu kerja gimana sih?" teriak Silvia memaki pelayan perempuan yang sedang memungut pecahan gelas.
"Silvia, aku lihat dia tak sengaja. Dan sebenarnya kamu yang salah, kenapa mengangkat tangan saat pelayan sedang menyajikan makanan?" ucap Ardi sambil berdiri.
Seketika para tamu restoran melihat ke arah Ardi sambil berbisik.
Lalu datanglah Ajeng dan Nanik, yang telah berdiri di sebelah sang pelayan.
"Mas Ardi!" panggil Ajeng sambil melirik ke arah Silvia.
"Oh, kalian sudah kenal toh!" ucap Silvia seraya mengibaskan tangannya di dresnya yang basah.
"Ada hubungan apa antara kamu dengan, Silvia?" tanya Ajeng dengan tatapan menyelidik
"Aku dan dia adalah rekan bisnis," jawab Silvia dengan nada angkuh.
"Heh, Sil! Kemarin saudara kamu datang nyariin kamu. Katanya suruh bayar utang, dan juga kuburan kedua orang tua mu belum di bayarin pajak." Nanik melapor pada Silvia.
Silvia terlihat gelagapan saat Nanik menceritakan masalah pribadinya.
__ADS_1
"Ish, kenapa kamu ngomong di depan klienku?" Silvia sambil menarik tangan Nanik dan menjauhi Ardi.
"Apa? Kedua orang tuanya sudah mati?" gumam Ardi. "Jadi dia ingin membohongi ku?"
"Ada hubungan apa kamu dengan, Silvia?" tanya Ajeng sambil menatap tajam ke arah Ardi.
"Aku melihat dia sedang meminta-minta di lampu merah. Terpaksa aku belikan baju, dan ingin mengirimnya ke kampung." Ardi beralasan.
"Silvia gak punya kampung, semua habis dia jual untuk pergi ke kota. Orang tuanya juga sudah lama mati," ujar Ajeng. "Dan juga, hutang dia banyak. Makanya rentenir sering datang ke kantor menanyakan keadaan nya."
Ardi masih bersikap tenang, dia tidak ingin terprovokasi.
Sementara Nanik dan Silvia sedang berbicara di sudut ruangan.
"Apa? Dia suaminya Karina?" kaget Silvia mendengar penuturan Nanik.
"Jadi, kamu belum tahu?" tanya Nanik. "Apa Karina merahasiakan nya padamu?"
"Jadi Karina naik ranjang!" ucap Silvia sambil berpikir.
"Hey, kamu jangan ganggu hubungan Karina dan suaminya. Cukup sudah kau ambil Rudi dari Karina." Nanik berpesan pada Silvia, lalu dia berjalan menghampiri Ajeng yang sedang berbicara pada Ardi.
"Pak! Jangan dekati wanita ular itu, dia pasti akan mematuk balik jika bapak lemah." Nanik memperingatinya.
__ADS_1
"Baik, terima kasih." Ardi langsung duduk kembali di bangkunya.
"Mas, aku duluan, ya!" Pamit Ajeng dan juga Nanik.
Ardi menatap tajam ke arah Silvia. "Kenapa kau berbohong padaku, perihal orang tua mu?" tanya Ardi dengan tatapan kecewa.
"Maaf!" jawab Silvia seraya menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu mengaku mempunyai penyakit berbahaya?" tanya Ardi.
"Soal penyakit, aku memang mengidap penyakit itu." Silvia menundukkan kepalanya malu.
"Maksudnya?" tanya Ardi.
"Dulu aku seorang wanita penghibur, lalu melamar di butik tempat ibuku bekerja. Kemudian aku bertemu denganmu, lalu akhirnya Rudi menikahiku." Silvia menjelaskan.
Ardi terlihat mengusap wajahnya, tak percaya dengan penjelasan Silvia.
"Soal saudara yang mencarimu?" tanya Ardi.
"Dia mucikari tempat aku bekerja, setelah aku kabur dari rumah Rudi." Silvia menunduk malu.
"Hutangku banyak, dan aku bingung ingin mencari uang kemana lagi! Terpaksa aku kembali bekerja pada mereka. Namun setelah tahu aku penyakitan, mereka mengusirku. Namun aku tetap di suruh membayar hutang. Jadi aku tunjukkan butik tempatku bekerja dulu." Silvia menjawab sambil menangis.
__ADS_1
Jangan lupa like dan berikan komentar mu