Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
101


__ADS_3

Ardi terlihat sangat bahagia, akhirnya mendapatkan anak perempuan yang teramat cantik.


"Pak, mau di azankan?" Tanya suster yang menggendong buah hati Ardi dan Karina


"Iya," jawab Ardi seraya menerima anaknya.


Kemudian Ardi mulai mengazankannya dengan suara yang merdu.


Sementara Karina sedang di urus oleh perawat, karena mengalami luka robek pasca melahirkan.


Selang satu jam kemudian, Karina sudah di bawa ke ruang rawat inap. Ardi pun dengan setia menemani Karina yang masih tertidur karena efek obat.


Putri kecilnya sudah di bawa ke ruangan Karina. Karena persalinan nya normal, maka tidak butuh waktu lama untuk anaknya berpisah dengan Karina.


Kedua mata Karina pun mulai terbuka dengan perlahan.


"Kau sudah bangun?" Tanya Ardi seraya menggendong buah hati nya.


"Apakah anakku bangun?" Tanya Karina


"Iya, sedari tadi dia bangun dan bermain denganku," ucap Ardi sambil menimangnya.


"Apakah dia haus?" Tanya Karina.


"Iya, hanya saja aku takut untuk membangunkan mu. Pastinya kau sangat lelah sekali," ucap Ardi


"Bang, menyusui adalah kewajiban ku. Kenapa kamu gak bangunin aku? Padahal anakku sudah sangat haus!" Ujar Karina yang bangun dari tidurnya.


"Maaf, aku hanya sedang mencemaskan mu." Ardi memberikan putrinya pada Karina.


Kemudian Karina menerima anaknya, lalu dengan segera menyusuinya.


"Karin, aku ingin menamakan putri kita Aruna Putri!" Ujar Ardi yang sudah duduk di sebelah Karina.


Karina hanya terdiam, karena sewaktu Arjuna pun yang memberikan nama adalah Ardi.


"Bagaimana, apa kau suka?" Tanya Ardi.


"Bagus," jawab Karina yang masih fokus menyusui anaknya.


Kemudian Diana pun masuk ke dalam ruang rawat inap, bersama dengan Arjuna.


"Sebenarnya anak kecil tidak boleh masuk, hanya saja aku memohon agar Arjuna melihat mama dan adiknya." Diana sambil menggendong Arjuna.


"Juna, kamu sudah punya adik." Ardi langsung mengambil Arjuna dari gendongan Diana.


Arjuna hanya terdiam, dia memang sudah cukup mengerti jika kini dia memiliki seorang adik.


"Sayang, kamu bisa cium dedek!" Ucap Karina seraya mengelus kepala bayinya.

__ADS_1


Kemudian Arjuna pun langsung memeluk Karina. Bocah yang usianya menginjak enam tahun itu pun menangis di pelukan Karina.


"Sayang, mama akan selalu menyayangi kamu selamanya." Karina berbisik di telinga Arjuna.


Terlihat jelas di wajah Arjuna jika dirinya masih bingung dengan kehadiran adik kecil nya.


"Karin, perlahan dia akan mengerti jika telah memiliki adik." Diana menjelaskan.


"Iya, pelan-pelan kita akan mengenalkannya." Ardi menyahut pernyataan Diana.


Hari pun berlalu, Karina akhirnya di perbolehkan pulang ke rumah. Karena kondisinya semakin membaik.


Sesampainya di rumah, Karina langsung memasuki kamarnya. Melihat ruangan baru yang dindingnya di cat berwarna merah muda.


"Bang, apakah harus seperti ini?" Tanya Karina yang bingung dengan dekorasi kamar barunya.


"Aku hanya ingin membuat anak kita nyaman," ucap Ardi sambil menggendong Aruna.


"Terserah kamu," jawab Karina sembari berjalan masuk ke dalam kamar.


"Karin, boleh aku meminta sesuatu sama kamu?" Tanya Ardi seraya mengikuti langkah Karina.


"Minta apa?" Tanya Karina sembari menoleh ke arah belakangnya.


"Sebaiknya mulai saat ini kamu panggil aku dengan sebutan papa saja seperti Arjuna memanggilku. Agar anak kita lebih familiar jika akan memanggil namaku." Ardi meminta pada Karina.


"Baiklah, aku akan memanggil kamu dengan sebutan papa." Karina menjawab dengan tersenyum.


"Karin, makanan sudah siap. Kalau kamu mau makan mau aku bawakan atau makan di ruang makan?" Tanya Diana dari arah depan pintu kamar.


"Aku makan di sini saja, Kak! Karena jahitan nya masih terasa ngilu," sahut Karina.


"Baiklah, kakak akan bawakan nasi dan lauk ke kamar." Diana langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Karina.


Ardi telah meletakkan Aruna di box bayi, yang jaraknya tidak jauh dari tempat tidur mereka.


"Sayang, aku akan ambilkan nasi untuk mu. Kasihan kak Diana yang terlalu sibuk mengurusi kamu dari kemarin," ucap Ardi. Kemudian dia langsung berjalan meninggalkan kamar tidur untuk mengambil nasi.


Karina pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia pun melihat anak nya yang sedang tertidur di dalam box bayi.


"Kak, biar aku saja yang membawakan nasi untuk Karin. Kak Diana sebaiknya istirahat." Ardi datang menghampiri Diana yang sedang mengambil piring.


"Iya, sudah. Kalau butuh bantuan lagi, langsung saja panggil kakak," ucap Diana.


Kemudian Diana langsung pergi dari dapur untuk kembali ke rumahnya.


Ardi pun mengambil piring dan menyendok nasi untuk makan Karina. Dia membawa dua piring nasi berserta lauknya. Karena perut Ardi pun juga sudah sangat lapar.


"Sayang, ayo kita makan!" ajak Ardi seraya membawa dua piring nasi

__ADS_1


Usai menyelesaikan makan, Ardi langsung merapikan dan membawakannya ke dapur.


Kemudian dia mencuci piring nya, lalu mencari keberadaan Arjuna Untuk tugas membersihkan rumah, Karina memang menyewa jasa asisten rumah tangga.


Ardi berjalan menuju rumah Diana, mencari keberadaan Arjuna.


"Kak, Arjuna mana?" tanya Ardi pada Diana.


"Dia sedang mengantarkan Keyla dan Keysa sekolah." jawab Diana. "Memang ada apa?" tanya Diana.


"Aku mau menyuapinya," jawab Ardi.


"Dia sudah makan bersama Keyla dan Keysa," jawab Diana. "Kamu gak ke kantor?" tanya Diana.


"Aku cemas jika harus meninggalkan Karina sendiri di rumah," jawab Ardi.


"Aku yang akan mengurus Karin," jawab Diana.


"Baiklah, aku akan bicara sama Karin," ucap Ardi. "Aku minta tolong padamu, untuk menjaganya." Ardi meminta pada Diana


Ardi langsung berjalan menuju rumahnya, dia menghampiri Karina yang berada di kamar nya.


"Sayang, apa boleh aku bekerja?" tanya Ardi


"Iya, kamu kerja saja," ucap Karina yang sedang menyusui anaknya.


"Apakah Aruna bangun lagi?" tanya Ardi yang melihat Karina sedang menyusui Aruna.


"Dia hanya haus, kau tidak perlu khawatir. Aku pun pernah mengurusi Arjuna, jadi kau tidak perlu mencemaskan aku," ucap Karina yang menenangkan suaminya.


"Aku akan meminta tolong ibuku agar datang membantumu." Ardi langsung mengambil ponselnya.


"Enggak usah, Bang, eh Pah! Aku bisa sendiri," ucap Karina yang mencegah Ardi.


"Karin, aku mohon kamu mau di bantu oleh ibuku. Karena aku tidak tega meninggalkan mu sendiri," ucap Ardi.


"Ada kak Diana yang akan membantuku," sahut Karina


"Tok, tok, tok..." Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Itu kak Diana," ujar Karina


"Kalau kak Diana tidak akan mengetuk pintu. Pastinya dia akan langsung masuk dan memanggil mu," ucap Ardi. "Biar aku lihat siapa yang datang!" Ardi langsung keluar dari kamar untuk melihat orang yang baru saja mengetuk pintu.


"Ceklek..."


"Ibu," ucap Ardi terkejut. "Baru saja aku akan menghubungi ibu," lanjutnya seraya memeluk ibunya.


"Ibu mau mau menemui cucu ibu," ucap Rini

__ADS_1


"Ayo, masuk!" ajak Ardi yang langsung merangkul ibunya.


__ADS_2