Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 73


__ADS_3

Karina memutuskan pergi bersama Diana menuju rumah sakit jiwa. Arjuna di titipkan pada suami Diana. Karena Diana cemas jika akan terjadi sesuatu di rumah sakit nanti.


"Kejadiannya baru saja, Kak?" tanya Karina dengan raut wajah cemas.


"Iya, tadi pagi sekali. Saat semua pasien mengikut senam bersama. Katanya Bedah mengamuk, dengan pasien lainnya." Diana menjelaskan pada Karina.


Sesampainya di rumah sakit, Karina dan Diana langsung bergegas menuju rumah sakit. Dia langsung mencari keberadaan Bedah.


"Permisi, kami keluarga pasien bernama Zubaedah. Yang tadi pagi membuat keributan," lapor Diana pada petugas rumah sakit.


"Oh, mari ikut saya." Petugas rumah sakit langsung membawa Karina dan Diana menuju ke ruangan tempat Bedah.


"Silakan..." ucap petugas rumah sakit yang mempersilakan Karina dan Diana melihat keadaan Bedah yang sudah terbujur kaku.


"Maksudnya, kakak saya sudah meninggal?" tanya Karina yang terkejut melihat mayat Bedah yang di selimuti kain putih.


"Maafkan kami, yang lalai mengawasi pasien kami. Kami tidak tahu, jika kedua pasien memiliki hubungan." Dokter menjelaskan pada Karina dan Diana


"Maksud Anda, gimana?" tanya Karina dengan raut wajah yang penasaran.


"Bisa ikut, kami?" ajak dokter yang menangani kasus Bedah.

__ADS_1


Karina dan Diana pun berjalan mengikuti langkah sang dokter.


"Ibu yang di sana, mengaku mengenal kakak Anda. Dia memanggil nya dengan sebutan Karina, dan langsung mengambil gunting yang kebetulan sedang di pakai karyawan kami." Dokter menunjuk jarinya ke arah Ambar yang sedang tertawa cekikikan.


"Ibu!" Karina terkejut saat melihat jari dokter mengarah pada Ambar.


"Apa Anda mengenalnya?" tanya dokter wanita di sebelah Karina.


"Dia ibu mertua saya," jawab Karina sembari menatap benci ke arah Ambar. Dia mengingat kejadian saat anaknya akan di bunuh oleh Ambar


"Apa nama Anda adalah Karina?" tanya dokter wanita itu.


"Baiklah, Anda bisa ikut saya. Akan saya jelaskan melalui layar cctv." Dokter mengajak Karina.


Namun saat akan berbalik, Karina berpapasan dengan Parjono.


"Bapak!" ucap Karina pelan.


"Karina, kok kamu bisa ada di sini? Apa kamu ingin menjenguk ibumu?" tanya Parjono yang ingin menjenguk Ambar.


"Kakak ku telah di bunuh sama ibu," ucap Karina menatap penuh kebencian.

__ADS_1


"Apa? Bisa jelaskan semua ke bapak?" tanya Parjono.


"Baiklah, Pak! Mari ikut saya," ucap seorang dokter mengajak Parjono.


Kemudian Karina dan Parjono ikut bersama dokter. Sedangkan Diana mengurus jenazah Bedah. Ada suami Bedah yang juga sedang bersama Diana. Sepertinya dia senang mendengar Bedah meninggalkan. Pastinya tidak akan lagi ada yang merepotkannya. Dan dia bisa hidup bebas bersama istri barunya.


Karina dan Parjono telah sampai di ruangan dokter. Kemudian mereka langsung melihat cctv yang di tunjukkan oleh sang dokter.


"Bu Ambar memanggil nama Anda, dia bilang kalau Anda harus menyusul anaknya yang bernama Rudi." Dokter menjelaskan pada Karina.


"Kenapa dia bisa mengincar kak Bedah?" tanya Karina


"Karena menurut penglihatannya, Bedah mirip seperti kamu. Gendut dan berkulit hitam," ucap dokter. "Padahal penampilan Anda sangat berbeda dengan Bu Bedah."


"Dulu penampilan ku seperti kak Bedah," ucap Karina kembali mengingat bentuk tubuh saat dia masih berbadan gemuk.


"Oh, pantas saja. Dalam penglihatan Bu Ambar, jika Bu Bedah adalah Karina." Dokter kembali mengambil kesimpulan.


"Maafkan ibu, Nak!" ucap Parjono seraya menyatukan kedua tangannya. "Bapak rasa, ilmunya masih belum hilang. Dan bapak tidak mengerti cara menghilangkan ilmu itu," ucap Parjono.


"Semua bukan salah Bapak, jadi Bapak gak perlu minta maaf." Karina menatap iba ke arah Parjono. Karena walau bagaimanapun, Parjono adalah bapak dari kedua suaminya.

__ADS_1


__ADS_2