
" Mereka berdua, memiliki sifat yang jauh berbeda, " jawab Karina. " Andai saja sikap bang Rudi seperti bang Ardi, mungkin aku belum bisa melupakannya saat ini. " Karina kembali terbayang dengan wajah Rudi.
" Jadi menurutmu, bagaimana sikap Ardi kepadamu? " Rini kembali menegaskan pertanyaannya. Dia tidak ingin anaknya salah dalam memilih seseorang untuk menjadi tambatan hatinya. Selama beberapa bulan, Ardi terus menceritakan Karina. Wanita dari istri adik tirinya yang terus teraniaya.
Sejak kehilangan Ajeng, Ardi menutup erat hatinya. Dia fokus menata masa depannya, dengan giat bekerja. Hingga memiliki segalanya, dan menjadi pria yang mapan.
" Baiklah Karina, semoga kita dapat bertemu kembali. " Rini berucap penuh harap. Karena dia sangat tahu, jika sang anak akan mengungkapkan isi hatinya saat ini. Dan Rini tidak ingin keberadaan nya mengganggu hubungan mereka.
Tugasnya telah selesai, dia sudah memperkenalkan diri pada Karina. Untuk selanjutnya, adalah urusan hati anaknya.
" Ibu mau kemana? " tanya Karina yang melihat Rini telah berdiri dari duduknya.
" Aku ada urusan, dan maaf aku akan meninggalkan kalian! " ucap Rini sembari memakai kacamata nya yang hitam.
Rini telah membuka pintu, dan pergi meninggalkan Karina yang sendiri di dalam kamar.
" Apa yang sebenarnya bang Ardi rencana kan? " Karina bergumam, memikirkan sikap Ardi dan juga ibunya.
Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Nampak Ardi telah masuk, dengan satu tangan berada di belakangnya.
" Bang, ibumu sudah pergi! " ucap Karina yang langsung berdiri dari duduknya.
" Iya, tadi kami bertemu di depan. " Ardi perlahan mendekati Karina.
Dia memberikan sebuket bunga mawar merah, kepada Karina.
" Karina, aku bingung ingin berkata apa? Yang pasti saat ini aku ingin mengungkapkan perasaan ku padamu, aku mencintaimu ... " ucap Ardi dengan suara bergetar, sembari memberikan sebuket bunga mawar pada Karina.
Karina terkejut, saat Ardi mengungkapkan perasaannya. Dia tak menyangka, jika Ardi telah membuat kejutan untuk nya.
Karina diam terpaku, melihat Ardi yang sedang berlutut di hadapannya dengan memberikan sebuket bunga mawar.
Tak pernah dia merasakan cinta seromantis, seperti yang dia rasakan saat ini. Karina sungguh tak percaya, ada laki-laki tampan dan mapan sedang berlutut di hadapannya.
" Bang ... " ucap Karina lirih tak percaya.
__ADS_1
" Apapun jawaban mu, aku akan terima. Mungkin hal ini sangat mendadak untuk mu, tapi tidak untuk ku. Aku sudah mempersiapkan dari jauh hari. Aku menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu. Walaupun kau sudah menjadi milik Rudi, tapi entah kenapa hatiku tak ingin berpaling darimu. " Ardi berucap seraya menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatap Karina, karena dia takut mendapatkan jawaban yang mengecewakan hatinya.
Karina nampak mengulas senyum tipis, baru kali ini dia mendapatkan penghormatan dari seorang lelaki.
" Bangun, Bang! " Karina membangunkan Ardi yang sedang berlutut di hadapannya.
" Terima kasih, kamu telah memberanikan diri mengungkapkan perasaan mu padaku. " Karina menatap lekat wajah Ardi yang jaraknya hanya beberapa senti saja.
" Aku terharu, karena ada seorang laki-laki yang benar-benar menyatakan perasaannya padaku. Antara tak percaya, dan juga bahagia tak bisa aku ungkapkan. " Karina menerima bunga mawar yang berada di tangan Ardi.
" Maukah, kamu menikah denganku? " tanya Ardi seraya memberikan kotak kecil berwarna merah cabe dengan bahan beludru kepada Karina.
Ardi membuka kotak perhiasan, dan memberikan pada Karina.
" Bang, apakah secepat itu kamu ingin meminangku? " tanya Karina.
" Apakah kamu menerimaku? " tanya Ardi dengan nada merendah.
Karina tersenyum ke arah Ardi, " maaf, Bang! " lirih Karina.
Ardi tidak pernah ingin memaksakan hatinya, pada seseorang yang dia cintai. Ardi sangat takut, kejadiannya bersama Ajeng terulang kembali.
" Bang, aku belum siap untuk menjalin suatu hubungan. " Karina berucap sembari menatap Ardi. " Lukaku belum sembuh, dan aku harus menata kembali hidup ku. "
" Bukan berarti aku menolakmu, tapi aku butuh waktu. Kau pria yang baik, aku berterima kasih karena sudah menjadi pelindung ku di saat aku masih bersama bang Rudi. Aku menghargai itu, dan aku suka. Bisakah kamu menungguku, sampai aku benar-benar siap? " tanya Karina dengan tatapan intens ke arah Ardi.
Wajah Ardi yang tadinya murung, berubah menjadi tersenyum.
" Iya, aku akan selalu siap menunggu mu. Sampai kamu siap untuk menikah, " ucap Ardi penuh semangat. " Tapi untuk saat ini, apakah kamu mau jadi pacar Abang? " tanya Ardi penuh harap.
" Abang, kayak abege aja sih? Pakai pacaran segala, " ucap Karina seraya mengerutkan alisnya.
Ardi terlihat malu-malu, saat pandangan mereka saling bertemu.
" Iya udah, sekarang kita jalan-jalan. " Ardi langsung menuntun tangan Karina, dan berjalan keluar pintu kamar.
__ADS_1
" Bang, gimana soal pekerjaan kita? " tanya Karina.
" Kita bicarakan nanti saja, besok juga bisa. Sekarang abang hanya ingin jalan-jalan sama kamu, " ucap Ardi dengan penuh semangat.
Ardi mengajak Karina mengelilingi hotel miliknya.
" Ini hotel milik abang, " ucap Ardi sambil menunjukkan pelataran hotel kepada Karina.
" Apa? Hotel milik abang? " tanya Karina terkejut.
" Kamu bingung ya? Hotel ini abang beli dari hasil penjualan tanah bapak yang ada di kota, " ucap Ardi. " Dan sebagian saham atas nama Arjuna, karena dia adalah anaknya Rudi. " Ardi melanjutkan pembicaraan nya.
" Apa? Maksudnya abang sudah menjual tanah bapak, yang di kota? " tanya Karina penasaran.
" Kita duduk dulu, " ucap Ardi yang telah duduk di bangku taman.
" Iya, tanah yang aku urus saat itu telah aku jual. Aku tahu, jika tanah itu hak milik ibuku. Tapi aku tidak rakus dan gila harta. Separuhnya, aku berikan untuk Rudi dan akan kuberikan untuk Arjuna. Karena dialah satu-satunya hak waris dari Rudi. " Ardi menjelaskan.
" Iya aku tahu, soal tanah itu. Ibu sangat menginginkan tanah itu laku, lalu ingin mengambil anakku serta mengusirku. Aku ingat itu, pantas saja ibu mertuaku sangat ambisius ingin memiliki Arjuna. " Karina berucap tegas.
" Iya, setelah aku tahu rencana mereka. Segera aku urus surat-surat nya, karena bapak memintaku untuk mengurus penjualan tanah. Pasti bapak sekarang sedang kelimpungan, karena tanahnya sudah laku tapi duitnya gak ada. Hahahaha, " tawa Ardi begitu bahagia kala mengerjai bapaknya.
" Bang, diakan bapakmu! " ujar Karina.
" Bapakku, bisa kembali padaku. Tapi tidak dengan istrinya, dia harus menderita seperti yang ibuku rasakan dulu. " Ardi terlihat garang saat membicarakan Ambar.
" Tapi kini Arjuna bersama ibu mertuaku, " ucap Karina cemas.
" Kita lekas pulang, dan malam ini kamu harus pindah dari rumah Rudi. " Ardi berpesan pada Karina.
" Iya, Bang! " ucap Karina menurut.
Setelah mengelilingi hotel, Ardi dan Karina pun pergi dan kembali ke rumah.
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1