Berlian Yang Terbuang

Berlian Yang Terbuang
perpisahan


__ADS_3

Sofia akui jika apa yang diminta oleh anaknya itu adalah sesuatu hal yang sangat langka karena selama ini memang dirinya jarang melakukan hal tersebut, jangankan untuk tersenyum merasa bahagia saja ia tidak pernah mendapatkannya Jadi bagaimana mau melakukan semuanya?


Hanya saja demi kebahagiaan anaknya kali ini Sofia berjanji akan selalu tersenyum sampai mengantar kepergian Berlian untuk mengikuti suaminya dan juga mertuanya, anak yang dulu sangat ya sayangi yang sangat ia harapkan kehadirannya tetapi ditolak mentah-mentah oleh suaminya yang sangat menginginkan punya anak laki-laki dan sebagai penerusnya kelak itu akhirnya bisa bernafas gagal ketika jauh dari papanya yang begitu otoriter.


" Pokoknya kamu tenang saja karena apapun akan Mama lakukan untuk kebahagiaan kamu, intinya Tolong sampai di sana kamu selalu berkabar karena mama yakin pasti ada jaringan soalnya sekarang aku sudah 2023 masa dunia harusnya berhenti itu saja! "pinta Sofia penuh permohonan dan berlian terlihat mengacungkan kedua jempolnya karena memang Itu sudah merupakan planningnya yang paling utama setelah sampai di sana yaitu saling bertukar kabar dan memastikan keadaan mamanya baik-baik saja serta tidak ada Papanya yang selalu bersikap kasar karena selama ini yang selalu membela Sofia adalah dirinya ketika Bima mulai berkata kasar kemudian mengucapkan kata-kata yang sangat tidak sopan dan juga berlebihan.


" Mama akan melawan apapun yang papa kamu katakan yang penting intinya kamu sudah dalam keadaan selalu baik-baik saja, nanti kalau misalnya Mama sudah tidak tahan pasti Mama bakalan pergi meninggalkan dia dan juga tidak akan bertahan dengan orang yang menyebalkan seperti itu! " ujar Sofia Sambil tertawa Ya meskipun kata-katanya itu sangat tidak masuk akal Tetapi kan ke depannya kita tidak tahu apa yang akan terjadi soalnya manusia itu kan hanya bisa merencanakan terlepas dari kuasa yang akan mengatur semuanya dan menghendaki kalau Sofia harus berbahagia suatu saat nanti dan menikmati masa tua dengan penuh senyuman seperti yang diharapkan oleh anaknya.


Berlian kembali ke kamarnya karena ia harus berbenah dan Saat itu pula terlihat Devano yang masuk ke dalam kamar dengan wajahnya yang babak belur, wanita itu memilih tidak mau tahu dan juga tidak ingin bertanya sebenarnya Kenapa karena ia yakin ini pasti kerjaannya Bapaknya yang jelas-jelas tadi mengatakan akan mengajari anaknya Bagaimana caranya bersikap terhadap seorang wanita.


Devano terlihat menatap tajam ke arahnya mungkin seolah-olah berpikir pasti ini semua karena kerjaan Berlian yang hobinya mengadu kepada kedua orang tuanya, Coba kalau mulut wanita itu diam saja pasti dirinya tidak akan mengalami hal seperti ini.


" dasar wanita tukang mengadu, mungkin karena kelebihan mulut jadi sedikit masalah saja langsung membeberkan kepada semuanya agar tahu bahwa dia selalu benar! "omel Devano yang setengah mencibir membuat Berlian yang tengah berkemas menatap heran ke arah pria itu yang sepertinya Tengah berbicara dengannya tetapi dalam nada yang begitu rendah.


Berlian memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya toh Devano juga tidak meminta tolong kepadanya kan Jadi untuk apa dirinya harus pusing dengan sikap pria itu, bukan dirinya yang tidak mau membantu Tetapi kalau misalnya tidak ada yang mau minta tolong masa iya iya harus rela berkorban begitu saja padahal sebenarnya tenaganya sedang tidak diharapkan.


devano menatap tak percaya ke arah berlian yang bukannya bertanya kenapa sampai dirinya banyak seperti itu, atau mungkin setidaknya Pergi mengambil es batu untuk mengompres lukanya itu agar tidak membengkak terlalu besar tetapi ini malah sibuk dengan urusannya begitu saja seolah-olah apa yang terjadi dengan Devano itu merupakan hal yang biasa saja bukanlah masalah yang serius.


" eh wanita, kamu punya telinga kan yang bisa mendengar apa yang aku katakan? jangan sampai Papa sama Mama menjodohkan aku dengan wanita yang telinganya sedang bermasalah , dengan begitu maka aku menyesal sudah memiliki istri yang sebenarnya tidak sepadan dengan aku yang begitu sempurna! "omel Devano yang merasa kesal karena diabaikan seperti itu dan dirinya merasa seperti harga dirinya sedang diinjak-injak oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya saat sekarang kalau nanti kan kita tidak tahu entah mereka bercerai atau lanjut sampai menua.

__ADS_1


Berlian terlihat menghela nafasnya kasar karena sepertinya hidup dengan Devano ini dirinya harus butuh kesabaran ekstra, terlalu peduli juga nanti disalahkan kemudian mengabaikannya begitu saja pun lebih salah lagi pokoknya intinya dirinya tidak pernah benar di mata pria itu.


" Aku pikir kamu bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri ya tidak perlu bantuanku sedikitpun Oh ternyata kamu perlu ya Ya sudah kalau begitu ngomong apa yang kamu perlukan biar Maksudnya sekalian aku siapkan? " ujar Berlian tanpa merasa bersalah sedikitpun soalnya memang masuk akal karena Devano ini tidak mau meminta tolong dan percaya itu bersikap seolah-olah bisa melakukannya secara mandiri Jadi untuk apa ya harus terlalu peduli Bukankah hubungan mereka tidak terlalu dekat itu?


" ya kamu inisiatif sendiri dan melihat kira-kira suami kamu itu memerlukan apa, emangnya profesi dokter itu tidak berguna di rumah ini dan berguna hanya saat bersama dengan pria pecundang itu yang hobinya menahan istri orang lain tanpa sebab? " omel Devano tidak terima karena tidak suka jika Berlian tidak peka dengan keadaannya.


" Eh kenapa jadi kamu bawa Adrian, Bukannya ini semua akibat kesalahan kamu yang sudah terlalu percaya diri menyakiti seorang wanita? Pokoknya aku paling tidak suka ketika kamu membawa-bawa Adrian dalam masalah kita atau mungkin dalam kelainan otak kamu itu, dia tidak tahu apapun bahkan bisa dibilang dia itu normal dibandingkan kamu yang gila memiliki temperamen yang sangat buruk dan satu lagi otak kamu itu tidak berfungsi dengan benar! " sungut berlian yang sudah capek Baru beberapa hari berstatus sebagai suami istri saja hidup mereka selalu dipenuhi dengan perdebatan bagaimana nanti sampai beberapa tahun kebetulan dia tidak bisa membayangkan rambutnya yang tiba-tiba menguban karena terlalu saking stresnya.


Devano jelas saja tidak terima ketika mendengar kalau Berlian itu lebih membela Adrian dibandingkan dirinya, itu sama saja sudah melukai perasaannya sebagai seorang suami yang meskipun bisa dibilang tidak ada cinta di antara mereka tetapi intinya ia harus menghargai yang namanya sakralnya sebuah pernikahan.


"jadi menurut kamu seorang suami harus membenarkan isi sikap istrinya yang lebih memilih merawat orang lain dibandingkan suami sendiri, dan lebih parahnya lagi orang lain itu adalah masa lalu istrinya yang sampai sekarang Entah sudah selesai atau belum?" tanya Devano yang membuat Berlian ingin sekali tertawa karena merasa lucu.


" maaf tuan suami kalau aku boleh tahu sebenarnya semalaman Kamu tidak pulang itu kamu menginap di mana, Apa boleh Aku curiga juga kalau Sebenarnya kamu itu Tengah menemui wanita kamu dan tengah berduaan dan ingin menghabiskan malam pengantin kita dengan mereka? Kalau aku sih wajar alasannya tadi keluar rumah kan untuk mencari suamiku tetapi kamu semangat pergi keluar dari rumah itu alasannya apa, Masa iya sekarang kita harus peduli urusan satu sama lain Bukankah pernikahan kita ini hanya di kertas saja tidak ada kepentingan sama sekali jadi Bukankah lebih baik kalau kita itu tidak usah saling peduli? "tanya Berlian yang ingin sekali tertawa tetapi dia kamu tidak terima dan kali ini ingin melayangkan sebuah tamparan lagi tetapi dirinya mengurungkan niatnya tersebut ketika melihat Berlian sudah mengeluarkan satu buah gunting yang entah kebetulan Bagaimana ceritanya sampai bisa ada di tangan wanita itu.


Berlian ketawa ketika melihat wajah waspadainya Devano saat melihat dirinya Tengah memegang alat tajam itu, padahal sebenarnya Berlian itu Tengah membereskan semua barang-barangnya dan saat ini adalah alat-alat medis yang biasa ia gunakan ketika dalam keadaan darurat maka dari itu pria itu mungkin mengira dirinya sudah menyiapkan senjata untuk melawan ketika mereka sedang bertengkar.


" jangan bilang kamu sedang berpikir kalau aku sedang berencana untuk melukai kamu Lalu setelah itu aku mengobati kamu lagi, seperti ini pikiran kamu terlalu dangkal Mas Bro karena sejatinya aku tidak terlalu sebodoh itu sebab asal kamu tahu saja ya profesiku Sebagai seorang dokter itu untuk mengobati orang bukan malah menyakiti orang! " omel Berlian selalu meletakkan gunting itu di koper yang ukurannya sedikit kecil.


Devano merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya dirinya takut dengan apa yang sedang dipegang oleh Berlian, pada hal selama di medan perang peluru dan ranjau merupakan temannya tetapi Kok bisa ya dirinya hari ini sudah seperti orang linglung.

__ADS_1


" Kamu tidak usah ikut campur dengan semua urusanku karena mau aku pergi bermalam dengan siapapun dengan pria atau wanita itu adalah urusanku, tugas kamu di rumah hanyalah melayani aku sebagai seorang istri yang benar dan juga tidak Banyak mengeluh serta menciptakan drama! "Devano tidak bercermin dari kesalahannya malah ingin menuntut agar terlihat menjadi istri yang sempurna.


" Kamu tahu kan pepatah dari dulu kalau kepala salah mengambil langkah maka ekor pun bakalan salah juga, Jadi jika kepala memilih untuk bermalam dengan orang lain ya tentunya ekor juga akan melakukan hal itu soalnya kan kalau sudah basah ya mandi sekalian daripada Kering di Badan? "tanya Berlian Lalu setelah itu memilih untuk keluar kamar Soalnya dari tadi selama beberapa jam berada di dalam kamar dengan Devano sepertinya tidak akan ada pembahasan yang berhenti mereka selalu saja berdebat nonstop sampai hasil akhir membuat dirinya pusing sendiri.


Devano memegang wajahnya yang terasa begitu membesar membuat dirinya meringis kesakitan dan akhirnya tersadar kalau sebenarnya tadi itu ia ingin menyuruh Berlian mengobati lukanya hanya saja terlalu Gengsi, Lagian Sejak kapan seorang Abdi negara menjadi seseorang yang cengeng hanya karena luka sekecil itu padahal pendidikan di hutan dirinya tergores oleh kayu ataupun apapun itulah tetap saja dirinya tidak pernah mengeluh bahkan terlihat biasa saja.


Maria kini sudah bersiap semuanya dan sudah mengeluarkan koper dari dalam kamar sepasang suami istri itu Tengah duduk santai dengan Sofia dan juga Bima, Sofia kali ini lebih terlihat begitu cuek dengan suaminya bahkan ketika Abraham dan juga Maryam mengajaknya berbicara wanita itu tertawa begitu lepas dan juga sesekali tersenyum membuat Berlian yang keluar dari kamar merasa bahagia.


" maafkan kami ya Sofia soalnya mengambil anak kamu dari tengah-tengah kamu, Pasti kalian bakalan sepi sekali soalnya kan di rumah sebesar ini hanya kalian berdua saja tidak ada Berlian? "Maria benar-benar merasa tidak enak hati kepada besannya itu.


Sofia menggelengkan kepalanya karena jujur dari awal dirinya tidak mempermasalahkan kalau anaknya itu menikah dengan siapa saja, yang penting Intinya bisa keluar rumah dan juga menikmati kebahagiaan tanpa harus ditekan dan juga ditindas oleh Papanya.


hanya saja sepertinya menurut Sofia kalau Bima itu salah memilihkan suami untuk anaknya karena terbukti Perangai Devano yang menurutnya sangat tidak baik, saat ada mereka saja pria itu terlihat begitu kasar apalagi ketika hanya ditinggal berdua dengan anaknya sudah pasti bakalan terjadi perang dunia setiap hari.


Apalagi anaknya yaitu Berlian merupakan pribadi yang tidak suka mengalah dan juga tidak suka harga dirinya diinjak-injak, jadi jangan menyesal ketika ia merasa sikap suaminya terlalu berlebihan maka saat itu pula dirinya akan merasakan emosi yang begitu meledak-ledak dan saat itu telah bakalan terjadi perhatian dan juga pertikaiannya yang tidak bisa dielakan lagi.


" jujur saya bahagia Kalau akhirnya Berlian bisa menikmati suasana yang baru di tempat yang baru pula bersama dengan orang yang baru juga tentunya, soalnya di sini monoton dia hanya melakukan ini itu tetapi selalu disalahkan Jadi mungkin saat dia keluar dari rumah bakal bisa bereksplorasi dengan kemampuan yang dia punya? " ujar Sofia yang tanpa mau menoleh ke arah suaminya yang pasti saat ini setengah kebakaran jenggot karena merasa dirinya yang tengah disindir oleh istrinya itu.


" kemampuan seorang wanita itu biarpun pendidikannya tinggi tetap saja hanya di ranjang dan juga di dapur, Jadi tidak perlu Terlalu meninggi-ninggikan dan juga tidak perlu Terlalu mengelu-elukan dia jika nanti akhirnya tetap bakalan jatuh di bawah tanah! "Bima menimpali perkataan istrinya membuat Sofia hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak peduli Soalnya orang kalau lagi tersinggung ya seperti begitu tidak pernah mau mengalah.

__ADS_1


" oh tentu tidak saja seperti begitu Bima karena jika wanita itu mampu menggunakan dengan baik gelar yang dia punya maka di saat itu pula dia bakalan berguna, lagi yang profesi dokter itu diperlukan sekali loh di Papua jadi kamu Jangan pernah meremehkan kemampuan menantuku ya nanti kalau misalnya dia jadi orang sukses di sana Dan juga merintis sebuah penemuan yang paling terbaik sudah terlalu meremehkannya! "tolak Maria ketika mendengar perkataan Bima yang menurutnya sangat tidak menghargai kemampuan anak sendiri.


__ADS_2