
" Terimakasih juga pak Dion.." ucap Sitha. Lalu ia mengambil sepiring spaghetti yang terhidang di depan nya.
" Ayah... aku mau nambah ayam nya yah,, " ujar Noval merengek.
Pada saat bersamaan Dion dan sitha mengambilkan ayam untuk Noval di piring yang sama. Tangan mereka saling bersentuhan, membuat Sitha kaget dan menarik tangan nya kembali.
Lain hal nya dengan Sitha yang merasa tidak enak Dengan Dion,
Dion terlihat biasa saja.
" Silahkan.. " ujar Dion mempersilah kan, karena piring berisi ayam itu lebih dekat dengan Sitha.
Akhirnya Sitha pun mengambilkan nya untuk Noval.
**
Setelah makan malam selesai Sitha mohon diri lebih dulu, di susul Noval dan Friska meninggal kan meja mereka menuju pintu keluar restauran.
Saat Dimas akan bangkit dari duduk nya Dion menahan nya seraya bangkit lebih dulu.
" Tunggu. " lalu dia memanggil pelayan.
" Ini jumlah tagihan yang harus di bayar pak.. " ujar pelayan itu kepada Dion.
" Berikan pada nya, dia yang akan membayar nya." ucap Dion menunjuk Dimas dan berlalu meninggalkan nya.
Seketika mata Dimas terbelalak mendengar nya.
" Hey Dion, yang benar saja bukankah kau yang bilang tadi akan mentraktir kami malam ini,! " teriak Dimas.
Tanpa memperdulikan teriakan Dimas di belakang nya Dion terus berjalan ke arah pintu keluar.
" Ahh sialll....!! berapa semuanya. " ujar Dimas pada pelayan ketika teriakannya di abaikan oleh Dion.
Pelayan itu pun menyerahkan struk pembayaran pada Dimas.
Kali ini Dimas seperti terkena petir di siang bolong ketika mengetahui jumlah tagihan makanan yang harus dia bayar sebesar lima belas juta rupiah.
Angka yang cukup besar untuk membayar sebuah makan malam bagi Dimas.
" Tahu begini aku tidak memesan makanan yang mahal mahal tadi." gerutu Dimas setelah membayar nya.
Sesampai nya di parkiran Dimas tidak melihat Dion dan mobil nya sama sekali.
" Untung aku bawa mobil sendiri, tahu begini ogah tadi di ajak Dion makan malam di luar, udah tadi makanan yang bayar aku semua lagi,," gerutu Dimas sambil melajukan mobil nya keluar parkiran restoran.
**
Sementara itu Dion telah sampai di kediaman nya setelah lebih dulu mengantarkan Friska pulang.
__ADS_1
Setelah berganti baju dan membersihkan diri Dion pun menuju ke kamar Noval.
ketika membuka pintu kamar ternyata Noval baru akan bersiap untuk tidur.
" Ayah..." ucap Noval ketika menengok ke arah pintu dan ternyata ayah nya yang datang.
" Anak ayah belum tidur hmm...? " ujar Dion seraya duduk di sisi ranjang Noval.
" Ini juga mau tidur yah.. " ucap Noval mengambil selimut nya yang berwarna biru.
" Ayah boleh nggak.. tidur di sini bareng Noval,, "
" Boleh banget yah...." jawab Noval senang.
Dion pun kemudian merebahkan tubuh nya di samping Noval.
" Noval... ayah mau ngomong sesuatu sama Noval, boleh kan..? " ucap Dion sembari mengelus rambut Noval yang ada dalam pelukan nya.
" Ngomong apa yah,, "
" Besok lusa.. ayah akan ada pekerjaan ke luar kota, jadi untuk sementara Noval sama bibi dulu ya di rumah.." ucap Dion dengan lembut dan hati hati.
Terlihat Noval mengerucutkan bibir nya cemberut.
" Ayah janji nggak akan lama di sana, begitu pekerjaan ayah selesai ayah akan langsung pulang.." ujar Dion memeluk dengan erat keponakan nya itu.
Melihat Noval tidak merespon kata kata nya Dion pun tau kalau sebenarnya Noval tengah sedih jika dia akan pergi ke luar kota tanpa diri nya.
" Ibu sama ayah Alex nggak ke sini yah, " ujar Noval menundukkan kepala nya.
Dion tahu sebenarnya Noval merindukan ke dua orang tua nya.
Sebenarnya jika Dion ada urusan pekerjaan ke luar kota dia akan menghubungi orang tua Noval untuk menemaninya sampai dia kembali nanti.
Tapi kali ini kakak dan mantan kakak ipar nya itu sama sama sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing dan tidak bisa menjaga Noval.
" Ibu dan ayah Noval sedang ada pekerjaan juga sayang.. jadi tidak bisa nemenin Noval dulu di sini,, " ujar Dion.
" Ayah.." ucap Noval lirih.
" Ya .. "
" Boleh nggak Bu Sitha nemenin Noval di rumah selama ayah ke luar kota, " kata Noval seraya memandang manik mata sang ayah.
" Bu Sitha ..?"
" Iya yah.. Bu Sitha yang tadi makan malam bareng sama kita, " . terdengar penuh harap dari nada bicara Noval untuk ayah nya.
Membuat Dion tidak tega untuk menolak permintaan nya itu.
__ADS_1
" Kita lihat saja besok ayah akan bicara pada nya, apakah dia mau menemani kamu atau tidak di sini hmm,, " ujar Dimas di sertai anggukan Noval tanda setuju.
Sebenarnya Dion tidak mudah untuk mempercayai orang baru terutama untuk masuk ke rumah nya.
Tapi apa daya, dia tidak tega menolak secara langsung permintaan sang anak.
" Sudah ayo.. saat nya kita tidur, ini sudah malam " tambah Dion memasukkan tubuh nya satu selimut dengan Noval.
Dan tidak berapa lama mereka pun terlelap dengan damai.
**
Pagi hari nya Dion sudah bersiap untuk mengantarkan Noval berangkat ke sekolah.
Dengan menggunakan setelan jas berwarna navy Dion menuruni tangga menuju ruang makan.
Di sana sudah duduk Noval yang tengah di suapi makan oleh pengasuh nya.
Setelah selesai sarapan barulah mereka berangkat.
Dion melajukan mobil nya Dengan kecepatan sedang.
" Noval... jam berapa nanti kamu pulang sekolah, " tanya Dion dengan masih fokus menyetir melihat ke arah depan.
" Mungkin setengah sebelas yah, " ucap Noval.
" Baiklah nanti ayah yang akan jemput kamu di sekolah, "
" Waahh... beneran yah, ayah mau jemput aku nanti ..?? " ujar Noval sangat senang.
karena selama ini ayah nya itu sangat jarang menjemput nya di sekolah.
" Beneran dong, tunggu ayah nanti oke.. " sambung Dion meyakinkan Noval.
" Iya yah.. " Noval mengangguk kan kepala nya dgn riang.
" Sekolah yang pinter, dan ingat jangan nakal oke, " ucap Dion setelah mereka sampai di halaman sekolah.
" Baik ayah,, " jawab Noval mencium punggung tangan sang ayah.
Semua ibu ibu yang mengantarkan anak anak nya pagi ini seolah sedang mendapat kan pemandangan yang indah, tatkala melihat lelaki tampan seperti Dion yang sedang mengantarkan anak nya ke sekolah.
Berpakaian rapi, wangi, tubuh nya yang atletis memiliki hidung mancung dan sorot mata yang tajam menambah kesan gagah pada sosok Dion.
Setiap berpapasan dengan ibu ibu yang memandang nya Dion mengangguk kan kepala nya dengan sopan.
Menambah nilai plus pada seorang yang masih muda, sukses, namun memiliki sopan santun.
Tidak seperti orang orang kaya, berpendidikan dan sukses pada umum nya, kebanyakan dari mereka tidak memiliki rasa sopan santun kepada orang lain, terutama kepada yang lebih tua dan orang yang tidak mampu, banyak di jumpai di jaman sekarang.
__ADS_1
Tapi tidak bagi Dion, sedari kecil dia di ajarkan sopan santun dan sifat menghargai orang lain oleh ke dua orang tua nya, dia sangat menjunjung tinggi rasa sopan santun terutama kepada orang tua.