Bu Guru Cantikku

Bu Guru Cantikku
bab 12 Menahan malu


__ADS_3

Sambil menunggu makanan datang Sitha di buat penasaran dengan sesuatu yang akan di bicarakan Dion dengan nya.


" Maaf.. tapi apa yang akan bapak bicarakan dengan saya.. ? " ujar Sitha bertanya pada Dion karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya itu.


Dion pun menghentikan aktivitas nya yang tengah membaca berbagai laporan yang di kirim kan Dimas ke ponsel nya.


Dion meletakkan ponsel itu di atas meja dan menarik nafas serta menghembuskan nya perlahan.


" Saya ingin meminta bantuan pada anda untuk sementara menemani Noval selama saya berada di luar kota, " ujar Dion seraya memandang Sitha dengan intens.


" Menemani ?? " ujar Sitha mencoba memahami kata kata Dion.


" Ya, karena saya akan ada pekerjaan ke luar kota kurang lebih satu Minggu.. dan Noval meminta agar anda bisa menemani nya di rumah untuk sementara waktu, " ucap Dion menjelaskan.


Terlihat Sitha mengerutkan kening nya.


" Jangan khawatir anda tetap bisa mengajar di pagi hari dan akan tinggal di rumah saya sampai saya kembali ke sini, dan saya akan membayar sepuluh kali lipat dari gaji yang Anda terima dari sekolah, bagaimana..? " ujar Dion panjang lebar.


" Apakah istri anda akan ikut juga ke luar kota, sehingga anda menyuruh saya untuk menemani Noval di sini pak.. " ucap Sitha ingin tahu.

__ADS_1


" Seperti nya saya tidak harus menjawab pertanyaan yang tidak penting seperti itu." jawab Dion berubah dingin dan mengambil lagi handphone nya yang menyala di atas meja.


" Saya minta maaf pak Dion, " ucap Sitha merasa tidak enak karena telah bertanya seperti itu.


" Apakah dia seorang duda, kenapa tadi dia terlihat akan marah karena pertanyaan ku itu." batin Sitha bertanya tanya.


" Jadi bagaimana, apakah anda setuju dengan penawaran saya " ujar Dion karena melihat Sitha malah termenung seolah tengah memikirkan sesuatu.


" Baiklah pak.. jika bapak mempercaya kan kepada saya untuk menjaga Noval di sini selama anda berada di luar kota. "


" Itu tanda nya kamu setuju ?" ujar Dion meyakinkan lagi.


" Alhamdulillah.. lumayan dapat kerja sampingan dan gaji nya pun besar, bisa buat tambah tambah tabungan ku untuk kuliah lagi nanti nya " batin Sitha senang.


Karena sebenar nya Sitha ingin meneruskan kuliah nya, tapi gaji yang dia dapat dari mengajar di taman kanak-kanak tidak lah seberapa. Terlebih untuk meminta kepada orang tua nya, itu tidak mungkin dia lakukan. Karena sang ayah hanya seorang pensiunan guru sekolah dasar dan ibu nya hanya pedagang warung kecil kecilan di depan rumah.


Kehidupan Sitha pun terbilang sederhana dan jauh dari kata mewah.


" Baiklah kalau begitu saya tunggu kamu di rumah saya nanti sore," ujar Dion

__ADS_1


" Baiklah, tapi saya tidak tahu dimana alamat rumah bapak " ucap Sitha teringat tidak memiliki alamat rumah Dion.


" Saya boleh minta no handphone kamu, " ucap Dion memperlihat kan handphone nya.


Lalu Sitha pun memberikan no ponsel nya kepada Dion.


" Nanti sore tunggu lah jemputan dari orang suruhan saya ke rumah kamu, " ujar Dion seraya meminum minuman pesanan nya yang sudah datang.


" Saya bisa ke sana sendiri dengan motor saya pak, anda tidak perlu repot repot menjemput saya, " ucap Sitha.


Karena menurut nya dengan naik motor akan lebih cepat di perjalanan dan mudah untuk pergi kemana mana.


Tidak berapa lama makanan pesanan mereka telah datang. Satu porsi kepiting jumbo terhidang memenuhi meja makan tersebut.


" Silahkan Sitha, " ujar Dion mempersilah kan


" Ma... maaf pak Dion, tapi saya tidak mungkin makan kepiting sebesar ini sendirian pak.. " ucap Sitha terbata memandang kepiting yang besar itu


" Siapa yang menyuruh kamu makan sendirian, ini buat kita bertiga. " ucap Dion mengambil nya duluan dan di berikan pada Noval

__ADS_1


Seketika wajah Sitha berubah merah seperti buah tomat. Sitha sangat malu karena salah sangka Dion memesan kan kepiting jumbo itu bukan untuk diri nya sendiri, melainkan untuk mereka ber tiga makan siang bersama.


__ADS_2