Bu Guru Cantikku

Bu Guru Cantikku
bab 32 Hukuman


__ADS_3

Tiba tiba terdengar suara Dion di belakang Friska.


Terkejut sekaligus kaget Friska pun kemudian membalikkan badan dan mendapati Dion tengah berdiri di belakang nya.


" Kak... kak Dion sejak kapan kakak berdiri di situ dan kapan kakak kembali dari luar kota.." ucap Friska kemudian melangkah mendekati Dion.


" Dim... bawa perempuan ini ke kantor polisi, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya" ujar Dion.


Aura nya sungguh membuat bulu kuduk merinding.


" Tidak.. tolong kak tolong... aku sungguh tidak sengaja telah menabrak wanita itu. " ujar Friska mulai berderai air mata berharap Dion bisa luluh dengan melihat air matanya itu.


" Jika kau tidak sengaja menabraknya, pasti kau akan menolong nya bukan malah kabur meninggalkan nya. "


" Aku hanya panik karena banyak orang yang meneriaki ku dan aku takut kalau aku turun, aku akan di hakimi masa.. makannya aku pergi dalam keadaan panik... "


" Kau takut dan panik karena memang kau merasa bersalah, seharusnya jika kau merasa benar kau tidak akan setakut itu lalu kabur, "

__ADS_1


" Tolong kak Dion.. maafkan aku, jangan bawa aku ke kantor polisi maafkan aku kak.." ucap Friska berusaha menarik tangan Dion dalam genggamannya.


Namun dengan cepat Dion menepis tangan itu.


" Sudahlah Friska kau jangan berisik dan banyak drama, lebih baik ikut aku sekarang. " ujar Dimas lalu menarik tangan Friska menuju keluar.


" Tidak! aku tidak mau Dimas. lepasin aku...!! " Friska berlari kembali menghampiri Dion dan memohon pada nya.


" Kak... apa tidak ada rasa empati mu sedikiit saja untuk ku ? selama ini aku berada di dekat mu, memperhatikan mu dan Noval.. apakah tidak ada rasa sedikit saja hatimu buat ku kak Dion.. padahal aku sangat mengagumi dan mencintai mu kak.. " ucap Friska meraih tangan Dion.


" Cukup Friska..! aku hanya menganggap mu sebatas adik dan tidak lebih. Aku menghormati mu karena kamu adik dari ibu kandung Noval hanya sebatas itu, dan perbuatan mu kali ini sangat mengecewakan ku.. " ujar Dion enggan menatap Friska dan menepis tangan nya.


Dion memejamkan mata menahan amarah yang memuncak di hati nya.


Jelas jelas dia melihat di cctv bahwa mobil itu sebenarnya menuju ke arah Noval. Jika Sitha tidak segera muncul mungkin Noval lah yang akan tertabrak oleh Friska. Entah apa yang di pikirkan oleh perempuan itu sehingga tega berbuat seperti itu kepada keponakan nya sendiri. Itu sudah menjadi bukti yang kuat untuk Dion dapat menjebloskan diri nya ke polisi.


" Urus dia. " Dion melenggang pergi setelah mengucapkan kata itu pada Dimas.

__ADS_1


Dia tidak menghiraukan sama sekali teriakan Friska ya meminta nya agar tidak menjebloskan nya ke dalam penjara.


**


Sitha duduk bersandar pada tempat tidur nya. Rasa nya siang ini sangat panas dan ia ingin memakan buah segar. Ia pun mengambil buah apel merah yang berada di atas nakas tidak jauh dari ranjang nya.


Perlahan gadis itu mengupas nya namun karena kurang hati hati ujung jari nya tergores pisau yang dia gunakan untuk mengupas apel.


" Berhati-hatilah jika melakukan sesuatu, jika memang tidak bisa melakukan nya sendiri kau bisa meminta tolong pada orang lain untuk membantu mu, " tiba tiba tangan kokoh itu menarik pisau dalam genggaman Sitha dan mengambil plester untuk menutup luka di jari nya.


" Terimakasih.. " ucap Sitha pada Dion.


" Maaf aku baru menemui mu, ada hal yang harus aku urus di luar, " ujar Dion lalu mengupaskan apel untuk Sitha dan menaruh nya di piring kecil.


" Tidak apa, anda pasti sangat sibuk dan lelah.. kalau di izinkan saya ingin segera pulang, saya merasa sudah lebih baik.."


" Saya akan tanyakan kepada dokter, makanlah " Dion menyodorkan buah apel yang telah selesai di kupas di atas piring kecil itu kepada Sitha.

__ADS_1


Sitha pun menerima nya dan mereka berdua saling melempar senyuman.


" Terimakasih.. " ucap Sitha dan di jawab anggukan kepala oleh Dion


__ADS_2