
Mobil yang ditumpangi Dina dan Sisil akhirnya sampai disebuah rumah mewah dikawasan elite dikota besar itu.
Dina segera mengajak Sisil turun masuk kedalam rumah mewah yang didominasi warna putih itu.
Sisil semakin bingung,Ia hanya memutarkan pandangannya kesetiap sudut rumah.
Semakin besar rasa penasarannya.hingga pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Rumah siapa ini Din?" Tanya Sisil dengan wajah bingung.
Dina terseyum simpul kearah Sisil lalu mengajak sahabatnya itu duduk disofa.
"Ini Rumahku Sil...!" Ucap Dina singkat.
Kedua mata Sisil membulat sempurna.
"Kau serius kan Din?"
"Maaf ya Sil selama ini aku menyembunyikan identitas asliku.Nama ku sebenarnya adalah Merdina Yeselin Santosa.
Ayahku Johan Santosa adalah pimpinan dari perusahaan Santosa Group.
Selama ini aku bekerja ditoko bakery untuk menghindari ayahku yang terus memaksaku untuk menggantikannya.Tapi sekarang beliau sedang sakit diluar negeri jadi mulai sekarang aku harus mengambil alih tugas ini!" Ucap Panjang lebar Dina membuat Sisil benar benar terkejut.Ia benar benar tak menyangka sahabatnya ini ternyata putri dari keluarga konglomerat.
"Aku benar benar tak menyangka Din...Kenapa kau mau berteman dengan gadis biasa sepertiku?"
"Karena selama ini banyak teman yang mendekatiku karena status dan hartaku Sil.makanya aku bahagia berteman denganmu karena kau tak pernah melihat materiku.aku ingin punya sahabat yang benar benar tulus padaku Sil!"
"Hemmm aku mengerti Din,Pasti juga sulit berada diposisimu.Terima kasih kau mau berteman denganku.!" Ucap Sisil yang memeluk Dina erat.
"Baiklah Mulai sekarang kau tinggal disini bersamaku.Disini Kau bisa lebih tenang.
Dan tidak ada yang akan menemukanku.Ayo kelantai atas,kuantar kekamarmu Sil..!!"
Sisil menuruti perkataan Dina dan berjalan mengekori sahahatnya itu dari belakang.
Dina menyiapkan kamar untuk sahabatnya itu disamping Kamar pribadinya.
"Istirahatlah,Aku kebawah dulu.!" Ucap Dina yang akan keluar kamar.
"Din,Lalu apa kau keluar dari Toko Bakery?" Tanya Sisil yang membuat Dina menoleh.
"Ya terpaksa Sil,Jujur aku lebih bahagia menjadi seorang karyawan ditoko Bakery dari pada menjadi seorang CEO diperusahaan ayahku.!Ucap Dina dengan seyum simpulnya sambil berlalu meninggalkan Sisil.
Setelah Dina keluar dari kamar.Sisil segera mengirim Pesan untuk adiknya,Jeno.Agar adiknya itu tak merasa cemas karena dia baik baik saja.
__ADS_1
Sisil yang telah selesai mandi merebahkan tubuhnya diranjang.Ia masih memikirkan Lee terus hingga membuatnya sulit memejamkan mata.kebiasaan setiap malam selalu berada dipelukan pria dewasa itu saat mau tidur, membuatnya begitu merindukan pria berwajah oriental itu.
Keesokan harinya.
Sisil bangun dan langsung turun kebawah.Dimeja makan sudah ada Dina yang menunggunya.
" Pagi Sil,Kau sudah baikan?"sapa Dina dengan seyum ramahnya.
"Pagi juga Din,Aku sudah merasa lebih baik kok.Apa hari ini kau mulai beraangkat kekantor?" Tanya Sisil saat melihat sahabatnya itu sudah rapi mengenakan setelan rok span selutut dan Kemeja panjang dengan blezer nya.
"Iya,Maaf aku harus meninggalkanmu.Tapi nanti ada beberapa pelayan yang akan menemanimu.Jika kau bosan kau bisa berenang atau membaca buku diruang kerjaku!"jelas Dina yang merasa tak enak meninggalkan Sisil dirumahnya.
" Iya tenang aja Din...Kamu semangat ya...semoga pekerjaanmu lancar..!"Ucap Sisil menyemangati Sahabatnya itu.
"Iya maksih,Ayo kita sarapan..!"ajak Dina.
Keduanya segera melahap hidangan yang ada diatas meja makan yang besar itu.
Tak lama setelah merasa keyang,Dina pamit untuk berangkat kekantor.
Siang harinya,Dikantor Han's Group.
Terlihat Lee yang duduk dengan wajah lesunya.Pria tampan itu merasa tidak bersemangat karena belum menemukan calon istrinya.
Tot tok tok.
" Maaf pak mengganggu.Saya sudah mendapat informasi tentang pria yang bapak maksud semalam!"Ucap Nino yang berdiri dihadapan Lee.
"Bagus..Hubungi dia dan ajak dia bertemu.Satu lagi buat perjanjian hitam diatas putih untuk ia tanda tangani.
Isinya jika aku sudah memberinya uang maka dia tidak boleh mengganggu kehidupan calon istriku lagi!" Ucap Lee tegas dengan sorot mata tajam.
"Baik pak.Ada satu hal lagi pak,Saya sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari Nona Sisil.Tapi saya merasa aneh,sahabat nona Sisil yaitu Nona Dina juga ikut keluar dari toko Bakery itu pak..!" Ucap Nino jelas.
Lee terdiam mencoba memikirkan sesuatu.
"Jadi gadis itu juga ikut menghilang begitu maksudmu?"
"Kelihatannya begitu pak."
"Hemmm aneh,Tapi trus fokuskan saja pencariannya..!" Perintah Lee.
"Baik pak..." Ucap Nino sambil menundukkan kepalanya,pamit keluar dari ruangan atasannya itu.
Sore harinya Lee bersama Nino.memasuki sebuah restoran elit dikota besar itu.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya sudah menunggu mereka.
Lee yang datang langsung duduk dengan anggunnya berhadapan dengan pria paruh baya yang tak lain adalah Jim Shtutapak,Ayah Sisil calon istrinya.
Lee memandang pria paruh baya itu dengan wajah datarnya.
Sedangkan Nino yang duduk disebelah Lee hanya bisa merasa canggung dengan situasi itu.
"Wah tak kusangka Ceo Hans Group sendiri yang datang menemuiku?" Ucap Jim tanpa rasa malu.
"Langsung saja tuan Jim,Karena saya masih menghormati anda sebagai ayah dari calon istri saya,Maka saya akan memberi anda penawaran?"Ucap Lee dengan wajah datarnya.
Jim mengerutkan kedua alisnya saat melihat sebuah kertas yang disodorkan padanya oleh Nino.
"Penawaran?''Ucap Jim dengan pandangan sinisnya.
" Saya akan memberikan Uang yang anda minta tapi setelah itu jangan pernah lagi menganggu kehidupan putri anda beserta keluarganya!Ucap Lee tegas.
"Hahahaha.....Kau benar benar ingin memberi aku uang sesuai permintaanku....baiklah aku suka tawaranmu.Bagaimana jika aku meminta uang Satu Milyart.apa kau keberatan,bukankah nominal itu kecil buatmu Nak Lee?" Ujar Jim dengan nada merendahkan setelah puas tertawa.
Lee bersikap biasa mendengar nominal yang disebutkan pria pruh baya itu,baginya nominal itu tak ada apa apanya dibanding dengan ketenangan calon istrinya.
Berbeda dengan Atasannya yang bersikap biasa,Nino merasa terkejut dengan nilai nominal satu Milyart itu.Ia menganggap itu adalah nominal yang cukup besar.Pria paruh baya itu teryata pintar memanfaatkan situasi ini.
"Tulis Cek Senilai Satu Milyart No!" perintah Lee yang langsung dilakukan oleh Nino.
"Bagus Nak Lee,Aku akan menandatangi perjanjian ini ..!Ujar Jim yang langsung menandatangi surat perjanjian itu tanpa membacanya.Ia tak sadar ada banyak pasal yang siap menjeratnya jika ia berani melanggar perjanjian itu.
Setelah selesai menorehkan tanda tangannya,Jim segera menyerahkan kertas itu pada Lee.Nino pun segera menyerahkan Cek yang sudah sah itu pada Jim.Nino juga sempat memfoto jim beserta cek tersebut sebagai bukti yang bisa saja berguna suatu saat nanti.
"Semoga anda tidak melanggar perjanjian kita.Dan tolong pergi sejauh mungkin dari kota ini,Saya tidak ingin melihat anda masih berada didekat Sisil.!" Ujar Lee dengan nada dingin.lalu bergegas pergi meninggalkan pria paruh baya itu.
"Terima kasih Nak Lee...,!!" Ucap Jin dengan seyum liciknya.
Lee dan nino sudah berada didalam mobil.
Nino sesekali memandang Lee lewat spion.Membuat Pria tampan itu merasa risi.
"Ada apa No?sepertinya ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Lee sambil melirik kearah Nino yang sedang mengemudi.
"Maaf pak kalau saya lancang,Tapi Satu Milyart itu bukan uang yang sedikit untuk diberikan kepada pria itu pak?" Ucap Nino ragu.
"Bagiku itu tidak sepadan dengan ketenangan dan kenyamanan kehidupan Sisil,No.
Yang terpenting Pria itu tidak menganggu kehidupan gadisku lagi.Miris mengetahui Sisil mempunyai ayah yang seperti itu!!"
__ADS_1
Ucap Lee dengan wajah datarnya sambil memandang kearah luar kaca.
Nino yang paham akan perkataan atasannya itu hanya diam dan terus fokus mengemudikan mobil mewah itu.