Bukan Om Tapi Kekasihku

Bukan Om Tapi Kekasihku
Janjimu


__ADS_3

Sisil terus menangis didalam taxi hingga sampai dirumah dina.


Ceklek


Pintu besar itu dibuka oleh Dina sendiri.


betapa terkekutnya gadis itu melihat sahabatnya dalam kondisi yang buruk dengan membawa satu koper.


"Sisil.....kau kenapa???"tanya Dina panik.


Sisil langsung memeluk erat Dina mengeluarkan semua kepedihannya.


Dina segera mengajak Sisil kedalam.


Dengan suara serak Sisil menceriitakan semua perkataan Lee.


Dina tak habis pikir kenapa Lee tega mengucapkan kata kata itu.apa ia benar benar sadar mengatakan itu.


" Lalu sekarang apa rencanamu Sil?"tanya Dina setelah melihat Sisil lebih tenang.


"Besok pagi pagi aku akan pulang kampung Din..aku ingin mencari ketenangan dulu.aku juga akan berhenti bekerja dikantormu Din,Maafkan aku...!!" Ucap Sisil dengan mata sendu.


"Tak masalah Sil ...yasudah biar besok aku yang mengantarmu pulang,,jangan menolak,,aku juga ingin bertemu dengan ibu dan adikmu..!"


Sisil tak bisa menolak niat baik sahabatnya itu.


Dina pun menyuruh Sisil untuk segera betistirahat dikamat yang kemarin Sisil tempati.


Dina pun segera meraih ponselnya untuk menghubungi Rangga asistennya.


**Rangga ubah semua jadwalku karena aku besok tidak bisa datang kekantor.Kau handle semua urusan kantor dulu..!"ucap Dina tegas pada bawahannya itu lalu menutup panggilan itu.


Lalu Dina menghubungi Daren.


Akhir akhir ini keduanya nampak semakin dekat meskipun hubungan mereka baru sebatas teman.


Dina menceritakan semuanya pada Daren.


Pria tampan beramput coklat itu mengepalkan tangannya kuat setelah mendengar cerita Dina diujung telpon.


**Aku akan membuat perhitungan denganmu Lee,,,awas kau bodoh....!!**gumamnya dalam hati.


Keesokan harinya.


Pagi pagi Sisil dan Dina sudah bersiap untuk segera berangkat kekampung halaman Sisil.


Tiga jam perjalanan lebih Sisil hanya terdiam dimobil sambil menatap kearah luar jendela.


Dina hanya bisa menguatkan sahabatnya itu dengan terus menggenggam tangan Sisil.


Mobil mewah berwarna merah itu sudah memasuki halaman rumah sederhana itu.

__ADS_1


Sebelum keluar dari mobil Sisil mengusap air mata diwajahnya,ia tak ingin ibu dan adiknya tahu keadaannya sekarang.


Jino yang terkejut melihat kedatangan kakak dan temamnya itu langsung berteriak memanggil ibunya yang berada didapur.


"Kakak,tumben pulang gak kabari dulu?" ujar Jino yang sudah mendekati kakaknya.


Sisil memeluk adiknya itu dengan erat tanpa menjawab pertanyaan tadi.


Jino yang merasa aneh dengan sikap kakaknya itu merasa khawatir apalagi melihat raut wajah sendu kakaknya itu.


Bu Sita muncul dari dalam rumah,ia sangat senang putrinya pulang.


"Ayo masuk masuk...!"


Mereka pun sudah duduk bersama di ruang tamu.


Bu Sita segera menyiapkan minuman dan camilan untuk putrinya dan sahabatnya itu.


"Ibu senang kamu pulang Sil,,,gimana kabar kamu?Dan nona ini siapa?" Tanya Ibu Sita saat sudah duduk kembali.


"Kabar Sisil baik buk...Sisil pulang karena ingin istirahat dulu buk ,oh iya ini sahabat baik Sisil bu namanya Dina.Dia ini CEO Santosa Group lo bu...dia juga yang udah bantuin Sisil selama ini..!


"Oh jadi Ini Nak Dina,Wah hebat masih muda udah jadi CEO,Cantik pula.Terima kasih ya sudah banyak membantu Sisil dikota." ucap ibu Sita dengan seyumnya.


"Jangan menyanjung saya bu,Saya hanya meneruskan kepemimpinan papa saya,Ibu juga jangan sungkan,Sisil sudah saya anggap seperti adik saya bu .!"jawab Dina ramah.


"Wah jadi Kakak ini CEO Santosa Group ya?wah keren,CeO nya cewek......Kenalin aku Jeno kak adik kak Sisil!!" sela Jeno.


"Tau lah kak,Saya kan sering baca koran dan majalah bisnis.Perusahaaan kakak kan termasuk salah satu perusahaan besar dinegara kita sama seperti perusahaan Kak Lee dan Kak Daren.!" ucap Jeno dengan jelas.


Seketika wajah Sisil bertambah sendu mendengar nama itu disebut.


Sita dan Dina menyadari sikap Sisil itu.Suasana menjadi hening sesaat.


"Ayo Nak Dina diminum Teh ya....kalian pasti capek kan?Nak Dina menginap saja disini!" pinta Bu Sita.


"iya bu terimakasih" Dina mengambil secangkir teh hangat dan menyesapnya.


"Maaf tapi saya tidak bisa menginap bu,saya pulang sore nanti karena masih ada banyak tanggung jawab yang menanti saya bu,sekali lagi terima kasih atas tawarannya.!"


Sisil tiba tiba berdiri.


"Sisil agak pusing bu Sisil kekamar dulu,tolong temani Dina ya bu...Din kamu gak pa pa kan aku tinggal dulu!Pamit Sisil pada Ibu nya dan Dina secara bergantian.


" Iya lebih baik kamu istirahat sana,aku gak papa kok.!"balaz Dina,ia sangat tahu bagaimana lelahnya sahabatnya itu.


Setelah Sisil berlalu,Jeno yang merasa ada yang aneh dengan kakaknya tadi langsung bertanya pada Sahabat kakaknya itu.


"Kak Dina,sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Sisil?kenapa dia terlihat sedih?" Tanya Jeno pada Dina.


Dina pun menceritakan semua yang terjadi.Tentang Lee yang mengalami kecelakaan pesawat dan mengalami amnesi yang membuatnya lupa pada sisil hingga perkataan Lee yang menyakiti Sisil.

__ADS_1


Bu Sita dan Jino seakan tak percaya dengan penjelasan Dina,hati Bu Sita dan Jino ikut terluka seperti yagh dirasakan Sisil.


"Maka dari itu saya minta ibu jaga Sisil baik baik ya bu sampai ia benar benar sudah merasa tenang.Dan kau Jino,tolong sering beri kabar kak Dina tentang Kakakmu itu ya selama disiini juga awasi terus kakakmu itu!"


"iya Kak Dina tenang aja."


Mereka pun mempersilahkan Dina untuk beristirahat dulu dikamar bu Sita.


Sementara ditempat lain,Dikantor Han's Group.Terlihat Lee yang sedang melamun sambil berdiri disamping dinding kacanya melihat kelangit atas dengan perasaan yang kacau tiba tiba didatangi seorang pria yang penuh emosi masuk keruanggannya tanpa permisi.


"Leeee....!" suara lantang yang keluar dari bibir seorang Daren Fang,yang dengan cepat mendekat kearah Lee dan langsung memukul wajah pria tampan itu hingga darah keluar dari ujung bibirnya.


Tubuh Lee yang belum siap mendapatkan serangan itu sontak hampir terhuyung.


Sebelum sempat Daren melayangkan tinjunya yang kedua kakinya,Nino datang dan menahan tubuhnya agar tidak mendekati Lee lagi.


"Apa yang kau lakukan pada Sisil,Bre**k??"umpatnya sarkas dengan bola mata yang memerah karena menahan emosinya.


" Beraninya kau membuatnya terluka,Saat aku sudah mulai melepaskannya untukmu,tapi apa...Haaa kau justru meyakiti hatinya....Aku mengerti saat ini kau sedang lupa ingatan,tapi apa kau benar benar tak bisa melihat begitu besar Cintanya untukmu Lee??Timpal Daren lagi.


"Sialan kau berani memukulku....memangnya apa yang kulakukan haaaa,,Aku hanya memintanya mencari kebahagiaannya sendiri...apa itu salah??Jawab Lee dengan santainya sambil mengusap darah diujung bibirnya.


"Dasar Bodoh...Apa kau tidak ingat saat kita hampir saling menembak dipesta itu,Kita hampir saling bunuh karena Dia,Dan kau sudah berjanji untuk selalu mencintai dan melindunginya.Sekarang mana janjimu pria bodoh!!" Ujar Daren dengan nada tinggi tubuhnya masih ditahan oleh Nino.


"Mungkin aku sudah melupakan janji itu Daren,,Dan sepertinya kau masih sangat mencintainya,lebih baik kau saja yang bersamanya....!!" ucap Lee yang semakin membuat Daren menggelengkan kepala dengan emosi yang terus bertambah.


"Bukan hanya bodoh tapi kau juga Ba**n,,


Aku pastikan kau akan menyesal telah mengatakan inii Lee dan saat ingatanmu kembali nanti Kau akan menjadi pria yang yang paling menyedihkan karena separuh jiwamu itu sudah pergi....ingat itu Lee!!!",.


Ucap Daren tegas sebelum meninggalkan ruangan itu.


Lee membuat semua berkas yang ada diatas meja kerjanya,menendang kursi dan mengacak acak rambutnya.Perkataan Daren tadi sukses membuatnya semakin kacau.


Nino.yang melihat keadaan bosnya yang sedang memburuk itu lebih memilih diam dan kembali keruangannya.


" Shitt ....Kenapa jadi seperti ini.....Kenapa aku tak bisa mengingatnya??",Umpatnya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Sore harinya.


Dina sudah bersiap untuk kembali keBandung.


"Aku pulang dulu ya Si.Jaga dirimu baik baik,kau harus kuat..kalau ada apa apa kau hubungi aku ya,,!" Ucap Dina sambil memeluk Sisil erat.


"Iya Din,kau tenang saja.Dan terima kasih ya sudah mengantarku pulang.Kamu juga harus jaga diri disana,maaf karena aku tak bisa menemanimu dirumahmu.!"


Dina pun berpamitan pada Bu Sita dan Jino.


"Jangan lupa pesan Kak Dina tadi ya Jin!" ucao Dina berbisik pada Jeno


Jeno hanya mengangguk.

__ADS_1


Dina pun segera naik kemobilnya meskipun dengan berat hati karena meninggalkan sahabatnya itu.Gadis itu pun segera meluncur kembali ke Kota Bandung.


__ADS_2