
Sisil terus berlari sambil menangis tanpa menghiraukan orang orang disekeliling yang menatapnya.
Sampai disebuah kursi didekat taman belakang Rumah sakit itu,Sisil duduk mencoba menenangkan hatinya.
Dina yang sedari tadi mencoba mengejar sahabatnya itu pun sudah duduk pelan disamping Sisil.
Beberapa saat keduanya terdiam.Dina hanya bisa menatap kesedihan Sisil.sedangkan Sisil mencoba menahan tangisnya lagi dan berpura pura melihat keindahan taman belakang rumah sakit itu.
"Apa kau butuh bahuku Sil?"
Sisil menoleh kearah Dina dengan pandangan sendunya.Sakit yang dirasakan Sisil.sangat bisa dilihat oleh Dina.
Ia juga merasakan kekecewaan yang dirasakan sahabatnya ini.
Dini segera memeluk erat Sisil.
Sisil memang tak bisa menyembunyikan apapapun dari sahabatnya.
Sisil mulai menangis sesegukan dibahu Dina,tanpa sepatah katapun.
Dina mengusap lembut punggung Sisil,mencoba memberikan kenyamanan padanya.
"Menangislah Sil,keluarkan semua kekecewaanmu dan kesedihammu.ada aku disini yang akan selalu menemanimu!"
Sisil terus menangis tanpa suara,air mata nya semakin deras keluar hingga tak sadar baju dibahu Dina sudah basah.
Ckup lama mereka berpelukan,hingga Sisil melepaskannya.
Dina menggenggam tangan Sisil kuat.
"Kau harus kuat ya Sil,aku tahu betapa kecewanya dirimu...tapi Kau harus bisa bertahan disisinya Sil sampai ingatannya pulih.Kau jangan berputus asa ya Sil,kita berdoa semoga ingatannya segera pulih."
Sisil menatap kedepan dengan pandangan sendu dan mata yang sudah sembab.
"Bagaimana jika ingatannya tak kembali Din...?"
"Maka kau yang harus bisa membuatnya ingat akan dirimu,,Kau lupa dulu pak Lee yang mengejar ngejarmu dan terlihat begitu mencintaimu.Dan sekarang giliranmu,tunjukkan seberapa kuat dan besar cintamu padanya.jangan mudah menyerah.Apa kau rela perjuangan kalian selama ini hilang begitu saja..?" Ucap Dina yang mencoba memberi nasehat dengan nada penuh penekanan.
"Dulu aku yang jual mahal ya Din dan selalu membuatnya kecewa,Harusnya aku tak seperti itu.Aku menyesal Din...hiks hiks hiks!"
" Sudah sudah jangan menyalahkan dirimu.mungkin ini adalah proses yang harus kalian lewati.anggap saja ini Ujian buat kamu Sil.Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini.Dengam kesabaran dan kelembutanmu Dia pelan pelan akan mengingatmu...!"
"Terima kasih ya Din,Entah bagaimana aku jika tak ada dirimu...!"
"Kau ini,,,aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri Sil,aku ingin kau bahagia dan mendapatkan cintamu kembali.yasudah sebaiknya kita kembali kehotel dulu kau pasti sudah sangat lelah kan?"
Sisil hanya mengangguk.Ia menuruti nasehat Dina untuk kembali kehotel dulu.
Tanpa mereka sadari Daren mendengar percakapan mereka dari dekat.Hatinya ikut sakit melihat gadis yang masih ada didalam hatinya itu terlihat terluka dan terpuruk.
Dina merangkul Sisil dan berdiri untuk pergi menuju Hotel,Daren pun mengikuti mereka dan ikut kembali kehotel juga.
Setelah sampai Dikamar Holel bintang lima itu,Dina segera menyuruh Sisil untuk mandi.
Sementara itu Daren menarik tangan Dina untuk keluar bicara sebentar.
"Nona Dina sepertinya Sisil sangat terluka,kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja,sebaiknya aku kembali duluan kebandung dan kau tetap disini menemaninya dulu.tolong awasi dia terus dan berikan semangat untuknya.!"
__ADS_1
Dina menatap dalam kearah Daren,Ia paham pria ini sangat mengkhawatirkan sahabatnya.
"Saya juga berniat untuk cuti dulu selama dua hari pak.Mana mungkin saya tega meninggalkannya disaat keadaannya seperti ini,Pak Daren tenang saja!!"
"Baiklah kalau begitu,nanti.sore saya kembali keBandung bersama Nino.!"
Merekapun kembali masuk kekamar untuk menemani Sisil.
Sore harinya Daren dan Nino sudah kembali keBandung.Daren yang merupakan CeO Fang Group tak bisa meninggalkan perusahaannya,sementara Nino harus mengambil alih sementara kepempimpinan Han's Group sampai Lee benar benar sudah pulih tentu atas ijin dari Feiluo sang pimilik 40% Saham diperusahaan itu.
Keesokan harinya pagi pagi Sisil sudah datang kerumah sakit ditemani Dina.
Dua Gadis cantik itu langsung masuk kedalam ruang perawatan itu.
Terlihat ada Kak Fei yang masih terlelap dengan posisi duduk karena terlalu lelah.
Sementara Lee juga masih tertidur dengan tenang.
"Kak......!" panggil Sisil pelan sambil memegang lengan wanita dewasa itu.
Feiluo tersentak dan langsung membuka matanya.
"Kau sudah datang Sil...Kakak lega kau tidak marah pada Lee...!"
Sisil terseyum simpul.
"Tidak Kak,kakak sebaiknya kembali kehotel!pasti kakak sangat lelah bukan.biar Sisil dan Dina yang menjaga pak Lee disini!"
"Yasudah kakak kembali kehotel dulu ya Sil,kasihan Lion juga lama lama aku tinggal bersama mama!"
Feiluo pun mencium pipi kiri dan kanan Sisil sebelum keluar dari ruang tersebut.
Sisil memandangi wajah tampan yang sedang terlelap itu.ingin rasanya ia mencium kening pria dewasa itu dan menggenggam erat tangannya.tapi ia tak berani.
Tatapan sendu terlihat jelas oleh Dina.
Dina pun keluar kamar memberikan waktu berdua untuk Sisil dan Lee bersama.
Hingga kedua mata Lee terbuka pelan.
Pandangannya langsung menatap kearah gadis muda yang berada didekatnya.
"Bapak haus?" Tanya Sisil saat melihat prianya itu bangun.
Lee hanya mengangguk.
Dengan Sigap Sisil mengambil segelas air putih dimeja dan membantu Lee untuk meminumnya.
Lee mencoba bangun bersender meskipun tubuhnya masih lemah dan kepalanya masih sakit.
Pria itu memandang lekat kearah Sisil yang juga terdiam menatapnya.
Pandangan mereka beradu untuk beberapa saat.
Membuat Sisil menjadi begitu gugup meskipun wajah Lee terlihat datar dan dingin.
Hingga seorang perawat masuk membawa sebaskom air hangat untuk Lee mengelap tubuhnya.
__ADS_1
"Selamat pagi,ini.air hangat untuk mengelap tubuh pasien.!"
"Iya Sus terima kasih,biar saya yang mengerjakannya.!" jawab Sisil spontan.
setelah Perawat itu berlalu,keduanya terdiam.Sisil mencoba menghindari pandangan Lee yang tajam kearahnya.
"Katanya kau ingin mengelap tubuhku?Lakukan....!" ucap Lee dengan wajah datarnya.
Sontak Sisil terkejut.
"Ha......bapak tidak keberatan?"
Lee menggeleng pelan.
Sisil pun perlahan mendekat ketubuh Lee,ia dengan pelan membuka baju Lee.
Deg Deg Deg..jantungnya berdetak begitu cepat.lidahnya menjadi kelu dan buliran kringat dingin muncul didahinya menandakan begitu gugupnya dirinya berada didekat tubuh pria tampan itu.tubuh yang selalu memeluknya hangat saat malam.
Dengan Lembut Sisil mengusap tubuh Lee dengan waslap,Tak sadar Lee sedari tadi menatap tajam kearah gadis yang berada begitu dekat dengannya,bahkan wangi harum tubuh Sisil bisa ia cium dengan jelas.
Hati pria itu ikut berdesir meskipun ia masih belum mengerti tentang apa yang dia rasakan saat ini.
Sisil semakin gugup saat mengelap area dada bidang Lee yang begitu ia rindukan.Dengan menahan semua kegugupannya Sisil mencoba tenang sampai tangan Lee memegang tangannya tepat didada pria tampan itu.
"Apa dada ini sering memelukmu??" tanya Lee spontan dengan melirik kearah dua bola mata Sisil yang terlihat begitu gugup.
Sisil hanya terdiam dengan seyum simpul yang ia paksakan.Ia pun segera melepas genggaman tangan Lee dan melanjutkan kegiatannya.
Tak lama Lee sudah berganti pakaian.
Sarapan pagi untuk Lee sudah siap diatas meja.
"Apa bapak mau makan?"
Lagi Lagi Lee hanya mengangguk.
Sisil segera mengambil semangkok bubur nasi yang masih panas itu.
Perlahan Sisil mengambil sesendok bubur itu lalu meniupnya pelan sebelum menyodorkan kemulut Lee.
Pria itu hanya melirik Sisil dari ekor matanya,Ia merasakan kelembutan dan kesabaran Sisil.
Perlahan bubur itu sudah berada didalam perut Lee dengan ketelatenan Sisil.
Setelah Lee bilang cukup.Sisil mengambil tisu dan mengusap lembut ujung bibir Lee yang terlihat ada sisa makanan.
Lee hanya diam dengan wajah dinginnya menerima semua perlakuan manis gadis muda itu.
Lee benar benar bingung kenapa ia tak ingat sama sekali tentang gadis muda yang katanya calon istrinya ini.
Lee berusaha bertanya pada hati kecilnya dan berusaha terus mengingat tapi itu justru membuat kepalanya terasa sakit.
Seakan Sisil tau isi pikiran Lee.
"Jangan dipaksakan untuk mengingat ya pak...Sisil tidak mau kepala bapak semakin sakit.!"Ujar Sisil sambil terseyum manis.
Sekarang Lee yang tertegun dengan ucapan gadis muda itu,seakan gadis itu begitu memahaminya luar dan dalam.
__ADS_1
Meskipun tak dapat ia pungkiri Kelembutan sikap Sisil padanya terasa begitu hangat baginya.