
Hari ini Azmy mengumpulkan anak-anaknya dikamar utama. Ia ingin menyerahkan surat yang istri kecilnya tulis untuk anak-anak mereka. Dan penjelasan tentang Bunda mereka.
Azmy menyerahkan surat kepada ketiga anaknya yang kini duduk di sofa yang biasa digunakan untuk berkumpul sebelum tidur. Ketiganya sudah memegang masing-masing surat, dan mengucapkan basmalah bersamaan sebelum membukanya. Surat untuk Zayn tersayang..
^^^Assalamualaikum..^^^
^^^Hai sayang.. Jika kamu membaca surat ini, yakinlah Bunda akan selalu ada dalam hatimu. Meskipun kelak kamu akan melupakan Bunda, Bunda tetap ada di lubuk hatimu yang paling dalam.^^^
^^^Tetaplah menjadi Zayn yang humble, periang dan setia kawan. Ketegasanmu mungkin tidak sama dengan Zayden, tetapi kamu sudah melakukan semuanya sesuai kemampuanmu. Kamu spesial dengan apa adanya kamu sayang.^^^
^^^Sayang,, maafkan Bunda jika selama ini Bunda terkesan mengekang waktumu di rumah. Semua Bunda lakukan agar kamu tidak melupakan rumah tempatmu pulang. Ada Daddy, Zayden dan Daneena yang menunggumu di rumah.^^^
^^^Bunda bangga dengan semua pencapaian kamu sayang, Bunda juga tahu kamu mendirikan cafe untuk komunitas kamu. Jika kamu tidak pulang, kamu tinggal di sana, selama ini Bunda hanya diam menunggumu untuk jujur. Bunda tahu perlu keberanian untuk mengatakan kejujuran yang akan membuat Daddy kamu marah. Tetapi Bunda jamin, Daddy tidak akan marah. Jujurlah sayang, sebelum Daddy mengetahuinya sendiri.^^^
^^^Sayang.. Bunda tak lagi bisa menunggu kepulanganmu.. Kelak, kamu harus ingat waktunya pulang. Bunda titip Daddy, Daneena juga Zayden yaa sayang. Bunda yakin Daddy akan menyesali kepergian Bunda, sedangkan Zayden yang terlihat tegas akan memendam kesedihannya sendiri. Untuk Daneena, Bunda merasa menyesal tidak dapat menemaninya hingga dewasa. Daneena perlu kehangatan dan bimbingan kamu sebagai kakak.^^^
^^^Sayang.. Jika suatu hari kamu mengetahui kebenaran tentang Bunda, tolong maafkan Bunda yang egois ini. Bunda menyembunyikannya karena takut mengecewakan kalian. Maaf..^^^
^^^Terimakasih sudah hadir dalam hidup Bunda sayang. Terimakasih telah menjadi malaikat yang menguatkan Bunda. Terimakasih sayang.. Bunda menyayangimu..^^^
^^^Peluk cium jauh, Bunda^^^
Zayn menangis membaca surat dari Aeesha. Sampai akhir hayatnya, Bunda tidak pernah menyalahkannya, justru Bunda nya selama ini menunggu kejujurannya. Ia memang mendirikan cafe untuk komunitasnya 1 tahun yang lalu. Semua ia lakukan agar memudahkannya mengumpulkan anggotanya untuk membahas kegiatan mereka. Zayn memakai seluruh uang tabungannya untuk mendirikan cafe tersebut dan karena sudah ada cafe, ia sering menghabiskan waktunya di sana.
Alasan Zayn tidak jujur adalah Daddy. Daddy menentang keputusannya untuk menjadi aktifis. Jika hanya menjadi pencinta alam, olahraga atau balap motor, Daddy Masih mengizinkan. Tetapi untuk aktifis, Daddy menentang karena menurutnya akan mengaburkan judgement nya tentang politik. Hanya karena Bunda yang selalu membela dan mengizinkannya hanya dengan syarat tidak boleh meninggalkan sholat, Daddy nya pun akhirnya mengalah tetapi dengan catatan jika Zayn terlibat kasus anarki, maka Zayn harus menjauhi kegiatan aktivisnya.
Zayn menyesali tindakannya, jika ia bisa lebih jujur kepada Bunda yang selama ini membelanya. Jika saja ia lebih banyak waktu di rumah. Jika saja ia mendengarkan Daddy sejak dulu untuk tidak menjadi aktifis. Mungkin waktu yang ia habiskan bersama Bunda akan lebih banyak. Menyesal sekarang pun tidak berguna. Ia berjanji akan meninggalkan kegiatan aktivisnya, ia akan mulai fokus kuliah dan membantu Daddy. Agar banyak waktu yang bisa ia habiskan untuk keluarganya, sehingga tidak akan ada penyesalan lagi.
Sementara itu, Zayden yang juga sedang membaca surat dari Aeesha hanya diam dengan perasaan yang campur aduk. Ia memang memiliki banyak spekulasi tentang Bunda nya. Mulai dari setiap makanan yang dimasak tidak ada dijual dimanapun, keyakinan atas agamanya yang kental ditengah minoritas. Bunda nya seperti bukan bagian dari dunia yang ia kenal. Ibarat sungai yang tercemar, Bunda nya adalah satu-satunya ikan yang hidup tanpa keracunan.
Zayden memendamnya karena menurutnya, siapapun Bunda tetaplah Bunda yang melahirkannya. Tetapi Zayden tidak tahu jika Bundanya mengetahui isi hatinya. Termasuk penilaiannya tentang perempuan. Tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari Bunda, itulah Bunda nya. Meskipun Bunda mendidiknya dengan kelembutan, Kata-kata Bunda nya selalu tepat sasaran. Sampai akhir hayatnya pun, Bunda masih mengoreksinya.
^^^Untuk Zayden tersayang..^^^
__ADS_1
^^^Assalamu'alaikum..^^^
^^^Iden sayang.. Maafkan Bunda yang tak lagi bisa menemani hari-hari mu atau menjadi makmum saat Daddy tidak di rumah.^^^
^^^Bunda tahu, banyak pertanyaan dan spekulasi yang Iden pendam selama ini. Maafkan Bunda yang tidak sanggup jujur sayang. Bunda takut kamu kecewa, Bunda juga takut kamu tidak bisa menerima kebenaran identitas Bunda. Karena semua yang Bunda alami bukan kejadian yang bisa di ukur dengan nalar. Bunda pun tidak memakai nalar untuk menyikapinya sayang, tetapi keyakinan atas ketetapan Allah.^^^
^^^Sayang.. Kamu mempunyai kelebihan yang membuatmu spesial. Tetapi, tetaplah ingat jika semua yang terjadi dalam hidup tidak semua masuk akal. Karena Allah Maha segalanya dengan 99 nama yang mulia. Tidak ada satupun yang luput dari campur tangan-Nya.^^^
^^^Jika kelak kamu menemukan jawaban atas segala pertanyaanmu, maafkanlah Bunda sayang. Maafkan Bunda..^^^
^^^Sayang.. Bukalah hati dan pikiranmu, dunia tidak seburuk yang kamu pikirkan. Jangan batasi pergaulanmu, Allah sudah menyiapkan rencana indah untukmu sayang. Tetapi juga ada musibah yang akan kamu lalui untuk mengukur keimananmu.^^^
^^^Sayang.. Jangan terlalu keras dengan Zayn. Kalian berbeda, Zayn lebih menyukai kebebasan jadi kamu berkewajiban mengingatkan jika Zayn salah. Dan jangan terlalu memanjakan Daneena, tetapi bantu ia tumbuh mandiri. Kamu adalah pengingat bagi mereka berdua sayang.^^^
^^^Sayang.. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Bunda. Terimakasih sudah menjadi malaikat yang menguatkan Bunda. Kamu dan Zayn juga Daddy adalah kekuatan yang membuat Bunda bertahan di dunia yang asing.^^^
^^^Maafkan Bunda.. Bunda menyayangi mu..^^^
Sedangkan Daneena menangis tersedu-sedu di pelukan Azmy saat ini. Surat dari Bundanya hanya mengungkapkan betapa Bunda menyayanginya.
^^^Assalamu'alaikum..^^^
^^^Daneena tersayang.. Bidadari penguat Bunda..^^^
^^^Sayang.. Terimakasih sudah bertahan hadir dalam kehidupan Bunda. Terimakasih sudah mengikuti jejak Bunda tanpa diminta. Terimakasih sudah istiqomah dengan pilihan yang kamu buat. Terimakasih..^^^
^^^Bunda sangat menyayangi Nena, Bunda bersyukur memiliki Nena sehingga Bunda ada teman perempuan. Selama ada Nena, Bunda seperti dikaruniai seorang bidadari. Dibalik sifat manja Nena kepada Daddy dan kakak Iden, Nena adalah anak dan adik yang paling pengertian.^^^
^^^Tetapi maafkan Bunda yang harus pergi.. Bunda tahu Nena akan tegar, maafkan Bunda..^^^
^^^Tetaplah jadi Nena, yang menyatukan kakak-kakakmu dan Daddy. Bunda sayang Nena.. Sayang Nena. Bunda sudah menyiapkan penthouse untuk Nena, kelak jika sedang berlibur atau sedang senggang berkunjung lah kesana. Bunda sudah mendesain sesuai keinginan Nena tetapi jika ingin ditambah, bilang saja pada Daddy.^^^
^^^Peluk sayang.. Bunda^^^
__ADS_1
Azmy mengamati wajah dua anak kembarnya. Yang satu diam dengan tenang, yang satu diam melamun dengan mata sembab. Ia tidak tahu isi surat dari Aeesha, tetapi ia bisa menebak jika istri kecilnya pasti menuliskan kelemahan keduanya sehingga keduanya kini tak dapat berkata-kata.
"Dad.. Zayn akan bergabung bersama Iden di perusahaan Daddy." Zayn memulai percakapan. Azmy tidak terkejut, mengingat istri kecilnya selalu berkata lembut namun tepat sasaran. Sampai akhir hayatnya, ia selalu memikirkan keluarganya.
"Baiklah, biarkan Iden yang menjelaskannya nanti di perusahaan. Kapan kamu akan mulai?"
"Secepatnya Dad. Kuliah ku sudah hampir selesai, skripsi sudah di ACC tinggal menunggu jadwal sidang." Azmy menganggukkan kepalanya.
"Dad, apakah besok kita sudah mulai bekerja?" tanya Zayden.
"Terserah padamu, Bunda kalian juga tidak menginginkan kalian larut dalam kesedihan. Lagi pula, kalian bisa mengunjunginya kapan pun. Dan Daddy tekankan, jika Daddy tidak akan menikah lagi."
"Kami juga tidak akan mengizinkannya!" kata ketiga anaknya serempak.
"Bagus. Sekarang kalian berdua bacalah buku ini. Ini ditinggalkan oleh Bunda kalian, isinya kalian baca sendiri. Nanti Daddy akan menjelaskan jika ada yang kalian tanyakan." Azmy menyerahkan buka harian Aeesha kepada Zayn yang kemudian membacanya.
"Dad, Bunda menyiapkan penthouse untuk Nena. Kapan Bunda menyiapkannya, hampir seluruh waktu Bunda habiskan di rumah." tanya Daneena. Ia tidak mengerti, karena selama ini image Aeesha dimata anak-anaknya adalah seorang ibu dan istri yang menghabiskan waktu untuk keluarga. Tidak pernah Bunda nya keluar rumah untuk mengurus pekerjaan. Kalaupun keluar rumah, Bunda mereka hanya akan mengajak mereka berbelanja, bertamasya atau perawatan di salon.
"Sekitar setengah tahun yang lalu sayang. Sewaktu kamu pergi study tour." jawab Azmy sambil mengelus kepala Daneena dalam pangkuannya.
"Tidak hanya penthouse sayang, dua apartemen juga disiapkan untuk kedua kakakmu di daerah utara. Tempat sama dengan om Aditya." serempak Zayn dan Zayden melihat kearah Azmy.
"Benarkah itu Daddy?" Azmy menganggukkan kepalanya.
"Mengapa Bunda seperti tahu waktunya akan tiba?" Zayn menitikkan air matanya, membuat Daneena yang sudah tenang menangis lagi.
"Kalian tahu Bunda kalian seperti apa. Hal seperti ini bukan lagi kuasa manusia, Allah lah yang Maha Berkehendak." Azmy menenangkan Daneena. Sedangkan Zayden, menepuk bahu Zayn untuk menguatkan.
"Bunda sudah memindahkan seluruh asetnya atas nama kalian bertiga. Nantinya Rara yang akan menjelaskannya." jelas Azmy.
"Dad, kami sudah selesai membaca buku Bunda. Sekarang tinggal versi Daddy saja dan penjelasan rincinya." kata Zayden yang ditanggapi anggukan Zayn. Sedangkan Daneena hanya diam menyimak, ia belum begitu mengerti tetapi bisa menerima garis besarnya.
Akhirnya Azmy mengatakan semua kebenaran yang selama ini mereka tutupi, bertepatan dengan kehadiran Mami Sita dan Papi Agam. Mereka pun bergabung untuk mendengarkan cerita Azmy, karena mereka pun hanya mengetahui garis besarnya saja.
__ADS_1