
Azmy merasakan sesak di dadanya, ia telah kehilangan separuh jiwanya. Ia menemukan buku harian Aeesha, setelah satu jam duduk diam merenungi kepergian istri kecilnya di meja rias yang sering digunakan Aeesha. Azmy membaca buku harian istri kecilnya yang penuh dengan coretan tentang perjalanannya ke dunia ini dan perjalanan mereka sampai ke titik ini. Tulisan terakhir membuat Azmy melelehkan air mata yang sedari pagi dibendung nya.
^^^Untuk Suamiku juga Imamku Terkasih...^^^
^^^Assalamualaikum..^^^
^^^Jika suatu hari kamu menemukan buku ini, mungkin aku tak ada lagi di sampingmu, mungkin takdir kita selesai saat itu juga. Mungkin Allah lebih menyayangiku sehingga memanggilku lebih dulu. Mungkin juga Allah tahu, aku tidak akan bisa bertahan tanpa kamu di sisiku.^^^
^^^Suamiku... Banyak masa bersamamu yang melekat dalam sanubari ku,^^^
^^^Saat dirimu hanya diam menemaniku yang menangis, mendekap ku dengan penuh kasih sayang.^^^
^^^Saat kamu menjadi hero menolong seorang anak kala itu.^^^
^^^Saat aku melihat tak ada penghakiman dalam dirimu, kamu membuktikan kepadaku bahwa meskipun aku hanya jiwa yang mengisi raga Nyssa, kamu menerimaku tanpa memerlukan alasan untuk menjadi bahagia.^^^
^^^Saat kamu menolak menyerah kepadaku, meyakinkan aku bahwa kau mencintaiku. Tidak peduli raga dengan jiwa yang berbeda, kamu mengatakan bahwa aku layak dicintai.^^^
^^^Kamu selalu menjadi penyelamat ku. Kita melangkah bersama melalui beberapa momen paling menyakitkan dalam hidup dan kita melaluinya dengan ikhlas dan sabar. Percaya bahwa setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik dan Allah telah menyiapkan hikmah di setiap musibah yang kita alami.^^^
^^^Saat kamu memeluk ku erat dan mencium keningku, kemudian membisikkan pelan bahwa kau mencintaiku.^^^
^^^Saat kelahiran Zayn dan Zayden, juga kelahiran Daneena, semua momen bersamamu adalah kebahagiaan.^^^
^^^Aku tidak menyesali keputusanku, justru aku bersyukur. Allah memberikanku sosok suami sepertimu.^^^
^^^Kamu adalah sosok suami yang kuat, penuh cinta dan berpendirian. Suami yang tegas, dingin dan menghargai talenta seseorang. Suami yang menghargai istri dan anak-anakmu, terlepas dari kekurangan lain yang kau miliki. Suami yang berani berkomitmen seumur hidup dan tidak mempertimbangkan tentang pilihanmu.^^^
^^^Suamiku... Ada masa-masa ketika kamu membuatku kagum. Dari semua yang kamu lakukan untuk keluarga kita. Kekuatan mu, kasih sayangmu, dan perjuanganmu. Aku mengagumi cintamu pada anak-anak kita dan bagaimana engkau mendisiplinkan mereka, memberikan mereka contoh tentang pasangan yang layak bagi mereka. Kamu adalah suami yang luar biasa dan aku mengakui bahwa di hari-hari kita, aku mungkin belum bisa menjadi istri sempurna untukmu.^^^
__ADS_1
^^^Selama 25 tahun hubungan kita, aku selalu bersyukur dipertemukan denganmu suamiku. Aku masih selalu merepotkan mu, masih banyak hal yang tidak bisa kulakukan untukmu. Aku bahkan lupa untuk menyampaikan betapa berartinya dirimu bagiku.^^^
^^^Aku tak akan pernah bisa mengucapkan terima kasih karena kamu sudah bersedia menghadapi segala cobaan dalam hubungan kita. Kata Terima kasih tak akan pernah cukup karena kamu selalu memberikan cintamu untukku. Terima kasih juga tak akan pernah cukup atas segala pengorbananmu.^^^
^^^Suamiku... Maafkan aku yang terlambat mengatakan jika aku mencintaimu. Mungkin rasa cintaku tak sebesar rasa cintamu padaku. Tetapi, ketahuilah bahwa cintaku untuk mu tulus. Bukan karena aku ingin membalas rasa cintamu atau hanya perasaan sesaat. Kamu lah yang mengajarkanku untuk mencintai, kamu yang mengenalkan ku makna cinta.^^^
^^^Sayangku... Aku mencintaimu karena Allah.^^^
^^^Maafkan aku yang meninggalkanmu lebih dulu. Maafkan aku yang harus merepotkan mu untuk mengurus anak-anak kita. Maafkan aku..^^^
^^^Sayangku... Jika waktunya tiba, sampaikanlah perjalanan kita kepada anak-anak. Mereka berhak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Terutama Zayden, selama ini ia sudah memendam segala spekulasi. Ia diam karena menghargai aku sebagai Bunda yang ia sayangi. Jika aku boleh memilih, mungkin aku akan menyampaikannya sendiri. Tetapi waktuku hampir tiba, aku tidak akan sanggup pergi meninggalkan wajah kecewa mereka. Aku egois, aku hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk mereka, tetapi aku juga meninggalkan luka untuk mereka. Maafkan Bunda...^^^
^^^Suamiku.. Jangan tangisi kepergianku terlalu lama. Jadilah ayah yang menguatkan anak-anaknya. Mereka membutuhkanmu, sampaikan maaf ku karena tidak bisa menemani mereka lagi. Aku serahkan semuanya kepadamu sayang..^^^
^^^Sayang.. Aku mencintaimu... Ana uhibbuka fillah...^^^
^^^Dengan Cinta^^^
Istri kecilnya menghembuskan nafas terakhir pagi ini. Tidak ada sakit ataupun kecelakaan, Aeesha meninggalkannya dengan senyuman manis yang sering menghiasi bibirnya.
Hari ini Aeesha terlambat bangun. Azmy yang baru saja selesai berolahraga bersama anak-anak merasa heran istri kecilnya belum bangun, tidak seperti biasanya. Awalnya ia berpikir jika Aeesha kelelahan karena kemarin mereka baru saja merayakan ulang tahun Daneena yang ke-14. Dan malamnya mereka masih melakukan kegiatan intim. Jika kelelahan maka istri kecilnya akan bangun pukul 08.00, tetapi sekarang sudah pukul 09.00 Aeesha belum juga bangun.
"Sayang.. Bangunlah.. Anak-anak sudah menunggu kita untuk sarapan. Hari ini Zayn yang memasak, ia membuat sandwich untuk kita." Aeesha yang mendengar suara Azmy, membuka matanya. Tetapi ia tahu, waktunya akan tiba.
Aeesha sudah merasakan jika waktunya akan tiba satu bulan yang lalu. Maka dalam satu bulan ini, ia berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan suaminya.
Ia sudah membalikkan nama 2 apartemen Nyssa menjadi atas nama Zayn dan Zayden. Memberikan penthouse yang telah ditambahkan diatas apartemen kepada Daneena. Semua pengurusan ia serahkan kepada Rara. Saham milik Nyssa 1/3 bagian, ia bagi menjadi 4. 1/4 untuk Rara dan 3/4 masing-masing untuk ketiga anaknya. Meskipun harta Azmy tidak diragukan bisa memenuhi kebutuhan mereka, Aeesha tetap melakukannya. Semua kartu yang Aeesha miliki selama ini, ia bagi menjadi menjadi 5 bagian. 3/5 untuk ketiga anaknya, 1/5 untuk ayah Nyssa, 1/5 untuk yayasan.
Azmy mengetahui pengaturan yang dibuat Aeesha, ia hanya mengira jika istri kecilnya hanya ingin mengeluarkan uang yang selama ini ia simpan. Sehingga tidak mempertanyakan keputusan istri kecilnya, karena memang sudah haknya. Azmy tidak menyangka jika pengaturan tersebut adalah salam perpisahan dari Aeesha.
__ADS_1
"Suami.." jawab Aeesha lemah.
"Sayang, apakah kamu tidak enak badan? Apakah kita perlu kerumah sakit?" tanya Azmy panik melihat istri kecilnya lemah. Namun Aeesha hanya menggeleng dan meminta agar anak-anak menemaninya sekarang.
Azmy segera menelpon Zayn untuk mengajak saudaranya kekamar utama. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berkumpul mengelilingi istri dan Bunda mereka.
"Zayn sayang,, jangan terlalu fokus dengan kegiatan diluar. Perbanyaklah waktu untuk Daddy dan saudaramu."
"Zayden sayang,, bukalah hatimu sayang. Jika kamu tidak bisa menemukan yang seperti Bunda, carilah yang membuat hatimu ingin melindunginya. Melindungi sebagai pasangan, bukan sebagai saudara, kelak kamu akan menemukannya sayang." Zayn dan Zayden hanya diam, mereka berdua sudah bisa menebak kelanjutan kata-kata dari Bunda mereka.
"Jangan ucapkan Bunda, Daneena tidak mau dengar. Jika Bunda seperti ini, Daneena takut Bunda akan pergi jauh."
Deg. Ketiga laki-laki yang saat ini ada disamping Aeesha pun takut yang dikatakan Daneena adalah benar. Mereka juga merasakannya tetapi memilih untuk menepis nya. Tidak ada diantara ketiganya ingin buka suara, ketakutan mereka semakin besar melihat senyuman Aeesha yang terkesan dipaksakan.
"Sayang.. Kamu adalah satu-satunya perempuan di keluarga ini. Kamu yang akan menjadi teman, adik, anak saat Daddy ataupun kakak-kakak mu di rumah." Aeesha mengusap lembut tangan Daneena yang menggenggam erat tangan kanannya. Daneena sebisa mungkin menahan air matanya, menggenggam erat tangan Bunda nya agar tidak terlepas darinya.
"Suamiku.. Tetaplah menjadi Daddy yang mereka andalkan. Ana uhibbuka fillah sayang.. Bunda juga menyayangi kalian semua, maafkan Bunda." Aeesha mengucapkan kalimat tahlil sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan tersenyum sembari menutup matanya.
Hening. Keempat orang yang menyaksikan kepergian Aeesha tidak dapat ber kata-kata. Mereka selama ini tahu jika istri dan Bunda mereka adalah sosok yang taat beragama. Mereka tidak tahu jika ketaatan istri dan Bunda mereka bisa sampai ke tahap mengetahui waktu ajal akan tiba.
Daneena yang pertama menangisi Bunda nya, disusul Zayn dan Zayden. Sedangkan Azmy hanya terdiam membeku, cintanya, kasihnya, jiwanya juga istri kecilnya, meninggalkannya. Tanpa ada persiapan untuk melepaskan kepergiannya.
Kabar kematian Aeesha pun disebarkan, banyak dari keluarga dan kerabat dan orang-orang yang mengenal sosok Aeesha Nyssa berdatangan mengucapkan bela sungkawa dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Azmy meminta Aeesha dimakamkan segera di taman belakang kediamannya. Ia ingat, istri kecilnya pernah bercerita jika kematian khusnul khotimah jenazah akan diangkat derajatnya. Maka jangan biarkan terlalu lama, segera kebumikan, agar tidak nampak mata peziarah yang mana akan menimbulkan banyak pertanyaan yang berujung fitnah. Meskipun Azmy tidak mengerti maksud Aeesha, ia tetap menjalankan seperti yang dikatakan.
Sehingga dalam waktu 3 jam, Aeesha sudah dikebumikan tepat sebelum sholat jumat. Banyak peziarah yang kecewa tidak dapat melihat Aeesha untuk terakhir kalinya, tetapi mereka tetap dapat mengunjungi makamnya.
Mami Sita sempat mempertanyakan alasan Azmy yang menginginkan proses dipercepat. Tetapi dicegah oleh Papi Agam, yang tahu maksud dari Azmy. Ketiga anaknya sudah tidak menangis lagi, mereka hanya diam dengan tenang seperti Azmy yang saat ini tidak menunjukkan kesedihan.
Sebelumnya, ia mengatakan kepada anak-anaknya. Jika saja Bunda tahu mereka sedih, Bunda akan lebih sedih. Sehingga mereka kini dapt menguasai diri mereka mengingat Bunda mereka yang merupakan seorang ibu yang lembut dan cengeng.
__ADS_1
...~Tamat~...