
Leon bergegas ke mansion utama, sebelum pergi ke perusahaan. Sementara ia menyerahkan pekerjaan kepada Rian.
"Selamat pagi Nyonya Besar. Halo duo tuan kecil." Leon menyapa malaikat kembar yang berada didalam stroller, keduanya hanya mengedipkan mata memperhatikan Leon. Mami Sita sedang membawa malaikat kembar memutari mansion bersama Rara.
"Kau terlihat mengerikan!" ketus Rara.
"Urus saja urusanmu sendiri." Leon tak kalah ketus. Menurutnya Rara adalah perempuan terlalu dan terkasar yang pernah ia kenal. Meskipun perkataan Rara ada benarnya, mata pandanya memang mengerikan. Tetapi tidak perlu juga diperjelas.
"Leon, apa yang kamu bawa?" tanya Mami Sita.
"Ini informasi yang diminta Tuan Muda, Nyonya."
"Informasi apa?"
"Semua detail kejadian 2 tahun terakhir. Tuan Muda ingin mengetahui semuanya." jawaban Leon membuat Mami Sita terkejut.
"Leon, apa tidak sebaiknya kita tanyakan dokter terlebih dahulu?"
"Sudah Nyonya, dokter bilang tidak apa. Kemungkinan bisa menstimulasi ingatan Tuan Muda, tetapi Tuan Muda tidak boleh memaksakan diri."
"Baiklah.. Azmy ada di kolam renang tadi."
"Apakah bersama Nona Muda?" tanya Leon. Tidak mungkin ia mengganggu kebersamaan Tuan Mudanya.
"Entahlah, Tuan mu kembali menjadi beruang kutub. Hati-hati saja kamu dibekukan." kata Mami Sita yang kemudian melenggang meninggalkan Leon yang masih terdiam diikuti Rara.
Kata-kata Mami Sita berhasil membuat Leon was-was. Jika benar Tuan Mudanya menjadi dingin, maka ia harus bersiap mendapat pekerjaan tambahan.
Leon memasuki kediaman, bertemu Aeesha yang sedang menyiapkan sarapan. Aeesha menawarkan Leon untuk sarapan bersama yang dijawab dengan anggukan. Leon melihat Tuan Mudanya baru saja selesai berenang.
__ADS_1
"Keatas!" perintah Azmy tanpa melihat kearah Leon.
Aeesha yang melihatnya pun tersenyum dan memberikan semangat kepada Leon dengan isyarat tangan. Leon menarik nafas dalam sebelum berjalan menaiki tangga menuju kamar Azmy.
Leon menunggu di sofa, sedangkan Azmy sedang mandi. Azmy keluar dengan handuk melilit di pinggang dan handuk kecil diatas kepalanya.
"Ini sudah semua?" tanya Azmy yang melihat satu kardus file diatas meja.
"Benar Tuan Muda, beberapa informasi ada disini." Leon menyerahkan sebuah tablet kepada Azmy.
"Baiklah, kamu boleh kembali."
"Baik Tuan Muda. Oh iya, sebaiknya Tuan Muda mulai membaca file yang ada di tablet terlebih dahulu kemudian file-file ini. Semuanya sudah saya susun sesuai urutan bulan." Azmy hanya melambaikan tangannya.
Saat Leon menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Aeesha. Aeesha menanyakan ada urusan apa, Leon menjawab dengan jujur. Aeesha berterima kasih dan berjalan menuju kamar suaminya.
"Suami.. Apapun yang kamu baca nanti, ingatlah aku tidak menyalahkan mu. Semua atas kehendak Allah, jangan menyalahkan diri sendiri." kata Aeesha yang sudah selesai mengeringkan rambut Azmy.
"Sarapan sudah siap, aku tunggu dibawah." Aeesha meninggalkan Azmy sendiri.
"Apa maksud perkataannya?" tanya Azmy dalam hati. Ia pun bergegas mengenakan pakaian dan menuju ruang makan.
Di meja makan sudah ada Papi Agam dan Leon yang berbincang-bincang.
"Kenapa masih disini?" tanya Azmy yang duduk disebelah Papi Agam.
"Papi yang meminta Leon sarapan bersama." belum sempat Azmy menjawab perkataan Papi Agam, Mami Sita datang bersama Rara mendorong stroller.
Aeesha menghampiri malaikat kembarnya, terlihat lelap di dalam stroller. Aeesha mengatakan pada Rara untuk sarapan bersama, malaikat kembar akan dijaga kepala pelayan sementara di ruang tamu. Setelah sarapan baru dibawa ke kamar untuk dimandikan dan disusui.
__ADS_1
Mereka pun sarapan bersama dengan diselingi obrolan ringan Leon dan Papi Agam. Sementara Azmy diam saja, ia masih memikirkan kata-kata Nyssa tadi. Selesai sarapan, Leon berpamitan kembali ke perusahaan. Papi Agam dan Mami Sita pergi ke mansion untuk melanjutkan persiapan hari ke-40 cucu mereka. Rara membantu Aeesha membawa malaikat kembar ke kamar tidur. Sedangkan Azmy ke kamarnya dan mulai membaca informasi dari Leon.
Azmy mulai fokus membaca informasi yang ada di tablet. Mulai dari informasi Nyssa, rancangan kejutan ulang tahun Nyssa, pernikahannya, penculikan Nyssa dan identitas Nyssa. Azmy berhenti membaca informasi tersebut. Kepalanya terasa ditusuk ribuan jarum, beberapa detik kemudian terlintas ingatan.
^^^"Suamiku mempunyai ketampanan rata-rata yang dimiliki keturunan dari bangsawan Paku Alaman. Pembawaannya tenang dan berwibawa, tetapi keras kepala apalagi jika berhubungan dengan mendidik anak. Kami tidak pernah mengumbar rasa cinta karena bagi kami mengalir sudah merupakan rasa syukur atas keadaan kami dan karunia Allah. "Anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli." Yang artinya "Menyesuaikan diri dengan mengalirnya air, tetapi tidak terbawa arus." pedoman itu yang selalu dipegang suamiku."^^^
Azmy menahan rasa sakitnya, mengambil obat dan meminumnya. Setelah beberapa menit, rasa sakitnya mereda. Sepotong ingatan yang berkelebat memberitahunya jika Nyssa sudah menikah sebelumnya. Tetapi, dalam informasi Nyssa masih perawan. Mana yang harus dipercaya?
"Jika benar Nyssa sudah pernah menikah, apakah anak kembar itu anak mereka? Tapi mengapa Nyssa bilang mereka anakku? Melihat perlakuan Mami dan Papi kepada anak kembar tersebut, aku yakin mereka cucunya. Tapi mengapa ada ingatan seperti itu?" Tumbuh kecurigaan di dalam hati Azmy. Tetapi juga ada kecemburuan di sana.
Azmy bertekad untuk mencari tahu kebenaran dari ingatannya, ia pun melanjutkan membaca informasi. Sampai pada informasi penyerangan Nyssa. Darahnya terasa mendidik dan hatinya seperti tertimpa beban berat.
"Jadi, luka di bahu Nyssa akibat aku yang tidak bisa melindunginya. Mengapa kemarin saat aku bertanya ia tidak menjawab dengan jujur? Berapa banyak kebohongan yang ditutupinya?" Gumam Azmy.
"Apa ini maksud dari perkataannya tadi, aku tidak boleh menyalahkan diriku sendiri?" imbuhnya.
Azmy masih tenggelam dengan pemikirannya, sampai tidak tahu jika Nyssa sudah ada didalam kamar. Nyssa hanya melihat sekilas suaminya, melihat Azmy yang sedang fokus ia tidak ingin mengganggunya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju. Bajunya basah akibat muntahan Zayn kecil.
Zayn kecil sudah mulai menyusu dengan kuat, tetapi memaksa sampai kekenyangan. Akibatnya saat dibantu untuk sendawa, Zayn memuntahkan ASInya. Aeesha keluar tanpa mengenakan hijab dengan rambut tergerai diatas pinggang.
Azmy yang mendengar suara pintu kini memperhatikan Nyssa, Tiba-tiba muncul sepotong ingatan lagi.
^^^"Tinggi badan ku hanya 160cm, berat badan ideal, bulu mata tidak lentik, mata sedikit sipit, hidung mancung rata-rata tidak semancung Nyssa. Kulit ku putih, tetapi tidak Putih oriental seperti Nyssa. Putih rata-rata keturunan Jawa, atau bisa dibilang langsat terang."^^^
"Mengapa Nyssa berkata seperti dia adalah orang lain? Apa ini ada hubungannya dengan jiwa yang sekarang ada didalam raganya?" batin Azmy.
Terlalu banyak informasi yang diterimanya membuatnya Azmy semakin bingung. Ia pun memutuskan untuk menutup tabletnya. Masih ada waktu lain kali, Ia harus beristirahat terlebih dahulu.
Tetapi saat dirinya melihat Nyssa menggendong salah satu anaknya dengan penuh kasih sayang. Kecemburuan timbul dalam hatinya. Jika benar mereka adalah anak dari pernikahan Nyssa sebelumnya, Ia tidak akan memaafkan Nyssa. Azmy mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1