Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
58. Gerakan di Perut


__ADS_3

Dari kejauhan, Bambang melihat Nyssa yang jatuh kedalam pelukan laki-laki segera berlari menghampiri. Saat melihat laki-laki yang menggendong Nyssa adalah Azmy, Bambang segera membawa Azmy kedalam apartemen Nyssa.


Azmy merebahkan Nyssa perlahan, melepaskan sepatu dan menutup tubuhnya dengan selimut. Leni masuk kedalam kamar membawa seorang dokter bersamanya.


"Pak Azmy?" Dokter Rena terkejut ternyata yang memanggilnya adalah pasangan Azmy dan Nyssa.


"Dokter Rena." Azmy menjabat tangan dokter Rena dan mempersilahkan untuk memeriksa istri kecilnya.


Dokter Rena mulai mengeluarkan peralatan dari tas kerjanya. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter Rena menjelaskan jika pingsannya Nyssa disebabkan karena kecemasan dan kurangnya istirahat. Sehingga saat merasa lelah sedikit akan membuatnya pingsan. Hormon kehamilan kembar lebih tidak stabil dibandingkan kehamilan normal.


Dokter Rena mengatakan, sebaiknya menjaga perasaan dan pikiran Nyssa, agar sisi sensitifnya tidak menjadi paranoid yang menyebabkan kecemasan. Dokter Rena tidak meresepkan obat apapun, hanya menyarankan jangan sampai lupa meminum vitamin yang biasa dikonsumsi dan susu hamil. Dan periksa kandungan rutin jangan sampai terlewat.


Dokter Rena berpamitan, diantar oleh Leni keluar. Menyisakan Azmy dan Bambang didalam kamar Nyssa.


"Tuan Azmy, maaf jika saya lancang. Apakah ada masalah diantara kalian sehingga keadaan Nyssa menjadi tidak stabil seperti ini?" Tanya bambang hati-hati.


"Bukan apa-apa." Jawab Azmy dengan dingin sembari membelai wajah Nyssa.


Bambang yang tahu sifat Azmy, tidak ingin membangunkan singa yang tidur. Ia pun keluar dari kamar, meninggalkannya bersama Nyssa.


"Sayang.. Maafkan aku. Aku lalai menjagamu, bangunlah sayang. Aku ada disini." Azmy mengecup kening Nyssa. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Nyssa atau Aeesha Nyssa. Yang terpenting sekarang, perempuan yang ada didepannya saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Tak lama pintu diketuk dari luar, Azmy mengatakan agar masuk.


Brenda masuk membawa minuman untuk Azmy, jahe gula merah untuk Nyssa dan buah yang sudah dikupas. Setelah meletakkannya dimeja, Brenda keluar dari kamar.


Azmy masuk ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat ashar. Saat membuka lemari ingin mencari sajadah, Azmy melihat baju laki-laki dan perempuan tertata rapi di sana. Azmy mengembangkan senyumnya, perempuan ini memanglah istri kecilnya yang ingat akan kebutuhan suaminya.


Azmy mengambil sajadah yang ada di lemari, dan mulai melaksanakan sholat.


Nyssa mulai siuman, ia ingat sebelum pingsan sempat melihat sosok Azmy.


"Apakah hanya ilusi ku saja?" Tanya Nyssa dalam hati.


Tetapi ada aroma yang familiar memenuhi kamarnya. Nyssa mengubah posisinya menjadi duduk bersandar, ada seseorang sedang sholat di kamarnya. Tidak mungkin keluarga Bambang, karena mereka berbeda keyakinan. Jika dilihat dari postur tubuhnya, itu adalah Azmy. Nyssa diam menunggu sampai Azmy selesai sholat.


Setelah selesai sholat, Azmy menghampiri Nyssa yang sudah duduk bersandar. Ia menyerahkan jahe gula merah untuk Nyssa.


Nyssa menerimanya dan meminumnya perlahan.


"Bagaimana perasaanmu sayang?" Tanya Azmy sambil menaruh kembali cangkir Nyssa.


"Baik." Jawab Nyssa singkat, ia masing bingung menghadapi Azmy.


"Apa ada bagian yang sakit?" Nyssa menggeleng.


Azmy berjalan membuka lemari, mencari hijab kaos yang biasa dipakai Nyssa. Ia pun menyerahkannya kepada Nyssa dan memintanya berganti. Tetapi Nyssa ingin mandi terlebih dahulu, badannya terasa lengket. Azmy mengangguk, Ia membantu Nyssa untuk berdiri. Saat akan masuk ke kamar mandi, Nyssa mencegah Azmy untuk masuk.

__ADS_1


Nyssa mengenakan bath robe dan handuk dikepala, keluar perlahan dari kamar mandi. Sepertinya Ia perlu membeli anti slip untuk kamar mandi. Nyssa mencari baju di lemari, ternyata Lemarinya sudah penuh dengan baju untuknya dan Azmy. Leni bergerak sangat cepat, Nyssa berterimakasih atas keberuntungan pemilik tubuh.


Nyssa lupa jika didalam kamar, masih ada Azmy. Ia mengganti bajunya didepan Azmy, mulai dari memakai dalaman sampai daster katun yang nyaman dipakai, tak lupa hijab kaos. Karena disini, Ia tidak bisa membuka hijabnya tanpa izin suaminya.


Azmy terpana sampai menelan air liurnya, saat melihat tubuh istri kecilnya yang semakin sintal. Baru sehari tidak bertemu, rasanya seperti satu minggu tidak melihat tubuh istri kecilnya.


Saat berbalik, Nyssa terkejut melihat Azmy yang duduk ditempat tidur memperhatikannya.


"Astagfirullah.." Nyssa mengelus dadanya, ia lupa keberadaan Azmy. Tak apa, toh mereka sudah halal dan Azmy sudah tahu seluk beluk tubuhnya. Nyssa mencoba menekan rasa gugupnya.


Azmy tertawa melihat respon Nyssa, ia menebak jika Nyssa melupakan keberadaannya sampai terkejut seperti itu.


Nyssa mengabaikan Azmy, memilih melaksanakan sholat. Selesai sholat, Nyssa ingin berdiri tetapi kakinya kram. Sehingga Nyssa hanya diam saja tidak beranjak dari tempatnya sholat. Azmy yang merasa Nyssa terlalu lama duduk, padahal sudah selesai sholat dan berdoa, ia pun menghampirinya.


"Kenapa tidak beberes sayang?"


"Kakiku kram." Jawab Nyssa malu. Azmy tersenyum, sepertinya Nyssa kembali seperti awal pernikahan mereka.


Azmy mengangkat Nyssa, dan mendudukkannya di sofa. Kemudian ia berjongkok, dengan pelan Azmy memijat kaki istri kecilnya. Nyssa tidak menolak, justru menikmati pijatan Azmy. Sampai-sampai ada gerakan menendang di perut Nyssa.


Nyssa mangaduh, Azmy mengira karena pijatannya. Tetapi Nyssa malah menuntun tangannya ke perut bagian bawah. Azmy merasakan gerakan kecil di sana, apakah ini gerakan anaknya? Azmy hanya mengedipkan matanya kearah Nyssa, yang dibalas anggukkan kepala.


Ini pertama kalinya Azmy merasakan gerakan anaknya, ia merasa bahagia.


"Apakah karena umur kandungan 4 bulan sudah ditiupkan roh kepada bayi?" Batin Azmy.


"Sehat terus di sana sayang, dua malaikat daddy. Robbi habli minassholihin." (“Ya Allah, anugerahkan lah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”) doa Azmy untuk kedua calon anaknya.


Setelah gerakan anak mereka mereda, Azmy duduk di sebelah Nyssa. Sedari tadi, Nyssa hanya diam. Interaksi Azmy dengan anak dalam kandungannya membuatnya terharu.


"Sayang, maafkan aku. Tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi dari rumah." Kata Azmy seraya mencium tangan Nyssa.


"Tidak, kita memang butuh waktu untuk memutuskan kelanjutan hubungan kita."


"Aku akan melanjutkannya sayang." Kata Azmy tanpa ada keraguan. Nyssa bisa melihat kesungguhan Azmy, tetapi ia tetap ingin Azmy memikirkannya kembali.


"Azmy, apa kamu tidak keberatan jika aku, Aeesha Nyssa sebagai istrimu dengan raga Nyssa?" Pertanyaan Nyssa mengingatkan Azmy pada dilemanya.


"Sayang, aku tidak keberatan. Karena memang dari awal, kamulah yang berhubungan dengan ku bukan Nyssa."


"Memang benar, tetapi apakah kamu bisa menerima masa laluku?"


"Bisa, masa lalu mu tidak penting untukku. Mari kita tata masa depan."


"Masa lalu memang tidak penting, tapi masa lalu akan selalu menjadi bayangan masa depan."

__ADS_1


"Tidak akan sayang, asalkan kita istiqomah dengan hubungan kita. Masa lalu mu tidak akan jadi masalah jika kita saling jujur dan percaya."


Nyssa hanya diam, ia melihat kesungguhan Azmy. Tetapi ia juga takut keputusan Azmy saat ini hanya dipengaruhi oleh anak dalam kandungannya.


"Pulanglah dulu Azmy, lakukanlah sholat istikharah. Jika memang Allah mengirimkan aku kesini untukmu, maka jawaban dari sholat istikharah kita akan sama."


Azmy terdiam mendengar kata-kata Nyssa, dirinya tidak terpikir untuk meminta petunjuk Allah. Yang ia pikirkan sedari kemarin hanya terpaku pada Nyssa atau Aeesha Nyssa.


"Baiklah, biarkan aku bermalam disini sayang." Pinta Azmy yang ditanggapi anggukan Nyssa.


Nyssa melepaskan mukenanya dan memakai kembali hijab kaosnya. Melihat ada buah dimeja, Nyssa langsung memakan buah tersebut, tetapi ada yang kurang. Dibawanya piring buah tersebut ke dapur, meninggalkan Azmy yang ingin pergi mandi. Sebelumnya Nyssa sudah menyiapkan handuk dan baju ganti untuk Azmy. Brenda menyambutnya dengan gembira di dapur, Nonanya sudah siuman.


"Brenda, apakah kita mempunyai gula merah?"


"Ada Nona, sebentar."


"Sekalian bawakan cabai, terasi, garam dan alat tumbuk." Nyssa menunggu Brenda sembari duduk di kursi meja makan.


Brenda membawa semua pesanan Nyssa, kemudian membantunya menumbuk semua bahan sesuai instruksi Nyssa. Brenda tahu jika ini adalah bumbu rujak, tetapi cara membuatnya sedikit berbeda.


Nyssa melihat Brenda asing dengan cara membuat sambal rujaknya, sehingga Nyssa beralasan jika ia tidak suka bumbu dengan gula merah yang dimasak terlebih dahulu.


"Brenda, apakah ada jambu kristal?"


"Sepertinya tidak Nona, hanya ada apel, anggur, pir, timun, semangka dan jeruk." Nyssa kecewa mendengar jawaban Brenda. Brenda segera melanjutkan kata-katanya.


"Di tempat bu Leni pasti ada Nona, karena beliau menyukai buah." Nyssa segera menghubungi Leni dengan telepon rumah.


Leni pun segera datang membawa sekantong jambu kristal. Leni mengatakan jika keluarganya mempunyai kebun buah, jika Nyssa menginginkan sesuatu bisa langsung memberitahunya.


Nyssa senang sekali mendengar hal tersebut, ia ingin mengunjungi kebun keluarga Leni. Mereka pun menikmati rujak bersama. Untuk jambu kristal, Nyssa meminta Brenda untuk mencucinya dan memasukkannya kedalam kulkas terlebih dahulu.


Leni dan Brenda merasa bumbu rujak yang dibuat Nyssa memang lebih segar. Brenda menjelaskan resep dan cara membuatnya kepada Leni yang ditanggapi semangat Leni untuk menggunakan resep Nyssa lain kali. Mereka menghabiskan buah yang sudah dikupas, saat Brenda akan pergi mengupas lagi Nyssa menghentikannya. Sudah cukup untuk hari ini, sehingga sisa bumbu rujak dibawa pulang oleh Leni. Sebelum pulang, Leni berpesan untuk turun kebawah makan malam bersama. Nyssa menyanggupinya dan akan membawa serta suaminya juga Brenda.


Nyssa bersantai di balkon sambil menunggu waktu maghrib, ditemani Brenda. Brenda sedang mencatat beberapa makanan yang tidak bisa Nyssa konsumsi seperti jamur kuping, dan seafood yang tidak segar.


Nyssa juga memberi tahu jika babi dan turunannya dilarang berada di rumah ini. Begitu juga dengan alkohol dan makanan yang terbuat dari darah hewan.


Brenda mencatat semuanya, ia tahu jika mereka berbeda keyakinan. Sehingga harus lebih mementingkan Nonanya yang telah berbaik hati mempekerjakannya. Brenda pamit ke dapur untuk mengecek persediaan jika ada yang dimaksud oleh Nyssa. Alhasil, Brenda menemukan beberapa barang yang menurutnya ada turunan dari babi.


Nyssa melihatnya satu persatu. Ternyata ada beberapa yang mengandung turunan babi seperti, ham pada olahan daging asap, lard dalam kandungan minyak, mentega dan sabun, pork pada makanan kaleng. Saat Nyssa membuka stock daging, ternyata ada daging babi yang tersimpan di kulkas. Nyssa meminta Brenda memindahkan semuanya, untuk diantar ke rumah Bambang.


Nyssa tidak mempermasalahkan makanan yang telah dimakannya kemarin, karena Nyssa tidak ada makan daging. Hanya mengambil sayur dan daging kalkun. Sarapan pagi nya pun bubur ayam. Jika secara tidak sengaja termakan bahan turunan dari babi, tidak apa-apa karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Syariat memaafkan jika dikarenakan ketidak tahuan)


Sekarang, Nyssa harus lebih berhati-hati lagi karena dirinya tinggal di kota minoritas muslim.

__ADS_1


Jika di dunianya, maka akan mudah membedakan mana halal dan haram karena sudah ada standar halal yang dikeluarkan oleh MUI.


__ADS_2