
Aeesha tidak bisa tidur, sedari tadi ia hanya mengubah posisi mencari posisi yang nyaman. Hatinya merasa gelisah, seperti ada firasat buruk. Aeesha pernah merasakan ini di kehidupannya dulu, dan perasaan ini bukanlah hal baik. Ia mencoba berdzikir untuk menepis prasangka. Azmy yang merasakan gerakan Aeesha, membuka matanya.
"Kenapa sayang?" Tanya Azmy. Mereka mulai tidur pukul 21.30, Aeesha sudah terlelap tadi. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 23.00.
"Tidak nyaman." Azmy beranjak dari tempat tidur, mengambilkan bantal hamil dan memposisikan nya dibawah Aeesha. Ia pun merebahkan tubuhnya kembali disamping bantal hamil. Aeesha membenahi posisinya, tetapi tetap saja terasa tidak nyaman. Aeesha tidak ingin mengatakan kegelisahannya kepada Azmy. Ia pun bangun, dan duduk di atas gym ball berharap bisa merilekskan tubuhnya. Azmy mengikuti Aeesha, kantuknya hilang seketika melihat istri kecilnya duduk di atas gym ball. "Mengapa setiap gerakannya terlihat sangat seksi? Apa karena sudah lama aku tidak menyentuhnya?" Batin Azmy.
Azmy berdiri di atas lutut menghadap Aeesha sambil memegang kedua tangan Aeesha. Inilah kegiatan barunya sekarang, membantu istri kecilnya melakukan olahraga dengan gym ball. Aeesha mulai membuka kakinya selebar pinggul dan menggerakkan pinggulnya perlahan. Membuat gerakan memutar seperti sedang membuat lingkaran dilantai secara berulang searah jarum jam. Setelah lima hitungan, Aeesha mengubah arah menjadi berlawanan sampai lima hitungan. Aeesha sudah merasakan nyaman di pinggulnya, sekarang ia ingin mengubah posisinya. Azmy membantu menahan gym ball, Aeesha duduk di atas matras dengan punggung atas menghadap bola. Azmy melepaskan gym ball, Aeesha mulai mendorong keatas dan turun perlahan. Setelah sepuluh hitungan Aeesha berhenti dan duduk bersila. Azmy masih setia menemani disampingnya. Aeesha meminta suaminya duduk dihadapannya, Azmy pun menurut. Aeesha menuntun tangan Azmy ke perut, di sana anak mereka sedang bergerak.
"Assalamu'alaikum dua malaikat Daddy.. Kalian ikut berolahraga sama bunda yaa?" Gerakan diperut Nyssa semakin kuat, Azmy menaikkan gaun yang dikenakan Aeesha dan mencium tempat gerakan anak mereka. Gerakan mereka berhenti, Azmy tersenyum. Dua malaikatnya sangat tahu jika yang mencium mereka adalah Azmy. Begitulah cara Azmy menenangkan gerakan anak-anaknya. Karena jika gerakan mereka semakin kuat, Aeesha akan mengaduh dan tidak sengaja terkencing di celana. Anak-anaknya suka sekali mempermainkan ibu mereka.
"Sayang.. Aku belum mendapatkan bagianku Dua minggu ini." Seraya tangannya meraba perut dan naik ke payudara Nyssa yang tidak mengenakan penutup. Aeesha merasakan darahnya berdesir, gairahnya terasa terpacu. *********** di trimester kedua ini semakin besar dan berat, juga semakin sensitif. Tangannya meremas paha Azmy dan menganggukkan kepalanya, yang mana membuat suaminya semakin bergairah. Azmy yang sudah bersabar Dua minggu ini, merasa lega mendapatkan lampu hijau dari Aeesha. Segera ia mengangkat tubuh istri kecilnya ke tempat tidur.
Azmy mulai melepas gaun dan menikmati apa yang menjadi haknya. Aeesha mendesah, setiap sentuhan dan gerakan Azmy membuatnya meremang. Penyatuan pun mereka lakukan. Sayangnya, Azmy harus merasa puas dengan sekali penyatuan. Aeesha mudah lelah sehingga terlelap setelah penyatuan mereka. Azmy nekat membuat beberapa tanda saat istri kecilnya terlelap, karena merasa gemas dengan tubuh Nyssa yang semakin seksi dimatanya.
Aeesha mengerucutkan bibirnya, mengetahui tanda yang ditinggalkan suaminya melalui cermin di kamar madi. Azmy sudah meminta maaf, namun Aeesha mendiamkannya. Jika hanya beberapa tanda mungkin bisa dimaklumi, tapi ini kelewatan apalagi dilakukan saat dirinya dalam keadaan terlelap. Aeesha sudah tahu jika suaminya berhasrat buas, tetapi tetap saja ia kesal. Hari ini ada pemeriksaan kandungan, jika tanda ini terlihat ia akan malu menghadapi dokter Rena.
Mereka sudah sampai di rumah sakit. Setelah nama mereka dipanggil, mereka memasuki ruang periksa dokter Rena. Tetapi saat dokter Rena akan melakukan USG transvaginal seperti biasa, Aeesha menolak mengingat tanda yang ditinggalkan suaminya. Aeesha meminta USG di perut sebagai gantinya. Azmy yang tidak mengerti maksud Aeesha, setuju saja. Selama Aeesha yang mau, ia akan menurutinya. Begitu pemeriksaan selesai dan dokter mengatakan keadaan anak mereka sehat, mereka pun pergi untuk menebus vitamin seperti biasa.
"Sayang,, mengapa tidak mau USG seperti biasa? Hasilnya lebih akurat." Aeesha mencubit pinggang Azmy kuat-kuat membuatnya mengaduh.
__ADS_1
"Ampun sayang, apa salahku?" Aeesha mendiamkan Azmy dan meninggalkannya masuk ke dalam toilet. Azmy terbengong melihat kelakuan istri kecilnya, ia masih belum tahu letak kesalahannya dimana.
Azmy menunggu di kursi yang tidak jauh dari toilet dan menghadap pintu toilet. Aeesha keluar dari toilet bersamaan dengan petugas kebersihan yang mendorong troli. Azmy berdiri menghampiri Aeesha, namun kalah cepat dengan petugas kebersihan yang menghalanginya dengan troli. Dalam hitungan detik, petugas tersebut melayangkan pisau ke arah Aeesha. Aeesha yang terkejut, refleks berjongkok memegangi perutnya, pisau tersebut mengenai bahu kirinya. Azmy berteriak "Sayang!" dan memukul tengkuk petugas kebersihan tersebut dengan kuat. Ia juga berteriak memanggil dokter dan menyerukan kata "ringkus" yang ditujukan kepada penjaga bayangan.
Perawat dan dokter menghampiri Azmy yang menggendong Aeesha, memintanya meletakkan Aeesha di brankar. Segera mereka mendorongnya kesebuah ruangan tindakan. Aeesha sempat membisikkan sesuatu kepada Azmy "Aku tidak apa-apa" sebelum kesadarannya hilang. Azmy merutuki dirinya yang tidak becus. Bagaimana bisa ia kalah cepat dengan petugas kebersihan tersebut.
Azmy menunggu diluar ruangan, seorang penjaga bayangan menghampirinya dan membungkukkan badan.
"Maafkan kami bos. Kami tidak menyadari bahaya yang datang. Laki-laki itu bukan petugas kebersihan, melainkan pembunuh bayaran yang siap mati." Mendengar hal itu, Azmy mengepalkan tinjunya. Pantas saja gerakannya cepat, beruntung refleks Aeesha bagus. Jika telat sedikit saja, nyawa Aeesha dan bayinya akan berada dalam bahaya. Azmy tidak sanggup membayangkannya. Tapi ia juga tidak bisa tenang, istri kecilnya sedang berjuang sekarang.
"Temukan organisasi mereka. Hancurkan jika tetap bungkam!" Azmy sudah tidak bisa bermain halus, ia harus menunjukkan cakarnya agar tidak diremehkan lawan.
Satu jam kemudian, dokter keluar dan mengatakan jika tusukan pisau terlalu dalam. Dokter sudah menjahit lukanya, tetapi akan butuh waktu lama untuk sembuh. Dan untuk sementara pasien tidak bisa menggerakkan lengan kirinya, juga untuk kedepannya lengan kiri pasien akan mengalami penurunan fungsi. Dikarenakan rotator cuff tendon (jaringan yang membungkus lengan bagian atas) putus. Setelah ini, dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan. Apakah ada guncangan saat kejadian tadi yang berimbas ke kandungan pasien. Azmy menganggukkan kepalanya, dokter Rena datang dan langsung masuk kedalam. Beberapa saat kemudian keluar dengan lega. Kandungan Nyssa baik-baik saja, hanya saja Nyssa belum sadar.
Setelah Aeesha dipindahkan ke kamar rawat inap, Azmy duduk disamping brankar, melihat istri kecilnya terbaring pucat. Ia merasakan nyeri dihatinya saat mendengar penjelasan dokter. Meskipun istri kecilnya masih bisa selamat akibat insiden penusukan, Aeesha akan kesulitan menggunakan lengan kirinya kelak. Ia akan mencari ahli saraf terbaik untuk mengobati istri kecilnya.
"Leon, carikan dokter saraf terbaik! Dan selesaikan urusan polisi!" Azmy menutup sambungan telepon tanpa mendengar respon Leon diujung sana. Fokusnya kembali kepada istri kecilnya yang mulai membuka mata.
"Mengapa kamu selalu menerima luka sayang?" Gumam Azmy sambil menggenggam erat tangan Nyssa. "Ya Allah, berikanlah kesembuhan bagi istri hamba." Doa Azmy dalam hati.
__ADS_1
Aeesha tersenyum, Ia mendengar gumaman Azmy. Tidak ada yang bisa disalahkan, semuanya sudah terjadi.
"Apakah anak kita baik-baik saja?" Tanya Aeesha. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di bahu kiri saat ingin menggerakkannya.
"Mereka baik-baik saja sayang, berkat respon mu yang luar biasa." Azmy membelai wajah Nyssa.
"Aku pernah belajar untuk melindungi diri, jangan terlalu khawatir suamiku, Aku baik-baik saja." Aeesha melihat ada jejak air mata di ujung mata Azmy. Ia pun mengulurkan tangannya untuk memegang pipi suaminya. Azmy memejamkan matanya. Istri kecilnya begitu tegar menghadapi kejadian yang menimpanya, Ia harus lebih tegar. Ia sudah memutuskan untuk memperlihatkan cakarnya, keadaan akan sangat kacau kedepannya.
"Sayang,, jangan menyalahkan dirimu sendiri! Berdamai Lah, Allah ada bersama kita." Aeesha menghibur Azmy.
"Maafkan Aku sayang." Azmy menggenggam tangan Nyssa yang ada di wajahnya.
"Kita sudah tahu dari awal jika keadaan akan berbahaya. Allah masih ada untuk melindungi kita, jangan lupakan itu suamiku." Aeesha mencoba menguatkan Azmy. Ia tahu dibalik sikap dingin dan acuh suaminya, ada hati yang hangat di sana dan akan terluka karena kejadian yang menimpanya. Dengan harga diri yang tinggi, suaminya pasti akan menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini.
"Sayang.. Apakah Allah akan mengampuni aku, jika aku membunuh orang?" Aeesha terkejut dengan ucapan Azmy. Ia tidak menyangka jika Azmy akan sampai ke titik ini.
"Suamiku.. Jika bisa diselesaikan lewat jalur hukum, maka pakailah cara itu. Jangan mengotori tanganmu dengan membunuh, apa bedanya kamu dengan mereka? Apalagi membunuh adalah hal yang dimurkai Allah." Azmy merasa tenang, Aeesha selalu bisa membuat pikiran dan hatinya jauh dari kabut.
"Baiklah sayang, ingatkan aku selalu." Azmy mencium kening Nyssa. Tak lama, Aeesha mengantuk dan menutup matanya. Ada kelelahan luar biasa di tubuh dan hatinya. Ia berusaha menguatkan Azmy, tetapi dalam hati Ia juga takut dengan kejadian yang menimpanya. Tetapi Allah masih melindungi dirinya dan bayi mereka. Allah Maha Pemberi Perlindungan.
__ADS_1