
"Sayang.. Sebenarnya...." Kata-kata Azmy terpotong oleh suara ketukan pintu. Aeesha tersenyum dan meninggalkan Azmy untuk membuka pintu.
Terlihat kepala pelayan dengan raut muka gugup. Aeesha menanyakan mengapa, kepala pelayan menjawab jika kedua malaikat kembar sedang rewel. Mami Sita dan Rara sedang kewalahan di kediaman. Tanpa aba-aba, Aeesha segera berlari menuju kediaman masih dengan mukenanya. Azmy yang melihat Aeesha berlari dengan diikuti kepala pelayan, segera naik ke kursi roda dan mengikuti.
Sesampainya di kamar malaikat kembar di kediaman Azmy, Aeesha melihat Mami Sita dan Rara yang masing-masing menggendong satu bayi yang sedang menangis. Aeesha segera mengambil alih Zayden kecil yang ada di gendongan Rara, seketika tangisannya pun berhenti menyisakan senggukan halus.
Melihat Zayden kecil tenang dalam dekapan Nyssa, Mami Sita pun meminta Nyssa untuk duduk bersandar ditempat tidur. Kemudian Mami Sita menyerahkan Zayn di tangan kiri Nyssa. Keduanya kini sudah tenang, mereka mulai mengusapkan kepala mereka ditubuh Nyssa. Aeesha tahu, kedua malaikatnya merindukannya dan setelah menangis mereka lapar.
Aeesha meminta tolong kepada Mami Sita untuk membukakan resleting gamisnya. Setelah terbuka, Mami Sita juga membuka kaitan bra menyusui Nyssa agar malaikat kembar dapat menyusu secara bersamaan.
20 menit menyusu, Zayn kecil yang kenyang terlebih dulu dibantu Mami Sita untuk sendawa. Sedangkan Zayden kecil masih menyusu. Selang 5 menit, barulah Zayden melepaskan ASI dan sendawa ketika baru saja hendak dibawa ke pundak Nysaa. Mami Sita dan Rara tertawa melihat kelakuan Zayden kecil yang minum ASI sampai kekenyangan.
Kini malaikat kembarnya sudah terlelap di dalam box. Mereka merindukannya yang tidak bertemu sedari siang. Aeesha mengucapkan Terima kasih kepada Mami Sita dan Rara. Ia pun meminta mereka untuk beristirahat, sekarang gantian ia yang akan menjaga malaikat kembar.
Setelah Mami Sita dan Rara meninggalkan kamar, pintu kamar terbuka kembali memperlihatkan Azmy yang dibantu berjalan oleh kepala pelayan. Azmy didudukkan ditempat tidur, Aeesha mengucapkan terimakasih kepada kepala pelayan yang dijawab dengan anggukan dan meninggalkan mereka berdua. Aeesha memasangkan bantal sebagai ganjal Azmy bersandar. Saat Aeesha hendak beranjak, Azmy mencegahnya dengan menarik Aeesha kedalam pelukannya.
"Sayang, mau kemana lagi. Kamu sudah meninggalkanku tadi." keluh Azmy ditelinga Nyssa.
"Maaf, Anak-anak mungkin merindukanku makanya mereka rewel mencari ku." jawab Aeesha yang berusaha melepaskan pelukan Azmy.
"Biarkan seperti ini sebentar sayang. Aku pun merindukanmu juga." Aeesha juga merindukan suaminya, namun hanya ia katakan didalam hati.
__ADS_1
Azmy melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian. Matanya menelisik wajah istri kecilnya, ada jejak lelah, sedih di sana. Tetapi tatapannya tetap teduh seperti biasa. Azmy ingat atas sikap kasarnya kepada Aeesha sewaktu hilang ingatan, bahkan kata-kata Azmy terlalu pedas sampai istri kecilnya menghindarinya.
"Sayang.. Maafkan ucapanku yang telah menyakitimu. Maafkan sikap dinginku, maafkan juga ketidakpedulian ku seminggu kemarin." Azmy mengecup kedua tangan istri kecilnya. Aeesha tersenyum, mengingat sikap suaminya yang menyebalkan kemarin membuatnya ingin mengerjai Azmy.
"Iya, Kata-kata nya pedas banget. Lebih pedas dari cabe sekilo." Azmy terkejut dengan jawaban Aeesha, ternyata benar ia telah menyakiti istri kecilnya. Perasaan bersalahnya semakin besar jadinya.
"Aku benar-benar tidak tahu saat itu sayang. Maafkan aku. Kamu tahu sendiri bagaimana Mami dan Papi, jadi aku mengira mereka merencanakan semuanya untuk menjebak ku. Dan karena nama di ponsel Aeesha, aku jadi tidak mempercayaimu sebagai istriku." Aeesha hanya mendengarkan perkataan Azmy tanpa ada maksud menyela. Azmy terus melanjutkan kata-kata nya.
"Sebenarnya hatiku sempat ragu dengan perlakuanku kepada mu sayang, tetapi ego tinggi ku mencegahku untuk mengakuinya. Dan hasratku pun sebenarnya menginginkanmu sayang. Tetapi nalarku masih membuatku waras. Sayang, apakah saat itu kamu mau berhubungan denganku yang hilang ingatan?" tanya Azmy memastikan.
"Tentu, karena sebagai seorang istri wajib memenuhi kebutuhan suaminya baik dalam keadaan sakit, sehat, susah dan senang." jawaban Aeesha terasa menusuk di hati Azmy. Segitu patuhnya Aeesha sebagai istrinya, untung saja saat itu nalarnya masih bekerja. Jika tidak mungkin ia akan menyesalinya sekarang.
"Baiklah, tidak apa. Yang penting sekarang suami sudah ingat."
"Kau mau memaafkan aku tidak sayang?" tanya Azmy dengan wajah tegang. Ia siap menerima konsekuensi dari perbuatannya.
"Ya, maafkan juga istrimu ini yang tidak bisa merawat saat suaminya di rumah sakit."
"Aku bisa memaklumi nya sayang. Kalau aku tidak koma, aku juga akan menyuruhmu tetap di rumah saja bersama anak-anak kita." Kini Aeesha yang lebih dulu memeluk suaminya, ia sangat bersyukur atas pengertian Azmy.
"Sayang,, aku juga masuk dalam alam bawah sadar saat koma." Aeesha seketika melepaskan pelukannya dan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Aku bertemu Nyssa di sana. Dan Nyssa mengatakan jika ia menggantikan mu menjaga keluargamu di dunia mu sana. Anak pertamamu mendapat juara satu lagi, anak kedua mu sudah mulai bisa memakai baju sendiri dan makan sendiri. Suami pun sudah tahu kebenaran jika tubuh istrinya ditempati Nysaa." Azmy menjeda ceritanya, melihat reaksi Aeesha. Ternyata istri kecilnya sudah menumpahkan air matanya.
"Kamu merindukan mereka sayang?" Aeesha hanya menganggukkan kepalanya.
"Nyssa mengatakan jika ia akan mengikuti pola ajar dan kebiasaanmu. Ia hidup dengan ingatanmu sayang, karena ia tidak tahu apa-apa tentang duniamu yang mengedepankan sopan santun. Setelah Nyssa mengatakan yang sebenarnya, suami mu menitipkan pesan." Aeesha berusaha menghapus air matanya. Azmy pun mengusap jejak air mata istri kecilnya.
"Suamimu berpesan "Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kamu jalani." begitulah yang Nyssa sampaikan." Aeesha tidak dapat lagi membendung air matanya. Kini tangisannya bertambah sesenggukan, ada rasa sedih, rindu, sakit, kecewa, bercampur.
Kata-kata itu adalah kata-kata yang pertama kali di ucapkan Fatih saat mereka sudah sah sebagai suami istri. Kata-kata itu pula yang menjadi lebih penguat di kehidupan rumah tangga yang tidak direstui ibunya. Nyssa benar-benar menggantikannya di sana, sama seperti dirinya disini.
"Ya Allah, jika memang semua yang terjadi adalah ketetapan-Mu maka aku ikhlas dan ridho. Karena engkau telah menukar kehidupan kami, engkau pula yang memberkahi kehidupan kami dengan rencana-Mu yang lebih baik." batin Aeesha yang masih menangis di pelukan Azmy.
Awalnya Azmy tidak mengerti maksud perkataan Nyssa, tetapi sekarang ia mengerti. Bagi Nyssa yang tidak memiliki kesan pada dunia ini, mungkin kenangannya disini tidak berarti. Tetapi untuk Aeesha berbeda, istri kecilnya sangat merindukan keluarganya dan kehidupannya di sana. Meskipun Aeesha sudah menerima ketetapan Allah, tetap saja hatinya masih terisi ingatan kehidupannya. Azmy membiarkan Aeesha menangis untuk melupakan kesedihan dan kerinduannya. Setelah menangis, istri kecilnya pasti akan kembali tenang.
Aeesha sudah meluapkan tangisnya, berangsur-angsur tangisnya pun reda menyisakan isakan. Ia pun melepaskan pelukan Azmy dan mulai menguasai dirinya kembali. Jika keluarganya di sana sudah ada Nyssa yang menggantikan tanggungjawabnya. Disini ia juga mempunyai tanggung jawab yang perlu ia emban. Ada Azmy suaminya, kedua malaikat kembar Zayn dan Zayden, ada pula kedua mertuanya dan orang tua Nyssa. Aeesha memantapkan hatinya lagi agar tidak goyah.
Azmy yang melihat istri kecilnya menstabilkan nafas, hanya diam memperhatikan.
"Alhamdulilah jika Nyssa bisa menjaga keluargaku di sana. Aku juga akan menjaga yang ada disini. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semua sudah ada dalam rencana Allah. InsyaAllah jika kita menjalaninya dengan ikhlas Allah akan melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya." kata Aeesha.
"Benar sayang, kamu adalah kamu. Mau itu raga Nyssa atau jiwa Aeesha. Kamu tetaplah istri kecilku." Azmy mengecup kening istri kecilnya, kedewasaan Aeesha menerima semua ketetapan Allah selalu membuatnya kagum.
__ADS_1