
Mami Sita mengabarkan, jika pesawat mereka delayed setengah jam, Nyssa dan Azmy menunggu di sebuah caffe yang ada di bandara. Azmy memesan beberapa dessert dan minuman untuk Nyssa, ia juga memesan kopi untuk dirinya sendiri. Setelah urusan di perusahaan selesai, mereka bergegas ke bandara. Mereka sengaja tidak makan siang terlebih dahulu, karena Nyssa ingin makan siang bersama menunggu Mami Sita dan Papi Agam.
Nyssa menunggu sendirian di dekat sekat kaca kafe, sedangkan Azmy pergi ke toilet. Dari jauh, Nyssa melihat kedua mertuanya berjalan menuju cafe. Nyssa berdiri ingin menyambut, namun takut suaminya akan mencarinya. Jadi, ia menunggu kedua mertuanya menghampirinya.
"Sayang,, Mami rindu sekali sama kamu.." Mami Sita langsung memeluk Nyssa, dilanjutkan cium pipi kanan dan kiri. Nyssa juga mengutarakan kerinduannya kepada Mami Sita, seraya mencium punggung tangan kedua mertuanya tersebut.
"Kamu kenapa disini sendirian sayang? Azmy kemana?" tanya Papi Agam yang tak melihat keberadaan Azmy.
"Ke toilet Pi." jawab Nyssa yang kini bergelayut di lengan Mami Sita.
"Mari kita pulang sayang, biarkan saja suami kamu disini. Siapa suruh dia meninggalkan kamu sendirian disini." Ajak Mami Sita yang bersiap menarik Nyssa.
"Tapi Mi, kak Azmy nanti mencari Nyssa."
"Tenang saja sayang, suami kamu itu pasti tahu kamu pergi kemana. Bawa kesini tasnya sayang, biar Papi yang bawa." perintah Mami Sita yang kemudian mengambil alih tas Nyssa dan diberikan kepada Papi Agam. Nyssa pasrah mengikuti kedua mertuanya pulang. Mungkin benar kata Mami Sita, Azmy pasti tahu jika ia pulang bersama Mami Sita dan Papi Agam. Mereka pun pulang dengan mobil yang dikendarai oleh Rian, asisten Papi Agam.
Azmy sudah keluar dari toilet sejak tadi, hanya saja ia menerima telepon dari Leon yang telah menyelesaikan penyelidikannya. Leon melaporkan, jika Alexsa saat ini tengah hamil. Satu bulan yang lalu, Alexsa menghadiri pesta ulang tahun temannya, Luna di sebuah bar. Disanalah Alexsa mabuk, seseorang membawanya ke hotel yaitu kakak dari teman Alexsa, Edward. Akan tetapi, sepertinya Alexsa tidak tahu jika yang menghamili nya adalah Edward.
Edward terkenal sebagai cassanova, jadi setelah menghabiskan malam dengan Alexsa. Laki-laki tersebut berlaku biasa saja seperti tidak pernah ada kejadian apapun. Membuat Alexsa tidak mencurigainya, apalagi karena malu Alexsa tidak mencari tahu tentang kejadian di hotel. Tapi tidak disangka, kejadian tersebut membuatnya hamil sehingga ia kembali ke rumah. Hal inilah yang memicu serangan jantung Abraham. Anak tiri yang ia sayang sepenuh hati, mengkhianati kepercayaannya.
"Pantas saja, tidak ada kesedihan di mata mereka saat berada di rumah sakit." kata Azmy yang mengingat betul tatapan kebencian Alexsa terhadap Nyssa.
"Tuan Muda, perusahaan Pak Abraham sedang kesulitan. Rico, asisten pribadi Pak Abraham tidak bisa mengatasi dewan direksi yang meragukan kesembuhan Pak Abraham. Karena sampai saat ini, beliau belum juga sadar." Leon menyampaikan dengan ragu-ragu.
Azmy berpikir sebentar, jika itu perusahaan Ayah Nyssa maka kelak perusahaan tersebut akan menjadi milik Nyssa. Ia tidak bisa membiarkan perusahaan itu jatuh.
"Bantu Rico, jika perlu pakai namaku." perintah Azmy.
"Baik Tuan Muda. "
__ADS_1
Azmy mematikan sambungan teleponnya, kemudian kembali ke meja dimana ia meninggalkan Nyssa. Namun Azmy tidak menemukan Nyssa, menu yang di pesannya pun masih utuh tidak tersentuh. Kemana Nyssa? Apakah Nyssa pergi ke toilet? Tidak mungkin, sedari tadi ia berada disekitar toilet tidak melihat kehadiran Nyssa. Azmy membuka aplikasi pesan di ponselnya, jika saja Nyssa mengirim pesan tetapi tidak ada pesan dari Nyssa. Saat nomor Nyssa dihubungi, tidak dapat tersambung. Ia mencoba menghubungi nomor Mami dan Papinya, yang juga tidak terhubung. Mungkin mereka masih di dalam pesawat.
Azmy menanyakan kepada pelayan, tetapi tidak ada yang tahu kemana istrinya. Azmy melihat ke sekeliling kafe, terlihat ada CCTV terpasang di beberapa sudut kafe. Segera ia meminta bertemu dengan manajer kafe untuk izin melihat rekaman CCTV. Sayangnya, nasib sedang tidak berpihak padanya. Manajer kafe sedang tidak berada ditempat. Salah satu karyawan kafe mencoba menghubungi, namun tidak dapat tersambung. Kesabarannya sudah berada di ubun-ubun, jika saja yang berhadapan dengannya saat ini adalah pegawai perusahaannya mungkin sudah ia pecat.
"Cari tahu siapa pemilik kafe Latte di bandara, segera hubungi dan suruh datang kemari segera." perintah Azmy kepada Leon tanpa menunggu jawaban dari asistennya tersebut. Leon hanya bisa menghela nafas, ia sudah hafal jika sekarang atasannya sedang dalam mode marah.
"Sayang, kamu dimana." Batin Azmy yang masih berusaha menghubungi nomor Nyssa.
Sedangkan Nyssa sudah sampai di mansion bersama Mami Sita dan Papi Agam. Semua ini direncanakan oleh Mami Sita yang kesal karena Azmy mengizinkan Alexsa tinggal di mansion. Memang ada benarnya tindakan Azmy yang mendekatkan musuh agar dapat mengetahui akal busuknya. Tapi dengan memasukkan Alexsa kedalam rumah, sama saja ia mendukung pelakor mendekatinya.
Sama seperti Azmy, Mami Sita sudah mengetahui tentang Alexsa dari Rian, yang ditugaskan Papi Agam untuk menggali informasi. Papi Agam setuju saja dengan rencana istrinya, karena anaknya memang perlu pelajaran.
"Tuan Muda, ini Tuan Farish pemilik kafe." Leon datang bersama pemilik kafe.
"Tidak ada waktu lagi, segera cek CCTV setengah jam yang lalu." Azmy sudah tidak sabar.
Leon yang belum tahu duduk permasalahannya pun hanya bisa menurut. Melihat raut muka atasannya saja sudah membuatnya merinding. Sedangkan Farish yang mengikuti Leon karena diberitahu ada urusan genting, heran melihat interaksi keduanya. Namun demi kenyamanan pelanggan, Farish tetap memperlihatkan rekaman CCTV kepada Azmy.
"Berhenti!" perintah Azmy, yang kemudian memperhatikan rekaman yang berjalan.
"Mami menculik Nyssa!" Geram Azmy.
Sedangkan Leon, melongo dengan respon atasannya tersebut. "Mana ada mertua menculik menantunya?" batin Leon. Tapi melihat ekspresi Azmy, Leon mencium bau konspirasi disini.
Azmy meninggalkan Leon dan Farish yang masih belum bisa mencerna tindakannya. Leon hanya mendapatkan perintah untuk mengurus ganti rugi waktu pemilik kafe, sedangkan pemilik kafe merasa dipermainkan. Mereka berdua baru paham setelah mendengar penuturan salah satu karyawan, mengenai Azmy yang kehilangan istrinya satu kembali dari toilet.
Leon jadi berfikir, waktunya sama saat ia melaporkan informasi Alexsa. Mami bosnya memang cerdik, Diam-diam Leon mendukung Mami Sita. Setelah meminta maaf dan memberikan kompensasi atas ketidaknyamanannya, Leon kembali ke perusahaan. Masih banyak pekerjaan yang menunggunya di sana.
Mobil Azmy memasuki gerbang mansion, Mami yang mendapatkan kabar dari security pun berdecak. "Memang patut seorang pemimpin. Hanya butuh waktu setengah jam dia sudah mengetahui keberadaan istrinya. Tidak seru!"
__ADS_1
"Anak Papi itu Mi." kata Papi Agam menyombongkan diri.
"Biarkan saja dia mencari Nyssa sendiri, kita tidur Pi. Mami capek." Papi Agam hanya menggeleng melihat istrinya yang sudah menarik selimut. Namun tetap mengikutinya, tidur disebelah istrinya tercinta.
"Mana Mami?" tanya Azmy pada kepala pelayan yang menyambutnya.
"Tuan dan Nyonya sedang beristirahat." jawab Pablo.
"Dimana istriku?"
"Saya belum ada melihat Nona Muda, bukankah tadi pagi pergi bersama Tuan Muda?" Pablo sudah dipesan Mami Sita untuk tutup mulut. Jadi dia membalikkan pertanyaan agar Azmy tidak curiga.
Mendengar jawaban Pablo, Azmy semakin gusar. Dimana Mami menyembunyikan Nyssa? Ia pun berlari menuju kediamannya, bertanya kepada pelayan. Jawaban yang diberikan sama dengan kepala pelayan. Azmy mencari Nyssa dikamar mereka, tapi kosong. Ia kembali lagi ke mansion utama, mencari Nyssa di kamar yang biasa mereka gunakan di mansion utama. Tidak ada Nyssa di sana, akhirnya Azmy menggedor pintu kamar orang tuanya.
"Mami tidur, kamu mau apa?" Papi Agam yang membukakan pintu.
"Mana istriku Pi, kenapa Mami culik Nyssa?"
"Culik apanya? Mana ada mertua menculik menantu? Jangan su'udzon."
"Nyatanya, Mami yang bawa Nyssa dari kafe."
"Duduk!" perintah Papi Agam. Azmy menurut, ia duduk di sofa kamar orang tuanya.
"Sekarang jelaskan pada Papi, mengapa kamu mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengan kami. Mengijinkan Alexsa masuk mansion bukan perkara mudah. Apa kamu sudah bertanya pada Nyssa?" Azmy seakan mendapat beban berat dihatinya.
Ia belum memberitahu istrinya tentang Alexsa yang akan tinggal sementara di mansion. Azmy hanya fokus dengan niat jahat mereka, hingga melupakan perasaan Nyssa. Apakah keputusannya menyakiti Nyssa?
"Renungkan Lah nak, baru temui istrimu. Nyssa ada di paviliun." kata Papi Agam yang juga menyerahkan tas Nyssa.
__ADS_1
Azmy menerima tas tersebut, ia berjalan gontai keluar kamar Papi Agam dan menuju paviliun.