Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
6. Kabar Gembira


__ADS_3

Dokter sudah selesai memeriksa dan meninggalkan ruangan dengan kabar gembira.


Azmy sudah melewati masa komanya dan tak ada masalah pada kesehatannya, luka bekas operasinya juga sudah bisa lepas perban. Namun tetap harus dipantau 1x24 jam, jika semua normal maka pasien monitor dapat dilepaskan. Hanya saja ototnya kaku karena lama terbaring dan suaranya belum pulih, beberapa hari ke depan akan membaik dengan terapy. Dokter pun meninggalkan ruangan setelah menuliskan resep obat yang kemudian diberikan kepada perawat yang mendampinginya. OB pun datang untuk membersihkan pecahan kaca.


Tinggal mereka berdua didalam ruangan sekarang ini. Nyssa merasa jika Azmy sedang memperhatikannya, ia pun penasaran, apakah ada yang salah dengan penampilannya? Nyssa melihat dirinya sendiri, ternyata alasan Azmy memperhatikannya adalah karena ia masih mengenakan mukena. Reflek ia menepuk dahinya, segera ia mengambil hijabnya di sofa dan melangkah ke kamar mandi de mengenakan hijab.


Azmy yang memperhatikan Nyssa sedari tadi merasa lucu. "Akhirnya dia sadar juga dengan penampilannya. " Batin Azmy.


Setelah menyimpan mukena ke dalam lemari kecil. Nyssa mengambil ponselnya untuk menghubungi Mami Sita dia kali, namun tidak diangkat.


"Kak,, Mami Sita tidak angkat telpon Nyssa, apa karena mungkin masih terlalu pagi? Kita tunggu Kak Rara sebentar lagi, biar dia yang hubungin Mami. Kakak, ada yang bisa Nyssa bantu?"


Azmy hanya menjawabnya dengan isyarat jempol yang mengarah mulut. Nyssa yang paham maksudnya segera membuka botol mineral dan memasukkan sedotan untuk memudahkan Azmy minum. Setelah Azmy selesai minum, Nyssa meletakkan botol mineral kembali dan membenahi selimut Azmy yang sedikit tersingkap.


Baru kali ini Azmy mendapat perlakuan lembut dari perempuan selain Mami Sita. Ia berpura-pura memejamkan matanya agar suasana tidak canggung. Nyssa yang melihat Azmy memejamkan mata, menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


Suara pintu diketuk dari luar, ada perawat yang mengantarkan sarapan untuk pasien. Nyssa menerima nampan makanan dari perawat dan meletakkannya di meja. Lalu ia menanyakan, apakah Azmy mau makan sekarang, karena Azmy sudah membuka mata dan melihat kearahnya. Azmy menjawab dengan anggukan. Nyssa mendekatkan over bed tablet kearah Azmy, sebelum itu ia sudah menaikkan bed bagian kepala agar Azmy dapat bersandar.


Menu sarapan yang disediakan berupa bubur gurih dengan campuran sayur cincang, serta tambahan irisan daun bawang diatasnya. Adapun lauknya ayam cincang dimasak dengan kecap, telur rebus, buah pisang dan pancake dengan siraman madu.


Nyssa mempersilahkan Azmy untuk makan, namun respon yang diberikan hanya alis yang mengernyit. Nyssa sempat tidak mengerti maksudnya, setelah berfikir sebentar barulah ia paham maksud Azmy. Ia mulai memasangkan tisu dileher Azmy kemudian mulai menyuapkan bubur setelah mengecek suhu bubur yang hangat, tak lupa berdoa untuk Azmy.


Azmy hanya menurut membuka mulutnya menerima suapan Nyssa. Azmy memperhatikan wajah Nyssa yang tersenyum, merasakan debaran jantungnya semakin cepat. "Apa perempuan ini sedang menggoda ku? " tanyanya dalam hati.


Sedangkan Nyssa yang tersenyum sedang membayangkan hari-harinya saat menyuapi anaknya. Ia sangat menikmati menyuapi Azmy, serasa ia sedang berada didekat anaknya. Jika Azmy mengetahui pemikiran Nyssa, bisa-bisa ia memuntahkan makanannya.


Pintu ruangan terbuka memperlihatkan Rara yang datang membawa paper bag. Rara terkejut melihat Azmy yang sudah siuman, kemudian membungkukkan badannya yang ditanggapi anggukan Azmy.


Nyssa menerima paper bag dari Rara yang berisi sarapan untuknya. Kemudian menjelaskan keadaan Azmy dan memintanya untuk secara menghubungi Mami Sita dan Papi Agam. Rara mengangguk segera keluar ruangan untuk menghubungi majikannya. Tapi dihentikan dengan suara parau Azmy yang memanggil nama Leon. Rara yang mengerti maksud Azmy, segera menghubungi Leon untuk segera datang ke rumah sakit.


"Kak, Nyssa makan dulu yaa. " pamit Nyssa yang ditanggapi anggukan Azmy.

__ADS_1


Nyssa menikmati sarapannya, Rara membelikannya bubur ayam dan dimsum. Tak lupa susu kedelai yang masih hangat, meski Rara enggan tapi ia memang profesional dalam tugasnya. Nyatanya dari kemarin makanan Nyssa selalu terjamin dan rasanya pun sesuai dengan lidah Nyssa.


Lagipula Nyssa bukan pemilih makanan, jadi apapun yang disediakan Rara dengan senang hati ia menghabiskannya. Hanya irisan bawang, daun seledri dan sayuran mentah saja yang ia sisihkan.


Azmy yang memperhatikan Nyssa merasa bahwa perempuan yang ada dihadapannya adalah perempuan yang dewasa dan sopan. Ia menyempatkan pamit hanya untuk makan, padahal jika ia ingin makan ya makan saja. Timbul rasa ingin mengenal lebih jauh sosok Nyssa, tapi karena harga dirinya yang tinggi ia pun menepisnya. Biarkan saja waktu yang menjawab, atau biarkan Leon yang menjelaskannya.


Rara masuk ke dalam ruangan, dan memberitahukan jika Mami Sita dan Papi Agam baru bisa kembali minggu depan. Sehingga menyerahkan perawatan Azmy kepada Nyssa dan akan dibantu Rara. Ada juga asisten pribadi Azmy, yang juga akan membantu. Dalam hati Nyssa "Apa mereka tidak terlampau percaya, menyerahkan anaknya kepadaku?"


Leon, asisten pribadi Azmy, menangani kebutuhan juga perawatan Azmy. Karena setelah sadar dari koma, Azmy tidak mau disentuh perawat laki-laki yang biasa merawatnya. Leon juga bolak-balik dari rumah sakit ke perusahaan untuk memberikan laporan singkat tentang situasi di perusahaan kepada Azmy. Sekarang ini ia sudah bisa berkomunikasi dan bisa menangani beberapa berkas perusahaan.


Selama Azmy koma, Leon juga lah yang menggantikannya mengurus urusan perusahaan. Jika ada keputusan yang harus diselesaikan pimpinan, maka Papi Agam akan turun tangan. Seperti perjalanan dinas Papi Agam dan Mami Sita kali ini, dikarenakan ada pelelangan tender yang diikuti perusahaan Azmy.


Semua informasi ini disampaikan oleh Rara, karena Rara merasa Nyssa perlu tahu garis besarnya agar dapat menyesuaikan diri dengan kesibukan Tuan Mudanya.


Bagi jiwa Nyssa yang telah mengalami pasang surut kehidupan hal ini bukanlah masalah. mungkin jika pemilik tubuh yang berasa di kondisi sekarang, akan merasa terbebani. Hanya saja, Nyssa masih perlu menyesuaikan gaya hidup. Gaya hidup pebisnis yang kaya, berbanding jauh dengan Nyssa yang sebelumnya hidup berkecukupan, namun tetap hidup sederhana bersama suaminya dan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2