
Malam ini rasanya sangat melelahkan bagi jiwa Nyssa. Sepulang dari restoran, Nyssa mengunci diri dikamar. Setelah mandi dan melaksanakan kewajibannya, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, tapi pikirannya menerawang jauh.
Perasaan pemilik tubuh yang masih melekat padanya, membuatnya dalam dilema. Di satu sisi, ia ikut bahagia karena pemilik tubuh bahagia. Di sisi lain, Nyssa menjadi ragu. Sebentar lagi pernikahan akan di gelar, bagaimana dengannya? Meski sekarang ia berada di tubuh Nyssa, jiwanya adalah seorang istri. Apakah nantinya yang seharusnya ladang pahala, menjadi ladang dosa baginya?
"Ya Allah, atas izin dan karunia-Mu aku ada disini. Segala pahala dan dosa ku, engkaulah Maha Pengampun. Tiada daya dan upaya kecuali Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."
Doa yang selalu dipanjatkan Nyssa selama ia berada di tubuh Nyssa. Ingin ia bertemu ulama demi mencari jawaban dari keadaannya sekarang. Tapi ia urungkan, karena ia mengingat pesan suaminya. "Semua masalah yang kita hadapi, hendaknya jangan mencari solusi dari luar. Mau seperti apa, tetap saja sesama manusia tiada yang sempurna. Ingatlah, Allah selalu bersama hambanya yang taqwa. Qadarullah.."
Nyssa merindukan suami juga anak-anaknya. Disaat seperti ini, suaminya akan memeluknya, menenangkannya. Jika melihat ibu dan ayahnya seperti itu, anak-anaknya akan merajuk meminta perhatiannya, sehingga ia melupakan perasaan sedih karena berganti dengan kebahagiaan. Terlalu larut dalam kerinduannya, Nyssa pun terlelap."
Sedangkan Azmy, ia sedang merutuki dirinya di dalam kamar. Ia merasa bersalah kepada Nyssa, perempuan yang beberapa hari ini akrab berada disekitarnya, yang akan menjadi istrinya.
Hari ini, Azmy menugaskan Leon untuk mengatur Surprise dinner dalam rangka merayakan ulang tahun Nyssa. Ia sudah percaya diri jika Nyssa akan tersentuh dengan rencana, namun yang terjadi justru kebalikannya. Ia yang terpukau dengan penampilan Nyssa, sampai apa yang ia pikirkan terucap di !bibirnya. "Cantik" Untung saja dia pandai menutupi ekspresinya, jika tidak ia akan merasa malu didepan Nyssa.
__ADS_1
Saat Nyssa menyambut linked arm yang ia tawarkan, perasaannya berbunga-bunga. Awalnya ia berharap agar tidak bersentuhan secara langsung karena menghormati Nyssa. Akan tetapi, setelah mencium aroma tubuh Nyssa yang berada dekat dengannya, Azmy menjadi menginginkan lebih. Ia merasa nyaman berlama-lama menggandeng Nyssa, meski hanya dengan linked arm.
Melihat Nyssa yang menitikkan air mata, hatinya ikut merasakan kesedihan. Dengan dorongan dari hati ia pun memeluk Nyssa, berharap dapat menenangkan dengan mengusap kepala Nyssa. Justru perlakuannya malah menambah isakan Nyssa, ia bingung harus bagaimana, yang dapat ia lakukan adalah bertahan dengan posisi seperti itu, menunggunya mereda.
Tak lama Nyssa mulai tenang, ia pun melepaskan pelukannya, melihat mata Nyssa yang sembab tak kuasa ia ingin menghapusnya. Dan tanpa aba-aba tangannya mengusap pipi Nyssa yang halus menghapus jejak air mata. Menyadari kelancangannya, ia segera meminta maaf yang ditanggapi dengan dengan gelengan, kemudian Nyssa tersenyum. Ia mengatakan sama-sama karena ia menafsirkan senyuman Nyssa sebagai tanda terimakasih.
Azmy menyiapkan hadiah ulang tahun berupa cincin yang terbuat dari emas putih, dihiasi berlian kecil terbaik. Ia merasa puas melihat keterkejutan Nyssa melihat cincin yang ia siapkan. Seketika ia mengucapakan "Will you marry me? " pikiran dan mulutnya tidak sejalan. Niatnya memberi hadiah, mulutnya melamar, ingin ia menampar mulutnya sendiri. Namun jawaban Nyssa mengobarkan semangatnya, sehingga melupakan kebodohannya.
Karena gerakan mendorong Nyssa, Azmy pun tersadar dengan tindakannya. "Astaga, apa yang kulakukan? Apakah Nyssa marah? " akan tetapi, secara bersamaan ia juga bertekad tidak akan melepaskannya saat mereka sudah halal. Dengan enggan ia melepas pelukannya dan melihat ekspresi Nyssa, takut jika Nyssa marah.
Mami Sita datang menyelamatkannya tepat waktu. Mami Sita memang sudah memantaunya dari awal, karena Mami Sita juga yang memberitahu ulang tahun Nyssa.
Azmy merasa lega saat Mami nya datang, tapi ia tidak menyangka akan mendapat ultimatum. "Jaga hasrat kamu sayang, belum halal." begitu bisik Mami Sita. "Apa aku terlihat seperti itu, atau Mami yang terlalu peka?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Nyssa sudah kembali menjadi dirinya yang tenang setelah kedatangan Mami. Setelah Mami memberikan hadiahnya dan berpamitan, sebenarnya Azmy ingin meminta maaf kepada Nyssa, tapi tidak terucap.
Hingga Nyssa mengatakan ingin pulang, ia mengiyakan keinginan Nyssa dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Nyssa mengurung diri dikamar, kini ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasratnya.
Ia masih larut dengan rasa bersalahnya, bagaimana akan menghadapi Nyssa besok. Sampai ia mendengar suara isakan, segera ia berdiri dari duduknya. Melihat jam dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tak terasa waktu sudah larut.
Dengan seksama ia mendengarkan suara isakan tersebut, ternyata suaranya berasal dari kamar sebelah, kamar Nyssa. Azmy mendorong pintu yang menyerupai rak buku pelan-pelan, takut mengejutkan Nyssa. Kamar mereka sebenarnya tersambung, hanya dipisahkan pintu yang menyerupai rak buku. Selama ini, Azmy tak pernah menggunakannya karena menghormati Nyssa. Untuk kali ini saja, ia merasa penasaran dengan suara isakan.
Dilihatnya Nyssa menangis dalam tidurnya. Segera ia memegang kening Nyssa, memastikan apakah Nyssa demam. Tidak, suhu tubuh Nyssa normal, apakah Nyssa bermimpi buruk? Azmy mengambil sapu tangan di sakunya, menghapus air mata Nyssa. Ia merasakan sesak, melihat Nyssa menangis, ditambah dengan mata tertutup membuat Azmy bingung. Apakah dibangunkan saja, atau bagaimana? Lalu mendudukkan dirinya di dekat kepala Nyssa dan bersandar di sandaran tempat tidur, seraya menggenggam tangan Nyssa, berharap dapat menenangkannya.
Sedangkan Nyssa yang sedang bermimpi, ia melihat suami dan kedua anaknya menghampirinya.
__ADS_1