
Nyssa masih menghindari Azmy, hingga Azmy merasa bingung dengan sikap istri kecilnya.
Selesai berenang, Nyssa meninggalkan Azmy sendirian dan kembali ke kamar. Saat makan siang, Nyssa tidak mau makan bersama, istri kecilnya lebih memilih makan dikamarnya. Meski kamar mereka terhubung, Nyssa tidak memperbolehkan Azmy untuk menyebrang. Azmy awalnya masih memaklumi hormon istri kecilnya, namun ia semakin merasa jauh dengan Nyssa. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanggar larangan Nyssa.
Azmy masuk ke kamar Nyssa, dilihatnya istri kecilnya sedang tidur pulas dengan bantal yang tinggi. Ia mencoba memperbaiki posisi istri kecilnya dengan perlahan, tetapi Nyssa menjadi terbangun.
Respon pertama Nyssa adalah terkejut, mungkin ia tidak menyangka jika Azmy akan masuk ke kamar.
Segera Azmy mengunci kedua tangan Nyssa disamping kepala. Ditatap nya istri kecilnya yang semakin hari semakin menggemaskan. Peningkatan berat badan tidak lantas membuatnya jelek, justru kecantikannya semakin terpancar. Ia mendekatkan wajahnya sampai nafas Nyssa menghembus hangat diwajahnya. Tetapi saat bibir mereka akan bersatu, Nyssa memalingkan wajahnya. Sehingga Azmy hanya dapat mencium pipi istri kecilnya.
Azmy melepaskan Nyssa, kemudian duduk membelakangi Nyssa.
"Sayang.." "Suami.." ucap keduanya secara bersamaan. Yang membuat mereka sekarang duduk berhadapan.
"Silahkan suami dulu."
"Sayang,, mengapa aku merasa kamu menghindariku? Apa yang salah dengan ku? Katakan saja, tapi jangan mendiamkan aku." kata Azmy dengan lesu. Suaminya kurang tidur, Nyssa bisa melihat kantung mata disana.
"Bukan kamu yang salah Azmy, tapi aku."
"Azmy?" tanya Azmy yang heran dengan panggilan Nyssa. Nyssa mengabaikan kebingungan Azmy dan melanjutkan kata-kata nya.
"Azmy, kamu masih ingat pertanyaan yang aku ajukan saat hari hujan?" tanya Nyssa.
Azmy masih ingat pertanyaan tersebut dengan jelas, karena pertanyaan yang diajukan Nyssa sangat aneh baginya. Azmy menganggukkan kepalanya.
"Kamu pasti sudah mencaritahu identitas Nyssa secara detail sebelum menikahinya." Tebakan Nyssa tidak salah, Azmy mengangguk. Azmy merasa berbicara dengan orang lain, bukan istri kecilnya.
"Kamu juga tahu kapan Nyssa mulai mengenakan hijab. Apakah kamu tidak curiga dengan karakter Nyssa yang berbeda dengan informasi yang kamu dapat?
Kamu pasti mengira perubahan Nyssa dikarenakan dirinya seorang mualaf."
Memang Azmy sempat merasakannya, namun ia tepis karena menganggap perubahan Nyssa karena menjadi seorang mualaf. Kata-kata Nyssa yang tepat sasaran membuat Azmy semakin tidak mengerti dengan Nyssa yang ada di hadapannya sekarang ini. Saat Azmy masih bingung dengan pemikirannya, Nyssa meninggalkannya dan berjalan menuju walk in closet dimana ia menyimpan buku catatannya.
Nyssa datang menyerahkan buku catatan tersebut kepada Azmy. Dengan ragu Azmy menerima buku tersebut, perlahan ia membukanya disambut dengan tulisan nama Nyssa dihalaman pertama.
__ADS_1
Dihalaman kedua, Azmy membaca informasi yang tidak masuk akal baginya. Tanggal yang tertera disana, selisih 10 hari dari dirinya yang sadar dari koma. Azmy mulai membuka halaman yang lain dan mencerna informasi dengan seksama.
"Jadi, kamu bukan Nyssa melainkan jiwa lain bernama Nyssa?" tanya Azmy dengan ragu, informasi yang didapatnya benar-benar sulit dipercaya.
"Benar, aku Aeesha Nyssa, nama panggilanku Nyssa. Jiwa ku masuk kedalam tubuh Nyssa, tepat setelah diputuskannya Nyssa sebagai pengantin pengganti."
"Lalu, dimana Nyssa yang asli?"
"Aku juga tidak tahu. Terakhir kali aku merasakan jiwanya saat kamu melamarnya, setelah itu aku tidak tahu."
"Mengapa baru sekarang kamu bercerita?" suara Azmy semakin dingin.
Ini adalah pertama kalinya bagi Nyssa mendengar dan melihat Azmy yang berubah dingin kepadanya. Tetapi Nyssa tidak gentar, ia sudah terbiasa menghadapi banyak karakter di kehidupannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu, ingatan ku baru saja kembali tadi malam. Selama aku menjalani kehidupan Nyssa pemilik tubuh, hanya ingatan pemilik tubuh yang ku ingat. Sehingga aku menjalani rutinitas seperti pemilik tubuh, tapi tetap dengan karakterku. Nyssa seorang gadis yang penurut, pemalu, pendiam, dan haus akan kasih sayang. Meski sama-sama pendiam, aku tidak pernah merasa simpati pada keluarganya yang telah mengabaikannya. Kamu pasti sudah merasakannya, saat Ayah Nyssa masuk rumah sakit."
Yang dikatakan Nyssa benar. Saat dirumah sakit, Nyssa sama sekali tidak menangis ataupun sedih. Justru tenang dan tidak menunjukkan simpati sama sekali, hanya memenuhi kewajiban seorang anak. Azmy mulai ragu dengan penilaiannya.
"Bagaimana bisa jiwa lain masuk kedalam tubuh begitu saja? Kamu tidak menipu ku kan? Jangan bilang ini caramu mengerjai ku!" suara Azmy meninggi.
"Azmy, aku tahu semua yang terjadi adalah mustahil. Aku pun pernah mempertanyakan keadaan ku. Tapi jika Allah berkehendak, aku bisa apa? "Yang terjadi, maka terjadilah." itulah kuasa Allah." Nyssa menceritakan semua yang dilaluinya, termasuk perang batin yang dialaminya dan dugaan kepribadian gandanya.
"Mengapa tidak mencari ahli agama atau ustadz untuk menanyakan hal ini?" tanya Azmy.
"Bagaimana caraku menceritakan kejadian yang diluar nalar ini? Apakah di kota ini ada seseorang yang tingkat pemahamannya setara dengan di dunia ku? Jawabannya tidak, karena disini minoritas muslim. Ustadz yang ada disini, pemahamannya tidak ada yang sedalam di dunia ku dulu. Jika di dunia ku, aku akan dapat menemui seseorang yang bisa menjawab situasiku. Disini tidak, yang ada orang akan menganggap ku hilang akal. Lagi pula, aku tidak bisa menceritakan situasi ku kepada orang lain, sama saja aku membuka aib ku. Belum tentu orang tersebut bisa menjaga rahasia." penjelasan Nyssa cukup masuk akal bagi Azmy. Tetapi Azmy tidak mengerti maksud Nyssa dengan dunia nya yang berbeda.
"Dunia lain?"
"Dunia tempat ku tinggal. Aku tinggal di Indonesia, lebih tepatnya di pulau Kalimantan, tetapi aku kelahiran pulau Jawa. Masakan Padang adalah makanan khas dari pulau Sumatera. Soto dengan kuah kental adalah makanan khas dari pulau Jawa, sedangkan soto dengan kuah bening adalah makanan khas dari Kalimantan Selatan."
Sampai disini, Azmy mulai bisa menerima penjelasan Nyssa yang tidak masuk akal. Karena dirinya pun bertanya-tanya tentang masakan Nyssa terakhir kali.
"Aku sudah menelusuri peta, internet, dan buku-buku di perpustakaan. Tetapi semuanya nihil, tidak ada informasi terkait Negara Indonesia tempat aku tinggal. Termasuk negara-negara yang ada di duniaku. Kamu juga sudah membaca catatan ku, semua spekulasi ku ada disana. Meskipun bahasa, dan kehidupan sehari-hari sama. Dunia mu dan dunia ku berbeda."
"Jadi, siapa yang selama ini aku nikahi?" Tanya Azmy. Ia memutuskan untuk menerima penjelasan Nyssa sementara ini. Tetapi masih ada keraguan dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku." Jawab Nyssa yang sedari tadi tidak menunjukkan emosinya. Sedangkan Azmy sudah mengeratkan kepalan tangannya. Melihat Azmy yang tidak percaya, Nyssa melanjutkan kata-katanya.
"Entah halal atau haram bagiku berhubungan dengan mu, bukan aku yang memutuskan. Yang pasti, tubuh ini sudah sah secara hukum dan agama menikah dengan mu. Tapi maaf, setelah ingatanku kembali aku menjauhimu. Karena aku adalah seorang ibu beranak 2 yang memiliki suami yang kurindukan. Sepertinya kita butuh waktu untuk menyesuaikan kembali."
"Maksud kamu, selama ini hubungan kita tidak ada artinya?" Tanya Azmy yang semakin menajamkan matanya.
"Bukan tidak ada artinya, aku juga tidak memungkiri hubungan kita selama ini. Tetapi ingatan akan suami dan anak ku saat ini membuatku merasa berdosa. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini. Aku juga merasa berdosa karena menjauhimu sebagai suamiku di dunia ini. Aku harus bagaimana? Haram bagiku berhubungan dengan mu jika pikiranku berada ditempat lain." Terang Nyssa.
Azmy terdiam, benar yang dikatakan Nyssa. Azmy pun tidak akan melakukannya jika ia ada di posisi Nyssa. Jika Nyssa yang ada didepannya ini adalah jiwa yang datang dari dunia lain. Bagaimana dengan jiwa Nyssa yang asli? Azmy sudah mencoba menerima, tetapi mengapa rasanya sakit seperti ini. Nyssa menjalani perannya selama ini karena ingatan Nyssa asli. Jadi, jika Nyssa tidak kehilangan ingatannya, ia tidak akan bersama Azmy sekarang. Pikiran Azmy bercabang ke mana-mana. IQ tinggi tidak menjamin bisa membuat keputusan saat ini.
Nyssa yang melihat Azmy masih terdiam berpikir, ia beranjak dari tempat tidur menuju walk ini closet. Mengemas beberapa pakaian ke dalam koper dan bersiap pergi. Nyssa sudah memantapkan hati untuk menjauhi Azmy terlebih dahulu. Sampai hatinya benar-benar tenang. Meski ia sudah ikhlas menerima ketetapan-Nya, tetapi ingatannya masih mengingat suami dan anaknya. Nyssa tidak ingin semakin berdosa karena respon tubuhnya terhadap Azmy, membuatnya berhubungan dalam keadaan tidak sepenuh hati.
Nyssa menarik koper keluar walk in closet. Suara roda koper, menyadarkan Azmy.
"Mau kemana?" Tanya Azmy melihat koper ditangan Nyssa.
"Aku butuh waktu meyakinkan hati ku, kamu juga butuh waktu untuk membuat keputusan. Jika kita saling bertemu, aku takut akan semakin menyakitimu."
"Apakah kamu tidak mencintaiku selama ini?"
"Cinta. Aku dari kehidupan ku yang dulu sampai sekarang, tidak pernah mengerti kata cinta."
"Lalu bagaimana dengan suamimu?" Tanya Azmy yang merasakan nyeri dihatinya.
"Kami sama. Sama-sama tidak pernah mengumbar kata cinta. Bagi kami, kepercayaan, saling melengkapi, saling mengerti sudah cukup untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Hanya kata-kata "aku memyanyangimu" yang sering kami ucapakan."
"Aku mencintaimu." Azmy mengungkapkan perasaannya, takut menyesal jika ia terlambat mengungkapkan.
Nyssa tersenyum mendengar pernyataan cinta Azmy. Selama ini memang Azmy yang sering mengungkapkan kata cinta kepadanya. Tetapi, dirinya akan tersenyum tanpa menjawabnya seperti sekarang ini. Tak terasa, air mata Nyssa lolos begitu saja.
Azmy yang melihat air mata Nyssa, segera menghampiri istri kecilnya. Diusapnya air mata Nyssa, merengkuhnya dalam pelukan.
Nyssa merasakan rasa nyaman, yang awalnya hanya air mata kini bertambah dengan sesenggukan. Azmy memberikan rasa nyaman seperti suaminya, memberikan perhatian yang sama, kelembutan yang sama, kehangatan yang sama. Semua yang dirasakannya dan diberikan oleh Azmy, sama dengan suaminya. Hatinya merasa sakit ingin meninggalkan Azmy, sama sakitnya saat jauh dari suaminya.
"Apakah ini alasan Allah membawanya ke sisi Azmy?" Tanya Nyssa dalam hati.
__ADS_1
Nyssa melepaskan pelukan Azmy, masih dengan air mata berlinang. Nyssa mencium punggung tangan Azmy, karena bagaimanapun ia seorang istri yang harus mendapatkan izin suaminya saat meninggalkan rumah.
Azmy diam, wajahnya dingin menanggapi Nyssa. Tidak ada kecupan dipuncak kepala untuk istri kecilnya. Hatinya yang hangat karena istri kecilnya, seperti kembali membeku lagi. Hingga Azmy membiarkan Nyssa pergi meninggalkannya.