
Nyssa menyandarkan tubuhnya ditempat tidur. Keheningan di kamarnya saat ini membuatnya merindukan kebersamaannya dengan Azmy. Seolah Azmy sudah mengisi sebagian hatinya selaras dengan suaminya.
Dua orang yang berbeda, tetapi memperlakukannya sama.
Nyssa sudah mengikhlaskan semua yang berkaitan dengan suami dan anaknya. Karena dalam alam bawah sadarnya, suaminya berkata jika Allah menitip kedua anak mereka dalam kandungannya.
Suaminya adalah seseorang dengan pemahaman yang dalam juga simpel. Nyssa belajar banyak dari suaminya. Dan setiap kata yang diucapkan suaminya adalah kebenaran, maka Nyssa akan mempercayainya sepenuh hati.
Awal menikah, memang sulit bagi Nyssa menerima pemahaman suaminya. Karena mereka menikah tanpa mengenal satu sama lain, 1 bulan pernikahan mereka habiskan untuk saling mengenal. Setelah satu bulan itulah Nyssa akhirnya bisa menerima pemahaman suaminya. Sampai sekarang, sikap Nyssa menerima ketetapan Allah dengan lapang dada adalah hasil dari didikan suaminya. "Setiap perkataan adalah doa." Kata-kata teguran dari suaminya jika Nyssa mengeluh, membekas di ingatan juga kalbunya.
Akan tetapi dalam hal mendidik anak, suaminya terbilang keras. Meskipun suaminya tidak pernah marah ataupun memukul Nyssa. Tetapi saat sedang marah dengan kelakuan anaknya atau anaknya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan, maka akan ada pukulan juga, meski hanya pukulan kecil untuk memberi efek jera. Hal itu cukup membuat Nyssa jengkel, dan akan terjadi perdebatan diantara mereka. Ibu mana yang rela anaknya dipukul, Nyssa yang melahirkannya saja tidak pernah memukul.
Perdebatan mereka akan berlanjut saat membahas anak kedua. Terlahir dengan keadaan spesial akibat kehamilan yang sempat kontraksi karena cacar air. Dan terjatuh dari ayunan saat bayi akibat ulah keponakan Nyssa.
Nyssa sudah pasrah dan ikhlas dengan apapun keadaan anaknya, begitu juga dengan suaminya. Tetapi suaminya sering lupa, sehingga akan membentak anaknya saat rewel dan tidak tahu apa maunya. Nyssa sudah berkali-kali mengingatkan jika suara bentakannya akan berpengaruh kepada anak mereka.
Nyssa tersenyum mengingat perdebatan terakhir mereka. Saat itu suaminya sibuk bekerja, sampai 2 minggu mereka tidak dapat tidur bersama. Setelah itu, suaminya mengambil cuti selama 3 minggu menginap di rumah kakak Nyssa. Selama itu pula mereka juga tidak tidur satu kamar. Sewaktu pulang kembali ke rumah, suaminya sudah meminta jatahnya diperbanyak. Namun, naasnya anak kedua mereka tidak bisa ditinggalkan saat malam. Hingga ada kesempatan bagi mereka, justru Nyssa kedatangan tamu bulanannya. Alhasil, suaminya uring-uringan karena hampir 7 minggu tidak mendapatkan haknya. Nyssa meminta pengertiannya, biasanya suaminya akan tenang menyikapi hal tersebut. Tetapi malah mereka menjadi berdebat. Akhirnya Nyssa yang mengalah, karena memang sudah hak suaminya.
Azmy dan suaminya juga sama-sama berhasrat tinggi.
Seketika ingatan Nyssa dipenuhi oleh Azmy. Nyssa mengakui, selama berada pada ingatan pemilik tubuh ia menikmati kebersamaannya bersama Azmy. Meskipun dingin, Azmy akan hangat saat berada di dekatnya. Apalagi kesabaran Azmy saat menghadapi kehamilannya, itu sudah merupakan prestasi besar. Mengingat Azmy yang acuh pada sekitar, sangat peduli dengannya.
Azmy juga beberapa kali menyelamatkannya dari bahaya. Selalu meluangkan waktu bersamanya, padahal pekerjaannya menumpuk. Azmy tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya, hanya Leon yang akan mengeluh saat bertemu dengan Nyssa. Azmy termasuk kejam terhadap karyawannya, tetapi sekarang Leon mengandalkan Nyssa untuk menjinakkan atasannya.
Mami Sita dan Papi Agam juga bersyukur dengan sikap hangat Azmy. Meskipun tidak untuk mereka, paling tidak Azmy sudah lebih baik daripada sebelum mengenal Nyssa.
Sekarang ini, Nyssa sedang memikirkan bagaimana cara memulai hubungannya dengan Azmy. Nyssa ingin tahu, apa yang sedang dipikirkan Azmy saat ini. Apakah Azmy juga merindukan kebersamaan mereka?
__ADS_1
Entahlah, mungkin saat ini Azmy akan mengurung diri di ruang kerjanya. Proyek luar kotanya sudah mendekati finishing, mungkin Azmy akan kesana untuk memantaunya.
Nyssa merasakan pergerakan kecil diperutnya.
"Assalamu'alaikum.. Apa kalian juga merindukan Daddy? Sabar yaa kesayangan Bunda, berikan waktu pada kami untuk memperbaiki semuanya." Diusapnya lembut perutnya, sampai tak ada lagi pergerakan.
Hubungan mereka dimulai saat persetujuan penggantian pengantin dilakukan. Berlanjut Nyssa menemani Azmy di rumah sakit, dan kedekatan sebelum menikah. Ketika menikah, Nyssa yang ada di dalam raga pemilik tubuh secara sadar menjalani kehidupan rumah tangga. Meskipun dengan sebagian ingatan Nyssa dan ingatan pemilik tubuh.
Nyssa sudah ikhlas melepas kehidupannya yang dulu, untuk menjalani kehidupan yang sekarang. Karena mau kembali pun ia tidak bisa, apalagi mengeluh hanya akan membuat Nyssa kufur. Hanya saja ingatannya selama 27 tahun sudah terukir di jiwanya. Menggantikan sosok suami yang mengayomi dengan sosok suami yang melindungi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang ada Nyssa menjadi membandingkan mereka berdua, yang berakhir dengan dosa.
Selain karena Azmy suaminya yang sekarang, ada anak dalam kandungannya yang juga keturunan Azmy. Bisa saja Nyssa membesarkan mereka sendirian tanpa Azmy. Tapi, hal itu bukan solusi yang tepat. Karena bagaimanapun Azmy adalah ayah mereka, Nyssa tidak bisa egois memisahkan mereka. Dan hal itu juga akan menghambat perkembangan mereka kelak tanpa ada dampingan dari seorang ayah. Nyssa bisa menjadi ibu sekaligus ayah mereka, tetapi lingkungan mereka tidak akan mendukung. Karena lingkungan akan mempengaruhi mental kedua anaknya kelak.
"Ya Allah,, engkaulah Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Berikanlah petunjuk bagi hamba agar senantiasa selalu dalam keridhoan-Mu." Nyssa pun terlelap dengan sendirinya.
Pukul 04.00 pagi, Nyssa bangun mengerjapkan matanya. Kamar yang asing, dilihatnya ke kiri yang terasa kosong. Nyssa ingat, ini kamar apartemen pemilik tubuh. Segera Nyssa masuk kedalam kamar mandi dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat. Kemudian membaca kitab dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Nyssa ada 2 kelas hari ini, yang dimulai jam 09.00 dan 13.00. Nyssa menutup laptopnya setelah mengirimkan tugas yang telah dikerjakannya, kemudian meyiapkan segala keperluannya di tas dan beranjak untuk membersihkan diri.
"Assalamu'alaikum Mami.."
"Wa'alaikumsalam sayang.. Bagaimana kabar kamu juga calon cucu Mami?"
"Alhamdulillah,, baik Mami. Mami dan Papi bagaimana di sana?"
"Ah sayang,, Mami dan Papi sangat menikmatinya, nanti kamu wajib kesini sayang. Kalian kan belum sempat honeymoon, jadi diganti baby moon saja sayang. Kalau bisa secepatnya, kalau nanti-nanti bisa keburu perut kamu makin besar makin susah untuk kesana kemari."
"Iya Mami, nanti Nyssa sampaikan ke suami Nyssa."
__ADS_1
"Sedang apa suamimu sayang?" Nyssa harus menjawab apa, dilihatnya masih pukul 07.30, biasanya Azmy masih berolahraga.
"Ada di ruang gym Mi, ini Nyssa mau sarapan duluan."
"Dasar anak itu! Bisa-bisanya membiarkan kamu makan sendirian."
"Tidak apa Mami, Nyssa sudah tidak tahan lapar. Hehehe" Nyssa mencoba sealami mungkin, tidak mungkin Nyssa membuka aib mereka didepan mertuanya.
"Baiklah sayang, makan yang bergizi yah.. Biar kamu dan calon cucu Mami sehat semua."
"Aamiin.." Mami mengakhiri sambungan teleponnya. Untung saja hanya voice call, jika video call Nyssa tidak tahu harus menjawab apa. "Maafkan Nyssa Mi." batin Nyssa.
Nyssa melihat ponselnya sekali lagi, tidak ada pesan atau notifikasi lain jadi ia memasukkannya ke dalam tas ransel dan memulai sarapannya.
Nyssa meminta Brenda untuk menemaninya makan. Awalnya Brenda menolak karena tidak sepantasnya pelayan makan bersama majikannya. Tetapi Nyssa mengancam tidak akan sarapan jika Brenda tidak menemaninya, maka Brenda dengan berat hati menemani Nyssa makan.
Bambang sudah berpesan agar Brenda melayani Nyssa dengan sepenuh hati, sehingga Brenda hanya bisa menurut. Lagipula, keluarga Bambang dan Nona yang yang sekarang tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. "Mungkin ini adalah karunia Tuhan, semua majikan ku memperlakukanku dengan baik." Batin Brenda.
Selesai sarapan, Nyssa berpamitan kepada Brenda jika ia akan pergi kuliah. Brenda memberikannya sebuah kunci mobil yang telah disiapkan Bambang untuknya dan SIM atas namanya.
"Hidup orang kaya memang berbeda. Baru kemarin bilang tidak ada SIM, hari ini sudah ada." Batin Nyssa.
Nyssa menerimanya dan pergi ke lantai 2, dimana Bambang tinggal. Nyssa menanyakan mengapa Bambang memberinya mobil. Bambang menjelaskan jika semuanya memang dipersiapkan untuk Nyssa sesuai perintah Milea. Semua kebutuhan Nyssa akan disediakan, Nyssa hanya tinggal menikmatinya. Termasuk pakaian, istri Bambang yang akan menyiapkannya. Nyssa tidak perlu lagi repot-repot berbelanja. Dan jika ada yang dibutuhkan, Nyssa cukup memberitahu Aditya untuk membelinya Dan menyiapkannya.
Nyssa tidak bisa berkata tidak, semua yang diterima adalah milik Nyssa, pemilik tubuh. Jika ia mengatakan tidak akan membuat mereka yang sudah antusias merasa kecewa. Jadi Nyssa hanya mengucapkan terimakasih Dan berpamitan untuk berangkat kuliah. Nyssa juga berpesan untuk menyiapkan baju sesuai ukuran Azmy beberapa setel formal Dan santai. "Siapa tahu akan diperlukan suatu hari." Pikir Nyssa.
Bambang menawarkan sopir untuk Nyssa, tetapi ditolaknya Dan menjawab jika ia sudah tidak bisa menyetir sendiri maka akan meminta bantuan sopir. Jawaban Nyssa disetujui oleh Bambang yang mengantarnya ke garasi mobil.
__ADS_1
Sebuah mobil BMW X5 warna putih, Bambang pilihkan untuk Nyssa. Jiwa Nyssa mengagumi pemilik tubuh, bukan karena kemewahannya. Tetapi keberuntungan berada di sekitar orang-orang yang menyayanginya. Sayangnya, pemilik tubuh tidak tahu itu.
Nyssa melajukan mobilnya menuju kampus menggunakan bantuan GPS, setelah mengetahui fitur-fitur mobil yang dijelaskan oleh Bambang.