Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
41. Berkunjung ke Panti Asuhan


__ADS_3

Nyssa ditemani Azmy dan Mami Sita, memeriksakan kehamilan ke rumah sakit. Setelah melakukan test pack, Azmy membawa Nyssa ke mansion utama untuk mengabarkan kehamilan istri kecilnya tersebut kepada kedua orang tuanya. Mereka sepakat membawa Nyssa ke rumah sakit keesokan harinya.


Sekarang ini mereka menunggu giliran untuk diperiksa, sebelumnya Nyssa sudah diberikan cek tekanan darah dan berat badan.


Kandungan Nyssa ternyata sudah memasuki usia 2 bulan. Terhitung dari hari pertama haid terakhir Nyssa yang terjadi di awal pernikah mereka. Hal ini dikarenakan pendarahan berikutnya bukanlah tamu bulanan, melainkan pendarahan yang terjadi saat implantasi (menempel nya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim). Pendarahan terjadi karena proses implantasi di rahim menyebabkan lapisan rahim terlepas, sehingga yang keluar berupa darah layaknya tamu bulanan. Namun alirannya tidak sederas saat tamu bulanan.


Ciri fisik yang mendukung diantaranya kram perut, payudara yang nyeri dan kencang. Adapun mood swing yang terjadi, juga merupakan tanda-tanda kehamilan. Untungnya Nyssa tidak mengalami morning sickness sehingga tidak menyulitkan nya.


Nyssa yang sempat mengalami penurunan Hb, juga diberikan pemeriksaan laboratorium. Setelah hasilnya keluar, ternyata semuanya baik. Setelah penjelasan dokter, kini mereka akan bertemu dengan janin mereka lewat pemeriksaan USG. Dokter mengatakan, jika ukuran janin saat ini seukuran dengan kacang tanah dengan berat normal 1,2 gram.


Azmy dan Mami Sita yang melihat janin bergerak dilayar monitor merasa bahagia. Mami Sita akan menjadi oma, sedangkan Azmy akan menjadi Ayah. Mereka berjanji dalam hati akan menjaga Nyssa dan bayi dalam kandungannya dengan baik.


Setelah diresepkan vitamin dan saran untuk memeriksakan kandungan 1 bulan sekali, juga termasuk mengurangi kegiatan intim, mereka tidak langsung kembali ke mansion. Mami Sita mengajak kedua anaknya mengunjungi sebuah panti asuhan. Disana Mami Sita telah menjadi donatur tetap dan merupakan jajaran pendiri panti asuhan.


Nyssa sangat bahagia, sudah lama dirinya ingin berkunjung ke panti asuhan, kini keinginannya terwujud. Melihat ada kakek-kakek berjalan sambil mendorong sepeda ontel menjajakan kue putu, Nyssa meminta Azmy menghentikan mobilnya. Nyssa ingin turun, namun di hentikan Azmy dan menanyakan apa yang diinginkan. Nyssa ingin memborong dagangan kakek penjual kue putu tersebut untuk di bawa ke panti asuhan. Segera Azmy menuruti kemauan istri kecilnya, dan dengan sabar menunggu kue-kue putu tersebut selesai dikukus.


Saat akan membayar, Kakek tersebut tidak menghitung jumlah kue putu yang dijualnya, hanya meminta bayaran berdasarkan modal yang dikeluarkannya sebesar seratus lima puluh ribu. Azmy merasa tersentil, ternyata masih ada penjual yang jujur. Meski terlihat kekurangan, kakek penjual kue putu tidak memanfaatkan kesempatan untuk meminta bayaran lebih.


Azmy dengan ikhlas memberikan 5 lembar uang kertas seratus ribuan kepada kakek tersebut. Kakek penjual kue putu menolaknya, namun Azmy berkata jika ini adalah rejeki untuk kakek tersebut tidak boleh menolak rejeki. Akhirnya kakek tersebut menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Azmy kembali masuk ke mobil dengan membawa 10 kantong plastik berisi kue putu. Menyerahkan 1 kantong untuk Nyssa, sisanya ia letakkan di kursi belakang sebelah Mami Sita.


Nyssa membersihkan tangannya terlebih dahulu dengan tisu basah, dan berdoa sebelum menyantap kue putu yang dibeli suaminya. Tak lupa Nyssa menawari Mami Sita, tetapi Mami Sita berkata untuk Nyssa saja. Kemudian, Nyssa menyuapkan kue putu tersebut ke mulut Azmy yang sedang menyetir. Azmy dengan senang hati membuka mulutnya dan mengunyah kue putu tersebut. Sekarang ia sudah terbiasa dengan makanan seperti ini, semua berkat Nyssa.


Mereka telah sampai di panti asuhan, ternyata Papi Agam sudah menunggu mereka di sana. Nyssa mencium punggung tangan Papi Agam, dibalas usapan di puncak kepalanya.


Papi meminta sopirnya untuk mengeluarkan kantong belanja yang telah disiapkan. Nyssa selalu merasa takjub dengan kesigapan kedua mertuanya. Apapun yang mereka rencanakan, akan dilakukan secara totalitas. Seperti sekarang, tidak hanya kantong belanja yang berisi makanan, ada alat tulis juga kebutuhan lain seperti baju, tas dan sepatu. Mobil SUV yang dikendarai Papi Agam penuh dengan isi belanjaan. "Sejak kapan Papi dan Mami menyiapkan semua ini?" Nyssa merasa heran.


Nyssa tidak tahu, jika semua ini telah disiapkan sejak Mami Sita curiga dengan perubahan pola makannya. Namun karena tidak ingin gegabah, Mami Sita menunggu sampai ada kabar pasti seperti sekarang ini.


"Ayo masuk sayang." Ajak Mami Sita yang telah menggandeng tangan Nyssa. Jika ada Mami, Azmy harus siap berbagi istri kecilnya. Karena Nyssa pasti akan lebih memilih Mami Sita dibandingkan dengannya. Ia pun mengikuti di belakang sambil membawa kue putu yang dibeli tadi.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh pengurus panti. Melihat barang bawaan yang banyak, pengurus panti meminta anak-anak yang sudah besar membantu mengangkat barang-barang tersebut.


Satu persatu telah maju ke depan dan menerima hadiah, Nyssa membantu memberikan alat tulis sesuai nama tertera. Ia merasa takjub saat masing-masing anak yang menerima hadiah mencium punggung tangannya. Tetapi, detik kemudian ia justru menangis karena merasa sedih. Azmy yang melihat istri kecilnya menangis segera memeluknya. Sekarang Azmy sudah tahu alasan mood swing dan permintaan aneh Nyssa, jadi dia tidak akan mempertanyakannya lagi. Dengan senang hati Azmy akan menghadapi semuanya.


Pemberian hadiah dilanjutkan Papi Agam dan Mami Sita, sedangkan Azmy dan Nyssa kini duduk di sofa ruang tamu panti. Nyssa tertidur di pelukan Azmy saat ini. Pengurus panti menyarankan untuk di rebahkan di kamar tamu, tetapi Azmy menolak secara halus. Beralasan jika di rebahkan justru akan terbangun, lebih nyaman seperti ini. Pengurus panti mengerti keadaan Nyssa, karena sebelumnya sudah diberitahu Mami Sita. Kunjungan mereka hari ini wujud rasa syukur atas kehamilan menantu mereka.


Pembagian hadiah telah selesai, kedua orang tua Azmy dan pengurus panti sudah berkumpul bersama Azmy di ruang tamu. Mereka membicarakan program beasiswa untuk jenjang kuliah bagi anak-anak yang bergantung pada panti asuhan. Mereka yang tidak memiliki sanak saudara akan tinggal di panti asuhan sampai mereka menemukan pekerjaan atau menikah. Ada juga yang memilih untuk mengabdikan dirinya untuk panti. Jadi, beasiswa ini penting untuk masa depan mereka kelak.

__ADS_1


Azmy hanya menyimak, mungkin ini bisa ia ajukan pada jajaran direksinya untuk mengumpulkan dana beasiswa. Karena jenjang kuliah memerlukan dana yang lebih besar setiap semester nya. Akan tetapi, harus ada yang mengelola. Saat ia sedang berfikir, pengurus panti menyarankan seseorang sebagai penanggung jawab kepada Papi Agam.


Fatimah, yatim piatu yang mengabdikan dirinya untuk panti asuhan, sudah lulus kuliah dengan jalur bidik misi pemerintah. Papi Agam menyetujuinya, dengan bantuan dari Rian asistennya, Fatimah akan menjadi pengelola dana beasiswa kuliah. Karena untuk beasiswa jenjang dibawahnya sudah di atur oleh pengurus panti.


Azmy mengangguk, ia mengirimkan pesan pada Leon untuk menyiapkan proposal pengumpulan dana guna beasiswa panti asuhan. Getaran pada ponsel Azmy membangunkan Nyssa.


"Sudah bangun sayang?" Mami Sita menyambutnya dan menyerahkan teh hangat kepadanya.


"Maaf Mami, Nyssa jadi merepotkan."


"Tidak sama sekali sayang." Mami Sita mengusap kepala Nyssa.


Karena Nyssa sudah bangun dan pembicaraan mereka juga sudah selesai, mereka berpamitan untuk pulang. Tetapi sebelum pulang ke mansion, Mami mengajak mereka makan di restoran seafood.


Nyssa berbinar mendengar kata seafood, Mami Sita selalu tahu keinginannya.


"Tapi sedikit saja ya sayang." kata Mami Sita saat mereka memasuki restoran.


"Ya, Nyssa tahu seafood bagus untuk kehamilan Nyssa sekarang tapi harus tetap hati-hati." jawab Nyssa sambil tersenyum.

__ADS_1


Hasilnya, dari beberapa menu yang dipesan Nyssa hanya mencicipinya dan memakan habis udang bakar tanpa nasi.


Azmy dengan telaten mengupaskan udang untuk Nyssa. Setelah Nyssa mengatakan cukup, barulah ia makan sendiri. Mami Sita dan Papi Agam yang menyaksikan putra mereka hangat, ikut menghangat. Kapan lagi Azmy bisa seperti sekarang, jika Azmy yang dulu mereka tidak akan bisa melihat pemandangan seperti sekarang.


__ADS_2