
Aeesha sekarang sedang disuapin makan oleh Mami Sita. Disana ada Mami Sita, Papi Agam, Rian dan Rara, tetapi tidak ada Azmy. Ia ingin menanyakannya kepada Mami, namun diurungkannya. Takut menyinggung mertuanya yang sudah datang menjaganya.
"Mami disini saja ya, Nyssa tidak ada teman di mansion."
"Bukannya Rara selama ini bersama kamu sayang?" Tanya Mami Sita yang heran dengan permintaan Nyssa.
"Maaf Nyonya, Tuan Muda tidak mengijinkan saya dekat dengan Nona Muda." Rara menyela menjawab pertanyaan Mami Sita.
"Astaga anak itu! Pantas saja kamu tidak punya teman sayang." Mami Sita mengelus kepala Nyssa. Anaknya benar-benar posesif terhadap Nyssa, sampai tidak memberikan ruang untuk Rara menemani.
"Sayang, besok kita akan pindah rumah sakit. Rumah sakit daerah tengah ada dokter saraf terkenal." Aeesha menganggukkan kepalanya. Mertuanya selalu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi, Aeesha menurut saja semua demi kebaikannya.
"Oiya, untuk sementara tidak diperbolehkan bertemu suami kamu. Mami mau menghukum Azmy, siapa suruh membuat kamu terluka seperti ini." Aeesha tersenyum menanggapi Mami Sita, mertuanya memang seperti ini. Menyayanginya seperti anaknya sendiri dan mementingkan dirinya dibandingkan Azmy anaknya sendiri.
"Kamu tidak keberatan sayang?" Tanya Mami Sita.
"Tidak Mi, Nyssa ikut Mami." Mami Sita tersenyum puas. Mereka mulai membahas kehamilan Nyssa.
Mami Sita sudah antusias ingin membawa Nyssa berbelanja kebutuhan cucu kembarnya. Mengenai gender yang tidak diungkap, Mami Dan Papi tidak keberatan. Yang terpenting semuanya sehat Dan selamat. Suasana menjadi hidup, Rian yang biasanya pendiam ikut memeriahkan suasana dengan candaannya seputar Azmy. Tuan Muda beruang kutub yang tidak berkutik didepan Mami Dan istrinya. Begitulah Azmy menjadi bahan ghibah mereka.
Aeesha merasakan kehangatan di tengah-tengah mereka. Dibalik musibah yang dialaminya, ada orang-orang terdekat yang menyayangi Dan menghiburnya. Perasaan takut yang sempat dirasakannya, berangsur lega. "Takut hanya untuk mereka yang tidak mengenal Allah. Allah selalu ada didekatku." Batin Aeesha. Ia masih menyimak Dan ikut tertawa dengan obrolan Mami Dan Papi yang menceritakan kekonyolan Rian sewaktu pertama kali menghadapi Azmy. Sembari melantunkan dzikir "La khaula wala quwwata illa billah"
Azmy yang masih berkutat dengan dokumen, merasa buntu. Otaknya tidak bisa berkonsentrasi menghadapi pekerjaan. Ia ingin bertemu dengan istri kecilnya, tetapi tidak bisa. "Mami tidak mengatakan aku tidak boleh menelpon istriku kan?" Gumam Azmy, yang kemudian menghubungi ponsel istri kecilnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Azmy yang bersemangat mendengar suara Istri kecilnya.
"Alhamdulillah baik." Jawab Aeesha.
"Baru juga beberapa jam tidak bertemu sudah menelpon." Sindir Mami Sita yang berada disamping Nyssa. Kemudian Aeesha memencet tombol loudspeaker.
"Mami mengganggu saja." Ketus Azmy yang ditanggapi teguran Aeesha. "Tidak boleh begitu suami, durhaka nanti!"
"Dengarkan baik-baik!" Mami Sita Merasa bangga, menantunya lebih membelanya.
"Sebenarnya, aku atau Nyssa yang anak Mami?" Tanya Azmy kesal dengan kelakuan Mami Sita.
"Semua anak Mami, tapi Mami lebih sayang Nyssa yang cantik, baik, sholehah, ramah, tahu kemauan Mami." Aeesha tersipu mendengar pujian Mami Sita, sedangkan Papi Agam dan yang lain menahan tawa agar tidak membuat Azmy semakin kesal.
"Istri macam apa yang dibiarkan menanggung luka?" Pertanyaan Mami Sita terasa menusuk ke ulu hati Azmy. Ia sadar, karena dirinya yang tidak sigap membuat Aeesha terluka. Azmy pun diam tidak menjawab pertanyaan Mami Sita. Keadaan menjadi hening, Aeesha pun menengahi.
"Istighfar sayang.. Serahkan semua kepada Allah, berdamai lah.." Azmy menjadi lebih tenang setelah mengikuti kata-kata Aeesha. Istri kecilnya memang luar biasa lapang dalam menghadapi segala hal. Mami Sita yang sudah tidak ingin menambah luka anaknya, diam dan meninggalkan Nyssa untuk duduk bersama Papi Agam di sofa.
"Terimakasih sayang.. Kamu baik-baik sama si kembar yaa.. Doakan aku bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini. Agar kita bisa secepatnya berkumpul lagi."
"Iya, doaku selalu untukmu suami." Jawab Aeesha yang merasakan jika suaminya sedang menanggung beban dihatinya melanjutkan kata-katanya. "Jangan lupakan Allah suamiku, dengan berserah diri kepada-Nya niscaya akan ditunjukkan jalan dan kemudahan dalam semua urusan."
__ADS_1
"Iya sayang,, akan selalu ku ingat." Mereka pun mengakhiri obrolan. Azmy mulai memfokuskan pikirannya ke dokumen yang sempat tertunda. Berbicara dengan Aeesha membuat hatinya tenang, istri kecilnya selalu bisa membuatnya berdamai dengan keadaan. Jika dulu, mungkin Azmy sudah tidak mentoleransi kejadian hari ini.
Di sisi lain.
Bambang masih bimbang menimbang keputusan. Di satu sisi ia mengabdikan dirinya untuk Nyssa, di sisi lain istrinya mencoba mencelakai Nyssa. Jika ia setuju dengan Azmy, ia harus bisa melepaskan istrinya dan menerima kebencian anak-anaknya. Jika tidak, bagaimana ia mempertanggungjawabkan keputusannya kepada keluarga Robert kelak. Juga kepada ayah dan kakeknya yang telah mengamanatkan keselamatan Milea dan keturunannya kepada Bambang.
"Papah kenapa? Sepulang dari meeting hanya diam melamun." Tanya Aditya yang memasuki ruang kerja Bambang.
"Duduklah nak, ada yang ingin Papi tanyakan." Bambang ingin meminta pendapat Aditya. Karena dari ketiga anaknya, Aditya adalah satu-satunya yang menuruni pembawaannya. Sedangkan kedua anaknya yang lain bersifat manja.
"Silahkan Pah." Aditya penasaran dengan apa yang akan ditanyakan. Wajah Bambang menunjukkan kegelisahan.
"Bagaimana menurutmu sifat ibu selama ini?"
"Ibu sosok ibu yang baik Pah, meskipun Aditya bukan anak kandungnya. Ibu tidak pernah membedakan kasih sayang." Bambang menganggukkan kepalanya. Benar, Aditya bukan anak kandung Leni. Ia menikahi Leni ketika Aditya berumur 5 tahun. Istrinya meninggal saat usia Aditya 3 tahun, mobil yang mereka tumpangi kehilangan keseimbangan hingga menabrak pembatas jalan. Karena melindungi Aditya dari benturan istrinya mengalami cedera kepala bagian belakang yang langsung menewaskannya.
"Nak, jika Papah harus memilih antara prinsip dan keluarga. Menurutmu, mana yang harus Papah pilih?"
"Pah, prinsip adalah pegangan hidup Papah. Jika keluarga Papah bertentangan dengan prinsip Papah, wajib bagi Papah untuk menegur." Jawaban Aditya masih belum bisa mengurangi kebimbangan Bambang. Bagaimanapun, Leni sudah menemaninya selama ini. Tidak pernah mengeluh, maupun menentangnya.
Bambang meminta Aditya untuk meninggalkannya sendiri. Ia masih butuh waktu untuk berpikir. Bambang mencoba mengingat semua dan menelusuri sikap Leni yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Pertama kali tahu semua aset nama Nyssa, Leni terlihat tidak terkejut. Ia mungkin menerima pekerjaannya yang hanya sebagai pelayan. Dan saat mengenal Nyssa pertama kalinya, wajahnya bahagia tidak ada jejak kebencian sama sekali. Sikapnya juga baik terhadap Nyssa, justru Leni yang bersemangat menyiapkan segala hal untuk Nyssa.
"Dimana letak salahnya?" Batin Bambang. Identitas Leni sebagai Samantha, pendiri organisasi pembunuh bayaran semakin membuat Bambang tertekan. Seluruh kegiatan Leni di luar rumah memang tidak pernah ia pantau, hanya sesekali menanyakan kemana dan ada acara apa. Istrinya menjawab pertemuan sosialita, arisan, belanja ke mall bersama teman. Sehingga Bambang tidak bertanya lebih lanjut dan mempercayai semua yang diucapkan Leni.
__ADS_1
"Vino, tolong awasi Nyonya diam-diam. Ikuti kemanapun Nyonya pergi hari ini, jangan sampai ketahuan." Perintah Bambang kepada salah satu orang kepercayaannya.
"Leni, aku berharap semua yang dikatakan asisten Azmy itu salah." Gumam Bambang.