
Nyssa merasa bingung, bagaimana caranya menghadapi Azmy sekarang.
Ia tidak dapat memungkiri, jika sekarang dirinya adalah istri Azmy yang sah secara hukum dan agama. Karena bagaimanapun, selama ini jiwanya lah yang menikah dan melakukan kontak fisik dengan Azmy menggunakan raga pemilik tubuh.
Saat Azmy melamarnya, Nyssa masih bisa merasakan perasaan pemilik tubuh. Dan sampai sekarang, ia tidak merasakan perasaan pemilik tubuh sama sekali. Ia seperti menggantikan secara penuh jiwa pemilik tubuh. Ingatannya terakhir adalah pemilik tubuh yang memeluknya, saat dirinya menangis di alam bawah sadarnya setelah lamaran Azmy. Jiwa pemilik tubuh menghilang dengan membawa rasa lega karena ada orang yang menyayanginya dan Azmy yang mencintainya. Setelah itu, Nyssa lah yang memegang kendali atas raga pemilik tubuh. Hanya saja dengan ingatan pemilik tubuh dan ingatannya yang berkabut.
Mungkin, ini juga kuasa Allah. Menghendaki Nyssa melupakan ingatannya agar pemilik tubuh mendapatkan kebahagiaan. Dan sekarang, ingatannya dikembalikan untuk menguji Nyssa. Apakah ia sanggup melanjutkan perannya atau tidak. Halal atau haramnya Nyssa berhubungan dengan Azmy, Allah yang Maha Tahu dan Maha Pengampun. Karena Nyssa tidak bisa menentukannya, hanya bisa pasrah pada ketentuan Allah. Dan ujian dari Allah, tidak akan melebihi batas kemampuannya.
Nyssa juga mengingat pertemuannya dengan suaminya setelah kejadian penculikan. Nyssa mencoba memahami semua kata-kata suaminya. Suaminya seperti sudah tahu ketetapan Allah untuknya, dan dirinya yang berpamitan menandakan jika suaminya sudah tidak ada di dunia ini.
Atau lebih tepatnya, bukan dari dunia yang ditempati Nyssa sekarang ini. Karena Nyssa sudah pernah mencari informasi tentang tempat tinggalnya, namun nihil. Nyssa tidak bisa menemukan apa-apa. Meskipun bahasa, makanan dan pola hidup tidak jauh berbeda dengan kehidupannya dulu, tetapi Nyssa seperti berada dalam lingkup ruang yang berbeda.
Dulu, ia mengira jika dirinya di luar kota dengan minoritas muslim di kota ini. Tapi ternyata tidak, jika di Indonesia ada 6 agama dengan mayoritas muslim, disini banyak ateisme.
Lalu tebakannya menjadi berada diluar negeri. Tetapi masakan Padang yang pernah Nyssa masak untuk Mami Sita adalah titik pertama yang menyadarkan Nyssa. Bahwa makanan khas dari negara Indonesia yang ditinggalinya tidak ada di sini. Jika ia berada di luar negeri, tidak mungkin tidak ada yang mengenal rendang. Karena masakan khas Indonesia seperti rendang, nasi goreng, nasi uduk, sate, soto, sudah mendunia dan memiliki banyak penggemar.
Akhirnya Nyssa menyerah. Jika bukan Allah yang menunjukkan jalan, maka mustahil baginya menemukan kebenaran atas ketetapan-Nya.
Meski Nyssa menanggapi semua yang terjadi dan diingatnya dengan tenang dan lapang dada. Tetap saja dirinya yang sudah merasakan pahit manis kehidupan rumah tangga merasa canggung dengan Azmy. Mengingat pengaruh hormon kehamilan kembarnya saat ini saja membuatnya malu. Bagaimana bisa dirinya tidak tahu malu seperti itu.
Saat hamil kedua anaknya dulu, gairahnya hanya memuncak pada trimester kedua dan itupun masih terkendali. Setidaknya 4 kali dalam satu minggu, tidak setiap hari seperti sekarang. Karena selama trimester pertama, kedua kehamilannya mengalami morning sickness yang lumayan parah. Dan saat trimester ketiga, perut yang besar membuatnya tidak nyaman bergerak.
Dengan pikiran-pikran yang melayang, Nyssa menghentikan bacaannya. Dan merasakan jika Azmy mendekat kearahnya.
"Sayang.. Mari kembali tidur, masih ada waktu sebelum sholat subuh." ajak Azmy yang kini duduk didepan Nyssa.
"Ya Allah, ampuni hambamu ini. Aku seperti melihat 2 versi suami." batin Nyssa. Cara Azmy memanggilnya sama persis dengan suaminya.
__ADS_1
"Emmm.." hanya jawaban itu saja yang bisa Nyssa berikan.
Nyssa ingin berdiri, Azmy dengan sigab membantunya. Saat Azmy ingin membantunya membuka mukena, Nyssa menghentikannya dengan menggeleng.
Mereka pun merebahkan diri di tempat tidur. Azmy memeluk Nyssa dari belakang, karena sudah tidak memungkinkan untuk berhadapan. Nyssa masih dengan mukena lengkapnya segera terlelap merasakan nyaman pelukan Azmy.
Azmy merasa heran dengan sikap Nyssa, tapi ia kembalikan pada pengaruh hormon. Dirinya yang sudah mengantuk pun ikut terlelap.
Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah. Nyssa mencoba menguasai dirinya, untuk tetap bersikap seperti biasa. Semuanya lancar, sampai Azmy mengajaknya untuk berenang.
Azmy masih menunggu jawaban Nyssa, sejak kehamilan istri kecilnya ia menjadi lebih sabar dan suka mengalah.
Akhirnya Nyssa mau berenang, tetapi di kolam belakang saja tidak ke paviliun karena Nyssa belum siap membuka hijabnya. Azmy setuju dan membawa Nyssa kebawah untuk sarapan terlebih dahulu.
Nyssa akan memasak jika ia ingin, selebihnya pelayan yang akan menyiapkan sarapan jika tidak ada pemberitahuan dari Nyssa.
Di kolam renang, mereka melakukan peregangan sebentar dan mulai masuk ke kolam. Azmy tidak keberatan dengan pakaian yang Nyssa kenakan saat ini karena tidak ada baju renang yang muat. Legging dengan tunik berbahan kaos, dan hijab instan bertali.
"Sayang, mengapa tidak kau lepaskan saja hijabnya?" Azmy merasa dejavu. Seperti saat baru mengenal Nyssa yang tertutup.
"Tidak. Aku suka seperti ini." jawab Nyssa sambil tersenyum.
"Baiklah." Azmy mengalah.
"Sini sayang.." Azmy masuk kedalam kolam terlebih dahulu dan menjulurkan tangannya untuk Nyssa.
Nyssa menyambut tangan Azmy, dan masuk ke dalam air. Azmy membantunya mengambang, tetapi Nyssa merasa tidak nyaman dengan perutnya. Akhirnya Nyssa minta dilepaskan dan mengatakan jika perutnya tidak nyaman, terasa berat dibawah. Azmy pun melepaskan istri kecilnya sambil berjaga-jaga.
__ADS_1
Nyssa bisa berenang sejak SD, dan berenang terlentang adalah gerakan yang dulu sering dilakukannya saat hamil.
Azmy belum pernah mengajari Nyssa mengambang terlentang. Dirinya merasa heran, tetapi mulai mengikuti gerakan Nyssa.
Mereka berdua berenang terlentang berputar-putar, sampai Nyssa merasa lelah.
"Suami, aku sudah lelah." kata Nyssa yang sebisa mungkin berlaku biasa. Karena ia tak mau mengambil resiko naik sendiri dengan perut buncit nya.
"Siap sayangku." Azmy dengan gagah membawa tubuh Nyssa dalam pelukannya. Memegang pinggang Nyssa, untuk membantunya naik ke atas.
Nyssa seperti tersengat aliran listrik saat tangan Azmy memegang pinggangnya. Respon tubuhnya benar-benar diluar kendalinya.
Azmy ikut naik, menuntun istri kecilnya untuk duduk di kursi santai. Memakaikan bath robe dan handuk dikepala Nyssa. Setelah itu, Azmy masuk kembali kedalam kolam dan berenang beberapa putaran.
Nyssa hanya diam menerima perlakuan Azmy. Azmy memang seperti ini, meskipun berwajah dingin dan tegas ia akan melembut dan perhatian didekat Nyssa. Belum pernah sekalipun Azmy memperlakukannya dengan kasar ataupun membentak nya. Hanya Leon dan pelayan serta karyawannya yang mendapat perlakuan seperti itu.
Nyssa harus segera berterus terang, sebelum respon tubuhnya tidak terkendali. Karena Nyssa paling tahu jika respon tubuh lebih jujur daripada hati yang bisa berbohong.
Nyssa tidak ingin menambah dosanya dengan tidak jujur dan menolak sentuhan Azmy.
Dan jika ditanya tentang cinta, Nyssa tidak bisa menjawabnya. Karena selama hidupnya, ia dan suaminya tidak pernah mengumbar kata cinta. Bagi mereka, nyaman bersama, melengkapi satu sama lain, kepercayaan, keterbukaan adalah dasar kehidupan rumah tangga mereka. Sehingga kehidupan rumah tangga berjalan selaras. Tetapi bukan pula tidak mencintai, bagi Nyssa dan suaminya semua karena Allah.
Dan karena itulah Nyssa tidak pernah setuju dengan kata "cinta itu buta". Sebenarnya bukan cinta yang buta, tetapi cinta yang tidak dilandasi dengan keyakinan karena Allah. Sehingga cinta yang mereka rasakan akan lebih besar dibandingkan dengan Allah.
Setiap jodoh, sudah dipersiapkan oleh Allah. Tinggal bagaimana hambanya menjalaninya, dan jika ada perpisahan. Itu bukan karena tidak berjodoh, hanya saja jodoh mereka memang cukup sampai disitu. Maka akan ada jodoh yang lain mengisinya. (Dalam artian ikatan pernikahan, bukan pacaran.)
Nyssa menikah dengan jalur ta'aruf, jadi cinta yang tumbuh diantaranya dan suaminya datang dengan niat karena Allah. Dari dua insan yang tidak saling mengenal, menjadi satu bagian kesatuan. Cobaan pasti ada, tetapi tidak akan melampaui batas kemampuan mereka.
__ADS_1
Dan kata "aku mencintaimu" tidak pernah mereka umbar, hanya kata "aku menyayangimu" yang paling sering mereka ungkapkan di moment-moment tertentu.