
Rara membawakan pesanan Aeesha yaitu, mesin jahit dan kain untuk cadar. Aeesha meminta kain yang jatuh dan nyaman dipakai. Rara membawakannya beberapa kain yang masuk kriteria Aeesha dengan beberapa variasi warna.
Aeesha yang melihat kain yang dibawa Rara merasa semuanya berlebihan, jadi Ia menyerahkan kartu yang pernah diberikan Azmy kepada Rara. Namun Rara menolak, karena Azmy sudah memberinya kartu khusus untuk memenuhi pesanan ataupun kebutuhan Aeesha.
Aeesha menghela nafas, menikah dengan Sultan sudah tidak memikirkan kekurangan uang. "Tapi mengapa hatiku menjadi merasa ciut?" Tanya Aeesha pada dirinya sendiri. "Benar saja ciut, karena semuanya adalah milik Nyssa. Aku menikmatinya karena menumpang diraganya." Batin Aeesha yang merasa rindu dengan kehidupannya dulu. Biarpun pas-pasan, hidupnya tetap berkecukupan atas jerih payah suaminya. Dan nafkah yang diberikan atas namanya, bukan orang lain. "Ya Allah, ampuni aku." Lagi-lagi ia teringat kehidupannya yang dulu.
1
Brenda melihat Aeesha sedang membuat pola pada kain dan Rara menggunting pola di ruang tamu. Ia pun mendekat dan menawarkan diri untuk menjahitnya. Aeesha dengan senang hati menerima bantuan Brenda, karena sesungguhnya Aeesha tidak begitu ahli menggunakan mesin jahit. Ia hanya tahu dasarnya dan menjahit pola mudah. Bisa saja Aeesha pesan di butik langganan Mami Sita, tetapi ia sengaja membuat dirinya sibuk. Sehingga memutuskan untuk membuatnya sendiri. Brenda mulai menjahit pola sesuai instruksi Aeesha, cadar dengan tali, cadar 2 layer, dan cadar yang menyatu dengan hijab. Aeesha memang tidak pernah mengenakan cadar sebelumnya, tetapi ia mempunyai banyak teman yang bercadar. Jadi, ia mengingat detail pola cadar dan hijab bercadar. Untuk ukuran, ia hanya mengukur sesuai ukuran yang dikehendakinya. Aeesha merasa puas dengan jahitan Brenda, 5 buah cadar dengan tali, 3 buah cadar 2 layer, dan hijab bercadar atau yang sering dibilang khimar dikehiduoan sebelumnya sebanyak 3 buah. Semua selesai sebelum makan siang.
Brenda pamit untuk menyiapkan makan siang, tetapi dihentikan oleh Aeesha karena ia ingin memasak. Ia meminta Brenda untuk membersihkan bekas jahitan dan sisa kain diberikan kepada Brenda. Brenda berterimakasih dan mulai membersihkan ruang tamu.
Aeesha ke dapur ditemani Rara. Aeesha ingin memasak kapurung, makanan khas dari Sulawesi Selatan. Ikan kembung, sayur bayam, jagung, kacang panjang, kangkung, kacang tanah, semua tersedia. Sayangnya tidak ada tepung sagu, mangga muda dan asam kamal/asam Jawa. Rara membantu membersihkan ikan dan sayuran. Aeesha membuat bumbu untuk merebus ikan terlebih dahulu, bawang putih, ketumbar, kunyit, dihaluskan. Kemudian meminta Rara untuk merebus sayuran satu persatu. Aeesha memisahkan daging ikan yang telah direbus dari tulangnya dan mulai merebus air bekas rebusan ikan untuk membuat kuah. Dengan menambahkan bawang putih dan tomat sebagai pengganti asam Jawa. Resep asli dari Sulawesi sebenarnya tidak seperti ini, ini adalah hasil recook Aeesha yang menyesuaikan lidahnya. Kuah sudah siap, Aeesha meminta Rara meletakkan semua sayur yang telah direbus ke dalam panci kosong dan menambahkan kacang tanah goreng yang telah diblender kasar. Kemudian daging ikan juga dimasukkan, barulah kuah dimasukkan kedalam panci dengan disaring terlebih dahulu. Sayur siap, langkah terakhir adalah membuat papeda. Aeesha menggunakan tepung tapioka yang dilarutkan dengan air terlebih dahulu, kemudian disiram dengan air mendidih dan diaduk sampai mengental. Setelah itu membentuk adonan tepung tapioka menjadi bulat-bulat dengan bantuan sendok, kedalam wadah berisi air matang. Setelah siap bisa dicampurkan kedalam kuah, atau hanya disiram kuah sedikit agar tidak lengket. Jika menginginkan papeda bisa mengambilnya. Aeesha mencari-cari pengganti mangga muda, ia menemukan belimbing sayur. Segera Aeesha membuat sambal terasi dengan tambahan belimbing sayur.
Rara sudah menata semuanya di atas meja makan. Bingung dengan yang dilihatnya, Brenda bertanya nama makanan yang dibuat oleh Aeesha.
"Nona, makanan apa ini? Mengapa tidak menggunakan nasi atau roti?"
"Ini kapurung, makanan petani disaat belum musim panen padi." Aeesha asal menjawab, karena tidak mungkin ia menjawabnya makanan khas daerah Sulawesi Selatan. Brenda menganggukkan kepalanya, tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya penasaran dengan rasanya, bau ikan, kuah kuning, kacang tanah goreng bercampur di hidungnya.
"Nona Muda, apakah anda akan mengantarkan makanan ke perusahaan?" Tanya Rara yang tahu kebiasaan Nyssa jika memasak sendiri maka akan mengantarkan makanan ke tempat Azmy.
__ADS_1
"Boleh juga! Brenda, tolong siapkan kotak bekal aku akan menatanya untuk suamiku." Brenda bergerak cepat dan memberikan kotak bekal kepada Aeesha. Setelah selesai, Aeesha meminta Brenda untuk mengupaskan buah untuk pencuci mulut dan americano ice.
Aeesha bersiap-siap dikamar, mengenakan gamis abaya warna hitam lengkap dengan hijab dan cadar warna hitam. Tas selempang dengan ukuran sedikit besar untuk memasukkan beberapa kebutuhan. Sambil menunggu Aeesha, Rara makan kapurung bersama Brenda. Pertama kali bagi mereka makan ikan dengan campuran sayur dengan kuah yang ditambahkan kacang tanah. Tetapi, perpaduan rasa dari semua bahan berbaur menjadi satu, dengan tambahan sambal terasi menjadikan kuah semakin sedap dan rasa asam dari belimbing sayur terasa menyegarkan.
Begitu Aeesha keluar kamar, Rara menyambutnya dan segera membuka pintu. Mereka berangkat ke perusahaan tanpa mengabari Azmy terlebih dahulu. Di perjalanan, Aeesha merasa mobil yang ada dibelakangnya sedang mengikuti. Setiap belokan, dan jalan lurus, mobil tersebut menjaga jarak aman dengan mobilnya. "Apakah hanya perasaanku saja?" Batin Aeesha.
Aeesha menepis perasaan curiganya, mungkin hanya kebetulan satu arah dengannya.
Sampai di perusahaan Azmy, Aeesha dan Rara disambut security. Karena ada Rara, maka secara otomatis yang bersamanya adalah istri atasan mereka. Semua pandangan karyawan tertuju pada Aeesha, tepatnya penampilannya yang sekarang. Hanya Sidiq yang tidak heran dengan penampilan bercadar Aeesha. Banyak dari mereka berpikir jika cadar istri atasan mereka untuk menutupi wajahnya agar tidak dilirik pria lain. Aeesha yang mendengar bisik-bisik karyawan tersebut tidak peduli. Baginya bukan pendapat orang lain yang penting, melainkan perilaku diri. Jika sudah membawa diri sebaik mungkin masih ada pendapat jelek, maka itu hak mereka untuk berpendapat. Karena pandangan setiap orang berbeda-beda, tidak bisa dipaksa atau memaksa agar sama.
Rina menyambut kedatangan Aeesha dan Rara, kebetulan Rina baru saja keluar dari ruang meeting. Rina mengatakan jika sebentar lagi meeting akan selesai dan mempersilahkan Aeesha dan Rara menunggu di dalam ruangan.
"Sayang.. Mengapa tidak memberi kabar?" Aeesha hanya diam dan menunjuk ke arah lunch bag.
"Ok. Beri aku waktu sebentar." Seraya mengecup kening Nyssa. Azmy berjalan menuju kursi kebesarannya kembali dengan mode dingin. Wanita yang mengikutinya menjelaskan alasannya datang kemari yaitu, mengajaknya makan siang. Namun Azmy menolak dan meninggalkannya begitu saja menuju kamar istirahat untuk mengganti baju. Merasa dipermalukan, wanita itu pergi dari ruangan Azmy dengan raut muka kesal. Wanita tersebut juga mengatai Aeesha "Damn ****!" Rara langsung menjadi tameng didepan Aeesha. Melihat Rara melindungi Aeesha, wanita tersebut pun pergi begitu saja.
Aeesha yang mengerti maksud wanita tersebut hanya tersenyum. "Ada pelakor baru." Batin Aeesha.
Azmy keluar dari ruang istirahat dengan tampilan yang lebih segar. Ia memberi isyarat kepada Rara untuk keluar dari ruangan. Aeesha menyiapkan kapurung untuk Azmy. Melihat makanan yang aneh tersebut, Azmy tahu jika itu adalah masakan Aeesha. Segera ia membaca doa dan menyantapnya.
"Sayang, apa nama makanan ini?" Tanya Azmy yang masih menikmati makanan tersebut.
__ADS_1
"Kapurung, khas Sulawesi Selatan." Jawab Aeesha yang juga ikut makan, namun hanya sayurnya saja tanpa papeda.
"Lain kali masak yang lain lagi sayang. Aku ingin tahu aneka makanan khas duniamu." Aeesha hanya mengangguk.
Selesai makan, Azmy yang membereskan bekas makanan. Dan menuntun Aeesha untuk cuci tangan di ruang istirahat. Azmy tidak ada pekerjaan lagi untuk hari ini, sehingga ia ingin berduaan dengan istri kecilnya. Tetapi saat Azmy memeluk Aeesha dari belakang, terkejut dengan kata Aeesha.
"Don't play with fire if you don't want to get burned."
"Kamu bisa bahasa asing sayang? Hebat!" Azmy membalik tubuh Nyssa dan mengecup pipinya.
"Bahasa Inggris di dunia ku dulu adalah bahasa Internasional. Beragam bahasa manca negara, mereka menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi satu sama lain." Jelas Aeesha.
"Disini hanya ada bahasa kita sekarang ini dan bahasa asing itu diluar negeri sayang." Azmy semakin penasaran dengan dunia Aeesha. Ia merasa dunianya sekarang ini terlalu sempit.
"Terimakasih. Thank you. Syukron. Matur suwun. Xie-xie. Gracias. Gamsa-hamnida. Arigato. Itu beberapa contoh ucapan terimakasih dari berbagai negara di dunia ku." Aeesha mulai menguap.
"Baiklah, ayo kita tidur siang." Ajak Azmy seraya melepaskan hijab Aeesha. Kemudian menuntun Aeesha merebahkan diri di tempat tidur. Aeesha menurut saja, energinya terasa sudah terkuras habis. Tak butuh waktu lama, Aeesha menghembuskan nafas teratur.
Azmy tak lantas tidur, ia mendapat laporan dari Leon yang baru saja kembali dari utara. Azmy hanya membaca sekilas, ia menundanya karena saat ini sedang bersama Aeesha. Sebelum memberi tahu Aeesha, ia harus mematikan terlebih dahulu kebenaran informasi yang didapat Leon.
Satu jam kemudian, Aeesha terbangun dari tidurnya. Dilihat jam tangannya menunjukkan pukul 14.30. Aeesha tidak menemukan Azmy dikamar, mungkin Azmy sedang bekerja. Perlahan Aeesha masuk kedalam kamar mandi, membasuh muka serta mengambil air wudhu. Ia belum melaksanakan sholat dzuhur. Azmy pernah berkata jika kebutuhan Aeesha semua ada di lemari, jadi Aeesha membuka lemari dan menemukan mukena. Segera Aeesha melaksanakan sholat dengan mengikuti tanda arah kiblat.
__ADS_1