Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
31. Suasana yang Tidak Mendukung


__ADS_3

Saat memasuki paviliun, Azmy langsung bisa melihat jika istri kecilnya sedang tidur.


Azmy duduk disebelah Nyssa, mengusap pipi istri kecilnya yang menurutnya semakin berisi. Pikirannya mulai menerawang, merenungkan perkataan Papi Agam. Benar kata Papi, Nyssa belum mengetahui keputusannya mengijinkan Alexsa tinggal di mansion utama. Menurutnya Nyssa selama ini patuh kepadanya, jadi apapun keputusannya Nyssa akan menurut. Tetapi ia menjadi lupa, jika Nyssa adalah istrinya yang wajib diajak bicara jika ada masalah apapun dan juga perasaannya yang harus ia jaga.


"Emmm.. Sudah pulang sayang." Nyssa terbangun merasakan ada seseorang yang menyentuhnya.


"Tidur lagi saja sayang, kamu pasti lelah seharian menemani ku di perusahaan."


Nyssa merasa ada yang tidak beres dengan suaminya. Ia pun menepuk bantal disebelahnya, mengisyaratkan Azmy untuk ikut tidur. Azmy menuruti kemauan istri kecilnya, dengan patuh ia merebahkan tubuhnya setelah sebelumnya membuka jaz dan menggulung lengan kemejanya.


"Suamiku kenapa? Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Nyssa yang kini masuk kedalam pelukan suaminya.


"Tidak sayang, hanya saja.." Kata-kata Azmy menggantung, ia bingung harus mulai dari mana menjelaskannya.


"Kalau tidak bisa cerita sekarang tidak apa-.."


"Tidak sayang, kamu harus tahu." potong Azmy. Lalu ia melanjutkan ucapannya, Azmy mulai menjelaskan semuanya satu persatu. Dari alasan kepulangan Alexsa, serangan jantung Ayah Abraham, hingga keputusannya mengijinkan Alexsa tinggal sementara di mansion, juga kecurigaannya terhadap ibu dan adik tiri Nyssa.


Nyssa menyimak dengan seksama semua yang dijelaskan oleh Azmy. Nyssa bisa memahami mengapa Azmy memutuskan seperti itu. Tapi, yang membuat Nyssa ragu adalah Alexsa yang akan tinggal bersama. Selama ini hubungan Nyssa dengan Alexsa tergolong bukan benci, melainkan tidak peduli satu sama lain. Hanya saja, Alexsa selalu mencari cara agar apa yang dimilikinya lebih baik dari Nyssa. Dengan dukungan Ayah dan ibu tirinya, Alexsa menjadi seseorang yang lebih pantas dipanggil anak, dibandingkan Nyssa.

__ADS_1


"Bagaimana sayang, apa kamu keberatan? Jika iya, aku akan menyuruh orang untuk menemani Alexsa tinggal dirumahnya sendiri." Azmy takut melihat keterdiaman Nyssa.


Nyssa yang tersadar dari lamunannya pun menggeleng. "Tidak apa-apa, mungkin ini juga sebagai ujian bagi kita dalam menjalani rumah tangga." Nyssa kini mengerti mengapa Mami Sita mengajaknya pulang terlebih dahulu, sampai-sampai menyuruhnya tinggal di paviliun sementara untuk bersantai, dan tampilan Azmy yang sedikit berantakan saat pulang. Mami Sita selalu selangkah lebih maju untuk melindungi anaknya, sama seperti surat perjanjian dulu.


"Aku bisa pastikan sayang, aku tidak akan tertarik dengan Alexsa baik itu dulu maupun sekarang."


"Jangan hanya berjanji suamiku, karena janji bisa saja ingkar. Yang terpenting buktikan saja, biar nanti waktu yang menilai." Azmy kagum dengan pemikiran Nyssa. Apa benar ini pemikiran gadis berumur 19 tahun? Rasanya Azmy menikahi perempuan yang sudah matang, apa hanya perasaannya saja?


"Iya sayang, kamu yang terbaik." Perasaan berat yang dirasakannya menguap seketika, berganti gairah mencumbu istri kecilnya.


Azmy mengecup kening Nyssa, saat akan turun ke bibir merah muda, suara dering ponselnya di saku celana menggagalkan aksinya.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Nyssa yang saat ini sudah duduk disandaran tempat tidur.


"Tidak tahu sayang." seraya melepaskan kemejanya dan melemparnya sembarang. Mendekati Nyssa, dan mulai melepaskan hijab yang dikenakan istri kecilnya. Azmy meraih tengkuk Nyssa, membelai bibir merah muda, menatap Nyssa dalam seolah hanya ingin dirinya yang ada dalam pandangan istri kecilnya.


Jantung Nyssa sudah berdegup kencang, tatapan Azmy saat ini seolah ingin menelan dirinya. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, suara dering ponsel kembali menghentikan mereka. Sekarang ponsel Nyssa lah yang berdering, ternyata Alexsa yang menghubunginya. Nyssa mengangkatnya dan terdengar keluhan Alexsa yang tidak diperbolehkan masuk kedalam mansion oleh security. Azmy berdecak kesal, dua kali aksinya terganggu oleh orang yang sama. ia sudah menebak, jika yang menghubunginya adalah Alexsa dan pasti perempuan itu sudah sampai gerbang mansion.


Alexsa akhirnya diperbolehkan masuk mansion, setelah security ditelpon oleh Azmy. Kepala pelayan menyambutnya dan membawanya ke kamar tamu sembari menjelaskan letak ruang tamu dan ruang makan. Ini pertama kalinya bagi Alexsa masuk ke mansion keluarga Azmy, ia terpana melihat kemegahan mansion tersebut.

__ADS_1


"Rumah Ayah hanya seperti paviliun dibandingkan dengan mansion ini, pantas saja ibu kukuh menyuruhku tinggal disini. Tapi dimana Nyssa dan Azmy? Mengapa mereka tidak terlihat?" Alexsa bermonolog sendiri saat berjalan mengikuti kepala pelayan.


Pablo mendengar semuanya, ia hanya menghela nafas berat. "Benar yang dikatakan oleh Nyonya besar, perempuan ini hanya melihat harta berbeda sekali dengan Nona Nyssa." batin Pablo. Mami Sita sudah memperingatinya untuk memperhatikan gerak-gerik Alexsa selama tinggal di mansion. Mami Sita juga berpesan, jangan sampai Alexsa ada kesempatan mendekati atau pun mengganggu Nyssa.


Sementara itu, Nyssa dan Azmy yang berada di paviliun sedang menikmati makan sore. Kegiatan mereka sebelumnya tertunda karena beberapa panggilan, setelahnya pun tertunda karena suara perut Azmy. Karena Azmy tidak sempat makan siang, Nyssa pun membuatkannya nasi goreng dan jus apel. Sebelumnya Nyssa meminta Azmy mandi terlebih dahulu.


Azmy sudah selesai mandi, dengan mengenakan kaos singlet dan celana pendek menghampiri Nyssa yang telah selesai menyiapkan makanan. Mereka menikmati makanan di meja bar, dapur minimalis paviliun.


Selesai makan, Azmy membawa Nyssa ke sofa bed samping kolam renang. Ia ingin melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tiga kali. Istri kecilnya sudah mengganti gamis rumahannya dengan baby doll dress selutut. Gairahnya semakin bertambah karena kepekaan Nyssa akan kebutuhan biologisnya. Azmy tidak ingin mengulur waktu lagi. Hasratnya sudah mendesak sedari tadi.


Tapi mungkin memang bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan kegiatan mereka. Baru saja Azmy mendaratkan ciuman, terdengar dering dari ponselnya. Nyssa ingin menyudahi ciuman, agar suaminya dapat mengangkat telepon. Tapi Azmy tetap keras kepala melanjutkan ciumannya, kepalang tanggung karena hasratnya sudah di ubun-ubun. Nyssa menuruti kemauan suaminya, karena ia juga mulai menikmati keintiman mereka. Perasaan yang berkecamuk didalam hatinya lambat laun mengikuti naluri nya.


Sampai dering ketiga membuat raut muka suaminya berubah dingin. Dengan kesal Azmy mengangkat telepon yang ternyata dari Mami Sita.


Mami Sita mengomel di telepon karena Azmy tidak segera mengangkatnya. Mami Sita menyarankan mereka untuk tinggal di mansion utama. Sehingga Alexsa tidak akan tahu mengenai paviliun ataupun kediaman Azmy. Jangan sampai Alexsa tahu terlalu banyak, itu bisa membuatnya semakin serakah. Mami Sita juga sudah mengunci mulut para pelayan, jika ada yang berani melanggarnya maka akan dipecat. Azmy selalu mengagumi tindakan Mami nya yang to the point. Inilah Mami nya yang angkuh dan tegas, selalu memberi garis jelas pada seseorang yang disukai dan tidak disukai.


Nyssa tertawa kecil melihat kekesalan suaminya berganti dengan wajah serius mendengarkan omelan Mami Sita. Suasana saat ini memang tidak mendukung. Sepertinya mereka harus menunda kebutuhan biologis untuk saat ini. Karena ada hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan, yaitu berperang melawan pelakor. Salah suaminya yang memasukkan pelakor ke dalam rumah. Tapi Nyssa tidak menyalahkannya, karena mungkin ini memang sudah diatur oleh Allah. Ujian rumah tangga mereka akan dimulai dengan drama pelakor.


"Ya Allah, kuatkan aku untuk mempertahankan rumah tanggaku. Juga ampuni aku, jika aku menentang orang tuaku kelak." doa Nyssa dalam hati. Ia pun pergi meninggalkan Azmy untuk berganti dengan baju gamis dan hijab. Firasatnya mengatakan, jika sebentar lagi Azmy akan membawanya ke mansion utama. Ia harus bersiap menghadapi pelakor, yang tak lain adalah adik tirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2