Bukan Pemilik Asli

Bukan Pemilik Asli
95. Diluar Kebiasaan


__ADS_3

Hari ini Azmy akan membawa Aeesha jalan-jalan di kota. Azmy menjelaskan seputar negara yang sekarang ini mereka kunjungi dan bagian lainnya.


Aeesha menangkap jika negara Asing yang sekarang ia singgahi hampir mirip dengan kehidupannya dulu. Jika tempat tinggal Azmy diasumsikan sebagai Indonesia, maka negara ini adalah Jepang atau Korea. Karena jarak tempuh rata-rata 7-8 jam dengan pesawat komersial. Tetapi saat melihat budaya yang ada di kota yang dikunjunginya, ia seperti melihat berbagai budaya bercampur menjadi satu.


Saat ini Aeesha ada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut. Azmy membawa Aeesha ke food court dengan label halal di sana, mereka menyediakan berbagai macam makanan yang Aeesha ketahui merupakan makanan khas Timur Tengah. Sambil menunggu makanan, Aeesha izin pergi ke toilet.


"Assalamualaikum.." sapa seorang muslimah bercadar saat Aeesha sudah keluar dari toilet.


"Wa'alaikumsalam.." Aeesha menjawab salam tersebut dan menangkup kan tangannya di depan dada.


"Where do you come from?" tanya muslimah tersebut.


"I am from Central."


"Really? I didn't know there were muslimah like you there, because its a muslim minority country."


"Yeah, I know. So, were are you from?"


"Oh sorry I'm late to introduce myself. I am Syarifah from Yemen."


"Syarifah? Yemen? Where do Muslims perform Hajj?" tanya Aeesha tidak percaya, masih ada syarifah (keturunan Nabi Muhammad SAW) di dunia ini.


"Yeah."


Azmy yang merasa Aeesha terlalu lama di toilet pun menghampiri istri kecilnya. Azmy melihat muslimah yang ada didepan Aeesha dengan tatapan curiga. "Sayang, kenapa lama sekali?"


"Maaf suami, aku bertemu Syarifah."


"Sorry Syarifah, I am Aeesha and he is my husband, Azmy." Syarifah menangkup kan tangannya didepan dada, sedangkan Azmy hanya mengangguk.


"Nice to meet you Aeesha. This is my husband's restaurant, you can order without paying. Take it as an introduction from me."

__ADS_1


"I can't do that."


"Don't worry." Syarifah mempersilahkan Aeesha dan Azmy kembali ke tempat duduk mereka.


Azmy mulai menginterogasi istri kecilnya, tetang apa saja yang mereka bicarakan. Aeesha pun menceritakan semuanya, termasuk Syarifah adalah garis keturunan perempuan dari Nabi Muhammad SAW. Jadi, kemungkinan suami Syarifah juga merupakan Syekh/Habib yang juga dari keturunan Nabi. Kecuali keluarga Syarifah tidak mementingkan nasab, maka suami Syarifah bisa siapa saja. Azmy menjadi meragukan pendidikan Aeesha di kehidupannya dulu.


"Sayang, benarkah kamu lulusan SMA?" Aeesha bisa menangkap maksud dari pertanyaan suaminya. Di kehidupannya dulu pun ia sering mendapat pertanyaan seperti ini.


Di tempatnya tinggal dulu, pendidikan merupakan standar penilaian seseorang. Meskipun usulnya bagus, tetapi karena hanya lulusan SMA maka orang-orang akan meragukannya.


"Suami, apakah sepenting itu status pendidikan?" Aeesha ingin mendengar jawaban dari suaminya.


"Tidak sayang, aku hanya takjub dengan pengetahuan dan kemampuan bahasamu. Selama ini, kamu selalu bersikap rendah hati. Tetapi kamu bisa mengkondisikan dirimu dengan segala perubahan."


"Pengetahuan tidak terbatas disekolah kan? Biarpun aku tidak pernah ke negara manapun semasa dulu, aku bisa melihat mereka dari buku. Buku adalah jendela dunia." terang Aeesha.


"Yes my wife." Azmy mengecup tangan istri kecilnya.


Pesanan mereka pun datang tetapi Syarifah lah yang membawakan pesanan mereka bersama seorang laki-laki yang diperkenalkan sebagai suaminya yang juga merupakan keturunan Nabi Muhammad. Mereka pun berbincang ringan sembari makan bersama. Aeesha pun tenggelam dalam ingatan kehidupannya dulu karena perbincangan mereka. Tetapi tidak diperlihatkan nya. Sampai akhirnya Azmy mengajak Aeesha untuk melanjutkan jalan-jalan mereka. Aeesha dan Syarifah bertukar nomor ponsel, mereka pun memeluk satu sama lain sebagai salam perpisahan.


Kemudian Azmy membawa Aeesha ke toko mainan, di sana Aeesha benar-benar menghabiskan banyak uang. Baru kali ini Aeesha benar-benar kalap dalam berbelanja. Azmy mengikuti Aeesha dari belakang dengan keranjang belanjaan. Lego, figurine, puzzle, robot, macam-macam rubik telah masuk dalam keranjang belanjaan Aeesha. Dari toko mainan, Azmy membawanya ke toko pakaian. Di sana Aeesha hanya membeli 2 long blazer, karena tidak ada yang sesuai dengan seleranya. Azmy tidak memaksa, kemudian saat melewati sebuah toko kacamata Aeesha mengajak Azmy untuk masuk. Aeesha mencoba kacamata yang persis dengan miliknya dulu. Azmy seperti melihat pantulan Aeesha yang ada dalam benaknya, sehingga ia langsung membayar kacamata tersebut. Mata Aeesha masih normal, jadi ia memilih kacamata dengan lensa blue chromic normal. Azmy meminta Aeesha untuk mengenakannya.


Azmy sudah pernah melihat istri kecilnya memakai kacamata saat bercadar. Tetapi saat melihat Nyssa saat ini yang mengenakan kacamata tanpa cadar, seperti ia melihat sosok Aeesha dalam benaknya. Mungkin kedepannya Azmy akaan lebih sering meminta istri kecilnya berkacamata.


Tangan Azmy sudah penuh dengan tas belanjaan, Aeesha juga sudah lelah berjalan. Sehingga mereka kembali ke villa tepat memasuki waktu ashar. Keduanya melewatkan sholat dzuhur karena tidak adanya mushola di pusat perbelanjaan. Akhirnya mereka melakukan sholat dzuhur diwaktu asar.


Mereka kini sedang ada di kolam renang. Setelah 2 kali putaran Aeesha memutuskan untuk berhenti dan duduk dipinggir kolam, sedangkan Azmy masih berenang. Aeesha merasa kedinginan saat matahari mulai tenggelam, ia pun meninggalkan Azmy sendiri dan masuk kedalam villa untuk mandi.


Aeesha memutuskan untuk berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya, ia pun mengisi bak dengan air hangat. Tak lama kemudian, Azmy menyusulnya kedalam kamar mandi. Setelah membilas tubuhnya, Azmy pun masuk kedalam bath tube mendahului istri kecilnya. Aeesha hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya tersenyum mesum. Ia ikut masuk kedalam bath tube dan menyandarkan punggungnya di dada Azmy.


Setelah beberapa menit mereka saling diam menikmati air hangat, tangan Azmy kini mulai bergerak di kulit istri kecilnya. Aeesha yang awalnya memejamkan mata, menjadi terkejut. Sentuhan Azmy selalu menjadi sengatan listrik yang menghantarkan panas baginya. Tak butuh waktu lama, mereka pun larut dalam permainan hasrat.

__ADS_1


Selesai sholat magrib, Aeesha memasak mie instan dengan tambahan bumbu mie khas Yogyakarta. Tak lupa ia menambahkan telur, bakso, sosis, dan sayuran serta nugget goreng sebagai pelengkap. Azmy menyantap makanan dengan lahap, sampai mie satu panci penuh pun habis. Ia perlu makan banyak untuk menambah tenaga.


"Bunda.." teriak Zayn di sambungan video call. Anaknya mengeluh karena Zayden melarangnya untuk menelepon kedua orang tuanya. Aeesha dan Azmy tertawa mendengar aduan anak mereka.


"Bukankah itu sudah kesepakatan?" kata Azmy mengingatkan.


"Maaf Daddy, Zayn kangen Bunda.." rengek Zayn.


"Biarkan saja keinginannya untuk memiliki adik kembar perempuan gagal Dad.." kata Zayden santai.


"Iden sayang, jangan menggoda Zayn terus. Doakan saja Bunda bisa memberikan kalian adik perempuan." kata Aeesha lembut.


Mereka pun berbincang riang. Aeesha menanyakan permainan apa saja yang sudah mereka mainkan. Zayn yang bersemangat bercerita, tetapi Zayden memang memegang kata-kata nya. Ia bermain bersama Zayn selama ditinggal, Aeesha pun bersyukur anaknya bisa tumbuh dengan normal. Meskipun Aeesha tahu Zayden berbeda dengan anak seusianya, Aeesha ingin anaknya tetap merasakan masa kanak-kanaknya berwarna.


Mami Sita menyudahi video call mereka karena sudah waktunya anak-anak tidur. Waktu ditempat mereka lebih cepat 2 jam dibandingkan tempat Aeesha. Ia pun meletakkan ponselnya diatas meja rias, kemudian mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya' berjamaah. Seusai sholat, mereka berdua bercengkrama di ruang tengah sambil menonton film.


"Sayang,, besok hari terakhir kita disini. Bagaimana jika besok kita ke daerah pegunungan?" tetapi tidak ada jawaban dari istri kecilnya. Saat Azmy melihat kearah Aeesha, ternyata istri kecilnya telah terlelap. Iapun tersenyum, dan perlahan mengangkatnya setelah sebelumnya mematikan televisi.


Selama 2 hari ini, istri kecilnya seperti berbeda dari biasanya. Semua kegiatannya bersama Aeesha selama disini membuatnya merasakan pengalaman yang tidak terlupakan. Istri kecilnya memperlihatkan sisi beraninya. Banyak kejutan yang diberikan padanya, Azmy sampai penasaran apakah yang dilakukan untuknya sama seperti yang dilakukan Aeesha kepada suaminya dulu.


"Apakah kamu juga seperti ini saat bersama suamimu dulu sayang? Aku jadi iri." tanpa sadar Azmy menggumamkan pertanyaan yang ada dalam benaknya.


"Tidak. Aku melakukannya hanya untukmu suamiku sayang." jawab Aeesha yang ternyata sudah bangun.


"Maaf sayang, bukan maksud ku..." Kata-kata Azmy terputus karena Aeesha membungkamnya dengan bibirnya. Saat Azmy sadar dan akan membalas, Aeesha sudah melepaskannya lebih dulu. Ada raut kecewa di wajah Azmy.


"Aku sudah menerimamu sebagai suamiku, maka aku akan melakukan apapun untukmu sesuai kemampuanku. Semua yang kulakukan untukmu adalah hal baru yang aku pelajari. Meskipun aku sudah pernah mengalami pernikahan sebelumnya, kalian berbeda jadi tidak bisa disamakan." Azmy merasakan kebanggan dalam hatinya. Ternyata istri kecilnya selama ini berusaha memenuhi kebutuhannya dengan sepenuh hati. Azmy memang tidak pernah meragukannya atau mempermasalahkannya, hanya saja mendengarnya secara langsung membuatnya lega.


"Sayang.. Bolehkan aku meminta sesuatu?" Aeesha mengangguk.


"Aku ingin kamu yang memulainya."

__ADS_1


"Memulai apa?" tanya Aeesha yang tidak mengerti maksud suaminya.


Azmy membisikkan sesuatu ditelinga Nyssa, seketika membuat Aeesha tersipu malu. Tetapi ia tetap melakukannya, karena halal baginya dan merupakan ladang pahala baginya.


__ADS_2