
Selesai sholat, pikiran Azmy mulai jernih kembali. Kini ia bisa berpikir lebih waras tanpa ada kabut hasrat.
Azmy mulai mengurutkan semua kejadian selama ia hilang ingatan. Nyssa memang memperlakukannya selayaknya suami istri. Melayani kebutuhannya, selalu tersenyum dan lembut kepadanya. Dirinya saja yang dingin menyikapi Nyssa, tetapi Nyssa tidak mengeluh atau marah kepadanya. Tetap sabar menghadapi sikapnya sama seperti Maminya. Mengingat Mami Sita, Azmy bergegas menemui orang tuanya dikamar bawah.
Setelah mengetuk pintu 2 kali, Mami Sita membuka pintu kamar dan mempersilahkan Azmy masuk. Mami Sita hanya diam saja tidak banyak bicara, karena ia masih tidak bisa menerima pertanyaan yang diajukan Azmy beberapa saat yang lalu.
"Mau apa kamu kesini!" sergah Papi Agam yang sedang membaca koran di sofa. Azmy menghampiri Papi Agam dan duduk di hadapan Papinya.
"Maaf mengganggu, Azmy kesini mau minta penjelasan."
"Penjelasan atau minta restu? Sampai kapanpun Papi tidak akan merestui! Bocah tidak tahu diuntung!" Papi Agam marah, menantu yang ia sayang dan jaga akan disakiti anaknya sendiri. Bagaimana ia akan menghadapi menantunya kelak!
"Pi, Mami mohon dengarkan Azmy dulu.." pinta Mami Sita menengahi suami dan anaknya. Ia tahu ada yang ingin Azmy sampaikan.
"Terimakasih Mami.. Azmy mau menanyakan kebenaran pernikahanku. Apakah benar Nyssa istriku atau itu hanya siasat Mami dan Papi yang memanfaatkan amnesia ku?" pertanyaan Azmy seperti petir yang menyambar telinga kedua orang tuanya.
"Darimana kamu menyimpulkan seperti itu?" tanya Mami Sita sambil menahan tangan suaminya agar tenang.
"Mami selama ini selalu saja mengejar ku untuk menikah, tetapi aku tidak pernah mau. Perempuan bagiku merepotkan." Mami hanya tersenyum mendengar perkataan Azmy.
"Jadi, kamu meragukan Nyssa?" tanya Mami Sita menyelidik. Azmy seketika termenung mendengar pertanyaan Mami Sita. Ia memang mencurigai Mami dan meragukan Nyssa. Tetapi mengapa saat ditanya, hatinya justru ragu untuk menjawab?
"Tidak bisa menjawab kan sayang.. Berarti kamu ragu." Mami tersenyum melihat anak semata wayangnya termenung, kata-katanya tepat sasaran.
__ADS_1
Ingatan memang bisa hilang, tetapi perasaan dan reaksi tubuh itu jujur. Hanya saja nalarnya menghalangi untuk tetap rasional.
"Kalau kamu tidak bisa mengingat, paling tidak rasakan dengan hatimu atau tubuhmu. Mereka lebih jujur!" perkataan Papi Agam seketika mendapat pukulan dari Mami. Papi Agam hanya mengangkat bahu tanda dirinya tidak peduli.
Mami Sita mulai menceritakan siapa Nyssa dan bagaimana awal mereka bisa menikah untuk mengaburkan kata-kata suaminya. Ia tidak ingin Azmy hanya mengandalkan perasaan dan reaksi tubuh. Mami Sita paling tahu jika anaknya memiliki hasrat yang tinggi, ia takut itu akan melukai perasaan Nyssa. "Tidak mengingat tapi mau enaknya saja!" batin Mami.
Azmy sudah mendengar semua cerita dirinya dan Nyssa dari Mami Sita, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar karena malam yang sudah larut. Baru saja Azmy akan membuka pintu, Papi Agam menghentikannya.
"Nyssa memang istrimu, tetapi di dalam tubuhnya ada jiwa orang lain. Jadi, terimalah Nyssa dengan semua kekurangan dan kelebihannya."
"Maksud Papi?" Nyssa mengatakan jika kedua orang tuanya tidak mengetahui tentang Aeesha, tapi mengapa Papinya berkata seperti itu?
"Begitulah garis keturunan keluarga istrimu dari pihak ibu. Tetapi Papi tidak tahu jiwa siapa yang ada didalam tubuh istrimu. Kami berdua menerima Nyssa apa adanya dia, karena memang Nyssa pantas disayangi baik itu Nyssa atau jiwa lain." Azmy meninggalkan kamar kedua orang tuanya.
Nyssa berkata jujur, kedua orang tuanya tidak mengetahui tentang Aeesha. Hanya tahu jika ada jiwa lain di dalam tubuh Nyssa. Semakin dipikirkan semakin memusingkan. Orang tuanya tidak menceritakan tentang detail yang terjadi, hanya mengisahkan dirinya dan Nyssa. Seolah menekankan jika Nyssa memang istrinya dan detail lain tidak penting.
Melihat Azmy menghampirinya, Aeesha tersenyum dan melanjutkan kegiatannya. Ia ingin melepas shoulder supportnya, karena tidak nyaman dibawa tidur. Tugas menyusui dan memompa ASI sudah beres, jadi tidak mengenakan shoulder support tak masalah. Jika kedua malaikatnya bangun tengah malam nanti, ia bisa memberikan ASI lewat botol susu.
Azmy melihat luka bekas jahitan di bahu Nyssa. Ia pun memegang bahu Nyssa.
"Bagaimana bisa ada luka disini?" tanya Azmy yang merasakan nyeri dihatinya.
"Ini kecelakaan, sekarang sudah lebih baik." jawab Nyssa tersenyum.
__ADS_1
"Jika lebih baik, mengapa masih mengenakan ini?" tunjuk Azmy pada shoulder support yang baru saja dilepas Aeesha.
"Ini untuk menghindari cidera." Aeesha tidak berbohong juga tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Apakah kamu akan mengoleskan obat ini?" Azmy mengambil salep yang ada di sebelah Nyssa. Aeesha hanya menganggukkan kepalanya.
Azmy mengoleskan salep tersebut ke bahu Nyssa dengan perlahan. Ia sempat melihat Nyssa mengoleskan nya tadi siang, jadi ia mengikuti gerakan Nyssa.
Aeesha hanya diam, berfikir mungkin alam bawah sadar Azmy masih ingat kepadanya.
Selesai mengoleskan salep, Azmy beranjak untuk mencuci tangan dan Aeesha mengenakan kembali gaun tidurnya.
Sekembalinya Azmy dari kamar mandi, ia melihat Nyssa berbaring di tempat tidur. Lagi-lagi respon tubuh bagian bawahnya mengatakan jika memang hasratnya ada saat dekat dengan Nyssa. Tetapi ia tidak bisa hanya menuruti hasratnya, pikirannya masih tidak jelas tentang Nyssa dan Aeesha.
Dari perkataan Nyssa dan Papi Agam, ia bisa menyimpulkan jika mereka jujur kepadanya. Tidak ada siasat ataupun jebakan untuknya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mengembalikan ingatannya. Ia penasaran tentang luka di bahu Nyssa, mengapa hatinya terasa nyeri saat melihat luka tersebut. Papi dan Mami juga tidak menyinggung tentang kecelakaan. Siapa yang bisa membantuku? Seketika Leon terbesit dalam ingatannya.
"Leon, siapkan semua detail insiden yang aku alami 2 tahun terakhir. Besok kamu kesini!" begitu selesai memberi perintah, ia mematikan sambungan telepon.
Leon yang setengah sadar menerima telepon segera melebarkan matanya. Baru saja dirinya terlelap, Tuan Mudanya sudah memberikannya perintah. Ia sudah sangat sibuk dengan pekerjaan di perusahaan akibat Azmy yang hilang ingatan. Luka nya pun masih dalam masa penyembuhan. Untungnya ada Rian yang membantunya. Papi Agam mempercayakan perusahaan kepadanya, karena tidak memungkinkan untuk Azmy memegang kendali sedangkan ingatannya 2 tahun terakhir hilang. Jadi, memerintahkan Rian untuk membantu pekerjaannya. "Tuan Muda, segeralah sembuh.. Aku ingin cuti!" gumam Leon yang sekarang tidak lagi bisa melanjutkan tidur.
Sedangkan Azmy merebahkan tubuhnya disamping Nyssa. Harum tubuh Nyssa membuatnya merasakan dejavu. Ditambah reaksi tubuhnya, Azmy membawa tubuh Nyssa kedalam pelukannya membuat si empunya terbangun.
"Suami.." suara parau Aeesha terdengar seksi dan dejavu bersamaan. Azmy meraih tengkuk Nyssa dan ******* bibirnya. Merasakan Nyssa memukul dadanya, Azmy melepaskan ciumannya. Nyssa terengah-engah karena kehabisan nafas.
__ADS_1
Nalar Azmy pun mengambil alih, tidak seharusnya ia mengambil kesempatan. Ia pun meminta Nyssa untuk tidur dengan tetap memeluknya.
Aeesha tahu hasrat tinggi suaminya, tetapi yang membuatnya kecewa adalah ingatan yang belum pulih. Tidak apa-apa, Allah sudah menyiapkan skenario untuknya. Laa haula wala kuwwata illa billah..